Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Teror yang Menakutkan


__ADS_3

  Sesampainya di depan rumah Pak Teddy, Yos bergegas turun dari mobil dan berlari menuju pintu depan.


  "Assalamu'alaikum!" Serunya ketika membuka pintu depan rumah.


  "Wa'alaikumsalam" Jawab Pak Teddy yang sedang menonton TV di ruang keluarga.


  "Pak! Ayo ikut Saya!" Serunya.


  "Ikut kemana Yos?" Pak Teddy pun tampak bingung.


  "Biar nanti Saya jelaskan, Pak! Ada masalah gawat yang harus Pak Teddy tahu!" Jawab Yos dengan nafas memburu. Mendengar jawaban Yos, Pak Teddy pun bangkit berdiri dan menghampirinya. Tanpa membuang waktu lagi, Yos langsung berjalan dengan cepat menuju mobil yang terparkir di carport depan rumah. Sedangkan Pak Teddy mengikuti di belakangnya.


  "Ada apa sebenarnya Yos?" Pak Teddy semakin penasaran.


  "Nanti Bapak lihat sendiri!" Jawab Yos sambil terus berjalan.


  Sesampainya di depan mobil milik Pak Teddy, Yos menghentikan langkahnya. Pak Teddy pun sangat syok ketika melihat tulisan yang berada di atas kap mesin mobil miliknya.


  "Waktu pembalasan telah tiba! Apa maksud dari tulisan ini, Yos? Siapa yang melakukan perbuatan kurang ajar ini, Yos?" Tanya Pak Teddy dengan keras.


  "Sebelumnya Saya mohon maaf Pak! Saya sama sekali nggak tahu pelakunya! Jadi sewaktu Saya dan Vanya pergi ke mall, mobil ini Saya parkirkan di basemen. Tapi begitu Kita mau pulang, Kita dibuat kaget sekali ketika melihat tulisan ini di mobilnya Bapak!" Jawab Yos merasa bersalah.


  "Apa Kamu tanya orang lain yang berada di basemen? Siapa tahu ada yang melihat pelakunya!" Pak Teddy naik pitam.


  "Nggak Pak. Waktu itu nggak ada seorangpun yang berada di basemen, yang bisa ditanyain! Akhirnya Kita langsung pulang! Sekali lagi Saya mohon maaf Pak! Gara-gara Saya meminjam mobil milik Pak Teddy, sekarang mobilnya jadi kotor begini!" Yos pun menyesal.


  "Semua bukan salahmu, Yos! Masalah tulisan ini jangan khawatir, masih bisa dihilangkan! Besok biar Aku bawa bengkel!" Balasnya.


  "Maaf kalau Saya lancang, Pak! Saya mau tanya, apa Bapak punya musuh?" Tanya Yos dengan sedikit grogi.


  "Musuh? Aku rasa Aku sama sekali nggak punya musuh, Yos!" Pak Teddy tampak berpikir.


  "Apa mungkin Aku yang punya musuh ya Pak? Soalnya kalau dilihat dari tulisannya, sepertinya pelaku tindakan kurang ajar ini, mempunyai dendam." Ucapnya.


  "Kalau Kamu yang punya musuh, Aku nggak bisa memastikan!" Balasnya.


  "Apa sebaiknya besok Kita laporkan kejadian ini pada pihak kepolisian, Pak?"

__ADS_1


  "Jangan dulu! Kalau pelakunya sudah berbuat melewati batas, baru Kita laporkan masalah ini ke pihak kepolisian!"


  "Iya Pak."


  "Kalau begitu, lebih baik sekarang Kita masuk ke dalam rumah, Yos! Sudah cukup larut malam!" Pintanya. Mereka berdua pun berjalan menuju pintu dan kembali masuk ke dalam rumah.


  Pagi itu, matahari belum lama menampakkan sinarnya. Namun terlihat Bi Ginah sudah sibuk memasak makanan untuk sarapan pagi buat Yos dan Pak Teddy, sebelum mereka pergi bekerja. Selesai memasak, Bi Ginah mencuci perabotan kotor. Selesai mencuci perabotan, lalu Bi Ginah berlanjut menyapu lantai satu dan dua.


  Seperti biasanya, selesai menyapu bagian dalam rumah, Bi Ginah melanjutkan menyapu teras depan rumah. Ia pun membuka korden jendela yang berada di ruang tamu. Ketika korden itu dibukanya, Bi Ginah sangat kaget saat kedua matanya menatap ke arah jendela yang transparan. Ia melihat sesuatu yang tidak biasa, pada bagian lantai teras depan rumah majikannya.


  Dengan rasa penasaran yang tinggi, Bi Ginah membuka pintu depan rumah yang masih dalam keadaan terkunci. Begitu dua buah pintu dibukanya, Ia melihat pemandangan yang sangat menakutkan. Bi Ginah yang penakut, sontak saja ia menjerit dengan keras.


  "Ya Allah Ya Gusti!!!" Teriaknya. Dengan perasaan sangat ketakutan, Bi Ginah berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri Pak Teddy dan Yos yang sedang menikmati sarapan pagi.


  "Ada apa Bi? Teriakkannya kedengaran sampai sini lho!" Tanya Pak Teddy.


  "Itu Pak, di teras depan rumah ada sesuatu! Bibi takut!" Jawab Bi Ginah dengan tubuh gemetaran.


  "Sesuatu apa Bi?" Tanya Yos.


  "Iya, ada apa di teras depan Bi?" Pak Teddy pun sangat penasaran.


  Begitu sampai di depan pintu bagian depan rumahnya, Pak Teddy dan Yos langsung kaget sekali ketika melihat pemandangan yang bisa  membuat bulu kuduk berdiri.


  Di atas lantai teras depan rumah yang terbuat dari keramik berwarna krem, mereka melihat tiga ekor ayam dalam keadaan mati. Pada bagian leher ketiga ayam tersebut, terdapat bekas sayatan pisau. Pada sisi depan teras, terdapat sebuah tulisan yang terbuat dari tetesan darah ketiga ayam tersebut. Dengan sedikit gemetar, Pak Teddy pun membaca tulisan itu.


  "Dendam akan terbalaskan!" Ucapnya dengan perlahan.


  "Biadab!!! Ini sudah sangat keterlaluan!!! Ini nggak bisa didiamkan! Kita harus lapor polisi!" Tambahnya.


  "Betul Pak! Ini sudah termasuk tindakan kriminal! Pelakunya harus ditangkap! Jangan biarkan pelakunya berkeliaran, Pak! Bisa-bisa Kita akan mendapatkan teror terus menerus!" Kata Yos.


  "Kita ke polres sekarang, Yos! Tolong ambilkan tas dan kunci mobilnya!" Pintanya.


  "Baik Pak!" Yos pun berlari menuju ruang makan. Tidak berapa lama, ia kembali ke hadapan Pak Teddy dengan membawa dua buah tas.


  "Bi, jaga rumah ya!" Pintanya.

__ADS_1


  "Tapi, Saya jadi takut di rumah sendirian, Pak!" Jawab Bi Ginah dengan ketakutan.


  "Lebih baik tutup dan kunci semua pintu, Bi!"


  "Baik Pak. Hati-hati di jalan Pak."


  "Iya. Assalamu'alaikum!" Salam Pak Teddy.


  "Assalamu'alaikum." Yos pun ikut memberi salam.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Bi Ginah dengan cemas.


  Pak Teddy dan Yos pun bergegas menuju mobil miliknya yang sudah bersih dari tulisan vandalisme, akibat perbuatan orang misterius beberapa hari yang lalu. Setelah menaiki mobilnya, Yos pun langsung menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas dengan kuat. Seketika mobil itu pun melaju dengan kencang menuju polres metro Jakarta Pusat.


  Sesampainya di tempat yang dituju, Pak Teddy dan Yos memberikan laporan atas tindakan seseorang yang telah mengancam keselamatan dan membuat kerusakan pada harta benda milik Pak Teddy.


  Malam itu, Seorang perempuan berwajah cantik tampak keluar dari dalam rumah sakit. Perempuan berpakaian serba putih itu berjalan menuju tepi jalan raya. Ketika ia sampai di trotoar, kedua matanya memandang ke arah kanan jalan. Ia tengah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.


  Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya sebuah mobil berwarna hitam keluar dari dalam rumah sakit. Ketika melihat perempuan yang berdiri di trotoar, pengendara mobil itu pun menghentikan laju mobilnya.


  "Fatimah! Kok belum pulang?" Tanya seorang laki-laki dari dalam mobil.


  "Lagi nunggu taksi, Dok!" Jawab perempuan yang ternyata adalah Fatimah.


  "Emangnya motormu dimana?"


  "Di bengkel Dok!"


  "Ikut Aku aja yuk! Biar Aku antar sampai rumah!" Laki-laki yang ternyata adalah seorang dokter itu menawarkan tumpangan kepada Fatimah.


  "Nggak Dok! Nanti ngrepotin Dokter Indra!" Fatimah menolaknya.


  "Sama sekali nggak merepotkan, Fatimah! Lagian kan rumah Kita searah!" Rayu dokter Indra.


  "Apa nggak apa-apa Dok?" Tanyanya.


  "Nggak apa-apa Fatimah! Sayang kalau uangmu buat bayar taksi! Malam begini kan angkot juga sudah nggak ada. Buruan naik Fatimah!" Pinta dokter muda yang berwajah cukup tampan. Karena Fatimah merasa sudah terlalu lama menunggu taksi yang tak kunjung datang, akhirnya ia menerima tawaran dokter Indra untuk ikut pulang bersamanya. Ketika Fatimah hendak membuka pintu samping kiri baris kedua, tiba-tiba dokter Indra bersuara.

__ADS_1


  "Duduk di depan aja, nggak apa-apa Fatimah! Kalau di belakang nanti Aku dikira supir pribadimu!" Serunya. Mendengar ucapannya, Fatimah pun membuka pintu samping kiri bagian depan. Begitu ia masuk ke dalam mobil, dokter Indra kembali menginjak pedal gas dengan perlahan. Mobil itu pun berjalan di tengah suasana jalanan kota Solo yang sepi.


  


__ADS_2