Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Musibah di Pagi Buta


__ADS_3

  Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul 03.14 WIB. Keadaan di rumah Pak Teddy sangat sepi dan gelap. Pasalnya, seluruh penghuni rumah mewah itu sedang terlelap tidur. Suara jarum jam dinding pun terdengar dengan jelas.


  Di dalam sebuah kamar yang berada di lantai dua, seorang laki-laki muda tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Namun tidak seperti orang pada umumnya. Ketika kedua kelopak matanya terbuka, lelaki itu ternyata memiliki sepasang mata yang tidak lagi berfungsi.


  "Tumben, kok tenggorokanku rasanya haus sekali! Jam berapa sekarang ya? Aku rasa alarmnya belum bunyi! Lebih baik Aku mengambil minum dulu!" Ucapnya seorang diri.


  Lelaki malang itu pun turun dari tempat tidur yang empuk. Perlahan ia mengambil tongkat yang berada di sebelah kanan ranjang. Setelah tongkat sudah di dalam genggamannya, ia pun berjalan ke arah pintu kamarnya. Begitu berhasil membuka pintu kamar, lelaki yang bukan lain adalah Yos Sudarso, terus berjalan menuju tangga dengan bantuan tongkat yang berada di tangan kanannya.


  Dengan perlahan Yos menuruni anak tangga selangkah demi selangkah. Tangan kirinya terus berusaha memegang erat, railing tangga yang berfungsi pengaman sekaligus untuk pegangan tangan orang yang melewatinya.


  Di saat Yos telah melewati setengah tangga yang berbentuk setengah lingkaran itu, tanpa diduga-duga olehnya, tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas tidak bertenaga.


  "Ya Allah! Kenapa dengan kakiku?" Yos tercekat. Tangan kirinya terus berusaha menggenggam railing tangga yang terbuat dari besi, dengan sekuat tenaganya. Namun apalah daya dan upayanya, hanya dengan mengandalkan tangan kirinya untuk menahan tubuhnya yang sudah gontai, lambat laun ia tidak dapat menahan beban berat tubuhnya sendiri.


  Saat tahu tangan kirinya sudah tidak mampu lagi untuk menahan agar tubuhnya tidak terjatuh, tangan kanannya bergegas memegang railing tangga yang berada di sebelah kirinya. Tongkat di tangan kanannya, ia biarkan terlepas dari genggamannya. Suara tongkat yang jatuh menuruni anak tangga, terdengar berdentangan.


  Trraaannnggg..trraaannnggg..trraaannnggg..


  Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dengan mengandalkan kekuatan kedua tangannya, Yos hanya bertahan beberapa detik saja. Dalam sekejap saja, kedua tangan Yos terlepas dari besi yang digenggamnya. Tidak ampun lagi. Begitu kedua tangan yang telah hilang kekuatannya, tidak lagi menggenggam besi di samping kirinya, sontak saja tubuh Yos langsung jatuh di atas anak tangga.


  Tubuh Yos terus berguling-guling di atas anak tangga yang tersisa tidak lebih dari dua meter dari lantai satu. Begitu tubuh Yos telah sampai di lantai satu, tubuhnya sama sekali tidak lagi bergerak sedikitpun. Darah segar mengalir dari kepalanya yang telah ditumbuhi rambut. Sedangkan kedua tangan dan kakinya, terdapat luka lecet-lecet di beberapa bagian.


  Ketika suara adzan shubuh berkumandang di kejauhan, Bi Ginah terbangun dari tidurnya. Ia pun bergegas mengambil air wudhu di kamar mandi yang berada di sebelah kiri kamarnya. Setelah berwudhu, ia menunaikan ibadah shalat shubuh di dalam kamarnya.


  Selesai shalat, berdzikir, dan berdoa, Bi Ginah keluar dari dalam kamar tidurnya yang berukuran kecil. Ketika Bi Ginah sampai di dapur, samar-samar ia dikejutkan oleh sosok Yos yang tergeletak di lantai di depan tangga.

__ADS_1


  Di dalam pikirannya yang penuh tanda tanya, perlahan Bi Ginah berjalan menuju ruang keluarga. Karena hari gelap, Bi Ginah tidak begitu jelas melihat tubuh Yos. Perempuan itu pun menyalakan lampu yang berada di ruang keluarga. Begitu lampu menyala, dengan perasaan sangat kaget, Bi Ginah melihat sosok yang berada di depan tangga adalah sosok Yos Sudarso, anak angkat majikannya. Ia juga melihat tongkat milik Yos berada tidak jauh dari tubuhnya. Melihat Yos terkapar dengan bersimbah darah, Bi Ginah pun berteriak dengan histeris.


  "Mas Yos...!!!" Teriaknya. Mendengar teriakkan Bi Ginah yang sangat keras, Pak Teddy yang masih tidur di dalam kamarnya, langsung terbangun dan berlari ke arah suara teriakkan Bi Ginah yang berada di lantai satu. Saat ia berhasil membuka pintu kamarnya, Pak Teddy sangat syok ketika melihat Yos terkapar di depan pintu kamarnya dengan bersimbah darah yang keluar dari kepalanya.


  "Yos...!!! Ya Allah, apa yang terjadi denganmu Yos?" Tanyanya.


  "Mas Yos! Mas Yos mungkin jatuh dari tangga, Pak!" Jawabnya sambil menangis.


  "Ya Allah, Yos...!!!" Teriak Pak Teddy. Ia pun langsung mengangkat tubuh anak angkatnya itu.


  "Bi, Aku mau bawa Yos ke rumah sakit!" Serunya. Pak Teddy pun berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang berada di garasi.


  "Saya ikut Pak!" Balasnya. Bi Ginah berlari mengikuti majikannya.


  Di saat jalanan ibukota yang masih lengang, Pak Teddy mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat khawatir dengan kondisi Yos yang terluka di bagian kepalanya. Walaupun Yos hanya anak angkatnya, tapi Pak Teddy kembali merasa terpukul dengan kejadian yang menimpa Yos.


  "Aamiin ya rabbal'alamiin. Kasihan Mas Yos Pak! Cobaannya datang silih berganti!" Balas Bi Ginah yang duduk di samping kirinya. Kepalanya menengok ke arah Yos yang terbaring di jok baris kedua.


  "Andai aja kemarin Kita pindahkan Yos ke kamar bawah, pasti Yos nggak akan mengalami kejadian seperti ini!" Pak Teddy merasa bersalah. Seketika air matanya menetes di pipinya.


  "Sabar Pak! Semua sudah takdir Allah! Semoga saja Mas Yos masih bisa diselamatkan dan diberikan umur yang panjang!" Ucapnya.


  "Aamiin ya Allah!" Balasnya.


  Sesampainya di depan lobby rumah sakit, tubuh Yos diturunkan dari atas mobil dengan dibantu oleh perawat yang berjaga. Setelah dinaikkan ke atas brankar, Yos dibawa ke ruang UGD. Pak Teddy dan Bi Ginah menunggu di depan pintu dengan perasaan sangat gelisah.

__ADS_1


  Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya seorang dokter perempuan keluar dari dalam ruangan UGD. Pak Teddy dan Bi Ginah pun langsung menghampirinya.


  "Dok, gimana keadaan anak Saya? Masih bisa diselamatkan kan?" Tanyanya dengan keras.


  "Alhamdulillah anak Bapak masih bisa diselamatkan! Anak Bapak hanya mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepalanya. Tapi alhamdulilah, tidak sampai mengalami luka di bagian dalam! Hanya luka di bagian kepala, tangan, dan kakinya." Jawabnya dokter berkumis itu. Mendengar jawabannya, Pak Teddy merasa lega dan bersyukur. Begitu juga dengan Bi Ginah.


  "Sekarang sudah boleh dijenguk kan Dok?" Tanya Pak Teddy.


  "Sudah Pak. Tapi anak Bapak masih belum siuman!" Jawabnya.


  "Nggak apa-apa Dok! Terima kasih banyak Dok!" Pak Teddy pun berkelebat masuk ke dalam ruangan UGD. Bi Ginah mengikuti di belakangnya.


  Di dalam ruangan UGD, mereka melihat Yos masih memejamkan matanya. Pada bagian kepalanya dibalut perban sampai bagian belakang. Pak Teddy dan Bi Ginah melihatnya dengan perasaan sangat terenyuh dan pilu.


  "Yos, alhamdulilah Kamu masih diberikan pertolongan oleh Allah!" Ucapnya. Air matanya kembali mengalir di pipinya.


  "Iya Pak! Mas Yos orangnya sangat kuat! Beberapa kali Dia keluar masuk rumah sakit!" Bi Ginah menimpalinya.


  "Iya Bi. Bibi sudah shalat shubuh?" Tanyanya.


  "Sudah Pak!" Jawabnya.


  "Aku mau shalat shubuh dulu ya Bi! Tolong Bibi jaga disini!" Pintanya.


  "Baik Pak!" Balasnya. Pak Teddy pun keluar dari dalam ruangan itu.

__ADS_1


  


__ADS_2