
Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya seorang dokter laki-laki keluar dari dalam ruangan UGD. Melihat dokter itu, Fera dan yang lainnya langsung menghampirinya dengan perasaan sangat cemas.
"Dok, bagaimana keadaan Ibu Saya Dok?" Tanya Fera dengan suara cukup keras.
"Maaf Mba. Ibu Anda tidak dapat diselamatkan! Beliau sudah meninggal sewaktu perjalanan kesini!" Jawabnya. Mendengar ucapan dokter itu, Fera, Fatimah, dan kedua orang tuanya, kaget bukan main. Terutama Fera. Anak bungsu Emak Khulsum itu, langsung menjerit histeris, begitu mendengar bahwa emaknya sudah meninggal.
"Nggak mungkin!!! Emak nggak mungkin meninggal!!!" Teriaknya dengan sekuat tenaganya. Fera pun berlari dan menerobos masuk ke dalam ruangan UGD. Fatimah dan kedua orang tuanya ikut berlari mengejar Fera.
Sesampainya di dalam ruangan UGD, Fera melihat seseorang yang berbaring di atas ranjang dengan seluruh tubuhnya ditutupi selembar selimut. Fera yang masih belum percaya bahwa emaknya yang sangat dicintainya meninggal, bergegas bertanya kepada seorang suster yang berada di samping sosok yang ditutup selembar selimut itu.
"Sus! Mana Emak Saya??? Dia bukan Emak Saya kan Sus???"
"Ini Ibu, Mba. Ibu Mba sudah meninggal sewaktu belum sampai di rumah sakit." Jawabnya dengan ramah.
"Nggak!!! Nggak mungkin!!! Itu pasti bukan Emakku!!!" Teriaknya dengan histeris. Fera pun berkelebat ke arah samping kanan sosok yang berbaring di atas ranjang. Tanpa ragu-ragu, dengan cepat ia langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ketika selimut berhasil dibukanya, seketika Fera langsung berdiam membisu dengan kedua matanya melotot.
Di hadapan Fera, adik kandungnya Hari itu melihat dengan kedua matanya sendiri, bahwa seseorang yang terbaring di atas ranjang yang berada di depannya adalah ibu kandungnya sendiri. Fera pun langsung berteriak dengan keras dan langsung memeluk tubuh emaknya yang diam tak bergerak dengan kedua matanya yang terpejam. Air matanya mengalir dengan deras. Sampai-sampai jatuh membasahi wajah almarhumah Emak Khulsum.
"Emaaakkkkk......!!!"
"Innalilahi wainailaihi roji'un!" Ucap Fatimah dan kedua orang tuanya berbarengan, ketika mereka yang berdiri di belakang Fera melihat wajah seorang perempuan yang terbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Yang sabar dan tabah, ya Fera!" Bu Asmi berusaha menenangkan Fera dengan mengusap-usap bahu kanannya.
"Emak, jangan tinggalin Fera sendirian!" Fera meratapi kepergiannya.
"Ikhlaskanlah kepergian almarhumah Emak Khulsum, Fera! Semua sudah takdir Allah!" Pinta Abah.
"Gara-gara Kalian datang ke rumah dan mengembalikan cincin lamarannya Mas Hari, Emak jadi meninggal!!!" Teriaknya.
"Semua sudah takdir Allah, Fera! Rizki, jodoh, dan maut, itu semua sudah tertulis di lauhul mahfudz! Jadi, tidak ada seorang pun yang sanggup menghindarinya. Tidak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut Fera. Yang terdengar hanya suara isak tangisnya yang memilukan hati.
"Betul yang dikatakan Abah, Fera! Umur Emak memang cuma sampai hari ini! Lebih baik sekarang Kita bawa jenazah almarhumah ke rumah, Fera!" Nasihat Fatimah.
Tidak menunggu waktu lama, almarhumah Emak Khulsum dibawa pulang ke kediamannya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit yang berada di Kota Solo itu.
Sekitar 20 menit di dalam perjalanan, akhirnya ambulance itu sampai di depan rumahnya almarhumah Emak Khulsum. Suara sirine ambulance yang memecah keheningan malam, membuat beberapa tetangga almarhumah Emak Khulsum berdatangan ke rumah. Salah satu warga, ada yang bergegas melaporkan bahwa Emak Khulsum telah meninggal, kepada seorang modin atau Pak Kaum. Pak Kaum pun langsung memberikan seruan informasi melalui masjid yang berada di pedukuhan tempat almarhumah Emak Khulsum tinggal.
Setelah mengetahui bahwa Emak Khulsum telah meninggal dunia, warga ailih berganti datang ke rumah almarhumah. Termasuk sanak saudara keluarganya Emak Khulsum yang masih tinggal satu desa dengannya. Tidak terkecuali saudara yang tinggal di luar kota. Begitu diberi berita duka itu, mereka bergegas menuju rumahnya almarhumah Emak Khulsum.
Malam itu menjadi malam yang sangat menyedihkan bagi Fera. Pasalnya, pada malam itu, ia tidak lagi mendengar suara dari mulut perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya. Walaupun Fera sadar, sejak kepulangan mereka berdua dari Jakarta sekitar sebulan yang lalu, Emak lebih banyak menyendiri dan berdiam diri di dalam kamarnya.
Pagi hari yang sejuk dan cerah itu menjadi pagi hari yang suram bagi Fera. Terlebih lagi, disaat ia sedang merasakan kesedihan yang mendalam, sosok kakak kandungnya sendiri tidak berada disisinya. Hanya sepupu dan kakak adik almarhum dan almarhumah rama dan emaknya yang berusaha untuk menenangkan hati Fera.
__ADS_1
Setelah dimandikan, dikafani, dan dishalatkan, jenazah almarhumah Emak Khulsum diantarkan ke peristirahatannya yang terakhir. Warga ikut berbondong-bondong mengantar almarhumah ke pemakaman dengan berjalan kaki.
Setelah selesai dimakamkan dan bacakan doa, satu persatu warga kembali pulang menuju rumah masing-masing. Tetapi Fera masih berdiam diri di samping kanan pusara emaknya.
"Ayo Kita pulang, Fer! Emak sudah tenang di alam sana! Sekarang tinggal Fera untuk selalu mendoakan almarhumah!" Nasihat seorang perempuan yang berdiri di sebelah kanan Fera.
"Sekarang Aku nggak punya siapa-siapa lagi! Rama dan Emak sudah tiada. Sedangkan Mas Hari nggak tahu dimana adanya. Mungkin aja Dia juga sudah pergi meninggalkan dunia ini. Pergi meninggalkan Fera seorang diri. Membiarkan Fera hidup sebatang kara." Ucapnya meratapi nasibnya yang malang. Air matanya tiada henti mengalir di kedua pipinya.
"Jangan bicara begitu, Fera! Kamu kan masih punya Bu Lik Syamsiyah, Budhe Maryatun, Pak Lik Basuki, dan yang lainnya!" Balasnya.
"Mereka sudah sibuk dengan keluarga mereka masing-masing! Hanya Rama, Emak, dan Mas Hari-lah orang-orang yang paling berarti dalam hidupku! Tapi kini, mereka telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Hidupku sekarang terasa sepi tanpa mereka. Hidupku sekarang terasa tiada artinya lagi." Ucap Fera.
"Tidak baik bicara seperti itu, Fera! Masa depanmu masih panjang! Kamu harus semangat untuk melanjutkan hidup! Lagi pula, belum tentu kan Mas Hari sudah meninggal. Siapa tahu, suatu hari nanti Dia kembali pulang ke rumah!" Balas perempuan berpakaian hitam itu.
"Mba Fatimah kenapa tidak menunggu Mas Hari pulang? Apa Mba Fatimah sudah nggak cinta lagi sama Mas Hari? Apa Mba Fatimah sudah nggak rindu lagi sama Mas Hari? Apa Mba Fatimah sudah nggak sabar ingin menikah?" Tanya Fera sambil memalingkan wajahnya ke arah perempuan di sampingnya.
"Aku masih cinta sama Mas Hari, Fera! Rasa cintaku tak pernah berkurang sedikit pun! Rasa rindu di dalam hatiku terhadap Mas Hari, tidak akan pernah selesai! Tapi disisi lain, Aku juga nggak bisa kalau harus menunggu Mas Hari pulang, sampai waktu yang belum tahu entah sampai kapan!" Jawab perempuan yang bukan lain adalah Fatimah.
"Mba Fatimah aja seperti nggak yakin Mas Hari akan pulang! Begitu pula dengan diriku, Mba! Tapi sebagai adik kandungnya Mas Hari, Aku sudah ikhlas bila Mba Fatimah menikah dengan wanita lain!" Ucapnya dengan air matanya yang kembali menetes di pipinya. Mendengar ucapan Fera, Fatimah langsung memeluk tubuh Fera dengan erat. Air matanya membanjiri wajahnya yang cantik. Fera pun ikut memeluk tubuh perempuan yang hendak menjadi kakak iparnya, namun harapan itu kini telah sirna dari hati Fera. Setelah cukup lama berpelukan, perlahan mereka berjalan meninggalkan area pemakaman dengan saling bergandengan tangan.
__ADS_1