
...Beberapa Hari Kemudian...
Sama seperti hari-hari sebelumnya. Hari itu Pak Teddy kembali menjenguk Hari yang belum juga sadarkan diri dari koma. Sama seperti peraturan disetiap rumah sakit. Sebelum masuk ruang ICU, terlebih dahulu ia memakai jubah dan penutup kepala berwarna hijau. Setiap hari ia tidak lupa selalu berdoa, agar lelaki yang belum dikenali nama dan asal-usulnya itu, diberikan kesembuhan oleh Allah SWT.
Hari itu Pak Teddy masuk ke dalam ruang ICU dengan perasaan sedikit cemas dan khawatir. Pasalnya, sudah lima hari lelaki yang ditabraknya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri.
"Assalamu'alaikum. Gimana kabarmu hari ini? Semoga hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Semoga hari ini Kamu bisa kembali menatap dunia yang indah ini! Walaupun cobaan dan rintangan datang silih berganti. Tapi Allah memberikan cobaan kepada Kamu, bukan karena Allah benci denganmu! Tapi justru Allah sayang sama Kamu. Allah ingin melihat seberapa besar Kamu tawakal! Allah nggak ingin Kamu lalai dan berpaling dariNya. Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya. Kamu pasti bisa melewati semua cobaan ini! Kamu pasti kuat!" Nasihat Pak Teddy sambil memegang jari-jemari tangan kanan Hari.
"Kalau begitu, Aku pulang dulu ya! Insha Allah besok sore Aku akan datang kesini lagi!" Tambahnya. Pak Teddy pun perlahan melepaskan pegangan tangannya dan hendak berbalik badan. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba kedua matanya melotot ketika melihat jari-jari tangan kanan lelaki yang ditabraknya, bergerak dengan perlahan. Melihat kejadian luar biasa itu, Pak Teddy pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam ruang ICU. Terlihat ia sangat gembira melihat perkembangan pada tubuh lelaki yang terbaring di hadapannya.
"Masha Allah! Terima kasih ya Allah atas pertolonganMu! Anak muda, Kamu pasti kuat! Kamu mendengar ucapanku kan?" Seru Pak Teddy penuh semangat.
Dengan sangat perlahan, kedua mata Hari tampak bergerak. Pak Teddy memperhatikannya tanpa berkedip. Yang tadinya sudah hampir putus asa, kini ia tampak gembira dan bahagia, ketika menyaksikan kedua mata lelaki yang ditabraknya beberapa hari yang lalu, akhirnya terbuka.
"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya Kamu siuman!" Seru Pak Teddy penuh kebahagiaan.
Namun tidak terdengar jawaban dari mulut Hari. Saat Hari berhasil membuka kedua matanya, Ia tampak bingung ketika melihat dirinya tengah terbaring di atas ranjang pada sebuah ruangan yang tidak diketahui dimana ia sedang berada.
"Anak muda! Kamu mendengar suaraku kan?" Pak Teddy sedikit khawatir.
"A...Aku sedang dimana?" Perlahan terdengar suara dari mulut Hari.
"Kamu sedang ada di rumah sakit. Lebih tepatnya Kamu sedang dirawat di ruang ICU." Jawabnya.
"Rumah sakit? Memangnya apa yang terjadi dengan diriku?" Tanya Hari merasa bingung.
"Kamu mengalami kecelakaan pada malam selasa kemarin! Kamu mengalami koma selama lima hari! Aku bersyukur sekarang Kamu sudah sadarkan diri. Alhamdulillah Allah masih memberikan umur panjang kepadamu." Balas Pak Teddy yang terlihat memakai kemeja berwarna biru, celana berwarna hitam, dan jas berwarna hitam.
"Kecelakaan? Dimana?" Hari tampak bingung.
"Di jalan Yos Sudarso daerah Sunter! Saat itu Kamu menyebrang jalan tanpa menengok ke arah kanan kiri. Kebetulan Aku pas lewat menggunakan mobil dengan kencang. Aku sudah berusaha mengeremnya. Tapi nasib malang menimpamu. Kamu tertabrak mobil yang Aku kendarai. Dari hati yang paling dalam, Aku mengucapkan mohon maaf yang setulus-tulusnya kepadamu. Aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu!"
"Tapi, kenapa Aku sama sekali tidak ingat kejadian itu ya?" Tanyanya heran.
"Jadi Kamu nggak ingat kecelakaan yang membuat dirimu seperti ini?" Pak Teddy terkejut.
__ADS_1
"Iya Pak. Aku benar-benar nggak ingat sama sekali!" Hari mencoba untuk mengingatnya.
"Kalau boleh tahu, namamu siapa? Dimana rumahmu? Karena sebelum kecelakaan, Kamu kecopetan."
"Namaku?" Hari pun berpikir dengan keras. Namun ia sama sekali tidak bisa mengingat jati dirinya sendiri.
"Aku sama sekali nggak ingat siapa namaku! Apalagi rumahku! Aku benar-benar nggak ingat semuanya!"
"Apa Kamu sudah berusaha untuk mengingatnya? Mungkin bisa dicoba lagi!" Pak Teddy pun masih belum percaya dengan yang terjadi dengan lelaki di hadapannya. Mendengar ucapan Pak Teddy, Hari kembali mencoba mengingat-ingat jati dirinya. Namun hasilnya tetap nihil.
"Aku nggak bisa mengingat semuanya!!!" Teriak Hari dengan histeris.
"Tunggu dulu ya! Biar Aku panggilkan dokter!" Seru Pak Teddy. Ia pun berjalan dengan cepat menuju pintu. Begitu keluar dari dalam ruang ICU, Pak Teddy bergegas menuju ruangan dokter yang biasanya menangani Hari.
Tokkk...tokkk...tokkk...
"Masuk!" Perintahnya.
"Malam Dok!" Sapa Pak Teddy begitu masuk ke dalam ruang dokter.
"Malam Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Bagus sekali kalau begitu!" Balasnya.
"Tapi anehnya Dia sama sekali nggak bisa mengingat jati dirinya sendiri! Bahkan namanya sendiri, Dia nggak ingat!"
"Coba Saya cek!" Dokter itu pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ruang ICU. Sedangkan Pak Teddy mengikuti di belakangnya.
"Mas, alhamdulilah Kamu sudah siuman! Saya periksa dulu ya!" Ucapnya. Dokter itu pun memeriksa Hari pada bagian dada menggunakan stetoskop.
"Mas, coba ingat-ingat kembali. Siapa nama Mas dan rumahnya dimana?" Pintanya. Mendengar ucapan dokter itu, Hari pun mencoba kembali untuk mengingat nama dan asal usul dirinya.
"Aku nggak bisa ingat semuanya, Dok!" Balasnya. Mendengar jawaban dari Hari. Dokter itu pun menengok ke arah Pak Teddy.
"Kita perlu bicara sebentar, Pak!"
__ADS_1
"Iya Dok!" Mereka berdua pun keluar dari dalam ruang ICU.
"Maaf, Pak. Ternyata anak muda itu mengalami amnesia! Diakibatkan benturan keras pada bagian kepalanya!" Dokter itu pun menatap tajam ke arah Pak Teddy.
"Amnesia? Apakah bisa disembuhkan, Dok?" Pak Teddy sangat terkejut mendengarnya.
"Bisa disembuhkan. Tapi nggak tahu waktunya sampai kapan Dia bisa sembuh! Hanya petunjuk-petunjuk dari masa lalunya yang biasanya bisa membuat Dia kembali mengingat semuanya." Jawabnya.
"Apakah keadaan tubuhnya sudah membaik, Dok?"
"Pasien sudah sembuh. Hanya luka bekas operasi yang belum kering."
"Apakah sudah boleh pulang, Dok?"
"Sudah. Sebelum pulang, mohon Bapak untuk menyelesaikan semua administrasinya. Oh ya, tapi tiga hari sekali pasien harus dibawa kesini untuk kontrol dan ganti perban ya Pak."
"Baik Dok."
Dokter itu pergi meninggalkan Pak Teddy. Setelah merenung sejenak, ia pun bergegas menuju bagian administrasi untuk melunasi semua biaya perawatan dan pengobatan selama Hari opname di rumah sakit.
"Kamu sekarang sudah boleh pulang!" Ucap Pak Teddy ketika berada di hadapan Hari.
"Tapi Aku nggak ingat dimana rumahku, Pak!" Hari tampak bingung dan cemas. Ia pun bangkit duduk di atas ranjang.
"Kamu nggak usah bingung! Untuk sementara, Kamu tinggal aja di rumahku. Sampai Kamu kembali ingat siapa dan dari mana asal usulmu!"
"Terima kasih banyak Pak!"
"Nggak perlu terima kasih segala! Harusnya Aku yang minta maaf. Karena Aku yang sudah membuatmu jadi begini!"
"Nggak apa-apa Pak. Aku tahu Bapak sama sekali nggak salah. Aku yang salah, karena menyebrang sembarangan."
"Oh ya, namaku Teddy Darmawan. Panggil aja Pak Teddy." Ucapnya.
"Baik Pak."
__ADS_1
"Karena Kamu Aku temukan di jalan Yos Sudarso. Aku panggil aja Kamu Yos! Gimana?"
"Ya nggak apa-apa Pak." Hari pun perlahan turun dari atas ranjang. Dengan perlahan ia berjalan menuju parkiran mobil. Pak Teddy membantunya berjalan. Setelah menaiki mobil mewah milik Pak Teddy, mereka pun bergegas meninggalkan rumah sakit itu.