Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Menyusuri Ibukota


__ADS_3

  Setelah Fera dan emaknya sampai di stasiun Balapan, emak pun membayar jasa becak pada Pak Lik Marto sebesar 10ribu rupiah. Mereka berdua pun berjalan menuju loket pembelian tiket kereta api.


  Setelah mendapatkan dua buah tiket, Fera dan emak menunggu kereta api yang akan dinaikinya, dengan duduk di kursi yang telah disediakan di ruang tunggu.


  Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya sebuah kereta api kelas ekonomi muncul di kejauhan dari arah timur.  Petugas stasiun pun mengumumkan kepada para penumpang bahwa salah satu kereta api kelas ekonomi akan segera muncul di stasiun Balapan. Mengetahui kereta yang hendak dinaiki telah datang, Fera, emak, dan para penumpang lainnya bergegas beranjak dari duduknya dan bersiap-siap menaiki kereta dengan membawa barang bawaan mereka masing-masing.


  Begitu kereta itu telah berhenti, Fera dan emak naik ke atas gerbong yang sesuai dengan nomor gerbong yang tertulis di tiket yang dipegangnya. Setelah berhasil naik ke atas kereta, Fera dan emak dengan cepat berusaha mencari nomor kursi mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Mereka berdua pun akhirnya bisa duduk di atas kursi yang sesuai dengan nomor kursi yang berada di tiket.


  Hanya 10 menit kereta api itu berhenti di stasiun Balapan, akhirnya kereta itu kembali berjalan dengan cepat menuju Jakarta. Berbagai macam pedagang asongan berlalu lalang melewati lorong sempit yang berada di bagian tengah gerbong kereta. Hiruk pikuk suara pada pedagang asongan pun terdengar tiada henti-hentinya.


  Setelah sekitar dua jam di dalam perjalanan, perut Fera dan emak pun merasa lapar. Mereka berdua pun mengeluarkan bekal yang dibawanya dari rumah menggunakan kertas minyak dan diikat menggunakan karet gelang. Dengan lahap mereka berdua menyantap makanan yang terdiri dari nasi, sayur tumis kacang panjang, dan ayam goreng.


  Sekitar 10 jam di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di stasiun Pasar Senen. Stasiun yang menjadi tujuan terakhir kereta yang dinaiki oleh Fera dan emaknya.


  Setelah kereta benar-benar berhenti, semua penumpang yang tersisa, saling berebut untuk turun dari atas kereta itu, termasuk Fera dan emaknya. Mereka berdua pun berjalan menuju pintu keluar.


  "Kita ke kos-kosannya Mas Hari sekarang apa langsung mencari hotel, Emak?" Tanya Fera sambil berjalan.


  "Sudah malam Fer, lebih baik Kita langsung mencari hotel saja! Ke kos-kosannya Hari besok pagi saja! Lagian kalau sekarang, juga tidak enak sama Ibu kosnya." Jawabnya.


  "Kita nyari hotel yang dekat sini aja ya Mak!" Pintanya.


  "Iya! Tidak perlu hotel yang bagus! Yang sederhana saja, yang penting murah!" Balasnya.


  Setelah berhasil keluar dari stasiun, mereka berjalan menghampiri salah satu tukang becak yang sedang mangkal di depan stasiun.


  "Pak, mohon maaf sebelumnya. Mau tanya, apa di daerah dekat sini ada losmen atau penginapan yang murah?" Tanya Fera dengan ramah.


  "Oh, ada Mba! Lumayan dekat dari sini! Mari Saya antar!" Jawabnya. Fera dan emak pun naik ke atas becak. Perlahan lelaki itu pun mengayuh becaknya menuju sebuah tempat penginapan. Melihat bangunan-bangunan pencakar langit yang megah dan menjulang tinggi, Fera dan emak sangat terpukau dibuatnya. Kesedihannya hilang sejenak dari pikirannya.


  Setelah sampai disebuah losmen, mereka berdua pun turun dari atas becak. Tidak lupa, Fera membayar jasa becak sesuai permintaan tukang becak tersebut. Mereka berdua berjalan menuju resepsionis penginapan sederhana itu. Sesudah memesan sebuah kamar dan telah membayarnya, Fera dan emak bergegas menuju nomor kamar yang disewanya. Dengan perasaan lelah mereka duduk di atas tempat tidur yang di bagian atasnya dilapisi dengan kasur yang terbuat dari kapuk.


  "Kita menginap disini nggak apa-apa kan Mak?" Tanya Fera.


  "Iya tidak apa-apa Fera! Biarpun kamar ini sederhana seperti di rumah Kita di kampung, tapi yang penting kan murah! Mau tidur di hotel yang kasurnya empuk, sama tidur disini kan sama-sama tidur memejamkan mata! Bukankah begitu, Fera!" Tanya balik emak.


  "Iya juga sih Mak!" Balasnya.


  "Kita shalat dulu yuk, Fer! Mumpung belum ngantuk!" Ajak emak.


  "Iya Mak." Balasnya. Mereka berdua pun mengambil air wudhu yang berada di toilet, diluar kamar. Setelah shalat di dalam kamarnya, mereka akhirnya melepaskan lelahnya. Setelah seharian melakukan perjalanan yang cukup lama.


  Pagi itu, setelah selesai menikmati sarapan nasi uduk yang dijual dekat losmen, Fera dan emak menunggu bajaj yang lewat di depan losmen.

__ADS_1


  Tidak berapa lama menunggu, sebuah bajaj muncul di kejauhan. Fera pun melambaikan tangan kanannya. Bajaj itu pun berhenti tepat di hadapan mereka berdua.


  "Permisi Pak, bisa tolong antar Kami ke alamat ini?" Fera pun menyerahkan selembar kertas berisi alamat kos-kosannya Hari.


  "Bisa Mba! Silahkan naik!" Balas supir bajaj itu. Fera dan emak pun bergegas naik ke atas bajaj. Supir bajaj itu pun kembali menjalankan bajajnya. Fera dan emak yang baru pertama kali naik bajaj, dibuat tersenyum gembira. Sepanjang perjalanan, mereka berdua asyik mengobrol dengan supir bajaj tersebut.


  Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya mereka sampai di tepi sebuah jalanan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan yang melintas.


  "Sudah sampai Mba, Bu!" Kata supir bajaj.


  "Jadi berapa Pak?" Tanya Fera.


  "10 ribu aja Mba!" Balasnya. Fera pun memberikan selembar uang kertas bergambar Sri Sultan Hamengkubuwono IX itu.


  Terima kasih Mba, Bu! Semoga secepatnya bisa bertemu dengan anaknya!" Doa supir bajaj itu sambil menerima uang dari Fera.


  "Aamiin. Terima kasih ya Pak sudah diantar! Ucap emak.


  "Hati-hati ya Bu! Tanya di toko sembako itu aja Bu! Insha Allah tahu kos-kosannya anak Ibu!" Pintanya.


  "Iya Pak." Balasnya. Perlahan emak turun dari atas bajaj. Fera pun ikut turun dari atas bajaj. Tidak berapa lama, bajaj itu pun dengan cepat berlalu dari hadapan mereka berdua.


  "Permisi Bu. Mau tanya, kos-kosan Flamboyan disebelah mana ya?" Tanya emak pada pemilik toko sembako.


  "Kalau pemilik kos-kosannya, rumahnya dimana ya Bu?" Tanya Fera.


  "Disampingnya kanannya kos-kosannya persis. Rumah yang banyak tanamannya. Namanya Bu Marni." Jawabnya.


  "Terima kasih banyak ya Bu!" Ucap emak.


  "Terima kasih Bu." Fera menimpalinya.


  "Sama-sama Bu, Mba!" Balasnya.


  Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam gang yang berada tidak jauh di sebelah kiri toko sembako. Mereka terus menyusuri gang sempit itu, sesuai petunjuk yang diberikan oleh pemilik toko sembako.


  Setelah berjalan, beberapa puluh meter, akhirnya mereka sampai di depan rumah bercat putih yang di halaman depannya terdapat banyak tanaman. Fera dan emak pun berjalan menuju pintu depan rumah itu.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Assalamu'alaikum!" Salam Fera.


  "Wa'alaikumsalam!" Terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah. Tidak berapa lama pintu di hadapan mereka berdua pun terbuka dengan perlahan. Begitu pintu itu terbuka, terlihat seorang perempuan berumur sekitar setengah abad mengenakan kacamata dengan bingkai dan rantai berwarna emas. Fera dan emak pun bersalaman dengan perempuan pemilik kos-kosan tersebut.

__ADS_1


  "Mohon maaf sebelumnya, apa benar Ibu ini Bu Marni, pemilik kos-kosan Flamboyan?" Tanya Fera.


  "Betul Mba! Silahkan masuk Mba, Bu! Ada yang bisa dibantu?" Tanya Bu Marni begitu duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu.


  "Kami mau mencari anak Saya yang bernama Hari! Apa betul Hari ngekos di tempat Ibu?" Tanya emak.


  "Hari yang kerjanya di pabrik mobil?" Tanya balik Bu Marni.


  "Betul sekali Bu." Jawab emak dengan gembira.


  "Hari sudah kurang lebih sebulan nggak pernah kelihatan! Saya kira sudah pindah kos! Tapi sewaktu Saya membuka kamarnya Hari menggunakan kunci serep, ternyata barang-barang miliknya masih ada!" Katanya.


  "Ya Allah Hari anakku! Dimana Kamu Nak?" Seru emak. Air matanya menetes di pipinya.


  "Sebenarnya beberapa minggu yang lalu, Mas Hari pulang kampung Bu! Tapi cuma dua hari. Terus berangkat lagi ke Jakarta." Ucap Fera.


  "Apa setelah pulang kampung, Hari nggak pernah telepon atau pun mengirim surat?" Tanyanya.


  "Nggak Bu! Biasanya kalau habis pulang kampung, Mas Hari selalu mengirimkan surat! Tapi kemarin sama sekali nggak mengirim surat!" Jawab Fera sedih.


  "Waktu itu di jalan raya dekat sini, ada yang kecelakaan tertabrak mobil! Tapi kata orang-orang yang melihat, katanya korbannya langsung dibawa ke rumah sakit! Apa nggak ada seseorang yang menghubungi nomor telepon Mba?" Tanyanya.


  "Saya nggak punya telepon, Bu!" Jawabnya.


  "Kalau boleh tahu, dimana korban kecelakaan itu dirawat, Bu?" Tanya emak dengan perasaannya yang semakin resah dan gelisah.


  "Mohon maaf Bu, Saya sama sekali nggak tahu. Saya juga tahu berita itu dari tetangga tetangga! Katanya sih yang menabrak laki-laki itu langsung bertanggung jawab memanggil ambulance dan membawanya ke rumah sakit! Jika memang korban kecelakaan itu memang Hari anak Ibu, harusnya Dia atau pun yang menabrak Hari memberikan kabar pada Ibu dan Mba." Jawab Bu Marni tampak berpikir serius.


  "Tapi Mas Hari nggak ada masalah di kos-kosannya kan Bu? Apa Mas Hari teratur bayar kosnya?" Tanya Fera.


  "Hari sama sekali nggak ada masalah di kos-kosan! Sama teman-teman kos yang lain juga Ibu tanya baik-baik aja! Sama Saya juga nggak ada masalah. Tiap bulan Hari disiplin bayar kosnya! Jadi, kalau Hari kabur dari kos-kosannya, kayaknya nggak mungkin! Soalnya barang-barangnya juga masih ada di kamarnya!" Balasnya.


  "Ya sudah Bu, Kami mohon pamit! Kami mau mencari anak Saya di pabrik tempat Dia bekerja!" Ucap emak dengan muka sayu.


  "Semoga cepat bertemu kembali dengan Hari, Bu!" Doanya.


  "Aamiin." Jawab emak dan Fera berbarengan. Mereka berdua pun bangkit berdiri dan bersalaman dengan Bu Marni.


  "Assalamu'alaikum." Salam emak dan Fera sambil berjalan keluar rumah.


  "Wa'alaikumsalam." Jawabnya. Dengan perasaan campur aduk, emak dan Fera kembali berjalan menuju jalan raya.


  

__ADS_1


__ADS_2