
Setelah beberapa hari Yos tinggal bersama Pak Teddy, perban yang sudah beberapa kali diganti, akhirnya bisa dilepas untuk seterusnya. Dikarenakan luka bekas jahitan operasi pada kepala Yos sudah kering. Pak Teddy pun mengajak Yos untuk bekerja di perusahaan periklanan miliknya. Walaupun awalnya Yos menolaknya, namun akhirnya ia pun mengabulkan permintaan Pak Teddy. Karena Yos merasa tidak enak, karena sudah tinggal bersamanya.
Hari demi hari berlalu. Karena Vanya hampir setiap hari pergi ke rumahnya Pak Teddy, ia pun sering bertemu dengan Yos. Mereka berdua pun semakin akrab. Setiap malam minggu tiba, sebagai anak muda mereka berdua pun tidak ketinggalan pergaulan anak-anak muda ibukota. Lambat laun benih-benih cinta tumbuh diantara mereka berdua.
Yos yang sudah bisa menyetir mobil sendiri karena diajari oleh Pak Teddy, selalu meminjam mobil milik Pak Teddy untuk menjemput Vanya jika mereka berdua akan pergi menikmati malam minggu.
Seperti malam itu, Yos turun dari mobil sedan, ketika ia sampai di depan rumahnya Vanya. Yos tampak tampan walaupun pada bagian kepalanya belum tumbuh rambut, akibat dipotong habis saat dilakukan operasi pascakecelakaan beberapa minggu yang lalu.
Yos terlihat gagah dengan memakai kemeja berwarna biru bermotif burung-burung. Di bagian bawah, ia memakai celana jeans panjang berwarna biru dengan style cutbray. Sedangkan untuk alas kakinya, Yos memakai sepatu sneaker berwarna putih.
Tokkk...Tokkk...Tokkk...
"Assalamu'alaikum." Salamnya ketika Yos berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang laki-laki dari dalam rumah.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu di hadapan Yos terbuka dengan perlahan. Terlihat seorang lelaki berkacamata, berdiri di balik pintu. Yos pun bergegas mengulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Malam Om!" Sapanya.
"Malam. Masuk dulu Yos! Vanya lagi di kamar!" Pintanya.
"Iya Om." Yos pun masuk ke dalam rumah dan duduk di atas sofa berwarna coklat. Laki-laki yang bukan lain adalah Bapak kandungnya Vanya, ikut duduk di sofa yang berada di hadapan Yos. Tangan kirinya tampak memegang buku tebal.
"Gimana kabarmu Yos?"
"Alhamdulillah baik Om."
"Kabar Pak Teddy sehat kan?"
"Pak Teddy alhamdulilah sehat Om."
"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang gimana keadaanmu, Yos? Apa Kamu sudah mulai ingat dengan jati dirimu? Apakah sudah ada perkembangan?"
"Belum Om. Saya sama sekali belum ingat semuanya! Entah sampai kapan Saya akan begini, Om!"
"Sabar Yos! Semua ini cobaan dari Allah yang harus Kamu jalani. Dengan kejadian ini, Insha Allah Kamu akan mendapatkan hikmahnya." Nasihat bapaknya Vanya.
"Iya Om."
__ADS_1
"Karena kecelakaan yang Kamu alami, Kamu kan jadi mengenal Pak Teddy! Mengenal Vanya, Om, dan Tante!"
"Iya Om!" Belum sempat bapaknya Vanya kembali berbicara, tiba-tiba muncul seorang perempuan di ruang tamu.
"Sudah dari tadi Yos? Vanya masih dandan di kamarnya!"
"Baru aja Tante!" Yos pun bangkit berdiri dan bersalaman dengan perempuan yang bukan lain adalah ibunya Vanya.
"Tadi Tante dengar apa yang Kamu bicarakan dengan Papanya Vanya. Betul yang dikatakan Papanya Vanya, Yos! Kamu sangat beruntung Yos! Kamu sudah dianggap seperti anak kandungnya Pak Teddy. Sebagai Kakak kandungnya Pak Teddy, Aku tahu persis sifatnya. Pak Teddy itu memang baik. Tapi nggak semua orang diperlakukan sepertimu, Yos!" Ucapnya.
"Maksudnya gimana Tante?" Yos tampak bingung.
"Kamu itu belum lama dikenal oleh Pak Teddy, tapi Pak Teddy sudah sangat menyayangimu seperti anak kandungnya sendiri! Makanya Kamu disuruh tinggal bersamanya, dan diajaknya bekerja di perusahaannya. Nggak hanya itu Yos! Bahkan Kamu mau dibelikan mobil baru sama Pak Teddy!"
"Kayaknya nggak mungkin, Tante! Saya kan bukan siapa-siapanya Pak Teddy!" Yos tersenyum.
"Pak Teddy yang bicara sendiri sama Tante sewaktu datang kesini! Nggak hanya itu, bahkan Dia mau mengangkat Kamu sebagai anak angkatnya!" Katanya.
"Masa sih Tante?" Yos seolah belum percaya.
"Masa Tante bohong! Pak Teddy kan Adik kandung Tante. Makanya Dia curhat dan minta pendapat Tante!" Jawabnya.
"Tentu aja Tante ya sangat setuju kalau Kamu menjadi anak angkat Pak Teddy! Karena Tante tahu kalau Kamu orang baik! Soalnya Tante sedih melihat Pak Teddy. Sejak meninggalnya istri dan anaknya 12 tahun yang lalu, Pak Teddy terlihat kesepian." Balasnya.
"Betul yang dikatakan Mamanya Vanya, Yos! Sejak kehadiranmu dihidup Pak Teddy, sekarang Dia terlihat lebih bahagia. Jadi Kamu mau kan jadi anak angkatnya Pak Teddy, Yos?" Tanya papanya Vanya.
"Saya belum bisa memberikan jawabannya sekarang, Om! Soalnya Saya masih punya orang tua kandung. Walaupun, Saya nggak tahu orang tua Saya tinggal dimana! Tapi pasti mereka sampai sekarang sedih karena kehilangan Saya." Jawab Yos dengan berlinang air mata.
"Punya orang tua angkat kan bukan berarti harus melupakan orang tua kandung, Yos! Tapi kalau Kamu belum bisa menjawabnya sekarang, nggak masalah Yos. Kami juga tahu, Kamu butuh waktu berpikir untuk mengambil keputusan ini!" Katanya.
"Iya Om."
"Pak Teddy juga sudah memasang iklan di koran, baliho, dan selebaran yang sudah disebar di penjuru kota Jakarta! Semoga semuanya dimudahkan Allah. Agar Kamu bisa bertemu kembali dengan keluargamu, Yos!" Ucap mamanya Vanya.
"Aamiin." Jawabnya. Tiba-tiba saja muncul seorang perempuan muda berwajah manis dan imut. Dia bukan lain adalah Vanya. Vanya tampak cantik dengan rambut yang panjang dikepang kecil-kecil. Ia mengenakan pakaian terusan berwarna kuning. Sedangkan alas kakinya, Vanya memakai sepatu wedges berwarna merah.
"Ada apa sih Ma, Pa? Kedengarannya lagi pada bicara serius banget!" Tanya Vanya yang memakai lipstik berwarna merah muda.
"Mau tahu aja!" Jawab mamanya.
__ADS_1
"Ih Mama gitu deh!" Vanya pun cemberut.
"Kalau cemberut gitu, nanti nggak cantik lagi lho! Iya kan Yos?" Ucap papanya Vanya tersenyum.
"Iya Om!" Yos pun ikut tersenyum.
"Ih Papa! Vanya kan sudah lama dandannya! Masa nggak cantik!"
"Anak Mama cantik banget lho! Mau kemana sih?" Tanya mamanya.
"Mau jalan-jalan dong Ma! Kan anak muda! Kayak Mama nggak pernah muda aja!" Vanya tampak malu-malu.
"Tapi pulangnya jangan malam-malam ya!" Pintanya.
"Iya Ma!"
"Kita berangkat sekarang Va?" Tanya Yos.
"Iya Mas."
"Om, Kita berangkat dulu!" Yos pun bangkit berdiri dan mengajak papanya bersalaman.
"Hati-hati di jalan ya Yos!" Pintanya sambil menyambut tangan kanan Yos.
"Iya Om. Pamit dulu, Tante!" Yos mengajak bersalaman mamanya Vanya.
"Hati-hati ya Yos! Kalau bisa sebelum jam sepuluh sudah pulang!" Pintanya sambil menyambut tangan kanan Yos.
"Iya Tante."
"Assalamu'alaikum." Salam Yos sambil berjalan keluar dari dalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Vanya pun berjalan dibelakang Yos.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua orang tuanya Vanya.
Yos dan Vanya pun bergegas masuk ke dalam mobil mewah milik Pak Teddy. Tidak membuang waktu lagi, Yos langsung menyalakan mesinnya dan menginjak pedal gas. Dengan cepat mobil itu pun melaju menuju salah satu mall yang berada di daerah Jakarta Pusat.
__ADS_1