
...Satu Bulan Kemudian ...
Malam itu, di dalam kamarnya emak terbaring tidak berdaya. Sebuah sweater rajut berwarna coklat tua ia kenakan. Selembar selimut berwarna putih bermotif garis-garis turut melindungi tubuh emak.
Fera yang sejak tadi khawatir dengan keadaan emaknya, tiada henti duduk di atas kursi kayu yang di letakkan di samping kanan tempat tidur di dalam kamar emaknya.
"Lebih baik sekarang Kita ke rumah sakit, Mak! Biar Emak secepatnya ditangani!" Pinta Fera.
"Emak tidak mau ke rumah sakit! Opname di rumah sakit kan butuh biaya banyak! Uang dari mana buat bayar! Pokoknya Emak mau di rumah saja, sampai Hari pulang!" Balas emak dengan nafas tersengal-sengal. Mendengar jawaban emaknya, Fera semakin merasa sedih. Air matanya seketika langsung menetes di pipinya.
"Sudah lebih dari dua bulan, tidak ada kabar dari Mas Hari. Lebih baik Emak jangan terus menerus memikirkan Mas Hari! Emak harus memikirkan kesehatan Emak sendiri! Dari tadi Emak kan sudah muntah bercampur darah! Kalau begini Fera jadi sedih lihat kondisi Emak! Tapi Emak malah sama sekali nggak peduli dengan kesehatan Emak sendiri! Bukannya Fera nggak rindu sama Mas Hari, tapi sudah cukup lama nggak ada kabar darinya! Jadi lebih baik Kita pasrahkan semuanya pada Allah!" Pintanya.
"Rindu Emak pada Hari itu melebihi tingginya gunung Himalaya! Melebihi luasnya Samudera Hindia! Apabila Hari pulang nanti, tapi Emak sudah tiada, tolong sampaikan padanya, Fera! Rindu Emak tidak akan pernah selesai walaupun Emak sudah tiada!" Seketika air mata menetes di pipi emak. Mendengar ucapan emaknya, Fera menangis sesenggukan. Air matanya mengalir semakin deras.
"Emak, Emak jangan bicara begitu! Emak Insha Allah diberikan umur yang panjang! Bukankah Emak sebentar lagi mau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima?" Tanyanya.
"Namanya umur tidak ada yang tahu, Fera! Manusia hanya berencana. Tapi takdir Allah tidak akan bisa dirubah!" Balasnya. Di saat Fera sedang meratapi kesedihannya, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan rumahnya.
Tokkk...Tokkk...Tokkk...
"Assalamu'alaikum!" Terdengar salam seorang laki-laki.
"Wa'alaikumsalam." Jawab emak dan Fera.
"Sebentar ya Mak! Fera mau buka pintunya dulu!" Ucap Fera sambil mengusap-usap air matanya yang membasahi kedua pipinya.
"Iya." Jawabnya perlahan. Fera pun berjalan menuju pintu depan rumahnya. Perlahan ia membuka pintu di hadapannya. Begitu ia berhasil membukanya, Fera sangat terkejut ketika melihat Fatimah dan kedua orang tuanya berdiri di depan pintu.
"Mba Fatimah! Bapak, Ibu! Bagaimana kabarnya?" Fera pun mengajak mereka bersalaman.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik. Emak ada di rumah, Fera?" Tanya abah.
"Ada, silahkan masuk Pak, Bu, Mba!" Pintanya. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dan duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Sebentar ya, Saya panggil Emak dulu!" Ucapnya.
"Iya Fera." Jawab Bu Asmi. Fera pun kembali menuju kamar emaknya.
"Siapa yang datang, Fera?" Tanya emak.
"Mba Fatimah sama Bapak dan Ibunya! Mereka mau ketemu Emak! Apa mereka suruh kesini aja?" Tanya balik Fera.
"Biar Emak yang ke ruang tamu!" Jawab emak sambil bangkit duduk dengan perlahan. Fera pun membantu menuntun emak berjalan menuju ruang tamu.
"Fatimah, Pak, Bu! Kirain siapa! Ternyata tamu agung!" Ucap emak. Mereka pun saling berjabat tangan. Lalu emak duduk dengan perlahan. Sedangkan Fera pergi ke arah dapur.
"Apa Emak lagi kurang sehat?" Tanya Bu Asmi.
Uhuuukkk...Uhuuukkk...Uhuuukkk...
"Lebih baik secepatnya dibawa ke dokter, Emak!" Kata Bu Asmi.
"Minum obat warung, nanti juga sembuh, Bu!" Balasnya.
"Sampai sekarang apa belum ada kabar dari Hari, Mak?" Tanya abah.
"Belum Pak! Saya juga sangat rindu sama Hari! Siang dan malam selalu kepikiran Hari! Hari sedang apa dan dimana ya? Sudah makan atau belum?" Emak tampak merenung. Tiba-tiba Fera muncul dengan membawa nampan berisi tiga gelas berisi teh hangat.
"Silahkan di minum Mba Fatimah, Pak, Bu!" Pintanya.
__ADS_1
"Iya terima kasih Fera. Lebih baik Kamu bawa Emak ke dokter, Fera!" Pinta Bu Asmi.
"Fera juga maunya begitu, Bu! Tapi Emak nggak mau!" Balasnya.
"Semoga secepatnya Emak diberikan kesembuhan." Ucap abah.
"Aamiin." Jawab semua orang yang berada di ruang tamu.
"Sebenarnya Saya sangat berat untuk mengatakan ini semua. Tapi demi kebaikan bersama, Saya terpaksa harus mengatakannya kepada Emak!" Ucap abah. Mendengar ucapannya, perasaan Fera dan emak mendadak tidak nyaman.
"Apa yang hendak Pak Usman katakan? Katakan saja tidak apa-apa Pak!" Balas emak.
"Kita semua tahu, Fatimah dan Hari sudah terikat satu sama lain. Sekitar dua bulan yang lalu. Kita semua juga tahu, sampai sekarang tidak ada kabar dari Hari. Kami sudah berusaha untuk bersabar untuk menunggu kabar dari Hari. Tapi rasa sabar itu ada batasnya. Karena kalau terlalu lama menunggu, kasihan Fatimah. Oleh karena itu, Kami mohon maaf sekali kepada Emak. Kami bermaksud untuk mengembalikan cincin lamaran Hari, kepada Emak!" Abah pun mengeluarkan kotak perhiasan yang berwarna merah, dari dalam kemeja batiknya. Lalu ia menaruhnya di atas meja yang berada di hadapannya.
Mendengar ucapan abah, serta melihat kotak perhiasan yang dahulu digunakan oleh Hari untuk melamar Fatimah, perasaan emak seketika hancur lebur. Fatimah yang sudah sangat disayanginya seperti anaknya sendiri, ternyata gagal menjadi calon menantunya.
Dengan berderaian air mata dan tangan kanannya yang bergetar, emak mengambil kotak perhiasan yang berada di hadapannya. Perlahan ia membuka kotak berwarna merah itu. Dengan kedua matanya sendiri, Ia melihat cincin bermata satu terselip di bagian tengah kotak perhiasan yang dipegangnya. Emak pun melihat ke arah Fatimah yang duduk di sebelah kirinya. Ia melihat Fatimah hanya duduk berdiam diri dengan kepala ditundukkannya. Air matanya mengalir membasahi wajahnya yang cantik alami.
"Tolong beri Kami waktu lagi! Mohon untuk menunggu Hari satu bulan lagi, Pak, Bu! Hari pasti pulang! Kamu mau menunggu kan Fatimah?" Tanya emak. Tidak terdengar suara jawaban dari mulut Fatimah. Yang terdengar hanya suara isak tangisnya.
"Kami mohon maaf, Emak! Kami sudah cukup bersabar selama ini! Tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada kabar dari Hari! Sekali lagi Kami mohon maaf, karena sudah membuat Emak kecewa!" Balas abah. Mendengar jawaban abah, tiba-tiba emak tampak semakin megap-megap. Kedua matanya melotot. Sedangkan dadanya terlihat bergerak dengan cepat. Sontak cincin dan kotak perhiasan di tangan kanannya langsung terlepas dari genggamannya, dan jatuh di atas lantai ubin.
"Emaaakkkkk...!!!" Teriak Fera ketika melihat kondisi emaknya. Ia pun bergegas menghampiri tubuh emaknya.
"Emakkk...!" Seru Fatimah dan ibunya berbarengan. Mereka berdua pun beranjak dari duduknya.
"Lebih baik sekarang Kita bawa Emak ke rumah sakit!" Seru abah sambil bangkit berdiri. Abah pun langsung mengangkat tubuh emak dan membawanya ke arah mobil miliknya yang berada di halaman depan rumah emak. Fera, Bu Asmi, dan juga Fatimah ikut berhamburan keluar rumah.
Dengan terburu-buru, Fera menutup pintu depan rumahnya dan tidak lupa untuk menguncinya. Setelah semuanya naik ke atas mobil, abah dengan gugup langsung menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan kuat. Seketika mobil itu pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju salah satu rumah sakit yang berada di kota Solo.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai di depan lobby rumah sakit. Dengan di bantu para perawat, abah menurunkan tubuh emak Khulsum dari atas mobil. Setelah berhasil dibaringkan di atas brankar, dua orang perawat membawanya ke ruangan UGD. Fera dan yang lainnya turut mengikutinya. Kemudian emak dibawa masuk ke dalam ruangan UGD dan langsung ditangani oleh seorang dokter. Sedangkan Fera, Fatimah, dan kedua orang tuanya menunggu di depan pintu dengan perasaan cemas, gelisah, dan sangat khawatir. Terutama Fera, sebagai anak kandungnya.