
Sesampainya di mall yang dituju, Yos dan Vanya langsung menuju lantai paling atas, tempat dimana bioskop berada. Setelah membeli dua buah tiket, mereka pun masuk ke dalam salah satu studio. Yos dan Vanya memilih film horor yang akan mereka tonton. Mereka duduk berdampingan seperti layaknya sepasang kekasih.
Sesekali Vanya tampak ketakutan ketika melihat adegan menyeramkan. Spontan kedua tangannya memegang lengan kiri Yos. Dan mukanya bersembunyi di balik pundaknya. Melihat tingkah lakunya, Yos hanya tersenyum dibuatnya. Walaupun sebenarnya, jantung Yos berdegup dengan kencang.
"Maaf, maaf Mas!" Seru Vanya. Sontak ia langsung melepaskan genggaman tangannya dan berusaha menjauh dari tubuh Yos. Muka Vanya pun tampak memerah.
"Nggak apa-apa kok Vanya!" Yos tampak tenang.
Setelah selesai menonton film, mereka berdua pun berjalan menuju salah satu restoran yang berada di dalam mall tersebut.
"Kamu mau makan apa, Va?" Tanya Yos sambil memegang daftar menu.
"Ikut Mas aja!" Jawabnya.
"Mba!" Seru Yos sambil mengangkat tangan kanannya. Seorang waiters pun datang menghampiri Yos.
"Ada yang bisa dibantu Mas?"
"Saya mau pesan Mba! Beef steak dua, kentang goreng 2, sama orange juicenya dua."
"Baik Mas. Mohon ditunggu ya!"
"Ya Mba." Balas Yos. Waiters itu pun berjalan menuju dapur. Di saat Yos dan Vanya sedang menunggu pesanan mereka datang, tanpa diduga-duga oleh Vanya, tiba-tiba Yos berbicara dengan tatapan mata yang tajam ke arahnya. Vanya pun tampak bingung dan deg-degan.
"Vanya, Aku mau bicara serius sama Kamu!"
"Bicara tentang apa Mas?" Vanya pun tampak gugup.
"Vanya, Kita memang belum lama saling mengenal. Tapi Aku mau bicara jujur sama Kamu. Sejak pertama kali Kita bertemu di rumahnya Pak Teddy, sejak itu pula Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, pada dirimu Vanya! Semakin hari perasaan cintaku semakin besar! Aku nggak sanggup menahannya! Makanya di malam yang spesial ini, Aku ingin menyatakan cintaku padamu, Vanya! Maukah Kamu menjadi pacarku?" Yos perlahan memegang jari-jemari tangan kanan dan kiri Vanya. Vanya pun menjadi salah tingkah. Jantungnya berdetak kencang. Darahnya mengalir dengan derasnya. Keringat dingin mengucur di wajahnya yang manis.
"Aku mau bicara dari lubuk hatiku yang paling dalam, kalau Aku...Aku sebenarnya juga mencintai Mas Hari, sejak pertama kali Kita bertemu!" Vanya pun memberanikan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya.
"Serius dengan yang Kamu katakan, Vanya?" Tanya Yos dengan cukup keras.
"Serius Mas." Vanya tampak malu-malu.
__ADS_1
"Jadi Kamu mau jadi pacarku?"
"Mau Mas." Vanya pun menganggukkan kepalanya.
"Apa Kamu nggak malu, punya pacar botak sepertiku?"
"Nggak Mas. Besok kan tumbuh lagi rambutnya!" Vanya tersipu malu.
"Makasih ya!"
"Sama-sama Mas." Jawabnya. Tidak berapa lama, seorang waiters datang dengan membawa nampan berisi pesanan Yos dan Vanya. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua pun menikmati makan malam berdua.
"Maafin Aku ya Va! Aku bukan orang yang romantis. Jadi Aku nggak membuat makan malam yang spesial ini dengan hiasan bunga, lilin, dan sebagainya." Ucap Yos sambil menikmati makanannya.
"Nggak apa-apa kok Mas. Aku juga nggak menginginkan segala macam hiasan! Bagiku, Mas Yos sudah mencintaiku dengan ketulusan hati, itu sudah lebih dari pada cukup!" Balasnya.
"Kamu memang wanita yang lain dari pada yang lain, Vanya! Apalagi di kota besar seperti Jakarta ini, semua perempuan berlomba-lomba untuk tampil up to date dengan yang sedang ngetren. Semua berusaha untuk mengenakan pakaian bermerk. Tapi tidak dengan dirimu! Kamu berusaha untuk tampil sederhana. Walaupun Kamu berasal dari keluarga yang cukup berada, tapi tidak membuat Kamu harus tampil glamor." Katanya.
"Aku salut denganmu, Vanya! Justru kesederhanaan yang Kamu miliki, itulah yang membuat Aku jatuh cinta padamu. Tanpa make up yang tebal, Kamu sudah sangat cantik, manis, dan imut. " Pujinya.
"Mas Yos bisa aja!" Vanya tampak tersipu malu.
Selesai menikmati makan malam, Yos tidak lupa untuk membayar pesanannya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 21.36 WIB, mereka berdua pun berjalan menuju parkiran mobil yang berada di basemen, dengan niat mau pulang. Karena Yos tidak mau membuat kedua orang tuanya Vanya kecewa apabila mereka pulang terlalu malam.
Ketika mereka sampai di depan mobil milik Pak Teddy yang dipinjamnya, Yos dan Vanya hanya bisa terdiam mematung dengan kedua mata mereka tampak melotot. Bagaimana tidak, di hadapan mereka berdua, mereka melihat mobil mewah milik Pak Teddy dalam keadaan tidak seperti sebelumnya.
Yos dan Vanya melihat pada bagian kap mesin mobil sedan milik Pak Teddy, terdapat sebuah tulisan dari cat semprot berwarna putih. Perlahan mereka berdua pun membaca tulisan itu dengan sangat kaget sekaligus marah.
...WAKTU PEMBALASAN...
...TELAH TIBA...
"Brengsek! Siapa yang berani melakukan perbuatan jahanam begini!" Yos memaki.
"Aku juga nggak tahu, Mas! Kenapa mobil yang Kita pakai yang dibuat begini? Sedangkan mobil lainnya baik-baik aja!" Vanya tampak takut.
__ADS_1
"Kalau ketemu orangnya, akan kupatahkan batang lehernya! Perbuatannya kurang ajar sekali!" Yos sangat marah.
"Tapi kalau dilihat dari tulisannya, sepertinya pelaku tindakan brutal ini mempunyai dendam, Mas!" Vanya memperhatikan tulisan yang berada di atas kap mesin.
"Dendam? Dendam dengan siapa? Kurasa Aku nggak punya musuh! Tapi kalau sebelum Aku kecelakaan Aku ternyata punya musuh, Aku juga nggak tahu!" Yos mencoba untuk berpikir.
"Terus sekarang gimana Mas? Aku takut pelakunya berbuat nekad! Siapa tahu pelakunya masih ada di sekitar sini!" Vanya tampak semakin takut. Kedua matanya menatap ke arah sekelilingnya.
"Kamu yang tenang, Vanya! Ada Aku disini! Aku nggak akan membiarkan siapapun melukaimu!" Yos memeluk tubuh Vanya. Vanya pun membalas pelukannya dengan erat. Yos mencoba menenangkan Vanya dengan membelai rambutnya yang panjang.
"Ayo Kita cepat pulang, Mas!" Pintanya. Keringat dingin mengucur deras di wajahnya.
"Ayo Kita pulang sekarang!" Balasnya. Mereka berdua pun bergegas masuk ke dalam mobil. Tanpa membuang waktu lagi, Yos langsung menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil itu pun melaju dengan kencang meninggalkan area basemen.
Sekitar 25 menit di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumahnya Vanya. Perasaan takut masih menyelimuti tubuh Vanya. Ia pun menengok ke arah belakang mobil yang dinaikinya.
"Mas, nggak ada orang yang mengikuti Kita kan?" Tanya Vanya dengan tubuh gemetaran.
"Kurasa nggak ada, Vanya!" Jawabnya.
"Tapi Aku masih takut, Mas!" Serunya.
"Ya sudah, Aku antar sampai depan pintu ya!" Ucapnya.
"Iya Mas." Balasnya. Vanya perlahan membuka pintu di samping kirinya. Yos pun ikut membuka pintu di samping kanannya. Mereka berdua pun berjalan dengan cepat menuju pintu depan. Begitu sampai di depan pintu, Vanya bergegas membuka pintu yang belum dikunci.
"Mas, Kamu mau mampir dulu?" Tanyanya.
"Nggak Vanya! Sudah larut malam! Salam aja buat Om dan Tante!" Balasnya.
"Iya nanti Aku sampaikan. Makasih banyak ya Mas, untuk malam yang spesial ini." Vanya tersenyum. Walaupun hatinya was-was.
"Sama-sama. Aku pulang dulu ya! Assalamu'alaikum." Salamnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya. Yos pun berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Setelah menaiki mobil, Yos langsung menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya Pak Teddy. Sedangkan begitu mobil yang dikendarai Yos telah hilang di kejauhan, Vanya langsung buru-buru menutup pintunya dan menguncinya. Dia pun langsung menceritakan kejadian yang barusan dialaminya, kepada kedua orang tuanya yang belum tidur.
__ADS_1