Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Pagi Kelabu


__ADS_3

  Pagi itu seperti biasanya, setelah shalat shubuh, Bi Ginah beranjak dari kamarnya menuju dapur untuk memasak makanan untuk sarapan pagi.


  Di dalam kamarnya, Pak Teddy terlihat sudah rapi dengan memakai kemeja berwarna putih, celana panjang berwarna hitam, jas berwarna hitam, dan dilengkapi dengan dasi bermotif garis-garis berwarna biru dan silver. Duda berwajah tampan itu tampak sedang menyisir rambutnya di depan cermin yang berada di dalam kamarnya.


  Setelah selesai menyisir rambut dan menyemprotkan parfum ke arah pakaian yang dikenakannya, Pak Teddy keluar dari dalam kamarnya dengan menjinjing tasnya yang berwarna hitam.


  Pada saat Pak Teddy sampai di ruang makan, ia tidak melihat Yos di ruang makan. Yang ia lihat hanya Bi Ginah yang sedang menyapu lantai di ruang keluarga.


  "Bi, Yos belum turun?" Tanya Pak Teddy.


  "Belum Pak!" Jawabnya.


  "Tumben sekali! Biasanya Yos yang duluan sarapan!" Serunya.


  "Iya Pak! Biasanya Yos yang duluan duduk di ruang makan!" Balasnya.


  "Coba Aku cek di kamarnya!" Serunya. Pak Teddy pun berjalan dengan cepat menuju kamar tidur Yos, yang berada di lantai dua.


  Ketika Pak Teddy sampai di depan kamarnya Yos, ia melihat pintu kamar tidur Yos dalam keadaan terbuka. Pak Teddy pun langsung berseru memanggil anak angkatnya itu.


  "Yos!!! Kamu belum selesai berpakaian?" Ucapnya. Namun sama sekali tidak terdengar suara balasan dari dalam kamar Yos. Bahkan di dalam kamar Yos sama sekali tidak terdengar suara apapun. Kamar tidur itu tampak sepi.


  Dengan perasaan hatinya yang mulai tidak tenang, perlahan Pak Teddy membuka pintu kamar tidur Yos lebih lebar lagi. Ketika ia telah membuka pintu itu sepenuhnya, Pak Teddy terkejut ketika tidak melihat sosok Yos di dalam kamarnya. Saat kedua matanya menatap ke arah tempat tidur, ia melihat selimut yang sedikit berantakan. Lalu kedua matanya menatap ke jurusan lain. Ia melihat pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Yos, dalam keadaan tertutup. Perasaan Pak Teddy yang tadinya sudah merasa cemas, kembali merasakan sedikit lebih lega. Ia pun kembali memanggil Yos.


  "Yos!!! Kamu lagi mandi ya? Kamu bangunnya kesiangan, Yos?" Tanyanya dengan keras. Namun setelah ia menunggu beberapa saat, sama sekali tidak terdengar suara jawaban dari dalam kamar mandi. Bahkan suara air yang mengalir, tidak terdengar sedikit pun.


  Dengan perasaannya yang kembali tidak tenang, Pak Teddy berjalan dengan cepat menuju pintu kamar mandi. Dengan memberanikan dirinya, perlahan Pak Teddy membuka pintu kamar mandi.


  Ketika tahu pintunya tidak terkunci, pikiran Pak Teddy sudah sangat tidak karuan. Ia pun membuka lebar-lebar pintu kamar mandi. Saat kedua matanya memandang ke arah dalam kamar mandi, ia sama sekali tidak melihat Yos berada di dalamnya.


  "Jangan-jangan Yos kabur untuk mencari keluarganya!!!" Teriaknya dalam hati.

__ADS_1


  Dengan perasaan sangat gelisah, Pak Teddy berlari menuju lemari pakaian yang berada di dalam kamar Yos. Dengan gerakan cepat Pak Teddy membuka pintu lemari pakaian itu.


  Ketika dua pintu lemari berhasil dibukanya, Pak Teddy sangat terkejut ketika melihat ke arah dalam lemari. Pasalnya, ia melihat pakaian Yos dalam keadaan masih utuh.


  Melihat itu semua, Pak Teddy semakin merasa resah dan cemas. Ia pun bergegas membalikkan badannya untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai petunjuk. Ketika ia telah membalikkan badannya, Pak Teddy melihat selembar kertas yang berada di atas nakas di hadapannya. Ia pun bergegas mengambil kertas yang berisi tulisan itu. Dengan penuh ketegangan, Pak Teddy perlahan membaca isi surat yang dipegang dengan menggunakan kedua tangannya.


...Kepada Yth. Bapak Teddy Darmawan yang terhormat!...


...Saat Kau membaca surat ini, Kau pasti sedang mencari anak kesayanganmu!...


...Sekarang anakmu ada pada diriku! Jika Kau masih ingin melihat anakmu hidup, datang nanti malam jam 21.00 WIB, ke Jalan Ciparay, Cikahuripan, Kadudampit, Kab. Sukabumi! Bawa uang sebesar Rp.100 juta!...


...Tapi ingat! Jangan sampai Kau berani lapor ke polisi! Kalau Kau melanggar, jangan harap hari esok Kau melihat anakmu masih bisa bernafas!...


...Aku tunggu sampai jam 12 malam! Jika Kau tidak datang, hari esok Kau akan melihat anakmu sudah jadi mayat!...


Dari 


  "Brengsek!!! Setan laknat!!! Beraninya Dia menculik Yos!!! Aku nggak akan membiarkan Yos menderita! Mau nggak mau, Aku harus menuruti kemauannya! Masalah uang bisa dicari lagi!" Pak Teddy meremas kertas yang dipegangnya. Dengan darah yang telah mendidih, Pak Teddy berjalan dengan cepat menuju pintu depan rumahnya.


  Ketika sampai di ruang tamu, ia kembali bertemu dengan Bi Ginah yang sedang menyapu lantai.


  "Mas Yos ada di kamarnya tidak, Pak?" Bi Ginah tampak khawatir.


  "Nggak ada Bi! Yos diculik!!!" Jawabnya dengan keras.


  "Innalilahi wainailaihi roji'un! Ya Allah, kasihan Mas Yos!!! Lindungilah Dia dari orang-orang jahat, Ya Allah!" Ucapnya.


  "Penculiknya minta nanti malam Aku menemuinya di Sukabumi! Dia minta tebusan uang sebesar 100 juta, Bi! Tapi kalau ingin melihat Yos baik-baik aja, Dia minta Aku nggak boleh melibatkan masalah ini pada pihak kepolisian!" Balasnya.


  "Pantas saja tadi pintu ini terbuka Pak!" Bi Ginah memegang pintu depan rumah.

__ADS_1


  "Pasti Yos diculik sewaktu semuanya sudah tertidur!" Pak Teddy geram.


  "Tolong selamatkan Mas Yos, Pak! Kasihan anak itu! Disaat Dia belum bisa mengingat tentang dirinya, sekarang Dia kembali kena musibah!" Pinta Bi Ginah dengan berlinangan air mata.


  "Pasti Bi! Pasti Yos akan Aku selamatkan! Karena Yos jadi begini, semua gara-gara Aku! Penculik itu mengira Yos adalah anak kandungku!" Balasnya.


  "Kasihan Mas Yos! Sungguh malang sekali nasibnya! Rintih Bi Ginah.


  "Ya sudah, Aku berangkat ke kantor dulu, Bi!" Ucapnya.


  "Tidak sarapan dahulu, Pak?" Tanyanya.


  "Nggak Bi! Aku jadi nggak nafsu makan! Assalamu'alaikum!" Pak Teddy berjalan menuju mobilnya yang terparkir di carport.


  "Wa'alaikumsalam." Jawabnya.


  Sementara itu, di rumah kosong itu Yos masih belum juga sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemas tidak berdaya. Mukanya terlihat lebam dibeberapa bagian. Kedua matanya masih dalam keadaan tertutup selembar kain berwarna hitam. Ia duduk bersandarkan tiang kayu yang berada di bagian tengah rumah kosong itu. Kedua tangannya diikat ke belakang menggunakan sebuah tali tambang. Sedangkan kedua kakinya dalam posisi lurus ke depan.


  Ketika cahaya matahari berhasil menembus melewati lubang ventilasi dan atap rumah yang berlubang, cahaya itu mengenai tubuh Yos, yang kepalanya terkulai lemas.


  Lambat laun bibir Yos tampak bergerak, walaupun dengan sangat perlahan. Sayup-sayup terdengar suara rintihan dari mulut Yos. Ketika kedua kelopak matanya dibukanya, yang dilihat hanyalah kegelapan. Saat kedua tangannya mencoba untuk memegang benda yang menutupi kedua matanya, keinginan Yos tidak dapat terlaksana. Ketika sadar kedua tangannya telah diikat menggunakan sebuah tali, dengan sekuat tenaga Yos menggerakkan kedua tangannya agar dapat terlepas dari ikatan tali pada kedua tangannya.


  "Setan terkutuk!!! Siapa yang berani melakukan perbuatan pengecut ini!!! Kalau memang lelaki, hadapi Aku secara lelaki!!!" Teriaknya sekuat tenaga. Namun sama sekali tidak terdengar suara balasan. Yang ada hanya kesunyian.


  Kedua tangan dan badan Yos terus menerus digerak-gerakkan. Namun semua tindakannya itu hanya sia-sia belaka. Semua itu disebabkan karena ikatan tali tambang pada pergelangan kedua tangannya begitu kuat untuk dilepaskannya.


  "Dasar banci keparat!!! Keluar Kau setan laknat!!!" Maki Yos dengan keras. Namun seperti sebelumnya, ia hanya merasakan keheningan di tempat yang belum ia tahu keberadaannya. Yos pun kembali ingat kejadian sewaktu ia terbangun dari tidurnya dan melihat dua orang misterius berada di dalam kamarnya.


  


  

__ADS_1


__ADS_2