Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Sebuah Firasat


__ADS_3

  Pagi itu emak dan Fera terlihat sibuk memasak di dapur yang masih berlantai tanah.


  "Fera, tadi malam Emak mimpi buruk!" Ucapnya sambil mengiris cabai.


  "Memangnya Emak mimpi apa?" Tanya Fera sambil menggoreng tempe.


  "Emak mimpi Hari jatuh ke jurang, Fera!" Jawab emak sambil merenung.


  "Itu kan cuma mimpi, Mak! Lebih baik Emak lupakan aja mimpi itu!" Pintanya.


  "Tapi mimpi itu seperti kenyataan, Fer! Di dalam mimpi itu, Hari minta tolong pada Emak! Tapi Emak sama sekali tidak bisa menolongnya!" Kedua mata emak tampak basah oleh air mata.


  "Mungkin tadi malam Emak lupa baca doa! Jadi Emak diganggu setan! Terus Emak mimpi buruk!" Katanya.


  "Emak sebelum tidur Insha Allah tidak pernah lupa baca doa, Fer! Sekarang Emak jadi kepikiran Hari lagi!" Balasnya.


  "Emak tidak usah memikirkan Mas Hari terus! Nanti..." Belum sempat Fera meneruskan ucapannya, tiba-tiba saja terdengar suara keras dari arah ruang keluarga.


  Ppprrraaaaannnnnggggg.....!!!


  "Innalilahi! Suara apa itu Fer?" Tanya emak kaget.


  "Tidak tahu, Mak!" Balasnya.


  "Coba Emak lihat dulu!" Emak pun bangkit berdiri dan berjalan menuju sumber suara itu.


  Ketika Emak sampai di ruang keluarga, tubuhnya mendadak kaku bagai disambar petir di pagi hari. Dengan menggunakan kedua matanya sendiri, emak melihat sebuah foto yang digantung di dinding jatuh ke lantai ubin. Dengan tubuh bergetar hebat, perlahan emak melangkahkan kakinya menghampiri foto yg bingkainya patah menjadi dua, sedangkan kacanya hancur berkeping-keping.


  Saat berada sekitar satu meter dari foto yang berada di atas lantai, emak kembali merasa sangat kaget, ketika melihat selembar gambar foto yang terjatuh. Pada bagian atas foto itu emak melihat sangat jelas sebuah gambar laki-laki yang bukan lain adalah Hari, anak sulungnya. Sontak saja emak berteriak dengan keras memanggil nama anaknya itu.


  "Hariii.....!!!" Teriak emak sekuat tenaga. Seketika air matanya membanjiri wajahnya yang sudah keriput. Kedua lutut emak yang bergetar hebat, akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Tubuh emak terjatuh di atas lantai.


  Sementara itu, begitu mendengar suara teriakkan emaknya, Fera bergegas meniriskan tempe yang telah selesai digorengnya. Lalu ia langsung mematikan kompor minyak tanah. Fera pun berlari menghampiri emaknya.


  "Apa Mas Hari sudah pulang?" Tanya Fera dalam hati. Namun dugaannya salah. Begitu sampai di ruang keluarga, ia melihat emaknya sedang duduk di atas lantai sambil menangis histeris di depan foto bergambar kakaknya yang terjatuh di atas lantai ubin.


  "Ya Allah Ya Rabbi!!! Emak kenapa jatuh???" Tanya Fera sambil menghampiri tubuh emaknya.


  "Emak tidak apa-apa!!! Tapi Hari! Foto Hari jatuh tanpa sebab!!!" Teriaknya.

__ADS_1


  "Mungkin aja foto Mas Hari kena angin, Emak! Makanya bisa terjatuh!" Fera bersimpuh di samping kanan emaknya. Kedua tangannya memegangi jari-jemari tangan kanan emaknya.


  "Tidak mungkin Fera!!! Foto Masmu tidak mungkin jatuh karena angin! Tapi ini adalah sebuah pertanda bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk pada Hari! Firasat Emak mengatakan kalau Hari terkena musibah! Foto Hari yang terjatuh ada hubungannya dengan mimpi Emak semalam, Fera!!!" Teriak emak. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya.


  "Istighfar Emak!!! Emak nggak boleh bicara begitu!!! Insha Allah Mas Hari baik-baik aja, Emak!" Fera masih tidak percaya dengan ucapan emaknya.


  "Kamu itu tidak paham dengan perasaan Emak, Fera!!! Kamu tidak tahu ikatan batin antara Emak dengan Hari!!! Ikatan batin seorang Ibu dengan anaknya itu sangat kuat!!!" Jawab emak dengan keras.


  "Fera minta maaf sama Emak! Bukannya Fera nggak paham dan mengerti perasaan Emak pada Mas Hari, tapi Fera ingin melihat Emak tidak sedih terus! Fera nggak ingin Emak berpikir buruk pada Mas Hari!" Ucap Fera dengan berlinang air mata.


  "Itu namanya Kamu tidak paham perasaan Emak terhadap Hari!" Katanya sambil menangis sesenggukan.


  "Bukankah kemarin Mas Hari sudah mengirimkan surat kepada Emak? Dan disitu tertulis kalau Mas Hari dalam keadaan baik-baik aja! Bukankah begitu, Mak?" Tanya Fera.


  "Tapi perasaan Emak tidak seperti biasanya! Emak belum sepenuhnya merasa lega, kalau belum melihat wajah Hari secara langsung!" Jawabnya.


  "Semoga Mas Hari secepatnya bisa pulang ya Emak! Ayo Kita sarapan dulu Mak!"


  "Emak jadi tidak nafsu makan, Fer! Emak mau ke kamar aja!" Perlahan emak bangkit berdiri. Dengan sigap Fera membantu emak berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


  "Kalau Emak belum mau sarapan, biar Fera ambilkan teh hangat punya Emak ya!" Ucapnya.


  "Iya Fer." Balasnya perlahan. Fera pun berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas teh hangat milik emaknya, dan kembali masuk ke dalam kamar emaknya. Ia pun memberikan gelas di tangannya kepada emaknya. Perlahan emak meminum teh hangat buatan Fera.


  "Nggak apa-apa, Emak! Emak tidak salah! Fera belum menjadi seorang Ibu. Makanya Fera belum bisa merasakan semua yang dirasakan oleh Emak!" Balasnya.


  "Perasaan Emak sebenarnya sudah tidak tenang, semenjak Hari berpamitan pada Emak! Perpisahan waktu itu, rasanya tidak seperti sebelum-sebelumnya! Emak merasa sangat sedih dan berat untuk berpisah dengan Hari!" Katanya.


  "Ya sudah, lebih baik sekarang Emak istirahat dulu! Semoga Mas Hari baik-baik aja!" Ucapnya.


  "Aamiin. Kemarin suratnya sudah Kamu balas kan, Fer?" Tanya emak.


  "Sudah Mak!" Balas Fera dengan sedikit gugup.


  "Semoga Mas Hari bisa segera membalas suratnya, Mak! Karena sebenarnya Mas Hari sampai sekarang belum mengirim surat! Tapi Aku belum bisa menceritakan semuanya pada Emak! Maafkan Aku, Mak!" Ucap Fera dalam hati.


  "Semoga Masmu cepat membalas suratnya!" Ucapnya.


  "Aamiin. Fera ke dapur dulu ya Mak!" Balasnya. Fera pun keluar dari dalam kamar emak.

__ADS_1


  Malam itu, Pak Teddy keluar dari dalam kamarnya dengan menjinjing koper berisi uang sebanyak Rp.100 juta. Seperti peringatan di dalam surat dari seseorang yang menculik Yos, bahwa Pak Teddy tidak boleh melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, dengan terpaksa Pak Teddy pun menuruti kemauannya. Bagi dirinya, keselamatan Yos adalah yang paling utama.


  "Bapak, mau berangkat sekarang?" Tanya Bi Ginah ketika melihat Pak Teddy keluar dari dalam kamarnya.


  "Iya Bi. Bibi jaga rumah ya! Jangan lupa semua pintu dikunci! Kalau Saya belum pulang, jangan bukakan pintu!" Pintanya.


  "Iya Pak." Balas Bi Ginah dengan perasaan cemas. Belum sempat Pak Teddy kembali berbicara, tiba-tiba saja terdengar suara salam.


  "Assalamu'alaikum!"


  "Wa'alaikumsalam!" Jawab Pak Teddy dan Bi Ginah berbarengan.


  "Aku langsung masuk! Soalnya pintu depan terbuka!" Seru perempuan yang muncul di hadapan mereka berdua.


  "Kebetulan sekali Kamu kesini, Vanya! Kamu temanin Bi Ginah di rumah ya!" Pintanya.


  "Lho, Om Teddy mau pergi kemana?" Tanya perempuan yang bukan lain adalah si imut atau Vanya.


  "Oh ya, Kamu belum tahu ya?" Ucap Pak Teddy.


  "Tahu apa Om?" Vanya tampak cemas.


  "Semalam Yos diculik! Dan penculiknya minta tebusan uang! Sekarang Om mau jemput Yos!" Jawabnya dengan tegar.


  "Ya Allah Ya Tuhanku!!! Kok bisa Mas Yos sampai diculik?" Vanya seolah tidak percaya.


  "Kejadiannya tadi malam sewaktu semua tertidur, termasuk dengan Yos." Balasnya.


  "Aku ikut Om!" Serunya.


  "Jangan! Terlalu berbahaya! Lebih baik Kamu temani Bi Ginah di rumah! Kasihan Bibi sendirian!" Pintanya.


  "Iya mut! Kamu temani Bibi ya!" Bi Ginah menimpalinya.


  "Iya Bi!"


  "Apa Om Teddy nggak lapor penculikan ini pada pihak kepolisian?" Tanyanya.


  "Nggak, penculik itu mengancam agar Aku nggak lapor polisi! Ya sudah, Aku berangkat sekarang ya! Assalamu'alaikum!" Pak Teddy melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang berada di carport.

__ADS_1


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Bi Ginah dan Vanya berbarengan.


  Pak Teddy bergegas menaiki mobilnya. Koper berisi uang ditaruhnya di jok sebelah kiri. Ia pun langsung menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan kuat. Dengan cepat mobil itu melaju meninggalkan rumahnya.


__ADS_2