Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Naik Darah


__ADS_3

  Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 09.37 WIB. Pak Teddy terlihat buru-buru keluar dari kantornya, menggunakan mobil miliknya. Jalanan ibukota yang padat merayap, membuat Pak Teddy tidak bisa mengendarai mobilnya dengan kencang.


  Setelah 45 menit di dalam perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat yang ditujunya, yaitu polres metro Jakarta Pusat. Pak Teddy pun bergegas turun dari mobil mewahnya. Lalu ia berjalan menuju ruang tahanan.


  Begitu masuk ke dalam ruangan itu, Pak Teddy langsung mendaftarkan diri untuk membesuk salah satu tahanan. Setelah mendapatkan nomor antrian, ia pun duduk menunggu nomor antriannya dipanggil oleh petugas yang berjaga.


  Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya nomor milik Pak Teddy dipanggil, Ia pun beranjak dari duduknya. Lelaki yang memakai kemeja berwarna merah, dasi berwarna hitam, celana panjang berwarna hitam, dan dilengkapi jas berwarna coklat tua itu, berjalan mengikuti salah satu petugas menuju ruang besuk. Kebencian dan kemarahannya membuat ia tidak sabar untuk melihat wajah tersangka yang sudah tega menculik dan menganiaya Yos.


  "Tunggu disini sebentar! Biar Saya panggilkan dalang dari ketiga pelaku yang sudah menculik dan menganiaya anak Bapak!" Ucap polisi itu.


  "Baik Pak." Balasnya. Pak Teddy pun duduk di atas kursi yang berada di ruangan sempit itu.


  Tidak berapa lama, polisi yang tadi bersama Pak Teddy, kembali muncul di ruang besuk. Di belakang polisi itu berdiri seorang lelaki berumur lebih dari lima puluh tahun. Rambutnya yang panjang sebahu dan bergelombang, sudah terlihat banyak ubannya. Wajahnya yang berkulit putih terlihat misterius. Ditambah lagi kedua matanya yang tajam menambah keangkeran sosok lelaki itu.


  "Waktu besuk hanya 15 menit!" Ucap polisi itu.


  "Baik Pak!" Jawab Pak Teddy. Begitu polisi itu keluar dari ruangan itu, Pak Teddy langsung bangkit berdiri. Kedua matanya menatap tajam ke arah laki-laki yang cukup asing baginya.


  "Jadi Kau orang yang telah menculik dan merusak kedua mata anakku?" Tanyanya dengan nada tinggi.


  "Betul sekali yang Kau katakan! Akulah yang telah menyuruh dua orang untuk menculik anakmu! Dan Akulah yang telah menembak kedua matanya!" Balasnya dengan berani. Mendengar jawaban dari lelaki di hadapannya, seketika darah Pak Teddy langsung mendidih. Hawa nafsu dendam langsung menguasai dirinya. Tangan kanannya yang telah menggenggam, hendak dilayangkan ke arah wajah lelaki tua di depannya. Namun ia berusaha untuk menahan dirinya. Niatnya untuk memukul pipi kirinya, seketika itu pula ia urungkan niatnya.


  "Pak Teddy Mulyawan yang terhormat!!! Kok nggak jadi mukul Aku? Ini nih, pipiku sudah siap dipukul!!!" Ejek lelaki yang bukan lain adalah Franky. Telapak tangan kirinya ditampar-tamparkannya ke pipi kirinya sendiri.


  "Iblis terkutuk!!!" Kedua telapak tangan Pak Teddy didorongkan ke arah dadanya. Franky pun terdorong tiga langkah ke belakang, dan berhenti ketika punggungnya mengenai tembok.

__ADS_1


  "Cuma segitu pembalasanmu atas anak lelakimu yang buta???" Hina Franky dengan menyeringai lebar. Mendengar hinaannya, Pak Teddy hanya berdiam diri menahan amarahnya. Dia masih mencoba untuk tidak kepancing emosinya. Karena ia sadar bahwa negara yang tinggalinya adalah negara hukum.


  "Siapa Kau sebenarnya? Mengapa Kau begitu dendam terhadap keluargaku? Kurasa Kita tidak saling mengenal dan tidak ada silang sengketa!" Tanya Pak Teddy dengan nafas memburu.


  "Jadi Kau lupa denganku? Akulah Franky Fernando! Orang yang telah Kau jebloskan ke dalam penjara 12 tahun yang lalu! Masih ingatkah Kau Teddy?" Seru Franky dengan muka merah mengelam. Mendengar ucapannya, sontak Pak Teddy sangat kaget dibuatnya.


  "Jadi Kau orang yang telah menabrak mobilku sampai istri dan anakku meninggal?" Tanyanya dengan keras dan kedua mata melotot.


  "Betul sekali! Oh jadi anak dan istrimu meninggal! Berita yang sangat menarik!" Hinanya. Mendengar ucapannya, Pak Teddy tidak bisa menahan amarahnya. Dia pun berjalan dengan cepat ke arah Franky. Tangan kanannya langsung mencekeram pakaian Franky pada bagian dada.


  "Setan laknat! Apa Kau tidak puas mendekam di penjara selama 12 tahun? Apa tidak ada malaikat yang mendekati tubuhmu agar Kau bertobat? Oh ya, kurasa malaikat pun enggan memberikan pertolongan kepadamu!" Teriaknya dengan keras.


  "Bagiku, dendam di masa lalu, tidak akan pernah hilang dari otakku! Tapi sekarang Aku sudah puas melihat anakmu menderita! Tapi tadi Kau bilang, anakmu dulu sudah meninggal? Terus siapa lelaki yang Aku culik kemarin? Kalau memang anakmu kayaknya nggak mungkin! Soalnya usianya sudah lebih dari dua puluh tahunan! Apa Dia anakmu yang lain?" Ucapnya dengan santai.


  "Brengsek! Dia itu anak angkatku! Dia sama sekali nggak bersalah, tapi mengapa Kau balas dendam terhadapnya?" Pak Teddy pun membantingkan tubuh Franky hingga tersungkur di atas lantai ubin.


  "Aku pastikan Kau membusuk di dalam penjara!!!" Teriaknya dengan keras. Pak Teddy pun berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Sedangkan lelaki blasteran Indo-Jerman yang sudah bangkit berdiri, diantar oleh polisi itu menuju kamar sel dimana dia tinggal.


  Siang itu, sepulang dari mengajar, Fera pun menunaikan ibadah shalat dhuhur dan makan siang. Setelah selesai makan, ia pun berpamitan pada emaknya yang sejak pagi hanya tiduran di dalam kamarnya.


  "Emak, Fera mau ke rumahnya Mba Fatimah ya! Mau ngasih oleh-oleh!" Ucapnya. Namun sama sekali tidak terdengar jawaban dari mulut emak. Fera pun keluar dari dalam kamar emak dengan perasaan sedih. Lalu ia mengendarai sepedanya menuju rumah Fatimah.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Assalamu'alaikum." Salamnya.

__ADS_1


  "Wa'alaikumsalam!" Jawab seorang perempuan dari dalam rumah. Tidak berapa lama pintu di hadapan Fera pun terbuka.


  "Oh, Fera! Kirain siapa! Silahkan masuk!" Pinta perempuan yang bukan lain adalah Bu Asmi.


  "Nggak usah Bu! Ini cuma mau nganter oleh-oleh." Balasnya. Fera pun memberikan plastik hitam berisi makanan kepada Bu Asmi.


  "Terima kasih ya, Fer! Oh ya, Kamu sudah ketemu sama Hari kan?" Tanya ibunya Fatimah dengan tersenyum.


  "Belum Bu! Saya dan Emak, sama sekali nggak bisa menemukan keberadaan Mas Hari! Kami sudah mencari di kos-kosannya, kata Ibu kosnya, Mas Hari sudah lama nggak kelihatan! Tapi barang-barangnya masih ada di dalam kamarnya! Kami juga mencari di pabrik tempat Mas Hari bekerja, tapi katanya Mas Hari juga sudah lama nggak masuk kerja, semenjak Mas Hari pulang kampung katanya!" Cerita Fera dengan berlinang air mata.


  "Ya Allah! Sebenarnya dimana ya, Hari? Apa Kamu sudah lapor polisi?" Tanya Bu Asmi cemas.


  "Belum Bu." Jawabnya.


  "Lebih baik secepatnya lapor polisi, Fera! Biar Hari cepat ditemukan!" Pintanya.


  "Iya Insha Allah besok kalau sudah sempat. Kalau begitu Saya mau pamit dulu Bu!" Fera pun kembali mengajak bersalaman dengannya.


  "Yang sabar ya Fera! Kita minta perlindungan saja sama Allah. Semoga Hari dalam keadaan baik-baik saja, dimana pun Dia berada." Bu Asmi menyambut tangan kanan Fera.


  "Aamiin. Assalamu'alaikum." Salam Fera sambil berjalan menuju sepedanya.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Asmi ikut sedih. Ia pun memandangi kepergian Fera dengan perasaan yang mendadak berubah menjadi tidak tenang.


  "Kalau Hari belum juga ditemukan, kasihan juga Fatimah! Padahal mereka sudah lamaran!" Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


  


__ADS_2