Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Kekasih Sejati


__ADS_3

  "Fer, nanti pulang ngajar tolong belikan bunga di pasar ya! Emak mau ziarah ke makam almarhum Ramamu!" Pinta Emak sambil sarapan.


  "Ya Emak! Kalau begini kan Fera melihatnya jadi senang!" Fera yang juga sedang sarapan bersama emak, tersenyum bahagia melihat wajah emak.


  "Ya kan Emak sudah dapat kabar dari Hari. Jadi Emak tidak kepikiran Hari terus!" Balasnya.


  "Oh ya, emang Emak rindu sama almarhum Rama? Soalnya tiap sebulan sekali Emak selalu ingin ziarah ke makam almarhum Rama!" Fera pun memakan sesendok nasi goreng buatannya.


  "Tentu saja, Fer! Emak sangat merindukan sosok almarhum Ramamu!" Jawabnya.


  "Emangnya Emak belum ikhlas dengan kepergian Rama?"


  "Bukannya Emak tidak ikhlas dengan kepergian Ramamu, Fer! Tapi Emak masih sangat mencintai almarhum Ramamu! Emak sangat merindukan sosoknya! Rindu Emak kepada Rama tidak akan pernah selesai! 30 tahun Emak dan Ramamu membina rumah tangga, Emak tidak mau Bapakmu hilang dari ingatan Emak begitu saja! Cinta Emak buat Ramamu dunia dan akhirat!" Jawabnya dengan yakin.


  "Masha Allah! Fera bersyukur mempunyai Emak yang begitu mencintai almarhum Rama! Rama adalah cinta sejatinya Emak! Apakah Fera bisa menemukan cinta sejati, seperti Emak?" Tanyanya.


  "Bisa! Jika Allah sudah menghendaki Fera bertemu dengan jodohmu, Kamu akan bertemu. Walaupun jarak Kalian sangat jauh! Walaupun Kalian tidak pernah bertemu sebelumnya! Jika Allah sudah berkehendak "kun fayakun", Itu semua tidak menjadi penghalang diantara Kalian!"


  "Iya Mak." Fera bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur sambil membawa piring kotornya. Setelah menaruh piring di atas wastafel, ia pun kembali menghampiri emaknya.


  "Emak, Fera berangkat dulu ya!" Fera mengajak bersalaman dengannya.


  "Hati-hati di jalan ya! Jangan lupa pulangnya beli bunga!" Emak menyambut tangan kanan anak bungsunya dengan senyum bahagia.


  "Iya Mak! Assalamu'alaikum."  Salamnya.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab emak.


  Seperti yang dikatakan oleh emak sewaktu tadi pagi, setelah Fera pulang dengan membawa plastik berisi bunga, emak ditemani oleh Fera akhirnya berangkat menuju pemakaman yang berada di desanya. Mereka menaiki sepeda yang setiap hari digunakan oleh Fera untuk berangkat dan pulang mengajar.


  Pada sebuah makam yang terdapat sebuah batu nisannya, emak dan Fera berjongkok di samping kanan dan kirinya. Makam itu terlihat sangat bersih dibandingkan dengan makam-makam yang lainnya yang berada di area pemakaman tersebut. Tampak tidak ada rumput-rumput liar di makam tersebut. Pasalnya, setiap sebulan sekali, emak dan Fera selalu datang ke makam almarhum Ramanya Hari dan Fera itu.


  Fera dan emak pun mencabuti rumput-rumput yang baru tumbuh. Setelah cukup bersih, mereka berdua pun mendoakan almarhum Rama. Selesai memanjatkan doa kepada Allah, mereka pun menaburi tanah yang berada di bagian tengah batu nisan, dengan bunga-bunga yang mereka bawa.


  "Rama, Emak akan selalu merindukanmu! Rindu ini tidak akan pernah selesai! Walaupun sekarang Kita sudah berbeda alam, tapi Rama akan selalu berada di hati Emak!" Ucap emak sambil memegangi bagian kepala nisan.


  "Rama, sebentar lagi anak Kita akan menikah! Emak tahu, Rama pasti bahagia melihat Hari akan menikah! Seperti perasaan Emak yang sangat bahagia, Rama!" Air mata bahagia jatuh di pipi emak. Fera memandangi wajah emak dengan perasaan merasa bersalah.


  "Mak, pulang yuk! Sudah mau hujan!" Pinta Fera.


  "Rama, Emak pulang dulu ya! Assalamu'alaikum." Emak bangkit berdiri. Fera pun ikut berdiri. Dengan perlahan mereka berjalan meninggalkan makam almarhum Ramanya Fera, menuju sepeda yang terparkir di pinggir jalan.


  "Sebelum pulang, Kita mampir ke rumahnya Fatimah ya!" Pintanya sambil berjalan.


  "Mau ngapain Mak?" Tanya Fera penasaran.


  "Emak mau silaturahim sama kedua orang tuanya Fatimah! Mereka kan calon besan, Emak! Mereka sering ngasih makanan sama Emak. Masa Emak tidak ngasih mereka!"


  "Ya betul ya Mak! Nggak enak sama Mba Fatimah yang sering ngasih makanan! Nanti dikira Kita pelit! Nggak pernah ngasih mereka!"

__ADS_1


  "Makanya Emak ingin kesana sekarang! Kita mampir di warungnya Bu Juriyah ya!"


  "Iya Mak!" Fera pun menaiki sepedanya. Sedangkan emak membonceng di bagian belakang.


  Setelah sampai di warung sembako milik Bu Juriyah, mereka berdua turun dari atas sepeda. Emak pun memilih beberapa makanan ringan. Tidak lupa ia juga membeli gula pasir, kopi hitam, dan teh. Begitu selesai membayar barang belanjaannya, emak dan Fera kembali menaiki sepedanya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Fatimah.


  Di depan sebuah rumah cukup mewah yang terdapat pagar di bagian depannya, Fatimah dan Fera menghentikan laju sepedanya. Setelah turun dari atas sepeda, dengan perlahan mereka berjalan menuju pintu depan rumah berlantai keramik warna putih itu.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Assalamu'alaikum!" Salam emak dan Fera berbarengan.


  "Wa'alaikumsalam!" Jawab seorang perempuan dari dalam rumah. Tidak berapa lama pintu di hadapan Fatimah dan Fera, terbuka dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang perempuan berumur sekitar kurang dari setengah abad.


  "Emak Khulsum! Fera! Kirain tadi siapa! Mari masuk!" Pinta perempuan berkulit putih itu. Perempuan itu pun bersalaman dengan Fera dan emak.


  "Iya ini Bu Asmi! Tadi habis dari makam, terus sekalian mampir kesini! Maaf tidak bawa apa-apa Bu! Ini cuma sedikit!" Emak pun memberikan plastik hitam berisi bingkisan.


  "Emak repot-repot segala! Main kesini tinggal main aja, Emak! Terima kasih banyak ya Mak!"


  "Sama-sama Bu! Cuma sedikit kok Bu! Fatimah justru yang sering memberi Saya makanan!"


  "Duduk dulu Mak! Fera!"


  "Iya Bu!" Balas Fera. Mereka berdua pun duduk di atas sofa berwarna merah yang berada di ruang tamu.


  "Fatimah sudah pulang belum Bu?" Tanya emak.


  "Iya Bu." Balas emak. Bu Asmi pun berjalan menuju kamar tidur anak tunggalnya.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Fatimah!" Seru Bu Asmi di depan pintu kamar.


  "Buka aja Bu! Nggak dikunci!" Seru seorang perempuan dari dalam kamar. Mendengar ucapannya, Bu Asmi bergegas membuka pintu di hadapannya.


  "Fatimah, ada calon mertuamu datang kesini!" Ucapnya perlahan.


  "Maksud Ibu, Emak Khulsum datang kesini?" Fatimah yang baru selesai shalat ashar tampak kaget bercampur bahagia.


  "Iya! Emak Khulsum datang sama Fera! Kamu buatkan teh dulu ya!" Katanya.


  "Iya Mak." Fatimah pun melepaskan mukena yang dipakainya. Lalu ia keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju dapur. Sedangkan Bu Asmi kembali ke ruang tamu, setelah terlebih dahulu menaruh bingkisan dari emak Khulsum, di atas meja makan.


  "Fatimah baru selesai shalat, Emak!" Serunya.


  "Tidak apa-apa kok Bu!"


  Tidak berapa lama, Fatimah muncul di ruang tamu sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat tiga buah gelas berisi teh celup hangat.

__ADS_1


  "Emak, Fera! Sudah dari tadi ya? Maaf ya, soalnya Saya baru pulang. Terus langsung mandi dan shalat ashar!" Fatimah menaruh gelas di atas meja.


  "Belum lama kok Fatimah!" Balas emak.


  "Kabar Emak sama Fera sehat-sehat aja kan?" Sapa Fatimah sambil bersalaman dengan Fera dan emak.


  "Alhamdulillah Kami sehat-sehat saja, Fat!" Balas emak.


  "Alhamdulillah kalau begitu! Tapi sayang Bapak lagi keluar, Emak! Tadi katanya mau ke rumah Pak Wono!" Fatimah pun duduk di samping Fera.


  "Tidak apa-apa kok, Fatimah! Sebenarnya maksud kedatangan Emak sama Fera kesini, pertama Kami ingin silaturahim. Kedua Emak ingin menyampaikan kabar baik." Ucapnya.


  "Kabar baik apa, Emak?" Bu Asmi tampak penasaran.


  "Iya Mak! Kayaknya serius sekali!" Fatimah menimpalinya.


  "Alhamdulillah kemarin Kami sudah menerima surat dari Hari! Katanya Dia baru bisa mengirim surat dikarenakan sibuk bekerja." Katanya.


  "Alhamdulillah kalau sudah ada kabar dari Mas Hari! Berarti Hari dalam keadaan baik-baik aja! Soalnya sudah lama Fatimah ingin tahu kabar darinya!" Bu Asmi tampak bahagia.


  "Iya Mak! Setiap sehabis shalat Saya nggak lupa untuk mendoakan Mas Hari. Syukur alhamdulillah Mas Hari dalam keadaan sehat wal afiat!" Fatimah kembali menimpalinya. Senyum manis terpancar dari wajahnya.


  "Iya Bu Asmi, Fatimah! Emak juga kemarin setiap hari selalu kepikiran Hari terus! Bahkan mau makan Emak tidak nafsu. Tidurpun tidak nyenyak!" Balasnya tersenyum.


  "Maafkan Aku! Aku sama sekali nggak bermaksud untuk membohongi Kalian! Aku melakukan ini dengan terpaksa!" Seru Fera dalam hati.


  "Emak, pulang yuk! Sudah sore!" Bisik Fera.


  "Bu Asmi, Kami mohon pamit dulu ya! Soalnya mau hujan! Jemuran pakaian lupa belum diangkati!" Ucap emak.


  "Diminum dulu Emak, Fera!" Pinta Bu Asmi. Fera dan emak pun mengambil gelas di hadapannya dan meminum teh hangat buatan Fatimah.


  "Bu Asmi, terima kasih banyak teh hangatnya! Kami mohon pamit dulu!" Emak bersalaman dengan Bu Asmi.


  "Cuma teh kok, Mak! Saya yang mengucapkan terima kasih sudah dikasih makanan!" Balasnya.


  "Fatimah, Emak pamit dulu ya!" Emak bersalaman dengan Fatimah.


  "Iya Mak. Hati-hati di jalan!" Pintanya.


  "Iya." Balas emak. Sedangkan Fera pun ikut bersalaman dengan Bu Asmi dan Fatimah.


  "Assalamu'alaikum." Salam emak dan Fera berbarengan.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Asmi dan Fatimah dengan berbarengan juga.


  Emak dan Fera berjalan menuju sepeda yang terparkir di carport depan rumahnya Bu Asmi. Setelah menaiki sepedanya, Fera kembali mengayuh sepeda onthelnya menuju rumahnya.


  

__ADS_1


  


__ADS_2