
"Sebenarnya Saya nggak enak sama istri dan anak Pak Teddy! Apa mereka mau menerima Saya untuk tinggal bersamanya?" Tanya Hari yang dipanggil Yos.
"Anak dan dan istriku sudah meninggal 12 tahun yang lalu, Yos!" Balas Pak Teddy sambil menyetir mobilnya.
"Kalau boleh tahu, meninggal kenapa Pak?"
"Kecelakaan Yos! Waktu itu Kami habis liburan ke Puncak Bogor! Sewaktu perjalanan pulang, ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba masuk ke jalur kanan! Aku pun sangat kaget, begitu melihat sebuah mobil berada tepat di depan mobilku. Aku langsung banting setir ke arah kiri. Saat itu, Aku sudah berusaha menginjak rem. Tapi karena Aku mengendarai mobilnya juga kencang, mobilku menabrak sebuah pohon yang berada di sebelah kiri jalan. Aku, anakku, dan istriku mengalami luka-luka. Tapi yang paling parah yaitu istri dan anakku yang duduk di sebelah kiri. Saat itu anakku yang bernama Dion berumur 15 tahun! Mungkin kalau sekarang masih hidup, usianya sepertimu!"
"Terus pengendara mobil yang ugal-ugalan itu gimana Pak?"
"Dia akhirnya di penjara! Akibat menyetir dalam keadaan mabuk!"
"Maafkan Saya ya Pak! Saya jadi membuat Pak Teddy sedih." Yos pun terharu mendengar cerita Pak Teddy.
"Nggak apa-apa kok Yos! Lagian Aku sudah ikhlas dengan kepergian mereka!" Balasnya.
"Apa Bapak cuma punya anak satu? Atau ada yang lainnya?"
"Aku cuma punya anak satu! Dion adalah anak tunggal!"
"Maaf sebelumnya, apa Pak Teddy nggak menikah lagi?"
"Sampai sekarang Aku belum menikah lagi!"
Tidak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah rumah mewah yang berada di salah satu kompleks perumahan elite yang berada di daerah Jakarta pusat.
"Kita sudah sampai, Yos! Ayo Kita turun!" Ajak Pak Teddy begitu selesai memarkirkan mobilnya di carport depan rumah.
"Ini rumahnya Pak Teddy?" Tanya Yos Sudarso merasa heran.
"Iya Yos!"
"Bagus banget Pak!" Yos merasa kagum.
"Bisa aja Kamu!" Pak Teddy pun turun dari atas mobil. Yos pun ikut bergegas turun.
Setelah menutup gerbang, mereka pun berjalan menuju pintu depan rumah.
"Assalamu'alaikum!" Salam Pak Teddy sambil membuka pintu di depannya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang perempuan berusia sekitar 60 tahun.
"Tolong buatkan kopi susu dua ya!" Pintanya.
__ADS_1
"Baik Pak." Jawabnya.
"Oh ya kenalin Bi! Ini anak muda yang kemarin Aku ceritakan!" Pak Teddy pun menepuk pundak kanan Yos.
"Yos Sudarso." Yos mengulurkan tangan kanannya ke hadapan pembantu Pak Teddy.
"Bi Ginah!" Perempuan yang bernama Bi Ginah, menyambut tangan kanan Yos dengan senang hati.
"Mulai sekarang Yos tinggal disini, Bi! Karena Yos mengalami amnesia!" Katanya.
"Sia-sia itu maksudnya apa Pak?" Bi Ginah tampak bingung.
"Amnesia Bi! Jadi akibat benturan keras di bagian kepalanya, membuat Yos ini sama sekali nggak ingat dengan jati dirinya. Bahkan namanya sendiri Dia nggak ingat!"
"Ya Allah Ya Rabb! Kasihan sekali Kamu Mas Yos! Keluargamu pasti mencari-cari keberadaan dirimu!" Seru Bi Ginah.
"Ya sudah, sana cepat bikin minum, Bi!" Perintahnya.
"Baik Pak." Bi Ginah pun berjalan menuju dapur.
"Yos mari ikut Aku!" Pintanya. Pak Teddy pun berjalan menuju kamar tidur yang berada di lantai dua. Yos mengikuti di belakangnya.
"Yos, ini kamarmu! Pakaian yang kemarin berada di dalam tasmu sewaktu Kamu kecelakaan, semua sudah dimasukkan ke dalam lemari!"
"Bagus banget kamarnya Pak!" Yos merasa kagum.
"Iya Pak!"
"Ya sudah, Aku tinggal dulu ya Yos! Aku juga mau mandi dulu!" Ucapnya.
"Baik Pak." Balas Yos. Pak Teddy pun keluar dari dalam kamar itu, menuju kamar tidurnya yang berada di lantai satu.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Pak Teddy dan Yos langsung menikmati makan malam di ruang makan. Ayam goreng dan tumis kangkung menjadi menu makan malam mereka. Yos terlihat makan dengan lahap. Pak Teddy pun melihatnya dengan senyum bahagia.
Ketika mereka sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba bel pintu berbunyi dengan keras.
Tiiinnnggg...Tooonnnggg...
"Bibi Tebak ya Pak. Pasti ini Si imut yang datang!" Seru Bi Ginah berjalan dengan cepat menuju pintu depan.
"Yang benar Bi? Kalau salah mau dikasih hukuman tidur di luar ya!" Pak Teddy pun tertawa lebar.
"Tapi kalau betul, Bi Ginah minta hadiah Bebek goreng yang biasanya beli, ya Pak!" Pintanya.
__ADS_1
"Nggak masalah Bi!" Balasnya. Mendengar percakapan mereka, Yos hanya tersenyum dibuatnya.
Bi Ginah perlahan membuka pintu depan dengan deg-degan. Ia takut jika tebakannya salah! Walaupun ia tahu, Pak Teddy tidak mungkin tega menyuruhnya untuk tidur di luar rumah. Karena Bi Ginah sudah tahu kalau Pak Teddy adalah orang yang baik dan dermawan. Makanya ia bisa mengabdi di rumahnya selama 27 tahun. Dari anaknya yang bernama Dion masih bayi.
Ketika pintu itu terbuka, wajah Bi Ginah yang semula tegang berubah sangat cerah. Bagaimana tidak, ternyata tebakannya tidak salah. Orang yang berdiri di depan pintu bukan lain adalah seorang perempuan muda berumur sekitar 22 tahun. Seperti yang dikatakan Bi Ginah sebelumnya. Perempuan itu memang terlihat imut. Bahkan orang yang tidak mengenalnya akan mengira ia masih sekolah SMU.
"Alhamdulillah, Si imut! Ternyata memang Kamu yang datang!" Seru sambil memeluk tubuh perempuan berambut panjang yang berada di depannya.
"Ada apa sih Bi?" Gadis itu pun merasa heran.
"Tadi Bi Ginah menebak kalau Kamu yang datang! Aku minta hadiah Bebek goreng langganan Bapak, jika benar tebakanku! Tapi jika salah, katanya Bibi suruh tidur di luar!" Cerita Bi Ginah.
"Sudah tenang ya Bi! Yang penting kan tebakan Bibi betul! Jadi Bi Ginah nggak jadi disuruh tidur di luar!" Balasnya.
"Iya Mba imut!" Ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Sekarang dimana Om Teddy, Bi?"
"Lagi makan malam!" Jawabnya.
"Mari masuk Bi!" Ajak Si imut. Mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum!" Salam Si imut dengan cukup keras.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab Pak Teddy dan Yos berbarengan.
"Om! Lagi makan ya!" Si imut berjalan menghampiri Pak Teddy.
"Iya sini makan bareng!" Ajaknya.
"Sudah kenyang Om! Oh ya, kata Bi Ginah tadi Om menyuruh Bi Ginah untuk tidur di luar ya Om? Om jahat nih! Kan kasihan kalau Bibi tidur di luar. Nanti masuk angin! Terus nggak bisa bekerja! Terus siapa yang rugi? Om juga kan!" Serunya.
"Om cuma bercanda! Mana mungkin Om tega menyuruh Bi Ginah tidur di luar! Kaya cerita Ibu tiri aja! Lagian kan tebakan Bibi, betul! Kamu yang datang!" Balasnya.
"Tapi Om nggak akan mengingkari janjinya kan? Buat membelikan bebek goreng buat Bi Ginah!" Serunya.
"Nggak mungkin Om mengingkari janji! Besok ya Bi belinya!" Pak Teddy pun menengok ke arah Bi Ginah yang sedang berjalan menuju dapur.
"Tidak perlu dipikirkan, Pak! Bibi tidak dibelikan bebek goreng juga tidak apa-apa kok, Pak!" Jawabnya.
"Harus Bi! Janji kan harus ditepati!" Pak Teddy pun kembali memakan sesendok nasi, lauk, dan sayur.
"Maaf Pak! Saya jadi merepotkan Bapak!" Katanya.
__ADS_1
"Sama sekali nggak merepotkan, Bi! Bi Ginah kan sudah seperti Ibu kandungku sendiri!" Balasnya.
"Ya Saya mengucapkan terima kasih Pak. Kalau begitu Saya mau ke dapur dulu Pak!" Bi Ginah kembali berjalan menuju dapur.