Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Pergi ke Jakarta


__ADS_3

  "Emak, gimana kabarnya?" Sapa Fatimah sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan emak.


  "Ya beginilah Fatimah!" Jawabnya datar. Tangan kanannya menyambut tangan kanan Fatimah.


  "Kata Fera, Emak sama Fera mau ke Jakarta ya? Mau liburan bareng Mas Hari ya Emak?"


  "Iya, ini habis sarapan mau langsung berangkat. Tapi ke Jakarta bukan untuk liburan, Fatimah. Melainkan untuk mencari Hari."


  "Mencari Mas Hari? Gimana maksudnya, Mak?" Fatimah tampak bingung.


  "Sebenarnya sejak Hari pergi ke Jakarta beberapa minggu yang lalu, Hari sama sekali belum pernah mengirimkan surat, Fatimah." Jawabnya.


  "Bukannya kemarin kata Emak, Mas Hari sudah mengirimkan surat?"


  "Sebenarnya Mas Hari belum mengirimkan surat Mba. Waktu itu Fera yang membuat surat palsu untuk Emak! Aku terpaksa berbohong agar Emak nggak cemas lagi memikirkan Mas Hari." Jawab Fera dengan perasaan tidak enak sama emak.


  "Ya Allah!!! Jadi, sampai sekarang belum ada kabar dari Mas Hari, Fera?" Fatimah sangat kaget.


  "Belum Mba. Makanya sekarang Aku sama Emak mau ke Jakarta! Kita mau mencari di kos-kosannya sama di pabrik tempat Mas Hari bekerja. Doakan ya Mba. Semoga Kita bisa bertemu Mas Hari." Pintanya.


  "Insha Allah akan Aku doakan semoga Fera dan Emak selamat sampai Jakarta, dan bisa bertemu dengan Mas Hari dalam keadaan sehat wal afiat." Doanya.


  "Aamiin ya rabbal'alamiin." Jawab emak dan Fera berbarengan.


  "Sarapan dulu, Fatimah!" Ucap emak.


  "Tadi sudah sarapan, Mak! Oh ya, Emak sama Fera di Jakarta berapa hari?" Tanya Fatimah sambil duduk di kursi yang berada di hadapan emak.


  "Insha Allah cuma dua hari pulang pergi! Soalnya Fera kan ngajar." Balas emak.


  "Iya Mba! Ini aja Aku izin hari senin nggak masuk!" Fera yang berada di dapur menimpalinya.


  "Biasanya Mas Hari sering mengirimkan surat apa nggak sih Mba?" Tanya Fatimah.


  "Biasanya kalau mau pulang kampung sama habis pulang, Hari selalu mengirimkan surat! Tapi sekarang sangat aneh! Tidak biasanya Hari tidak memberikan kabarnya begini!" Jawab emak.


  "Ya Kita berdoa minta perlindungan pada Allah, Mak! Semoga Mas Hari dalam keadaan sehat dimana pun Dia berada!" Doanya.


  "Aamiin. Kamu yang sabar ya, Fatimah! Jangan berpikir buruk tentang Hari. Emak percaya Insha Allah Hari tidak akan mengkhianati Fatimah!" Katanya.


  "Insha Allah Fatimah percaya sama Mas Hari." Balasnya. Fera pun muncul di hadapan Fatimah dengan membawa segelas teh hangat.

__ADS_1


  "Minum teh dulu, Mba." Ucapnya.


  "Tadi di rumah sudah, Fer." Balasnya.


  "Minum saja Fatimah. Jangan menolak rizki. Tidak baik. Sudah dibuat, dari pada mubadzir kan sayang." Pinta emak.


  "Iya Mak. Makasih." Fatimah pun mengambil gelas di hadapannya dan meminumnya sedikit.


  Setelah selesai sarapan, emak dan Fera berjalan ke depan rumah. Fatimah pun mengantarkan mereka berdua. Tidak lupa, Fera mengunci pintu depan rumahnya. Begitu sampai di teras depan rumah, tiba-tiba seorang laki-laki menggunakan becak muncul di halaman depan rumah emak.


  "Maaf Budhe Khulsum sudah menunggu. Tadi habis mengantar Bu Munjinah ke pasar!" Seru lelaki itu.


  "Tidak apa-apa kok Pak Lik Marto! Ini juga baru nunggu sebentar! Balas emak.


  "Fatimah, Emak sama Fera pamit dulu ya!" Emak mengulurkan tangan kanannya yang tampak keriput. Fatimah pun menyambutnya dengan tangan kanannya. Senyum kecut terlihat dari wajahnya.


  "Mba, Aku pamit dulu ya!" Fera pun mengajaknya bersalaman.


  "Iya Fera. Hati-hati di jalan ya! Jaga barang bawaannya! Terutama dompet! Soalnya di kota besar tidak sedikit orang yang tidak baik!" Pintanya.


  "Iya Mba." Balas Fera. Emak dan Fera pun naik ke atas becak dengan membawa tas.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Fatimah. Melihat emak menangis, Fatimah bertambah rasa sedihnya. Seketika air matanya jatuh membasahi pipinya. Tangan kanannya ia angkat dan dilambaikannya ke arah emak dan Fera. Mereka berdua pun ikut membalas lambaian tangan Fatimah. Perlahan Pak Lik Marto mengayuh becaknya menuju stasiun Balapan.


  Setelah becak yang membawa emak dan Fera hilang di kejauhan, Fatimah pun naik ke atas motor yang terparkir di halaman depan rumahnya Hari. Dengan cepat ia berlalu dari tempat itu. Sesampainya ia di depan rumahnya, Fatimah turun dari motornya.


  "Assalamu'alaikum." Salam Fatimah.


  "Wa'alaikumsalam. Kok tumben lama, Fa?" Tanya seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi yang berada di teras depan rumah sambil memegang koran.


  "Iya Bah. Soalnya Fera sama Emaknya tadi mau berangkat ke Jakarta." Jawabnya.


  "Ke Jakarta ngapain? Liburan ya?" Tanya lelaki yang bukan lain adalah abahnya Fatimah.


  "Mencari Mas Hari, Bah." Jawabnya.


  "Mencari Hari? Maksudnya gimana, Fatimah?" Abah tampak bingung.


  "Jadi selama ini sama sekali belum ada kabar dari Mas Hari. Surat yang waktu itu katanya dari Mas Hari, ternyata itu surat buatan Fera." Jawabnya. Belum sempat abah kembali bersuara, tiba-tiba seorang perempuan yang bukan lain adalah Bu Asmi muncul di teras depan dengan membawa secangkir kopi hitam.


  "Kamu baru pulang, Fatimah?" Tanyanya.

__ADS_1


  "Iya Bu." Balasnya.


  "Ini lho Bu! Katanya selama ini sama sekali tidak ada kabar dari Hari! Katanya Fera sama Emaknya tadi berangkat ke Jakarta untuk mencari Hari!" Ucap abah.


  "Ya Allah! Kok bisa, Fatimah? Bukankah waktu itu Emak Khulsum kesini katanya sudah dikirimi surat dari Hari?" Bu Asmi tampak kaget.


  "Ternyata itu surat yang buat Fera, Bu. Kata Fera, Dia terpaksa berbohong agar Emaknya nggak kepikiran Mas Hari terus!" Jawabnya.


  "Ya Allah, kasihan Emak Khulsum! Pasti Dia sangat sedih begitu tahu sama sekali belum ada kabar dari Hari! Padahal sudah hampir sebulan sejak Hari pulang kampung kemarin!" Katanya.


  "Iya Bu. Fatimah juga tadi nggak tega melihat wajah Emak! Emak terus menerus menangis!" Ucapnya.


  "Semoga Emak Khulsum sama Fera di Jakarta bisa bertemu dengan Hari dalam keadaan sehat dan baik-baik saja." Doa Bu Asmi.


  "Aamiin." Jawab Fatimah.


  "Ada yang aneh! Kok Hari tidak memberikan kabarnya! Emaknya kan jadi khawatir, sampai disusul ke Jakarta! Harusnya kalau sudah sempat kan bisa mengirimkan surat! Apa susahnya sih mengirim surat!" Kata abah.


  "Mungkin Hari sibuk kerja, Bah!" Ucap Bu Asmi.


  "Bukankah Hari kerjanya shift-shiftan? Kalau masuk malam, kan bisa siangnya ke kantor pos!" Balasnya. Abah pun mengambil cangkir yang berada di atas meja yang berada di sebelah kirinya. Lalu meneguk kopi hitam yang masih panas.


  "Tapi kan Kita nggak tahu kesibukan Mas Hari, Bah!" Ucap Fatimah.


  "Kalau berbicara buruknya, misalnya terjadi sesuatu yang tidak baik pada Hari, kan ada alamat di KTP-nya! Harusnya ada yang memberitahu pada Emak Khulsum!" Ujarnya.


  "Jangan bicara seperti itu, Bah! Ucapan kan doa! Kita berdoa saja, semoga Hari dalam keadaan sehat wal afiat!" Kata Bu Asmi.


  "Iya Bah! Insha Allah Mas Hari baik-baik aja!" Fatimah menimpalinya.


  "Bukannya Abah menakuti-nakuti Fatimah sama Ibu, tapi kan Abah cuma bicara buruknya." Balasnya.


  "Fatimah masuk dulu! Mau sarapan!" Serunya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


  "Abah, tidak mengerti perasaan Fatimah! Kasihan kan kalau Dia jadi kepikiran Hari!" Ucap Bu Asmi.


  "Tidak ada maksud Abah untuk membuat Fatimah sedih! Abah cuma menebak-nebak!" Balasnya. Mendengar ucapan suaminya, Bu Asmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan abah seorang diri di teras depan rumah.


  


  

__ADS_1


__ADS_2