
Pagi itu matahari belum lama memancarkan sinarnya. Di dalam sebuah kamar, terlihat seorang lelaki muda sedang duduk di depan jendela kamar yang terbuka. Dia tampak termenung memikirkan sesuatu beban pikiran mendalam yang tengah dirasakannya. Pada bagian wajah lelaki itu, terdapat pemandangan yang tidak seperti orang pada umumnya. Pemandangan yang akan membuat mengiris hati bagi setiap orang yang melihatnya. Bagaimana tidak, lelaki muda berwajah tampan itu, mempunyai kedua mata yang tidak dapat melihat sama sekali. Di saat lelaki itu sedang melamun, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tokkk...Tokkk...Tokkk...
"Mas Yos! Ini Bibi!" Seru perempuan yang berdiri di balik pintu, yang ternyata adalah Bi Ginah.
"Masuk Bi!" Balas lelaki yang bukan lain adalah Yos Sudarso. Mendengar jawaban dari dalam kamar, Bi Ginah pun perlahan membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, Bi Ginah masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat sepiring nasi lengkap dengan lauk ayam goreng dan sayur tumis pepaya. Di samping piring, terdapat segelas susu putih hangat.
Bi Ginah pun menaruh nampan yang dipegangnya di atas meja yang terbuat dari aluminium. Pada bagian bawah meja kecil itu, terdapat empat buah roda berukuran kecil. Bi Ginah pun mendorong meja tersebut ke arah Yos.
"Sarapan dulu ya Mas! Bibi sudah masakin tumis pepaya sama ayam goreng!" Pintanya.
"Makasih Bi. Kenapa ya, apabila Kita dalam keadaan terpuruk dan kesusahan, orang-orang banyak yang menjauhi Kita? Hidup Kita seperti hampa, sunyi, dan sepi." Tanya Yos dengan muka masih menghadap ke arah luar jendela.
"Itu membuktikan orang itu mendekati Kita cuma kalau Kita sedang berjaya! Giliran Kita sedang sedih dan susah, mereka meninggalkan Kita! Itu tandanya mereka tidak tulus berteman dengan Kita! Walaupun teman-teman kerjanya Mas Yos tidak mau datang kesini lagi, tapi masih ada Bibi dan Bapak! Jadi Mas Yos tidak usah khawatir! Mas Yos tidak sendirian!" Nasihatnya.
"Mungkin kemarin mereka takut dan jijik ketika melihat kedua mataku, sewaktu mereka datang kesini! Makanya mereka nggak mau datang kesini lagi!" Ucapnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Mas! Itu namanya mereka bukan teman sejati!" Balasnya.
"Bukan cuma teman-teman kantor yang nggak mau kesini lagi, Bi! Tapi Vanya juga Bi! Sejak melihat Aku buta, Vanya tampak aneh sikapnya! Bahkan sampai sekarang Dia nggak pernah kesini lagi! Padahal sebelumnya, hampir tiap malam Dia kesini!" Ucap Yos tampak sedih.
"Mungkin Mba Vanya lagi sibuk mengerjakan tugas kuliah Mas Yos!" Balasnya.
"Nggak Bi, Vanya kan sudah semester akhir! Tinggal nunggu wisuda aja! Tapi ya sudahlah Bi! Sekarang Aku jadi tahu perasaan Vanya terhadapku seperti apa! Ternyata Vanya nggak tulus mencintaiku!" Ucapnya.
__ADS_1
"Gimana maksudnya Mas Yos? Apa Mba Vanya cinta sama Mas Yos? Kok Bibi sama sekali tidak tahu!" Tanya balik Bibi.
"Bukan cuma Vanya yang cinta padaku Bi! Tapi Aku juga cinta sama Vanya! Kami sudah pacaran beberapa minggu yang lalu!" Jawabnya.
"Jadi Kamu pacaran sama Vanya, Yos?" Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya Yos. Mendengar pertanyaannya, Yos tampak sedikit gugup.
"Iya Pak! Tapi mungkin sekarang perasaan itu telah luntur di hati Vanya! Mana mau perempuan semanis dan secantik Vanya, punya pacar lelaki buta sepertiku! Vanya pasti sangat malu apabila teman-temannya tahu, kalau Dia punya pacar buruk rupa sepertiku! Apalagi di Jakarta begitu banyak lelaki tampan, gagah, kaya, dan yang jelas nggak cacat seperti diriku!" Air mata seketika menetes di pipi Yos. Bi Ginah pun ikut menangis melihat dan mendengar ucapan Yos. Apalagi lelaki yang baru masuk ke dalam kamarnya Yos. Lelaki yang bukan lain adalah Pak Teddy itu, sangat merasa bersalah dan terpukul mendengar ucapan Yos. Air mata jatuh dari kedua mata Pak Teddy.
"Jangan bicara seperti itu, Mas Yos! Apabila Mba Vanya tidak mau lagi sama Mas Yos, mungkin Dia bukan jodohnya Mas Yos! Bibi doakan semoga Mas Yos bisa mendapatkan istri yang tulus mencintai Mas Yos!" Nasihat Bi Ginah.
"Aamiin ya rabbal'alamiin." Jawab Pak Teddy sambil menangis.
"Yos, harusnya bukan Kamu yang menderita begini, tapi Aku! Niat hati ingin membuatmu bahagia dengan tinggal disini, tapi justru malah sebaliknya!" Seru Pak Teddy dalam hati.
"Lebih baik sekarang Mas Yos sarapan dulu ya!" Bi Ginah pun mengambil piring yang berada di atas meja dan mendekatkannya ke arah tangan kanan Yos. Perlahan Yos menyambut piring itu. Begitu sudah memegang sendok yang berada di atas piring, dengan perlahan Yos menyendok nasi dan lauk pauk.
"Aku angkat telpon dulu ya Yos!" Serunya sambil berjalan dengan cepat keluar dari dalam kamar. Pak Teddy pun bergegas mengangkat telepon yang berada di ruang keluarga yang berada di lantai satu.
"Hallo! Assalamu'alaikum!" Salamnya.
"Wa'alaikumsalam! Apa benar Saya bicara dengan Pak Teddy?" Tanya seorang laki-laki di dalam panggilan telepon.
"Betul! Ini siapa ya?" Pak Teddy merasa tidak tenang.
"Saya Pak Beni, dari pihak polres metro Jakarta Pusat, ingin memberikan kabar baik kepada Pak Teddy!" Jawabnya.
__ADS_1
"Kabar baik apa Pak? Apa pelakunya sudah berhasil ditangkap?" Tanya Pak Teddy dengan keras.
"Sudah Pak! Tadi sekitar jam tiga pagi! Mereka ditangkap di daerah Depok, Bogor, dan Banten! Mereka berjumlah tiga orang! Diantara mereka adalah orang yang bertindak sebagai atasannya. Dan dua orang lainnya sebagai anak buahnya!" Jawabnya.
"Apa Saya bisa bertemu dengan dengan mereka sekarang, Pak? Terutama orang yang sebagai dalang dalam penculikan anak Saya!" Tanyanya.
"Bisa Pak! Pak Teddy datang kesini saja jam sepuluh!" Jawabnya.
"Baik Pak! Nanti Saya akan kesana!" Katanya.
"Ya sudah kalau begitu, ditunggu ya Pak Teddy! Assalamu'alaikum." Salam polisi yang bernama Pak Beni.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya. Pak Teddy pun kembali menaruh gagang telepon pada tempatnya. Lalu ia berlari menuju kamar tidurnya Yos.
"Yos! Ada kabar gembira!!!" Serunya ketika masuk ke dalam kamarnya.
"Kabar gembira apa Pak?" Tanya Yos penasaran.
"Pelakunya sudah berhasil ditangkap, Yos! Nanti Bapak mau melihat wajah pelakunya! Kamu mau ikut nggak, Yos?" Tanya balik Pak Teddy.
"Nggaklah Pak! Percuma aja kalau Aku ikut! Aku kan nggak bisa melihat wajah mereka!" Balasnya acuh tak acuh.
"Semoga mereka membusuk di penjara, Yos! Kalau Kamu nggak ikut, nggak apa-apa Yos! Ya sudah, Bapak berangkat ke kantor dulu ya!" Ucapnya. Mendengar ucapannya, Yos hanya sibuk menikmati sarapannya. Sama sekali tidak terdengar jawaban dari mulutnya. Dengan perasaan sangat sedih, Pak Teddy meninggalkan Yos sendirian di dalam kamarnya.
Pak Teddy berjalan menuju mobilnya yang berada di carport depan rumahnya, dengan berderaian air mata. Setelah menaiki mobil, dengan perasaannya yang luluh lantak, Pak Teddy menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil itu pun melaju dengan kencang meninggalkan rumahnya.
__ADS_1