Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Sebelum Fajar


__ADS_3

  Malam itu, suasana di perkampungan tempat tinggal Fera sangat sunyi sepi. Hanya terdengar suara serangga yang berbunyi dengan nyaring. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 03.17 WIB, seorang perempuan terbangun dari tidurnya. Perempuan yang bukan lain adalah adik kandungnya Hari itu, beranjak dari tempat tidurnya dengan kedua matanya yang masih setengah terpejam.


  Fera perlahan berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah. Saat ia sampai di dalam kamar mandi yang bangunannya terpisah dari rumah, Fera pun buang air kecil. Begitu selesai, Fera berwudhu dengan menggunakan air yang berada di dalam padasan yang terbuat dari tanah liat.


  Air yang segar dan dingin mengucur membasahi anggota tubuh Fera. Kedua matanya yang semula sulit terbuka, akhirnya bisa terbuka lebar.


  Setelah selesai berwudhu, Fera pun kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamarnya, Fera memakai mukena dan melaksanakan shalat tahajud.


  Di dalam keheningan malam, Fera menunaikan shalat tahajud dengan sangat khusyuk. Selesai shalat, Fera langsung memanjatkan doa kepada Allah Sang Maha Kuasa.


  "Ya Allah yang Maha Melindungi! Lindungilah Mas Hari dimana pun Dia berada! Jauhkanlah Mas Hari dari segala marabahaya! Berilah Dia keselamatan, kesehatan dan juga umur yang panjang, Ya Allah! Aamiin ya rabbal'alamiin." Seketika air matanya jatuh di pipinya.


  "Ya Allah yang Maha Pengampun! Ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa Ibuku! Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua yang ada di dalam hati Hamba! Bukan niatku untuk membohongi Emak! Semua Aku lakukan untuk kebaikan Emak! Berilah kesehatan dan umur panjang untuk Emak, Ya Allah! Semoga secepatnya ada kabar dari Mas Hari! Semoga Mas Hari segera pulang ke rumah Ya Allah! Aamiin ya rabbal'alamiin." Fera pun menutup doanya dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Disaat Fera hendak melepaskan mukena yang dipakainya, tanpa disangka-sangka olehnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang berseru dari arah pintu kamarnya.


  "Apa maksud semua doamu tadi, Fera?" Tanya orang itu. Mendengar ucapannya, Fera bergegas membalikkan badannya dan memandang ke arah pintu kamarnya. Tepat di depan pintu kamarnya, Fera melihat seorang perempuan yang tidak asing lagi bagi dirinya. Perempuan itu bukan lain adalah emak.


  "Emak! Sudah bangun?" Tanya Fera sangat terkejut.


  "Jawab Fera! Apa maksud semua doa-doamu tadi?" Tanya emak dengan keras.


  "Fera hanya berdoa untuk keselamatan Emak, Fera, dan Mas Hari!" Jawabnya dengan gugup.


  "Bohong! Jangan kira Emak tidak mendengar semua doa-doamu! Emak mendengar semuanya! Bahkan sejak Kamu keluar dari dalam kamar, Emak mendengarnya! Karena dari tadi Emak tidak bisa tidur!" Seru emak dengan lantang.


  "Fera mohon maaf sama Emak! Fera sama sekali nggak bermaksud untuk membohongi Emak! Fera cuma nggak mau Emak kepikiran Mas Hari terus menerus! Fera nggak ingin melihat Emak sakit!" Balasnya. Air mata kembali menetes di pipinya.

__ADS_1


  "Kebohongan apa yang telah Kamu lakukan, Fera? Tadi Aku mendengar Kamu berucap semoga secepatnya ada kabar dari Hari! Semoga Hari cepat pulang ke rumah! Cepat katakan dengan jujur! Apa maksud dari kata-katamu itu?" Perintah emak.


  "Sebenarnya, surat yang diterima oleh Emak kemarin, itu bukan surat dari Mas Hari. Tapi surat itu yang buat sebenarnya adalah Fera." Balas Fera dengan perlahan.


  "Apa Kamu bilang, Fera? Surat itu bukan dari Hari? Tega Kamu Fera!!! Kamu tega membohongi Emak!!! Emak sangat kecewa padamu!!! Emak tidak percaya punya anak munafik sepertimu!!!" Teriak emak sekuat tenaga. Air matanya membasahi kedua pipinya. Mendengar teriakkan emaknya, Fera langsung berlari menghampiri tubuh emak. Fera langsung bersimpuh di depan kedua kaki emaknya. Air matanya membanjiri wajahnya, hingga menetes di punggung kaki emaknya.


  "Fera mohon maaf lahir dan batin, Emak!!! Fera berbohong pada Emak karena terpaksa!!! Fera nggak ingin melihat Emak sakit karena nggak mau makan dan kepikiran Mas Hari terus!!!" Fera menangis sesenggukan.


  "Jadi benar, surat yang diterima Emak beberapa minggu yang lalu, itu bukan dari Hari?" Tanya emak seolah masih tidak percaya.


  "Iya Mak! Surat itu Fera yang buat! Fera bermaksud agar Emak tidak khawatir lagi dengan Mas Hari!" Jawabnya.


  "Ya Allah Ya Rabbi!!! Dimana sebenarnya anakku berada??? Mengapa tidak pernah memberi kabar pada Emak???" Seru emak dengan histeris. Mendengar teriakkannya, Fera perlahan bangkit berdiri dan langsung memeluk tubuhnya yang kurus.


  "Emak yang tabah dan sabar!!! Semoga Allah melindungi Mas Hari dimana pun Dia berada!!! Semoga Mas Hari secepatnya bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat wal afiat!!!" Fera mencoba menenangkannya.


  "Tapi Jakarta itu sangat luas, Mak! Emak mau nyari dimana?" Tanya Fera sambil melepaskan pelukannya.


  "Ya Kita nyari di kos-kosannya! Sama di pabrik tempat Hari bekerja!" Balasnya.


  "Ya sudah, kalau begitu Hari esok Fera ikut Emak ke Jakarta! Biar besok hari senin, Fera izin nggak mengajar dulu!" Ucapnya.


  "Sekarang Kita siap-siap! Biar bisa berangkat pagi! Bawa pakaian seperlunya saja! Untuk makan, Kita bawa bekal makanan saja! Kalau masalah uang untuk beli tiket kereta, Emak masih punya simpanan uang!" Katanya.


  "Fera juga masih ada tabungan Mak!" Ucapnya.

__ADS_1


  "Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah, Emak ke kamar dulu!"


  "Fera juga mau siap-siap Mak!" Balas Fera. Setelah emaknya kembali menuju kamarnya, Fera pun bergegas memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tasnya yang berwarna merah muda.


  Selesai menyiapkan pakaian yang hendak dibawa, tiba-tiba terdengar kumandang adzan shubuh. Fera dan emak pun menunaikan shalat shubuh berjamaah. Setelah selesai shalat shubuh, mereka berdua sibuk memasak di dapur untuk sarapan pagi dan bekal di perjalanan. Disaat Fera dan emak sedang menikmati sarapan pagi, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam.


  "Assalamu'alaikum." Salamnya.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab emak dan Fera berbarengan.


  "Siapa ya Mak? Pagi-pagi begini sudah datang ke rumah!" Tanya Fera.


  "Tidak tahu, Fer. Tolong lihat ke depan ya!" Pintanya.


  "Iya Mak." Balasnya. Fera pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan rumah. Dengan rasa penasaran, Fera membuka pintu depan yang masih terkunci. Begitu pintu itu terbuka, Fera pun langsung tersenyum lebar.


  "Oh Mba Fatimah! Kirain siapa yang datang pagi-pagi begini!" Serunya.


  "Ini ada sedikit ayam goreng dari Ibu, Fera!" Ucap perempuan yang berdiri di depan pintu, yang ternyata adalah Fatimah, sambil mengulurkan tangan kanannya yang memegang plastik berwarna hitam.


  "Alhamdulillah, makasih banyak ya Mba! Bisa buat bekal ini ayam!" Balasnya sambil menerima plastik berisi ayam goreng dari ibunya Fatimah.


  "Memangnya Kamu mau pergi kemana, Fera? Sudah rapi dan cantik begini!" Tanya Fatimah sambil memandangi wajah dan pakaian yang dikenakan oleh Fera.


  "Mau ke Jakarta Mba." Jawabnya dengan perasaan sedikit tidak enak.

__ADS_1


  "Liburan ya Fer? Enak banget! Aku hari minggu tetap masuk kerja! Ucapnya.


  "Bukan liburan Mba. Tapi ada urusan penting! Aku ke Jakarta-nya juga sama Emak! Mari masuk dulu Mba!" Pintanya. Fatimah pun masuk ke dalam rumah.


__ADS_2