
Sesampainya di depan rumah Abah Usman, Hari dan yang lainnya turun dari atas mobil. Mereka melihat sebuah mobil sebuah mobil jenis MPV berwarna hitam, terparkir di halaman depan rumah Abah Usman. Tanpa memperdulikan mobil itu, Fera dan Pak Teddy menuntun Hari menuju pintu depan rumah abah. Abah Usman sendiri sudah berjalan di depan mereka. Sedangkan Bi Ginah terlihat berjalan paling belakang.
"Assalamu'alaikum!" Salam abah, ketika masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab beberapa orang yang berada di ruang tamu.
"Alhamdulillah Abah sudah pulang! Ini ada Dokter Indra sama kedua orang tuanya! Dokter Indra ini teman kerjanya Fatimah, Bah!" Ucap perempuan yang bukan lain adalah Bu Asmi. Dokter Indra tersenyum pada Abah dan mengajaknya bersalaman. Abah pun menyambut tangan kanan dokter Indra. Tidak lupa, ia juga bersalaman dengan kedua orang tuanya.
Belum sempat Bu Asmi kembali bersuara, tiba-tiba saja Hari muncul di ruang tamu bersama dengan yang lainnya. Melihat kemunculan Hari, Bu Asmi tampak terkejut sekali.
"Hari." Ucapnya dengan sangat perlahan.
"Assalamu'alaikum!" Salam Hari dan yang lainnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Asmi dan juga yang lainnya.
"Fatimah! Kamu dimana? Ini Aku Hari!" Serunya. Mendengar teriakannya dan melihat wajah Hari yang memiliki dua buah bola mata yang tidak lagi berfungsi, Bu Asmi kembali bersuara:
"Jadi Kamu benar Hari?" Bu Asmi memberanikan diri untuk bertanya.
"Betul! Apa Ibu ini, Bu Asmi? Bu, Fatimah mana Bu?" Tanya Hari dengan tidak sabaran. Belum sempat Bu Asmi menjawab pertanyaan Hari, tiba-tiba muncul seorang perempuan dari arah dapur. Perempuan yang bukan lain adalah Fatimah itu, tampak berjalan dengan membawa nampan berisi empat buah gelas teh hangat.
Baru beberapa langkah Fatimah berjalan di ruang tamu, tiba-tiba saja ia langsung menghentikan langkahnya, ketika melihat beberapa orang yang berdiri di ruang tamu, termasuk abahnya sendiri.
Saat Fatimah melihat wajah orang yang berdiri di samping kiri Fera, ia sangat terkejut dibuatnya. Wajah lelaki yang tidak asing lagi bagi dirinya. Namun ia sangat tidak menyangka saat wajah yang dikenalinya itu, ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
"Mas Hari!" Serunya. Mendengar suara yang tidak asing lagi bagi dirinya, Hari langsung berjalan ke arah depan dengan kedua tangannya menggapai-gapai. Fatimah pun menaruh nampan berisi gelas di atas bufet yang berada di ruang tamu.
"Dek Fatimah! Ini Aku Hari, Calon suamimu! Maafkan Aku Dek! Aku sudah membuatmu lama menanti!" Seru Hari dengan berlinangan air mata.
"Apa yang terjadi dengan Mas Hari? Mengapa Mas Hari jadi begini?" Tanya Fatimah. Seketika air matanya mengalir di pipinya.
"Ceritanya panjang Dek! Semua ada hubungannya dengan diriku yang lama tidak ada kabar! Kata Fera, Kamu sudah mengembalikan cincin lamarannya, ya Dek?"
"Iya Mas! Semua Aku lakukan dengan terpaksa! Walaupun sebenarnya Aku masih sangat mencintai Mas Hari!" Jawabnya.
"Kalau besok Aku melamarmu kembali, apa Kamu masih mau menerima diriku yang nggak dapat melihat lagi, Dek?" Hari tampak sedih. Harapannya untuk menjadi suaminya Fatimah kian tipis. Belum sempat Fatimah menjawab pertanyaan Hari, tiba-tiba saja terdengar suara dari seseorang yang berada di belakang Hari. Dia adalah dokter Indra.
"Fatimah! Lebih baik Kamu pikirkan seribu kali lagi, untuk menerima lelaki itu! Apa nantinya Kamu nggak malu Fatimah, punya suami buta seperti Dia? Buat berjalan aja susah, apalagi untuk bekerja!!! Lebih baik Kamu terima lamaranku! Karena sebenarnya Aku sudah sejak lama mencintaimu, Fatimah! Aku datang kesini untuk melamarmu! Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Fatimah!" Serunya dengan sangat yakin dan penuh percaya diri.
"Jaga mulutmu kalau bicara, Dok!!! Ternyata pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang mapan, tidak membuat hatimu sebaik pakaianmu!!! Mas Hari memang sekarang nggak dapat melihat! Tapi mata hatinya tidak buta sepertimu!!! Lebih baik sekarang Kau pergi dari sini!!!" Teriak Fatimah sangat marah. Mendengar hinaannya, seketika darah dokter Indra langsung mendidih.
"Brengsek!!! Aku pastikan Kau akan menyesal telah menolakku!" Dokter Indra bangkit berdiri dengan muka mengelam.
"Sekarang pergilah dari sini! Fatimah sudah menolak lamaranmu!" Seru abah dengan keras. Dokter Indra pun berkelebat keluar dari dalam rumah dengan perasaan malu dan marah.
"Ternyata anak Bapak perempuan bodoh! Mau-maunya menolak anakku, dan lebih memilih lelaki buta seperti Dia!" Hina bapaknya dokter Indra sambil membuntuti anaknya. Sedangkan istrinya mengikuti di belakangnya.
"Kurang ajar! Beraninya Kau menghina Anakku!!! Cepat pergi dari sini!!! Tidak sudi Aku mempunyai menantu dan besan seperti Kalian!!!" Abah naik pitam.
"Sabar Bah!" Ucap Bu Asmi.
__ADS_1
"Mari semuanya, silahkan duduk! Maafkan Kami. Tadi ada sedikit keributan!" Kata Abah.
Pak Teddy dan yang lainnya duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu. Termasuk dengan Hari dan Fatimah. Pak Teddy pun memperkenalkan dirinya dan menceritakan kejadian demi kejadian yang telah menimpa Hari.
Selesai Pak Teddy bercerita, mereka pun menyepakati bahwa esok hari, Hari dan Pak Teddy akan datang ke rumahnya Abah Usman untuk kembali melamar Fatimah. Begitu selesai bermufakat, Pak Teddy, Bi Ginah, Fera, dan Hari pun kembali pulang ke rumah. Malam itu Pak Teddy dan Bi Ginah menginap di rumahnya Hari.
Pagi itu, selesai sarapan pagi, mandi, dan berpakaian, Hari dan yang lainnya pergi ke makam almarhumah Emak Khulsum. Kesedihan mendalam kembali dirasakan oleh Hari dan yang lainnya.
"Maafkan Hari, Emak! Emak pasti sangat khawatir dengan Hari! Maafkan Hari yang sudah membuat Emak selalu menanti kabar dari Hari! Hari sudah membuat Emak kecewa dan sedih!" Hari memegang nisan yang terbuat dari kayu. Air matanya membasahi wajahnya dengan derasnya.
"Mas Hari sama sekali nggak salah! Semua sudah takdir dari Allah, Mas! Memang sih Emak hampir setiap hari selalu kepikiran Mas Hari! Sampai diajak makan pun susah! Hingga akhirnya Emak sakit-sakitan!" Balas Fera yang jongkok di samping kanan Hari. Air mata menetes di pipinya.
"Pantas aja, Fera! Kemarin, sewaktu Aku mau berangkat ke Jakarta, rasanya sangat berat untuk meninggalkan Emak! Ternyata itu adalah perpisahan Aku dengan Emak untuk selama-lamanya!" Isak tangisnya terdengar lebih keras.
"Oh ya Mas, kemarin Emak pernah berpesan, kata Emak, rindu Emak pada Mas Hari tidak akan pernah selesai, walaupun Emak sudah tiada!" Katanya.
"Emak begitu tulus mencintai almarhum Rama, dan Kita berdua, Fer!" Ucapnya.
"Iya Mas." Balasnya. Sebelum mereka pergi meninggalkan pusara almarhumah Emak Khulsum, tidak lupa mereka memanjatkan doa kepada Allah untuk almarhumah Emak Khulsum.
Mereka pun perlahan meninggalkan area pemakaman. Tempat yang dituju selanjutnya adalah toko perhiasan yang berada di kota Solo. Pak Teddy pun membelikan cincin emas seberat 10 gram, untuk melamar Fatimah.
Selesai membeli cincin, tidak lupa mereka untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Mereka pun menikmati makan siang di salah satu restoran mewah.
Selesai makan, mereka langsung menuju rumahnya Fatimah. Abah Usman, Bu Asmi, dan Fatimah menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Proses lamaran pun berjalan dengan lancar. Mereka pun kembali pulang ke rumahnya Hari. Sebelum pamitan pulang ke Jakarta, Pak Teddy pun berkata:
"Hari, ada kabar gembira untukmu!"
"Barusan Aku mendapatkan telpon! Katanya ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untukmu!" Jawabnya. Mendengar ucapannya, Hari dan Fera pun sangat gembira.
"Serius Pak? Siapa orangnya?" Tanya Hari penasaran.
"Katanya orangnya nggak mau identitasnya diketahui! Katanya cukup Allah saja yang tahu!" Jawabnya.
"Alhamdulillahi rabbal'alamiin! Terima kasih Ya Allah! Ternyata di dunia ini masih ada orang yang berhati sangat mulia!" Hari merasa sangat bersyukur.
"Semoga orang yang berhati seperti emas itu, selalu diberikan kesehatan, rizki yang lancar, dan panjang umur." Doa Fera ikut terharu.
"Aamiin ya rabbal'alamiin." Jawab Pak Teddy, Bi Ginah, dan Hari berbarengan.
"Ya sudah ya Hari! Saya sama Bi Ginah pamit dulu! Besok kalau tanggalnya sudah pasti, Kamu akan Aku jemput untuk proses donor mata di rumah sakit di Jakarta! Kamu siap kan Hari?" Tanyanya.
"Insha Allah siap Pak!" Jawabnya. Pak Teddy pun mengulurkan tangannya ke arah jari-jemari tangan kanan Hari. Mereka pun bersalaman.
"Assalamu'alaikum." Salam Pak Teddy ketika keluar dari dalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Bi Ginah turut mengikutinya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Hari dan Fera berbarengan.
Seperti yang dikatakan oleh Pak Teddy sebelumnya, Hari itu ia menjemput Hari menggunakan pesawat. Sesampainya di rumah sakit besar yang berada di kota Jakarta, mereka pun langsung melakukan proses donor mata. Namun sebelum Hari masuk ke ruang operasi, Pak Teddy berpamitan dengan Hari. Katanya ia hendak pergi karena ada urusan pekerjaan. Tidak lupa, Pak Teddy juga memberikan sejumlah uang kepada Hari, untuk membeli tiket untuk perjalanan pulang ke Sukoharjo. Sama sekali tidak ada perasaan curiga dalam benak Hari. Hari hanya penasaran, karena ia sama sekali tidak mengetahui seseorang yang hendak mendonorkan matanya.
__ADS_1
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam, akhirnya proses donor mata berjalan dengan lancar. Perlahan Hari membuka kedua matanya. Ia sangat tegang dan gelisah. Hari khawatir operasi pada kedua matanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Namun semua pikiran negatifnya ternyata salah. Ketika kedua kelopak matanya berhasil dibukanya, Hari bisa melihat keadaan sekelilingnya dengan sangat jelas. Hari pun sangat bahagia.
Hari pun bergegas menuju ke bandara Soekarno Hatta. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Fatimah. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam, akhirnya Hari sampai di kampung halamannya. Ia langsung menemui Fatimah dan kedua orang tuanya. Mereka sangat bahagia dan bersyukur karena Hari bisa melihat lagi.
Hari itu adalah hari pernikahan antara Hari dan Fatimah. Pernikahan yang dilakukan di kediamannya Fatimah, berjalan dengan lancar dan khidmat. Terlihat banyak tamu undangan yang datang dalam acara pernikahan anaknya Abah Usman, orang yang cukup terpandang di desanya. Dekorasi pelaminan pun terlihat sangat mewah dan megah. Satu persatu tamu undangan bersalaman dengan kedua mempelai, sambil memberikan ucapan selamat atas pernikahan Hari dan Fatimah.
Disaat menyambut para tamu yang mengajaknya bersalaman, Hari terlihat tampan dengan memakai kemeja berwarna putih dan jas berwarna hitam itu, tampak gelisah. Fatimah pun bertanya kepadanya:
"Mas, sebenarnya apa yang Kamu risaukan? Kulihat Kamu dari tadi terlihat gugup dan gelisah." Bisiknya.
"Aku menunggu Pak Teddy! Kok belum datang ya! Kemarin kan Kamu sudah melihat wajahnya. Kamu tadi sudah lihat belum Dek?" Tanyanya.
"Belum Mas. Mungkin Pak Teddy nggak akan datang Mas! Mungkin beliau sedang sibuk!" Jawab Fatimah yang terlihat cantik dan anggun dengan memakai gaun pengantin berwarna putih.
"Bisa jadi sih!" Celotehnya.
Beberapa saat kemudian, tanpa disangka-sangka oleh Hari dan Fatimah, terlihat seorang laki-laki berkacamata hitam yang memakai kemeja berwarna merah dengan jas berwarna biru, masuk ke dalam tenda biru. Lelaki itu bergandengan tangan dengan seorang perempuan muda berwajah manis dan imut. Usianya sekitar 20 tahunan lebih. Ketika melihat wajah perempuan itu, Fatimah dan Hari sangat penasaran dengannya.
"Itu siapa ya Mas?" Tanya Fatimah.
"Nggak tahu Dek! Aku rasa, Aku nggak mengenalinya!" Balasnya.
Kedua orang misterius itu pun berjalan dengan perlahan ke arah sepasang mempelai yang berada di atas panggung. Saat tiba giliran kedua orang itu bersalaman dengan Hari dan Fatimah, tiba-tiba saja Fatimah sedikit mengenali lelaki berkacamata hitam yang berada di hadapannya.
"Maaf Pak, kalau boleh tahu Bapak dan Mba ini siapa ya? Kok rasanya Saya pernah melihat wajah Bapak!" Tanya Fatimah.
"Nama Saya Pak Darmawan, dan ini keponakanku namanya Vanya! Saya kenal dengan Hari sewaktu amnesia! Begitu tahu Hari menikah, Saya sempatkan datang kesini bersama keponakanku!" Jawabnya. Mendengar suara yang keluar dari mulut lelaki di hadapannya, Hari pun sangat terkejut dibuatnya.
"Suara itu! Suara itu seperti nggak asing di telingaku!" Seru Hari dalam hati. Hari dan Fatimah pun saling pandang.
"Mohon maaf Pak! Bolehkah Bapak buka kacamatanya sebentar aja?" Tanya Hari.
"Maaf Hari, Saya nggak bisa melakukan hal itu!" Jawabnya. Mendengar jawaban dari mulut lelaki yang mengaku bernama Pak Darmawan, Hari pun semakin penasaran dengan wajahnya.
Tanpa diduga-duga oleh Pak Darmawan, tiba-tiba tangan kanan Hari berkelebat ke arah wajahnya. Sekali gerakan saja, Hari berhasil mencabut kacamata hitam yang menutupi kedua matanya. Ketika kacamata hitam telah berada dalam genggaman suaminya, Fatimah sangat kaget ketika melihat wajah lelaki di hadapannya. Ia pun langsung berseru:
"Pak Teddy!!! Dia Pak Teddy Mas! Bapak angkatnya Mas Hari!!!" Seru Fatimah dengan cukup keras. Beberapa tamu melihatnya dengan penasaran. Lain halnya dengan Hari. Begitu mendengar ucapan istrinya, Hari langsung berteriak dengan histeris.
"Pak Teddy!!! Jadi Bapak yang telah mendonorkan matanya untuk Hari??? Mengapa Bapak melakukan itu semua???" Tanya Hari dengan keras. Seketika air matanya membanjiri wajahnya yang tampan.
"Semua ini Aku lakukan untuk kebahagiaanmu, Hari! Aku sudah menganggap Kamu sebagai anak sendiri! Aku juga ingin menebus semua kesalahanku padamu!" Jawab lelaki yang bernama lengkap Pak Teddy Darmawan. Air matanya mengalir dari kedua matanya yang tidak lagi bisa melihat. Mendengar jawaban dari mulut Pak Teddy, Hari langsung memeluk tubuh Bapak angkatnya itu dengan sangat erat. Pak Teddy pun membalas pelukannya dengan erat. Vanya dan Fatimah ikut meneteskan air matanya. Tidak hanya mereka, hampir seluruh tamu undangan yang hadir meneteskan air matanya melihat kisah nyata mengharukan yang mereka saksikan. Termasuk dengan Fera, Abah Usman, dan Bu Asmi. Mereka sangat terharu atas pengorbanan Pak Teddy kepada Hari.
"Terima kasih Pak! Bapak begitu baik kepada Saya! Saya seperti mempunyai Bapak lagi!" Ucapnya Hari sambil menangis sesenggukan.
"Saya juga sudah menganggap Kamu seperti anak kandungku sendiri! Besok Kamu, Istrimu, dan Adikmu tinggal di rumahku ya, Hari! Aku minta Kamu untuk menggantikanku di perusahaan yang Aku miliki! Kamu mau kan, Hari?" Pintanya.
"Iya Pak! Insha Allah Saya mau Pak! Saya akan selalu menjaga Bapak! Saya nggak akan meninggalkan Bapak sendirian!" Balas Hari dengan wajah basah oleh air matanya.
...TAMAT...
__ADS_1