
Pak Teddy mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat ingin secepatnya bertemu kembali dengan Hari, lelaki yang sudah dianggap sebagai anak angkatnya.
Setelah beberapa kali bertanya kepada warga yang ditemuinya di tepi jalan, akhirnya Pak Teddy sampai di jalan Ciparay. Ia pun melambatkan laju mobilnya di jalanan yang sepi mencekam dan gelap gulita.
Pak Teddy terus menerus memperhatikan tepi jalan sebelah kanan dan kirinya. Sepanjang jalan itu, Pak Teddy hanya melihat perkebunan pohon jati yang sangat luas.
"Apa jangan-jangan mereka menipuku?" Ucapnya seorang diri.
"Masa sih ada rumah di perkebunan gelap begini? Sudah berapa puluh meter Aku lalui jalanan ini, tapi belum terlihat sebuah rumah!" Pak Teddy mulai gelisah. Ia terus mengendarai mobilnya dengan pelan.
Disaat Pak Teddy sudah merasa kesal, tiba-tiba saja dia melihat sebuah rumah tua yang berada di sebelah kiri jalan. Di halaman depan rumah itu, terdapat sebuah mobil Jeep berwarna hitam. Pak Teddy dengan mobil itu hanya berjarak sekitar 20 meter.
"Itu pasti rumah yang dimaksud!" Serunya. Pak Teddy pun menambah sedikit kecepatan mobilnya. Sesampainya di rumah itu, Pak Teddy mencoba untuk memberanikan memasuki halaman depan rumah. Perlahan ia turun dari atas mobilnya. Kedua matanya melihat sekeliling rumah kosong itu, termasuk mengamati mobil yang terparkir di depan rumah tersebut.
Disaat Pak Teddy merasa sedikit bimbang dan khawatir, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh munculnya tiga orang laki-laki misterius yang memakai penutup kepala.
"Akhirnya Kamu datang juga! Kukira Kamu lebih sayang uangmu daripada nyawa anakmu!" Seru lelaki yang berdiri di depan.
"Setan terkutuk!!! Jadi Kalian yang telah menculik anakku!!!" Pak Teddy pun menatap sumber suara, yang ternyata berasal dari teras depan rumah.
"Betul sekali tebakanmu!" Lelaki yang bukan lain adalah Franky menyeringai lebar.
"Jahanam!!! Dimana sekarang anakku Kalian sembunyikan???" Tanya Pak Teddy dengan keras.
"Sabar Pak Teddy Darmawan yang terhormat!!!" Balas Franky. Mendengar ucapan orang yang tidak dikenalnya mengetahui nama lengkapnya, Pak Teddy mendadak berubah air mukanya.
"Siapa Kalian sebenarnya? Apa masalah Kalian denganku, sampai menculik anakku?" Tanya Pak Teddy penasaran.
"Untuk masalah itu, Kamu nggak perlu tahu!!! Yang jelas Aku punya dendam kesumat padamu!!!" Jawabnya.
__ADS_1
"Dendam? Dendam kenapa? Aku rasa Aku sama sekali nggak punya musuh!" Serunya.
"Mungkin Kamu sudah lupa denganku! Tapi Aku nggak akan bisa lupa dengan wajahmu!" Seru Franky. Mendengar ucapannya Pak Teddy langsung tercekat.
"Kalau Kau memang lelaki, tunjukkanlah wajahmu!!! Bukan bersembunyi di balik kain!!! Jangan-jangan mukamu buruk seperti kelakuanmu!!!" Hina Pak Teddy dengan berani. Mendengar hinaannya, Franky langsung naik darah. Dia hampir saja kelepasan membuka penutup kepalanya. Namun niat itu ia urungkan.
"Nggak usah banyak omong kosong!!! Cepat serahkan uang sesuai dengan yang Aku minta!!!" Perintahnya.
"Aku mau lihat dulu anakku! Jangan-jangan Kalian telah menipuku!" Serunya.
"Anakmu ada di dalam rumah!" Teriak Franky.
"Aku nggak percaya!" Balasnya.
"Jamal, buka pintunya!" Perintah Franky pada salah satu anak buahnya yang berada di belakangnya. Mendengar perintahnya, jamal langsung membukakan dua buah pintu bagian depan.
"Yos!!! Itukah dirimu?" Tanya Pak Teddy dengan keras.
Mendengar ucapan Pak Teddy yang sudah dikenalinya, dengan sekuat tenaga Yos mengeluarkan suara dan menggerak-gerakkan badan dan kedua tangannya. Namun niatnya hanya sia-sia belaka. Karena mulut Yos sudah ditutup menggunakan tiga lembar lakban berwarna hitam. Sedangkan kedua matanya masih tertutup selembar kain berwarna merah.
"Sudah lihat sendiri kan, wujud anak kesayanganmu? Sekarang cepat serahkan uang yang Aku minta! Aku nggak punya waktu lama lagi!" Perintah Franky. Mendengar ucapannya, Pak Teddy kembali berjalan menuju mobilnya. Tidak berapa lama ia keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah koper berisi uang.
"Ini uangnya sesuai dengan yang Kau minta!" Pak Teddy melempar koper yang berada di genggaman tangan kanannya. Dari jarak sekitar tiga meter dari tubuh Pak Teddy, Franky menyambut koper dari Pak Teddy dengan sangat bahagia.
Tanpa membuang waktu lagi, Franky membuka koper di lengan kirinya. Begitu koper telah terbuka, ia melihat lembaran uang seratus ribuan dalam jumlah yang banyak.
"Itu semua totalnya 100 juta! Kalau nggak percaya, silahkan hitung dulu!" Serunya.
"Aku percaya Kamu bukan orang munafik! Terima kasih banyak untuk uangnya! Senang bekerja sama denganmu!!!" Balas Franky kembali menyeringai.
__ADS_1
"Ayo Kita cepat pergi dari sini!" Bisik Franky pada kedua anak buahnya. Mereka bertiga pun berlari menuju mobil jeep berwarna hitam yang berada di depan rumah. Tanpa membuang waktu lagi, mereka bergegas naik ke atas mobil. Ucok yang duduk di belakang setir, langsung menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas dengan kuat. Secepat kilat mobil itu melaju meninggalkan Pak Teddy dan Yos. Tanpa basa-basi lagi, Pak Teddy berlari menghampiri Yos yang tidak berdaya.
"Sebentar ya Yos, biar Aku buka talinya!" Serunya. Pak Teddy pun berjalan kebelakang tubuh Yos. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikatan tali tambang pada pergelangan kedua tangan Yos.
Begitu kedua tangan Yos berhasil dilepaskan dari tali tambang yang mengikatnya, Yos pun bergegas membuka lakban hitam yang membungkam mulutnya. Lalu ia melepaskan ikatan kain berwarna merah yang menutupi kedua matanya. Namun, begitu kedua matanya terlepas dari kain berwarna merah yang sebelumnya telah menutupi kedua matanya, Yos tetap saja belum bisa melihat sedikit pun.
"Pak, kenapa Aku belum bisa melihat?" Tanya Yos dengan keras. Mendengar ucapan Yos, Pak Teddy memperhatikan kedua mata Yos dengan seksama. Di dalam keadaan rumah kosong yang gelap gulita, Pak Teddy samar-samar melihat kedua mata Yos terlihat mengerikan. Sontak ia langsung berseru.
"Ya Allah!!! Matamu kenapa Yos?"
"Memangnya mataku kenapa Pak?" Tanya Yos sambil meraba-raba kedua matanya.
"Kedua matamu hancur, Yos!!! Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan pada kedua matamu, Yos?" Seru Pak Teddy dengan tubuh merinding.
"Aku sama sekali nggak ingat Pak! Tadi pagi, begitu Aku sadar, kedua mataku sudah tertutup selembar kain!" Balasnya.
"Biadab!!! Perbuatan mereka seperti iblis!!! Mereka harus Kita laporkan ke polisi!!!" Serunya.
"Jadi Aku buta Pak? Jadi Aku nggak bisa melihat lagi?" Ratap Yos. Seketika air matanya menetes di pipinya.
"Maafkan Aku Yos! Semua ini gara-gara Aku! Mereka mengira bahwa Kamu anak kandungku! Harusnya Aku yang mereka tangkap bukan Kamu, Yos!" Pak Teddy sangat merasa bersalah. Lelaki itu pun meneteskan air mata.
"Pak Teddy sama sekali nggak salah! Tapi merekalah yang harus menerima hukuman yang setimpal! Sebenarnya mereka itu siapa Pak? Apa mereka musuh Pak Teddy?" Tanya Yos marah.
"Aku nggak bisa mengenali wajah mereka, Yos! Mereka memakai penutup kepala! Mereka nggak akan Aku biarkan bebas berkeliaran! Besok akan Aku laporkan ke polisi! Sekarang lebih baik Kita pergi dari sini! Kita harus secepatnya ke rumah sakit di Jakarta!" Pintanya.
"Iya Pak." Balasnya datar. Pak Teddy pun membantu Yos berdiri dan menuntunnya ke arah mobil.
Setelah Yos naik ke atas mobil dengan dibantu oleh Pak Teddy, ia pun bergegas ikut naik ke atas mobil. Pak Teddy langsung menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil itu pun melaju dengan kencang meninggalkan rumah kosong itu.
__ADS_1