Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Air Mata Darah


__ADS_3

  Mobil jeep berwarna hitam yang membawa tubuh Yos, terus melaju dengan kencang meninggalkan kota Jakarta. Pengendara mobil itu terus berusaha agar mereka sampai di tempat tujuan Sebelum matahari terbit. Terlebih lagi, mereka khawatir kalau tawanan mereka akhirnya sadarkan diri dari pengaruh obat bius.


  Sekitar dua setengah jam di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang ditujunya. Di depan sebuah rumah kosong, mereka memarkirkan mobilnya. Sekeliling rumah kosong itu, tidak terlihat satu pun rumah-rumah warga. Yang ada hanyalah perkebunan pohon jati yang menjulang tinggi. Di sekeliling rumah kosong yang tampak lembab dan kotor itu, tidak terlihat satu pun cahaya lampu yang bersinar. Keadaan tersebut, akan membuat orang yang bernyali kecil tidak akan berani melewati jalanan yang sangat sepi dan gelap gulita itu.


  Tanpa membuang waktu, kedua orang itu turun dari mobil. Mereka berdua pun berjalan menuju pintu depan rumah kosong itu.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Siapa?" Tanya seorang laki-laki dari dalam rumah.


  "Ini Kita Bos! Ucok dan Jamal!" Jawab lelaki bertubuh gemuk yang bernama Ucok. Mendengar jawaban darinya, lelaki yang berada di dalam rumah langsung membukakan pintu bagian depan. Ketika pintu itu telah terbuka, samar-samar terlihat wajah lelaki di balik pintu. Lelaki itu memiliki cambang bauk dan kumis yang lebat. Rambutnya yang keriting terlihat sudah banyak ubannya.


  "Apa Kalian berhasil membawa target Kita?" Tanyanya.


  "Berhasil Bos!" Jawab lelaki kurus yang bernama Jamal.


  "Tapi Kalian nggak salah sasaran kan?" Lelaki itu tampak sedikit ragu.


  "Nggak dong Bos!" Balas Ucok.


  "Bagus sekali kalau begitu! Sekarang cepat bawa orang itu masuk!" Perintahnya.


  "Siap Bos!" Balasnya. Ucok dan Jamal berlari menuju mobil. Dengan sedikit keberatan, mereka menggotong tubuh Yos dari atas mobil dan membawanya ke dalam rumah.


  Begitu kedua anak buah lelaki misterius itu berhasil menggotong tubuh Yos ke dalam rumah, lelaki itu pun bergegas menutup kembali pintu depan rumah kosong itu.


  "Gimana Bos, betul kan orang ini yang jadi target Kita?" Tanya Ucok begitu membaringkan tubuh Yos di atas lantai yang terbuat dari ubin.


  "Betul sekali! Kerja Kalian memang tidak diragukan lagi! Aku bangga sekali punya anak buah seperti Kalian!" Pujinya.


  "Tapi sorry Bos, bayaran Kita sesuai perjanjian kemarin kan?" Tanya Jamal.


  "Tentu! Tentu aja! Aku nggak akan mengingkari janji! Tapi ingat tugas Kalian belum sepenuhnya selesai!" Ucap lelaki berumur lebih dari setengah abad itu.

__ADS_1


  "Kita harus ngapain lagi Bos?" Tanya Ucok bingung.


  "Tunggu sebentar! Aku akan membuat perhitungan kepada anak ingusan ini!" Lelaki tua itu pun mendekati tubuh Yos, yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


  "Sorry kalau Aku lancang! Sebenarnya apa masalah pemuda ini dengan Bos Franky?" Tanya Ucok.


  "Iya Bos! Aku juga penasaran!" Jamal menimpalinya.


  "Anak ingusan ini sama sekali nggak punya salah denganku! Tapi Bapak kandungnya adalah musuh besarku!!! Bapaknya adalah orang yang sudah menjebloskan diriku di dalam penjara selama 12 tahun!!! Selama itu pula, Aku menaruh dendam kesumat terhadap lelaki keparat itu beserta keluarganya!!! Makanya, setelah Aku kini bebas, Aku nggak akan membiarkan Dia dan keluarganya menderita!!!" Balas lelaki itu dengan wajah mengelam.


  "Kenapa bukan musuh bebuyutan Bos, yang diringkus dulu, Bos?" Tanya Jamal.


  "Aku akan membuat orang-orang yang dicintainya menderita terlebih dahulu! Aku ingin melihat musuh besarku menangis darah, ketika melihat anak kesayangannya menderita!" Jawab lelaki berkulit hitam itu sambil memegang rahang bawah di bagian kanan dan kiri mulutnya Yos. Dengan darah yang mendidih, lelaki itu memukul pipi kiri Yos menggunakan tangan kanannya yang sudah mengepal.


  Bbbuuugggkkkhhhh......!!!


  Pukulan keras mendarat di pipi kiri Yos. Membuat kepala Yos terlempar ke arah kanan. Lalu lelaki yang dipanggil Bos Franky itu, kembali meluruskan kepala Yos menghadap ke atas. Dengan tangan kirinya, Bos Franky kembali memukul pipi Yos. Kali ini pipi sebelah kanan.


  Bbbuuugggkkkhhhh......!!!


  Setelah puas menghajar Yos, Bos Franky kembali bangkit berdiri. Lalu ia berjalan menuju salah satu lemari yang sudah terlihat rusak dan berdebu. Begitu ia berdiri di depan lemari, Bos Franky pun mengambil sebuah benda berwarna hitam dari lemari tersebut.


  Kemudian ia membersihkan benda yang dipegangnya dari debu-debu yang menempel. Ketika melihat benda yang dipegang Bos Franky, seketika Ucok dan Jamal saling melempar pandangan dengan muka tegang.


  "Maaf Bos! Apa yang hendak dilakukan Bos Franky? Apa Bos Franky mau...!" Ucok tidak berani meneruskan ucapannya.


  "Mau apa?" Bentak Bos Franky marah.


  "Apa Bos Franky mau membunuh lelaki muda itu?" Tanya Ucok sedikit gugup.


  "Kalau ya, memangnya kenapa?" Tanya Bos Franky sambil menatap ke arah benda yang dipegangnya.


  "Apa Bos nggak takut masuk penjara lagi?" Tanya Ucok lagi.

__ADS_1


  "Aku sama sekali nggak takut, bila masuk ke dalam jeruji besi lagi! Yang penting bagiku adalah dendamku selama ini bisa terbalaskan!" Balasnya.


  "Tapi kalau terjadi sesuatu dengan Bos, jangan bawa-bawa Kita ya Bos! Aku masih punya anak istri yang harus Aku nafkahi!" Rintih Jamal.


  "Aku juga Bos! Aku nggak mau mendekam lagi di dalam penjara! Lima tahun aja rasanya sudah lama sekali, Bos!" Ucok menimpalinya.


  "Tenang aja! Aku akan tutup mulut! Aku nggak akan melibatkan Kalian dalam masalah ini!" Balasnya. Mendengar ucapan Bos Franky, Ucok dan Jamal langsung berseru berbarengan.


  "Terima kasih Bos!"


  "Tapi ada satu syarat yang harus Kalian dilaksanakan!" Ucapnya.


  "Syarat apa itu Bos?" Tanya Jamal.


  "Kalian harus melakukan tugas ini sampai semuanya beres! Masalah bayaran Kalian jangan khawatir! Jika semua sudah beres, Kalian akan Aku kasih lebih banyak dari perjanjian Kita kemarin!" Pintanya.


  "Siap Bos!" Jawab Ucok dan Jamal berbarengan.


  "Satu lagi! Kalian nggak boleh menceritakan misi Kita, kepada siapapun! Tidak terkecuali pada istri-istri Kalian! Kalian mengerti?" Tanyanya dengan keras.


  "Mengerti Bos!" Ucok dan Jamal menganggukkan kepalanya.


  "Bagus sekali kalau begitu!" Ucapnya. Bos Franky pun melangkahkan kakinya menuju tubuh Yos yang terkapar di atas lantai.


  Bos Franky memegang benda berwarna hitam menggunakan kedua tangannya. Kedua lengannya diluruskan ke arah wajah Yos. Membayangkan apa yang akan terjadi, Ucok dan Jamal merasakan kengerian. Bulu kuduk mereka seketika langsung berdiri. Mereka berdua pun membuang mukanya ke arah lain.


  Dengan penuh kemarahan, Bos Franky memandangi wajah Yos dengan rasa benci dan dendam yang telah mendarah daging. Tanpa ragu-ragu lagi, ia menekan tuas pada bagian benda yang dipegangnya, yang bukan lain adalah sebuah pistol. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dentuman pistol dengan sangat keras.


  Dooorrr...Dooorrr...


  Dengan perasaan takut, Ucok dan Jamal memberanikan diri untuk menatap wajah lelaki yang terbaring di atas lantai. Mereka sangat kaget ketika wajah lelaki yang tidak dikenalnya itu.


  "Cepat ikat tangannya di tiang! Dan jangan lupa tutup kedua matanya!" Perintah Bos Franky. Mendengar perintah itu, Ucok dan Jamal bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Bos Franky.

__ADS_1


__ADS_2