
Disaat Pak Teddy sedang shalat shubuh, tanpa disangka-sangka oleh Bi Ginah, tiba-tiba saja ia melihat kedua kelopak mata Yos terbuka. Melihat itu semua, senyum lebar terpancar dari wajahnya.
"Alhamdulillah, Kamu sudah siuman, Mas!" Ucapnya.
"A..Aku, Aku ada dimana? Kok gelap semua?" Tanya Yos terkejut sekali, ketika kedua matanya hanya melihat kegelapan.
"Mas Yos ada di rumah sakit! Tadi pagi Bibi menemukan Mas Yos tergeletak di depan tangga! Mas Yos kok bisa terjatuh?" Tanya balik Bi Ginah.
"Rumah sakit? Terus Kamu siapa? Namaku bukan Yos! Namaku Hari!" Jawab Yos yang ternyata sudah ingat tentang jati dirinya.
"Saya ini Bi Ginah, Mas! Masa Mas Yos lupa!" Seru Bi Ginah dengan perasaan sangat kaget ketika mendengar jawaban dari mulut Yos.
"Sudah Aku katakan! Namaku bukan Yos, tapi Hari!!!" Teriak Hari. Belum sempat Bi Ginah kembali bersuara, tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka. Lalu muncul seorang laki-laki yang bukan lain adalah Pak Teddy.
"Yos, sudah sadar Bi?" Tanyanya dengan gembira.
"Sudah Pak! Tapi ada yang aneh dengan sikapnya!" Jawabnya.
"Aneh gimana?" Pak Teddy pun berkelebat ke arah samping kanan Hari.
"Syukur alhamdulillah, Kamu sudah sadar, Yos!" Ucapnya.
"Kamu siapa? Tadi Aku sudah katakan pada perempuan itu! Kalau namaku bukan Yos, tapi Hari!" Serunya.
"Hari? Jadi nama aslimu Hari? Kamu sudah kembali ingat jati dirimu Yos? Maksudnya Hari?" Tanya Pak Teddy dengan sangat gembira.
"Memangnya apa yang terjadi dengan diriku? Namaku memang Hari! Nggak mungkin Aku lupa namaku sendiri!" Jawabnya.
"Perkenalkan namaku Teddy Darmawan. Panggil aja Pak Teddy! Sekitar dua bulan yang lalu, Kamu mengalami kecelakaan. Sampai Kamu mengalami amnesia! Maafkan Aku Yos! Maksudku Hari! Waktu itu Aku sama sekali nggak sengaja menabrakmu!" Katanya. Mendengar ucapannya, Hari pun kembali ingat kejadian yang menimpa dirinya, sewaktu ia kecopetan saat hendak kembali ke kos-kosannya.
"Waktu itu Aku sedang mengejar copet yang mengambil dompetku. Aku terlalu ceroboh menyebrang jalan tanpa menengok ke arah kanan kiri dulu! Tapi kenapa dengan kedua mataku? Kenapa Aku nggak bisa melihat?" Seru Hari.
"Sekali lagi Aku mohon maaf, Hari! Setelah Kamu sadar dari koma, ternyata Kamu mengalami amnesia. Lalu Aku memutuskan agar Kamu tinggal di rumahku. Aku pun menganggap Kamu sebagai anak angkatku. Tapi belum lama Kamu tinggal bersamaku, tanpa diduga-duga ada seseorang yang menculik dan melukai kedua matamu, Hari. Mereka mengira Kamu anak kandungku yang sudah meninggal! Semua ini gara-gara Aku!" Cerita Pak Teddy dengan berlinang air mata. Mendengar ceritanya, Hari sangat syok dibuatnya.
"Jadi, jadi sekarang Aku buta???" Tanyanya dengan histeris. Pak Teddy pun bergegas memegang lengan kanan Hari dan menempelkannya di pipi kirinya.
__ADS_1
"Tampar dan pukul Aku sepuas hatimu, Hari! Kamu begini semua karena Aku penyebabnya!" Serunya. Air matanya seketika langsung mengalir dengan deras di pipinya. Mendengar ucapannya, Hari yang tadinya sangat benci dan murka kepadanya, perlahan mulai menurun amarahnya. Tiba-tiba saja, terlintas wajah emak, Fera, dan Fatimah.
"Emak! Aku mau ketemu Emak! Emak pasti sangat cemas menunggu kabar dariku! Padahal Aku sudah janji akan mengirimkan surat untuk Emak!" Seru Hari melepaskan pegangan tangan Pak Teddy sambil bangkit dari tidurnya.
"Rumah Kamu dimana, Hari? Biar Aku yang mengantarkan!" Tanyanya.
"Di Sukoharjo! Aku mau pulang sekarang!" Jawabnya.
"Ya sudah, Kita langsung berangkat sekarang!" Ucapnya. Pak Teddy pun membantu Hari turun dari atas ranjang dan berjalan menuju lobby rumah sakit.
"Saya gimana Pak?" Tanya Bi Ginah.
"Kamu ikut aja Bi!" Pintanya.
"Baik Pak." Balasnya.
Setelah melunasi semua administrasinya, mereka bertiga bergegas menaiki mobil milik Pak Teddy. Dengan kecepatan tinggi, Pak Teddy mengendarai mobilnya menuju rumahnya Hari. Sepanjang perjalanan, Pak Teddy bercerita mengenai Hari selama hilang ingatan. Mulai dari asal usul nama Yos Sudarso, tentang Vanya dan Bi Ginah, dan juga istri dan anaknya yang sudah lama meninggal, termasuk orang yang mempunyai dendam kepada keluarganya yang bernama Franky Fernando.
Tidak hanya Pak Teddy, Yos pun banyak bercerita tentang keluarganya. Termasuk dengan pujaan hatinya yang telah dilamarnya. Namun setelah sadar bahwa dirinya tidak dapat melihat lagi, harapannya perlahan mulai sirna.
"Hari, kok di rumahmu banyak orang?" Tanya Pak Teddy terkejut.
"Banyak orang gimana maksudnya Pak?" Tanya balik Hari.
"Iya kayak sedang ada acara!" Jawabnya.
"Aku mau turun, Pak!" Ucapnya.
"Sebentar!" Pak Teddy pun bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu bagian samping kiri. Dibantu oleh Pak Teddy, Hari turun dari mobil dan berjalan menuju pintu depan rumahnya. Sedangkan Bi Ginah mengikuti di belakangnya.
Mengetahui ada seseorang yang datang, banyak orang yang sedang membacakan tahlil, terkejut dengan kedatangan Hari. Terlebih lagi disaat mereka melihat kedua matanya yang tidak dapat melihat.
"Hari!" Orang-orang banyak yang tercekat melihatnya. Mengetahui suara ramai memanggil Hari, seorang laki-laki berjenggot yang sedang duduk di ruang tamu, langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari dalam rumah.
"Hari! Itukah dirimu?" Tanyanya dengan kaget.
__ADS_1
"Abah Usman? Iya benar, ini Saya Hari! Calon suaminya Fatimah!" Jawabnya.
"Apa yang terjadi dengan dirimu, Hari? Mengapa lama sekali tidak ada kabar darimu? Sekarang tiba-tiba Kamu pulang dalam keadaan begini! Mengapa kedua matamu jadi seperti ini?" Lelaki yang bukan lain adalah Abah Usman itu, mengirimkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Ceritanya panjang Bah! Sekarang Saya mau ketemu Emak dulu! Pak Teddy tolong antarkan Saya ke dalam rumah!" Pintanya sambil menoleh ke arah kanannya. Mendengar ucapannya, abah hanya terdiam membisu. Ia sama sekali tidak sanggup untuk mengatakan bahwa emaknya sudah meninggal.
"Emak...!!! Ini Aku Hari, Emak!!! Hari sudah pulang!!!" Teriaknya. Mendengar teriakannya, orang-orang yang berada di dalam rumah, sangat kaget atas kemunculan Hari bersama seorang laki-laki.
"Mas Hari...!!!" Seru Fera begitu melihat wajah kakak kandungnya. Fera pun berlari dan langsung memeluk tubuh Hari dengan sangat erat. Air matanya langsung mengalir di pipinya.
"Fera...!!! Gimana kabarmu?" Tanyanya.
"Kurang baik, Mas!" Jawabnya.
"Kurang baik gimana Fer? Oh ya, Emak mana?" Tanyanya.
"Emak sudah tiada, Mas!" Jawabnya sambil menangis sesenggukan. Fera pun melepaskan pelukannya.
"Maksudnya?" Hari masih bingung.
"Emak sudah meninggal lima hari yang lalu!" Jawabnya. Mendengar jawaban itu, Hari langsung jatuh terduduk di atas lantai dengan air matanya yang membanjiri wajahnya.
"Emak...!!! Mengapa Emak meninggalkan Hari? Hari kangen Emak!!!" Teriaknya dengan histeris.
"Emak tiap hari selalu menunggu surat dari Mas Hari! Tapi kenapa Mas Hari sama sekali nggak ada kabar? Bahkan Emak dan Fera sampai mencari ke Jakarta, tapi hasilnya nihil! Saat Emak telah tiada, mengapa Mas Hari baru muncul dengan kondisi seperti ini? Apa yang terjadi dengan diri Mas Hari?" Tanyanya.
"Ceritanya panjang, Fer! Antarkan Aku ke rumahnya Fatimah, Fer!" Katanya.
"Kemarin Mba Fatimah sudah mengembalikan cincin lamarannya Mas Hari! Ucapnya perlahan.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin Fatimah melakukan hal itu!" Serunya.
"Kemarin Mba Fatimah sudah berusaha untuk menanti kabar dari Mas Hari! Tapi sudah cukup lama tidak ada kabar dari Mas Hari! Makanya, Abahnya menyuruhnya untuk mengembalikan cincinnya!" Jawabnya.
"Aku harus bertemu langsung dengan Fatimah!" Serunya sambil membalikkan badannya. Fera pun bergegas menghampiri tubuh kakak kandungnya.
__ADS_1
Dengan dibantu Pak Teddy dan Fera, Hari berjalan menuju mobil. Abah Usman pun ikut naik ke atas mobil. Tidak terkecuali Bi Ginah. Setelah mereka menaiki mobil, Pak Teddy pun bergegas menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Dengan kecepatan sedang, mobil itu pun melaju meninggalkan rumahnya Hari yang masih banyak orang.