Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Rupa-Rupa


__ADS_3

  "Oh ya, sampai lupa! Vanya, kenalin ini lelaki yang kemarin Om ceritakan!" Serunya. Mendengar ucapan Pak Teddy, Si imut yang bernama asli Vanya, dengan perasaan gugup dan grogi ia melangkahkan kakinya ke arah Yos, yang duduk di hadapan Pak Teddy.


  "Mas, kenalin namaku Vanya. Keponakannya Om Teddy!" Vanya mengulurkan tangan kanannya.


  "Yos Sudarso. Panggil aja Yos!" Yos menyambut tangan kanan Vanya dengan perasaan yang sulit ia mengerti. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang ketika Yos bersalaman dengan erat.


  Ehhhmmmm...........!!!


  "Vanya, mulai sekarang Yos tinggal disini! Karena Yos sama sekali belum bisa mengingat jati dirinya!" Ucapnya. Mendengar ucapan Pak Teddy, Vanya dan Yos langsung buru-buru melepaskan tangan mereka masing-masing.


  "Maksud Om, Mas Yos mengalami amnesia?" Vanya tampak kaget.


  "Iya Va! Semua gara-gara Om!" Pak Teddy tampak sedih.


  "Jangan bicara begitu lagi Pak! Semua ini sama sekali bukan kesalahan Pak Teddy! Mungkin ini sudah takdirku harus menjalani cobaan ini!" Ucap Yos.


  "Yang sabar ya Yos! Kamu Insha Allah bisa melewati semua ini!" Pintanya.


  "Ya Pak! Misal bukan Pak Teddy yang terlibat kecelakaan ini, Aku nggak tahu lagi harus tinggal dimana! Mungkin Aku sudah jadi gelandangan di jalanan!" Yos pun terharu.


  "Semua ini sudah menjadi kehendak Allah, Yos!" Jawabnya.


  "Kalau Aku sudah dapat mengingat jati diriku, Aku akan segera pergi dari rumah ini Pak! Aku nggak mau merepotkan Pak Teddy terus!" Katanya.


  "Soal itu jangan dipikirkan, Yos! Aku sama sekali nggak merasa telah direpotkan! Malah Aku merasa senang Kamu tinggal disini! Aku jadi nggak kesepian lagi! Aku seperti kembali punya anak!" Balasnya.


  "Betul yang dikatakan Om Teddy, Mas! Om Teddy ini setiap hari cuma berdua sama Bi Ginah! Rumah sebesar ini rasanya sangat sunyi! Om Teddy ini orangnya sangat baik kok Mas! Jadi Mas Yos nggak perlu merasa nggak enak hati! Kalau mau apa-apa tinggal bilang aja sama Om Teddy! Pasti diturutin! Ya kan Om?" Vanya menengok ke arah Pak Teddy.

__ADS_1


  "Iya Mut!" Pak Teddy tampak tersenyum.


  "Aku nonton TV dulu ya Om! Keburu sinetron kesukaanku mulai!" Vanya tampak berlari ke arah ruang keluarga.


  "Memangnya rumah Vanya dimana Om?" Tanya Yos penasaran.


  "Dekat sini! Hampir tiap malam Dia nonton TV disini! Katanya kalau disini TV-nya gede dan berwarna! Kalau di rumah TV-nya kecil dan hitam putih!" Balasnya. Mendengar jawaban dari Pak Teddy, Yos pun terlihat senyum-senyum.


  "Vanya sekolah dimana Pak?" Yos tambah penasaran.


  "Dia sudah kuliah lho, Yos! Sudah semester akhir! Mungkin beberapa bulan lagi Dia lulus! Dikira masih SMU ya, Yos?"


  "Iya Pak! Masih kelihatan sangat muda!" Yos tampak gugup.


  "Vanya emang wajahnya imut! Makanya Aku dan Bibi manggilnya Si imut! Oh ya, sehabis makan, lebih baik Kamu langsung istirahat ya Yos!" Ucapnya.


  "Besok pagi kan hari minggu! Kamu mau kan, Aku ajak jalan-jalan? Stok pakaianmu kan cuma sedikit!"


  "Baik Pak!"


  Seperti yang dikatakan oleh Yos sebelumnya, selesai ia menikmati makan malam, ia pun kembali menuju kamar tidurnya. Sedangkan Pak Teddy terlihat menemani Vanya menonton TV.


  Pagi itu, selesai sarapan, mandi, dan berpakaian, Yos dan Pak Teddy pergi ke sebuah mall yang berada di daerah Jakarta Pusat. Yos merasa sangat bahagia. Pasalnya, Pak Teddy mengajaknya berbelanja pakaian, sepatu, dan kebutuhan pribadi yang lainnya. Setelah puas berbelanja, tidak lupa mereka mengunjungi sebuah restoran yang berada di dalam mall tersebut. Berbagai macam makanan pun Pak Teddy pesan. Pak Teddy terlihat sangat menyayangi Yos seperti anak kandungnya sendiri.


  Sementara itu, di sebuah rumah tahanan yang berada di daerah Jakarta Pusat, terlihat seorang laki-laki berambut gelombang yang panjangnya sebahu, keluar dari dalam rumah prodeo tersebut. Wajahnya yang berkulit putih terlihat sangat suram. Seperti memendam sebuah perasaan kebencian yang mendalam. Ditambah lagi dengan kumis dan cambang bauk yang tampak lebat tidak teratur. Serta sebuah anting yang menggantung di telinga kirinya. Membuatnya kelihatan sangat menyeramkan bagi orang lain yang memandangnya. Dengan perlahan, lelaki misterius yang mengenakan pakaian lusuh itu, berjalan menyusuri trotoar yang berada di jalanan ibukota yang terlihat sangat ramai.


  Setelah selesai menikmati hidangan yang dipesannya, Pak Teddy dan Yos pun kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir di basemen. Sebelum mereka pulang, Pak Teddy tidak lupa untuk membelikan bebek goreng untuk Bi Ginah. Karena ia telah berjanji untuk membelikannya.

__ADS_1


  "Yos, Kita mampir ke warung makan sebentar ya! Mau beli bebek goreng buat Bi Ginah! Kamu mau nggak Yos?" Tanya Pak Teddy sambil menyetir mobilnya.


  "Nggak Pak. Masih kenyang!" Jawabnya.


  Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran depan sebuah rumah makan yang menjadi langganannya, Pak Teddy dan Yos turun dari atas mobil. Ketika mereka sedang berjalan menuju bagian dalam rumah makan tersebut, tanpa diketahui oleh mereka berdua, ada seorang laki-laki misterius yang melihat wajah Pak Teddy. Lelaki berambut gondrong yang sedang berdiri di trotoar yang berada di seberang rumah makan itu, menatap sangat tajam ke arah Pak Teddy. Raut mukanya terlihat sangat kelam pekat.


  "Takdir telah mempertemukan Kita kembali! Dendam dua belas tahun yang lalu, nggak akan pernah bisa lenyap dari dalam diriku! Dulu Kau menjebloskanku ke dalam penjara! Sekarang sudah saatnya, dendam itu harus terbalaskan! Aku nggak akan membiarkan hidupmu tenang, lelaki keparat!" Serunya dalam hati.


  Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya pesanan Pak Teddy telah selesai. Begitu membayar sejumlah harga pesanannya, Pak Teddy pun kembali berjalan menuju mobilnya dengan membawa plastik berisi bebek goreng yang dipesannya. Yos pun mengikuti di belakangnya.


  Saat mengetahui Pak Teddy dan Yos hendak masuk ke dalam mobilnya, lelaki misterius itu bergegas menghentikan sebuah taksi yang berada di sebelah kanannya. Begitu taksi itu berhenti tepat di depannya, ia pun langsung membuka pintu samping kiri taksi tersebut.


  "Pak! Ikuti mobil berwarna merah itu!" Perintahnya.


  "Baik Pak!" Balas supir taksi.


  Setelah membayar jasa parkir, Pak Teddy dan Yos pun masuk ke dalam mobil. Begitu menyalakan mesin mobil jenis sedan miliknya, Pak Teddy langsung menginjak pedal gas. Mobil itu pun melaju dengan kencang meninggalkan rumah makan itu. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, sebuah taksi terus menerus mengikuti mobil yang dikendarai Pak Teddy.


  Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya Pak Teddy sampai di depan rumahnya yang mewah. Pak Teddy dan Yos keluar dari dalam mobil dengan membawa plastik-plastik yang berisi barang belanjaan mereka. Dengan rasa lelah mereka masuk ke dalam rumah.


  Saat mobil Pak Teddy masuk ke dalam area carport depan rumahnya, taksi berpenumpang misterius itu berhenti sekitar 50 meter dari rumahnya Pak Teddy.


  "Berhenti sebentar Pak!" Perintahnya pada supir taksi.


  "Jadi itu tempat tinggalmu! 12 tahun Aku mendekam di dalam penjara, 12 tahun Aku hidup menderita, ternyata Kamu malah hidup bahagia dengan bergelimang harta! Tunggu! Tunggu aja pembalasanku!" Teriaknya dalam hati.


  "Jalan lagi Pak!" Pintanya lagi. Taksi itu pun kembali berjalan dengan kencang, meninggalkan rumah Pak Teddy.

__ADS_1


   


__ADS_2