
"Iya Fera. Mau ngasih kolak pisang sama semur jengkol!" Fatimah pun memberikan rantang susun kepada Fera.
"Makasih banyak ya Mba! Masakannya Mba Fatimah pasti enak!" Puji Fera sambil menyambut rantang susun dari Fatimah.
"Kamu bisa aja, Fer!"
"Mari masuk Mba! Kebetulan Emak lagi sarapan!" Pintanya. Fera pun masuk ke dalam rumah. Fatimah mengikuti di belakangnya.
"Emak! Ini lho, Fatimah membawa kolak pisang dan semur jengkol kesukaan Emak!" Seru Fera.
"Alhamdulilah pagi-pagi sudah dapat rizki dari calon mantu! Sini sarapan bareng Emak, Fatimah! Sama tempe goreng, sayur pepaya, dan sambal terasi!" Seru emak.
"Fatimah sudah sarapan, Mak! Emak, bagaimana kabarnya?" Sapa Fatimah.
"Alhamdulillah kabar Emak sekarang sudah cukup baik! Tangan Emak sudah sembuh!" Balasnya.
"Emangnya tangan Emak kenapa?" Fatimah terkejut mendengarnya.
"Kemarin malam Emak terpeleset di sini! Terus tangannya buat menyangga!" Balas Fera sambil menunjuk ke arah emaknya terjatuh.
"Ya Allah! Tapi tangan Emak nggak apa-apa?" Tanya Fatimah sangat khawatir.
"Alhamdulillah nggak apa-apa. Cuma keseleo. Tapi kemarin sudah dipijat oleh Bu Suripah." Balasnya.
"Alhamdulillah kalau begitu! Lain kali hati-hati, Mak! Mungkin lantainya licin ya Emak?" Tanyanya.
"Emak pusing kelamaan menjemur padi! Ditambah lagi, Emak kepikiran terus sama Mas Hari! Sampai nggak bisa tidur! Dari tadi pagi Emak juga nggak mau sarapan! Malahan duduk di teras nunggu petugas kantor pos! Setelah Aku bujuk, baru mau sarapan!" Jawab Fera.
"Jangan dipikirkan terus, Mak! Insha Allah Mas Hari baik-baik aja! Besok kalau libur dan sudah sempat kan Mas Hari bisa pulang lagi, Mak!" Pinta Fatimah.
"Kemarin Aku juga sudah bilangin Emak begitu, Mba! Tapi Emak terus menerus kepikiran Mas Hari!" Balas Fera.
"Tapi perasaan Emak tidak seperti biasanya, Fatimah! Emak seperti tidak mau ditinggal oleh Hari! Emak ingin tahu kabar darinya! Pikiran Emak belum tenang, kalau belum mendapatkan surat dari Hari!"
"Jadi belum ada surat dari Mas Hari ya Mak?" Fatimah merasa kecewa.
__ADS_1
"Belum Fatimah. Makanya Emak dari tadi pagi duduk di teras, menunggu petugas kantor pos! Tapi kata Fera sekarang tanggal merah! Kantor posnya tutup!" Jawabnya.
"Sama seperti Emak! Sebenarnya Aku juga dari kemarin selalu terbayang-bayang wajah Mas Hari. Seperti ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Tapi Aku nggak mungkin tega menceritakannya pada Emak! Aku nggak ingin melihat Emak bertambah sedih dan kepikiran terus sama Mas Hari." Ucap Fatimah dalam hati.
"Iya Mak. Sekarang tanggal merah. Jadi kantor pos tutup. Mungkin Mas Hari masih sibuk kerja, Mak! Jadi belum sempat mengirim surat buat Emak!" Katanya.
"Iya Fatimah! Kamu tanggal merah libur kerjanya ya Fatimah?" Tanya emak.
"Nggak libur Mak! Tapi masuk shift siang. Kerja di rumah sakit nggak setiap tanggal merah libur, Mak!" Jawabnya.
"Disyukuri saja Fatimah! Semua pekerjaan kan ada resikonya! Yang penting kan pekerjaanmu halal! Bukankah begitu?" Nasihat emak sambil memegang gelas berisi teh hangat.
"Iya betul Mak."
"Sebentar ya Mba, Saya tinggal dulu!"
"Nggak usah repot-repot Fera! Aku mau langsung pamit!" Serunya.
"Nggak apa-apa kok Mba! Saya buatkan teh ya! Nggak usah buru-buru. Kerjanya kan masuk siang!" Balasnya.
"Rantangnya ditinggal dulu ya!"
"Iya Fera! Emak, Fatimah pamit dulu ya!" Fatimah pun mengulurkan tangan kanannya ke hadapan emak.
"Bilangin Ibumu, Emak terima kasih sudah dikasih kolak sama jemur jengkol." Pinta Emak sambil menyambut tangan kanan Fatimah.
"Iya Mak. Insha Allah nanti akan Saya sampaikan. Fera, Aku pulang dulu ya! Kalau sudah ada surat dari Mas Hari, tolong kabari ya!" Pinta Fatimah sambil bersalaman dengan Fera.
"Iya Mba. Pasti Aku kabari!" Balasnya.
"Assalamu'alaikum." Salam Fatimah sambil melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Emak dan Fera berbarengan.
Begitu keluar dari dalam rumahnya emak, Fatimah langsung menangis sesenggukan. Air matanya yang sejak tadi ditahannya, langsung jatuh membanjiri wajahnya yang cantik. Karena tidak ingin dilihat oleh Emak ataupun Fera, Fatimah bergegas menyalakan mesin motornya. Sambil mengendarai motornya menuju rumah, air matanya menetes tiada henti.
__ADS_1
Sementara itu, setelah lelaki yang menabrak Hari selesai melakukan pembayaran di bagian administrasi, ia pun melakukan donor darah yang akan ditransfusikan ke tubuh Hari yang akan melaksanakan operasi di bagian kepalanya.
Lelaki itu kembali dihadapkan pada situasi yang menegangkan. Pasalnya hari itu operasi pada bagian kepala Hari sedang berlangsung. Ia pun menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan sangat gelisah. Memang ia tidak mengenal Hari. Namun ia sangat berharap agar anak muda yang ditabraknya bisa mendapatkan penanganan yang cepat, dengan hasil sesuai yang diharapkannya.
Setelah menunggu sekitar satu setengah jam, akhirnya proses operasi telah selesai dilakukan. Seorang dokter yang sebelumnya telah menangani Hari di ruangan UGD, kembali muncul dari balik pintu.
"Dokter, bagaimana operasinya Dok?" Tanya lelaki itu dengan cemas.
"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, Pak!" Jawabnya.
"Apakah Saya sudah bisa menjenguknya, Dok?" Tanyanya penuh berharap.
"Sudah Pak. Kalau boleh tahu Bapak ini namanya siapa? Apa mengenal pasien?" Tanyanya.
"Nama Saya Teddy Dok! Saya sama sekali tidak mengenal pasien! Bahkan Saya nggak tahu alamat rumah pasien! Ada yang melihat, dompet pasien hilang dicopet sebelum kejadian!" Jawab lelaki yang bernama Pak Teddy.
"Tapi kulihat Pak Teddy sangat khawatir dengan keadaan pasien! Seperti seorang Bapak dengan anaknya!" Katanya.
"Karena dulu Saya pernah berada diposisi seperti sekarang Dok! Tapi anak dan istri Saya nggak dapat diselamatkan!" Jawabnya.
"Oh begitu. Yang tabah ya Pak Teddy! Umur manusia itu rahasia Allah. Semoga pasien ini bisa diselamatkan! Walaupun sampai sekarang pasien belum sadarkan diri. Tapi nanti akan secepatnya di pindahkan ke ruang ICU." Ucapnya.
"Ya sudah Dok, Saya mau menjenguknya! Terima kasih banyak atas semua tindakan secepatnya kepada pasien, Dok!"
"Sama-sama Pak Teddy. Semua sudah menjadi tugas Saya. Saya tinggal dulu ya Pak! Mau menangani pasien yang lain!" Ucapnya.
"Iya Pak." Pak Teddy pun bergegas masuk ke dalam ruang operasi.
Begitu ia masuk ke dalam ruangan itu, Pak Teddy kembali merasakan kesedihan yang mendalam. Air matanya seketika langsung menetes di pipinya.
Di hadapannya, ia melihat seorang lelaki muda sedang terbaring tidak berdaya, dengan kondisi kepalanya yang tidak ada rambutnya sama sekali. Tapi justru perban yang melilit kepalanya.
"Ya Allah Ya Rabb! Hanya kepadaMu Hamba memohon pertolongan! Sembuhkan lelaki ini seperti sedia kala. Berilah ia umur panjang! Angkatlah penyakitnya ya Allah! Aamiin ya rabbal'alamiin." Pak Teddy pun mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Perlahan ia mendekati tubuh Hari. Tangan kanan Pak Teddy memegang jari-jemari tangan kanannya yang terkulai lemas.
"Bangunlah! Kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa melewati semua cobaan berat ini! Kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang!" Serunya.
__ADS_1
"Andai aja kemarin Aku nggak lewat jalanan itu! Pasti semua ini nggak akan terjadi!" Pak Teddy pun mengusap air mata yang menetes di pipinya.