Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Kemarahan Abah


__ADS_3

  Malam itu, Fatimah dan abahnya sedang asyik menonton sinetron di TV tabung berukuran 14 in. Ketika mereka serius menatap ke arah layar TV yang berwarna hitam putih itu, tiba-tiba saja Bu Asmi muncul di ruang keluarga dengan membawa plastik berisi oleh-oleh dari Fera.


  "Abah, Fatimah, ini ada oleh-oleh dari Fera!" Bu Asmi memberikan plastik berisi makanan kepada Fatimah yang duduk di atas karpet.


  "Kapan Fera kesini Bu? Kok Aku nggak tahu?" Tanyanya sambil menerima plastik hitam itu.


  "Tadi siang. Tadi Kamu belum pulang!" Jawabnya.


  "Oh ya Bu! Kata Fera, gimana kabar Mas Hari, Bu? Baik-baik aja kan Bu?" Tanya Fatimah sambil membuka bungkus yang berisi kue kembang goyang.


  "Mereka tidak berhasil ketemu Hari!" Jawab Bu Asmi sambil duduk di hadapan Fatimah.


  "Kok bisa Bu? Gimana ceritanya?" Fatimah terkejut.


  "Fera sama emaknya sudah mencari di kos-kosannya, tapi kata Bu kosnya Hari sudah lama tidak kelihatan! Tapi barang-barangnya masih ada di dalam kamarnya! Mereka juga mencari di pabrik tempat Hari bekerja. Tapi katanya Hari sudah lama tidak masuk kerja!" Cerita Bu Asmi.


  "Subhanallah! Kamu berada dimana Mas? Ya Allah lindungilah Mas Hari dimana pun Dia berada. Aamiin." Fatimah tampak sedih. Seketika air matanya jatuh membasahi pipinya.


  "Benarkan yang kemarin Abah bilang! Ini aneh banget! Masa tiba-tiba Hari hilang bagai ditelan bumi! Abah sudah menduga-duga dari kemarin. Kemungkinan besar Hari pergi sama perempuan yang kaya raya! Makanya Dia berani meninggalkan pekerjaannya yang gajinya tidak sedikit!" Seru abah.


  "Abah jangan bicara sembarangan! Tidak baik suudzan sama Hari! Hari itu orang yang akhlaknya baik! Tidak mungkin Hari berbuat serendah itu!" Kata Bu Asmi.


  "Betul yang dikatakan Ibu! Mas Hari nggak mungkin berbuat begitu! Mas Hari nggak mungkin mengkhianati Fatimah!" Fatimah menimpalinya.


  "Bukan niat Abah untuk suudzan sama Hari. Tapi Abah cuma bicara sesuai kenyataan! Kalau Hari tidak kecantol perempuan lain, terus Hari dimana sekarang coba? Abah juga sama sekali tidak berniat membuat Fatimah sedih! Tapi Kita harus berpikir secara realistis! Hari memang di kampung terlihat shaleh dan baik, tapi Kita kan tidak pernah tahu pergaulan Hari di Jakarta! Di kota besar itu banyak tempat-tempat hiburan malam!" Kata abah.


  "Tapi Fatimah yakin, Mas Hari nggak mungkin berbuat serendah itu! Fatimah percaya bahwa Mas Hari memang orang yang berakhlak baik! Buktinya Emaknya sudah didaftarkan untuk naik haji! Fera juga selama kuliah dibiayai oleh Mas Hari! Jadi nggak mungkin Mas Hari dengan gampang kabur dari pekerjaannya! Kalau memang pergaulan Mas Hari di Jakarta nggak benar, buat apa coba, Mas Hari kerja banting tulang siang malam tapi uangnya dikirim ke Emaknya?" Seru Fatimah dengan berani.


  "Itu kan kemarin-kemarin! Sebelum tingkah lakunya berubah! Hati manusia itu gampang berubah! Kemarin milih A! Sekarang milih B! Kalau Abah tebak, mungkin Hari kecantol janda kaya! Makanya Dia berani mengkhianati Kamu!" Katanya.


  "Istighfar Bah! Abah jangan suka suudzan sama orang! Kita kan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hari!" Nasihat Bu Asmi.

__ADS_1


  "Abah jahat! Abah tega berpikir buruk dan menjelek-jelekkan calon suami Fatimah!" Teriak Fatimah dengan keras. Air matanya terus menerus membanjiri wajahnya.


  "Sekarang semua terserah Kamu! Sampai kapan Kamu bertahan untuk menunggu Hari pulang! Paling yang ada, Hari pulang kampung sudah membawa anak dan istrinya! Saran Abah Kita tunggu satu bulan ke depan! Jika dalam sebulan belum ada kabar dari Hari, lebih baik Kita kembalikan cincin lamarannya Hari! Mungkin saja Hari bukan jodohmu!" Kata abah. Mendengar ucapan abahnya, Fatimah langsung bangkit berdiri dan berlari menuju kamar tidurnya. Anak tunggal Bu Asmi itu pun langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. 


  Bbbrrraaaaakkkkk.......!!!


  "Lihat Bah! Fatimah jadi marah sekaligus sedih kan! Abah tidak mengerti perasaan Fatimah!" Ucap Bu Asmi.


  "Abah cuma menasihati Fatimah! Agar Dia tidak berpikir hanya atas nama cinta! Mumpung semuanya belum terlambat! Dari pada nanti sudah menikah baru ketahuan sifat aslinya Hari! Siapa yang rugi? Ya Fatimah-lah yang dirugikan!" Balasnya.


  Pagi itu, Fatimah keluar dari dalam kamarnya dengan muka masam. Abah dan Bu Asmi yang sedang menikmati sarapan pagi, melihatnya dengan perasaan sedikit tidak enak.


  "Sarapan dulu, Fatimah!" Seru Bu Asmi.


  "Fatimah langsung berangkat aja, Bu! Assalamu'alaikum." Fatimah pun berkelebat pergi ke arah pintu depan rumahnya. Bu Asmi yang melihat tingkah lakunya, berusaha untuk berlapang dada.


  "Lihat tuh Bah! Fatimah ngambek kan!" Serunya.


  "Abah kan cuma bicara sesuai kenyataan! Biar Fatimah tidak terlalu berharap sama Hari! Memangnya mau sampai kapan, Fatimah bertahan menunggu Hari? Apa mau jadi perawan tua?" Tanya abah.


  "Seperti yang Abah katakan tadi malam, Kita tunggu satu bulan ke depan! Kalau belum ada kabar dari Hari, dengan terpaksa Kita harus mengembalikan cincinnya!" Katanya.


  Di dalam salah satu ruangan yang berada di rumah sakit, Fatimah tampak menangis sesenggukan. Di saat ia sedang sendirian di dalam salah satu ruangan rawat jalan yang kosong, tiba-tiba seorang laki-laki muncul di belakang Fatimah.


  "Selamat pagi, Fatimah!" Sapanya. Mendengar ucapannya, Fatimah langsung menengok ke arah belakang. Ia melihat seorang lelaki muda berwajah cukup tampan, yang tidak asing lagi bagi dirinya.


  "Pagi Dok!" Fatimah tampak grogi. Jari-jari tangan kanannya mengusap-usap air matanya yang membasahi pipinya.


  "Kamu kenapa menangis, Fatimah? Apa sedang ada masalah?" Tanya lelaki yang ternyata adalah dokter Indra.


  "Nggak apa-apa kok Dok!" Balasnya.

__ADS_1


  "Kalau ada masalah cerita aja padaku, Fatimah! Dari pada dipendam malah membuat batin tersiksa!" Ucapnya.


  "Ada masalah sedikit di rumah!" Balasnya.


  "Ya sudah, nanti Kita makan siang bareng di kantin ya!" Pintanya.


  "Iya Dok." Balasnya.


  "Ya sudah kalau begitu Saya pergi dulu ya! Mau memeriksa pasien!" Ucapnya.


  "Silahkan Dok!" Balas Fatimah. Dokter Indra pun pergi dari hadapan Fatimah.


  Seperti yang dikatakan oleh dokter Indra sebelumnya, siang itu dokter Indra dan Fatimah terlihat menikmati makan siang bersama di kantin yang berada di dalam rumah sakit, dimana mereka berdua bekerja.


  "Sebenarnya Kamu ada masalah apa, Fatimah? Coba ceritakan aja! Siapa tahu Aku bisa bantu!" Ucapnya disela-sela menikmati makanannya.


  "Jadi, calon suamiku semenjak pulang kampung lebih dari sebulan yang lalu, sampai sekarang nggak ada kabarnya sama sekali! Bahkan Ibu dan Adiknya sudah pergi ke Jakarta. Tapi hasilnya nihil! Terus, begitu Abahku tahu kabar itu, Abah bilang Aku dikasih waktu menunggu sebulan. Kalau nggak ada kabar dari calon suamiku, kata Abah lebih baik cincinnya dikembalikan!" Cerita Fatimah. Mendengar ceritanya, dokter Indra bukannya berempati malah bergembira. Namun ia berusaha untuk menutupi perasaannya.


  "Kabar bagus sekali, Fatimah! Berarti kesempatanku untuk meminangmu masih terbuka lebar!" Serunya dalam hati.


  "Aku tahu Kamu mencintai calon suamimu! Aku juga tahu Kamu nggak bisa melupakannya begitu aja! Tapi kalau boleh ngasih saran, menurutku apa yang dikatakan oleh Abahmu itu benar, Fatimah!" Ucapnya.


  "Maksudnya benar gimana Dok?" Fatimah tampak bingung.


  "Kita berpikir buruknya aja! Kalau misalnya suamimu pergi sama perempuan lain, sampai bertahun-tahun. Apa Kamu sanggup menunggu dalam waktu yang nggak pasti, Fatimah? Kalau pun Dia sudah kembali pulang, apa bisa menjamin Dia belum menikah ataupun berselingkuh?" Dokter Indra berusaha mempengaruhi jalan pikirannya.


  "Kalau untuk menunggu bertahun-tahun Aku belum kepikiran sampai disitu. Tapi untuk mengembalikan cincinnya, Aku juga belum sanggup melakukannya! Karena Aku masih percaya Mas Hari akan selalu setia padaku!" Balasnya.


  "Kalau memang begitu keputusanmu, Aku nggak bisa memaksa Fatimah! Aku hanya memberi saran!" Ucapnya.


  "Iya Dok!" Balasnya. Mereka pun kembali melanjutkan menikmati makan siang. Selesai makan, mereka kembali menuju ke ruangan tempat mereka bertugas.

__ADS_1


  


  


__ADS_2