
"Fatimah, bolehkah Aku menanyakan sesuatu padamu?" Tanya dokter Indra sambil menyetir mobilnya.
"Tanya apa Dok?" Fatimah dibuat penasaran.
"Kata perawat yang lain, katanya Kamu kemarin baru dilamar ya?"
"Iya betul Dok! Saya minta doanya ya Dok, semoga semuanya dimudahkan Allah sampai Saya menikah." Pintanya.
"I...Iya tentu aja Aku doakan, Fatimah! Semoga Kamu mendapatkan jodoh yang terbaik!" Balasnya dengan perasaan kecewa.
"Aamiin. Makasih banyak ya Dok!"
"Sama-sama Fatimah! Laki-laki yang akan menjadi suamimu nanti, adalah laki-laki yang sangat beruntung, Fatimah! Kamu selain cantik wajahnya juga cantik hatinya!" Pujinya.
"Dokter bisa aja! Saya juga banyak kekurangannya, Dok! Oh ya, kapan dokter Indra menikah? Sudah ada calonnya belum?" Fatimah tersenyum manis.
"Kamu Fatimah! Kamulah orang yang selama ini Aku cintai! Tapi Kamu selalu menganggap Aku hanya sebagai rekan kerja!" Ucapnya dalam hati.
"Belum! Belum ada calonnya, Fatimah! Kamu bisa bantu cariin jodoh untukku nggak? Siapa tahu Kamu punya teman yang belum menikah." Jawabnya.
"Masa sih dokter Indra belum ada calonnya? Bohong nih pasti!" Fatimah tidak percaya dengan ucapannya.
"Serius Fatimah! Masa sih Aku bohong sama Kamu!" Balasnya dengan meyakinkan.
"Soalnya dokter Indra ini bisa dibilang idaman hampir semua perempuan! Dokter itu sudah mapan, tampan, dan baik hati tentunya! Pasti banyak perempuan yang cinta sama dokter dan ingin menjadi istri dokter Indra!" Puji Fatimah.
"Tapi Aku hanya cinta sama Kamu, Fatimah! Belum ada seorang pun yang bisa menggantikan Kamu di hatiku!" Jawabnya dalam hati.
"Tapi namanya jodoh, kadang datang cepat. Kadang terlambat! Semua kan sudah ditakdirkan Allah kapan dan siapa jodohnya! Bukankah begitu, Fatimah?"
"Iya betul Dok! Jodoh memang rahasia Allah! Saya juga nggak menyangka akan berjodoh dengan Mas Hari!"
"Jadi calon suamimu namanya Hari? Orang mana Fatimah?" Tanyanya penasaran.
"Satu desa sama Saya, Dok! Tapi Dia kerja di Jakarta!" Jawabnya.
"Oh begitu." Ucapnya datar.
Setelah sekitar 20 menit di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumahnya Fatimah yang cukup mewah.
__ADS_1
"Makasih banyak ya Dok!" Ucap Fatimah sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama Fatimah! Sorry Aku nggak mampir. Soalnya sudah malam!"
"Nggak apa-apa Dok." Balasnya. Fatimah pun turun dari atas mobil. Sebelum dokter Indra pergi dari hadapan Fatimah yang masih berdiri di depan gerbang, ia melambaikan tangannya pada Fatimah. Namun Fatimah hanya membalasnya dengan senyuman manis. Dokter Indra pun kembali menginjak pedal gasnya. Dengan cepat ia berlalu dari hadapan Fatimah.
Setelah mobil milik dokter Indra hilang dari pandangannya, Fatimah buru-buru membuka gerbang dan berjalan menuju pintu depan rumahnya.
Tokkk...Tokkk...Tokkk...
"Assalamu'alaikum." Salam Fatimah ketika membuka pintu. Namun begitu pintu dibukanya, Fatimah dibuat terkejut dengan sosok Abahnya yang sedang duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Abah sambil memegang sebatang rokok.
"Abah belum tidur?" Tanya Fatimah.
"Belum ngantuk! Kamu baru pulang Fa?" Tanya balik Abah.
"Iya Bah. Motornya tadi siang mogok sewaktu berangkat kerja. Terus Fatimah masukkan bengkel. Karena buru-buru, motornya Fatimah tinggal di bengkel." Jawabnya dengan sedikit gugup. Fatimah pun bersalaman dengan abahnya. Abah menyambut tangan kanan anaknya dengan muka datar.
Mendengar jawaban anaknya, abah hanya diam seribu bahasa. Rokok di tangan kanannya dihisapnya dengan kuat. Asap tebal berwarna putih disemburkan dari mulut dan hidungnya. Fatimah memandangi wajah abahnya dengan perasaan tidak nyaman.
"Fatimah ke kamar dulu ya!" Fatimah membalikkan badannya ke arah pintu yang menuju ruang tengah. Kedua kakinya hendak ia langkahkan. Namun belum sempat niatnya terwujud, tiba-tiba saja abah mengeluarkan suara.
"Tapi Fatimah sudah ngantuk, Bah!" Jawabnya.
"Cuma sebentar, Fa! Abah mau bicara!" Perintah lelaki berjenggot itu. Fatimah yang sudah sangat mengenali sifat abahnya, dengan terpaksa mengikuti perintahnya. Perlahan ia duduk di atas sofa yang berada di sebelah kanan meja.
"Coba katakan dengan jujur, siapa yang tadi mengantarkan Kamu pulang menggunakan mobil, Fatimah?" Tanya abah. Mendengar pertanyaan abahnya, Fatimah mendadak jadi tidak tenang.
"Tadi Fatimah diantar rekan kerja, Bah! Karena sewaktu Fatimah menunggu taksi di trotoar, teman Fatimah menawarkan tumpangan." Jawabnya.
"Temanmu laki-laki atau perempuan?" Tanya abah lagi.
"Laki-laki Bah. Namanya dokter Indra." Jawab Fatimah dengan jujur. Belum sempat abah kembali bersuara, tiba-tiba seorang perempuan muncul di ruang tamu dengan membawa secangkir kopi hitam.
"Baru pulang Fatimah?" Tanya perempuan itu sambil menaruh secangkir kopi hitam di atas meja.
"Iya Bu." Jawabnya. Fatimah pun bersalaman dengan perempuan yang bukan lain adalah Bu Asmi, ibu kandungnya Fatimah.
__ADS_1
"Fatimah, Kamu masih memakai cincin di jari manismu kan?" Tanya abah dengan tegas. Mendengar pertanyaan abahnya, Fatimah dengan sedikit takut, mencoba menatap jari manis tangan kirinya. Ia melihat sebuah cincin bermata satu masih melekat di jarinya.
"Masih Bah." Jawabnya dengan perasaan semakin tidak nyaman.
"Ada apa sih Bah?" Bu Asmi penasaran sekali dengan pertanyaan suaminya.
"Ibu mau tahu kelakuan anak Kita tadi?" Tanya balik abah.
"Memangnya apa yang Kamu lakukan tadi, Fatimah?" Seketika Bu Asmi tampak khawatir.
"Fatimah nggak melakukan apapun, Bu!" Jawabnya.
"Fatimah, Kamu tidak lupa kalau Kamu ini sudah dikhitbah oleh Hari kan?" Tanya abah dengan tatapan tajam.
"Tentu aja Fatimah nggak lupa Bah!" Jawabnya.
"Tapi mengapa tadi Kamu berani pulang bersama dengan laki-laki lain? Berduaan di dalam mobil dengan lawan jenis!" Abah semakin mendesak.
"Dokter Indra hanya berniat mengantarkan Fatimah, Bah! Karena Dia melihat Fatimah sedang menunggu taksi. Fatimah menerima tumpangannya, karena sudah sekitar 15 menit Fatimah menunggu taksi, namun nggak ada satupun taksi yang lewat!" Jawabnya.
"Memangnya motornya dimana Fatimah?" Tanya Bu Asmi.
"Tadi siang sewaktu berangkat kerja, mogok Bu! Jadi Fatimah tinggal di bengkel!" Balasnya.
"Apapun alasannya, Kamu tidak boleh berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Fatimah! Apa kata tetangga nanti, kalau tahu anaknya Pak Usman yang sudah naik haji, tapi berani berduaan dengan laki-laki lain! Apalagi Kamu ini sudah dikhitbah oleh Hari! Orang-orang akan menilai Kamu semakin buruk! Mau ditaruh dimana muka Abah?" Nasihat abah.
"Betul yang dikatakan oleh Abahmu, Nak! Kamu harus jaga diri dari laki-laki lain. Sekalipun itu rekan kerjamu. Kamu tahu sendiri, orang banyak yang hanya melihat sisi negatif seseorang. Jadi Kamu harus berhati-hati dalam bergaul!" Bu Asmi menambahinya.
"Tapi Fatimah terpaksa menerima ajakannya, Ibu, Abah! Karena sudah kelamaan Fatimah menunggu taksi, namun tidak ada satu pun yang lewat! Sedangkan hari sudah cukup larut malam! Kalau Fatimah nggak ikut numpang di mobilnya dokter Indra, terus gimana Fatimah bisa pulang? Apa Abah dan Ibu tega melihat anaknya malam-malam sendirian di pinggir jalan? Bagaimana kalau ada orang jahat?" Jawab Fatimah dengan keringat dingin mengucur di wajahnya yang cantik.
"Kamu kan bisa ke wartel untuk menelpon rumah! Biar Abah yang jemput Kamu! Kamu tidak lupa kan nomor telpon rumah?" Tanya abah dengan sedikit keras. Mendengar ucapan abahnya, air mata Fatimah yang sejak tadi ditahannya, seketika langsung membanjiri wajahnya. Isak tangis terdengar perlahan.
"Maafkan Fatimah, Bah! Fatimah nggak kepikiran sampai disitu. Maafkan Fatimah sudah membuat kesalahan!" Fatimah menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Bah! Maafkan kesalahan Fatimah! Tidak enak kalau didengar oleh tetangga! Fatimah kan hanya menumpang mobil sama temannya, tidak lebih. Semoga hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari." Pinta Bu Asmi. Mendengar permintaan istrinya, Abah langsung menatap ke arah Fatimah. Kedua tangannya direntangkan ke arah depan.
"Sini Fatimah! Abah sudah memaafkanmu!" Ucapnya. Mendengar ucapan abahnya, perlahan Fatimah memberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dengan berderaian air mata, Fatimah bangkit berdiri dan langsung menghampiri abahnya. Ia pun memeluk tubuh abahnya dengan erat.
"Maafkan abah kalau terlalu emosi sama Kamu ya Nak!" Ucap abah sambil memeluk dan membelai jilbabnya di kepala bagian belakang.
__ADS_1
"Abah nggak salah! Fatimah yang salah! Fatimah minta maaf sama Abah!" Fatimah menangis sesenggukan.
"Iya! Kamu sudah Abah maafkan." Jawabnya.