
Mark yang akan pergi bersama gara sedikit kaget karena tiba tiba saja zizi membuat kan teh untuk nya, Baru sekali ini sang menantu berbakti pada nya.
"Ayah minum dulu teh nya." Ujar zizi mengangsur kan teh.
"Ayah baru saja minum teh, Nanti malam saja tolong buat kan lagi." Tolak mark halus.
"Tapi ini sudah terlanjur di buat yah, Sayang lah kalau di buang." Ucap zizi.
"Membuang teh itu tidak membuat ku miskin zizi." Ujar mark.
"Baik lah kalau ayah tidak mau, Nanti kalau ayah pulang saja aku buat kan lagi." Ujar zizi tampak kecewa.
"Lebih baik begitu." Ucap mark langsung keluar dari mansion.
Hari ini mark ada janji memancing bersama gara, Hanya itu lah yang ia lakukan untuk menghabis kan masa tua nya.
"Ck, Mati sekarang aku kalau minum teh itu." Rutuk mark kesal bukan main.
Seolah jatuh harga diri mark karena mantan mafia besar akan di racuni menantu nya di siang hari, Hanya zizi yang tidak ketahui adalah mark sangat pintar.
"Awas saja kau nanti." Geram mark.
Sampai saat ini mark masih mengumpul kan semua bukti kejahatan yang telah zizi lakukan, Ia juga menyelidiki motif wanita itu yang ternyata hanya ingin menguasai harta putra nya.
Sial nya big malah cinta mati pada zizi, Sehingga buta dengan kejahatan dan juga kelakuan buruk zizi kloper.
"Ada apa dengan mu?" Tanya gara saat sudah bertemu.
"Apa sekarang kita terlihat seperti orang bodoh?" Tanya mark.
"Kita? Kau saja yang begitu." Jawab gara.
"Dasar berandal!" Umpat mark mengait kan umpan nya.
Gara melirik mark yang terlihat sangat kesal, Penasaran juga gara akhir nya dengan yang di alami teman nya ini.
"Kau kenapa mark?" Tanya gara serius.
"Kau mungkin tidak akan percaya! Masa aku mau di racuni bocah ingusan." Ucap mark langsung di sambut gelak tawa.
"Hahahaha mungkin dia muak melihat wajah tua mu." Ejek gara.
"Cih! Dulu aku juga tampan." Mark berdecih malas.
"Siapa yang kau katakan itu?!" Tanya gara kembali mode serius.
__ADS_1
"Istri big!"
Gara terperangah kaget dengan ucapan mark, Sedikit pun ia tidak menyangka jika ada menantu yang sangat tega seperti itu.
"Kenapa kau tidak cerita pada big? Kurang ajar wanita itu." Gara pun ikut marah.
"Untuk sekarang aku tidak akan bilang pada putra ku yang bodoh itu! Aku ingin bermain main dulu." Jawab mark santai.
"Jangan banyak gaya kau mark! Ingat umur mu itu." Ujar gara.
"Umur boleh tua gara, Tapi jika hanya menghadapi dua kecoak itu aku tidak akan kalah." Ujar mark.
"Kau tau dari mana?" Selidik gara.
"Aku menaruh kamera pengintai di kamar mereka." Jawab mark.
"Hah?! Jadi kau bisa lihat semua nya lah?!" Kaget gara.
"Aku skip yang adegan panas nya." Ujar mark.
"Bangsaat kau memang mark." Gara di buat pusing dengan mark.
Dua orang tua ini tertawa dan marah bersama, Mereka empat sekawan yang kini tinggal dua orang saja. Karena gefari dan jhon sudah pergi menghadap pencipta.
"Aku duluan saja." Jawab mark.
"Kenapa kau ingin duluan?!" Tanya gara bingung.
"Aku tidak ingin merasa kan sakit nya di tinggal lagi gara, Sudah cukup aku merasakan empat sakit yang di tinggal." Jawab mark.
"Apa kau juga sedih jika aku mati?" Tanya gara lagi.
Mark tidak menjawab pertayaan sahabat nya, Bagi mark di tinggal empat orang terdekat nya sudah membuat separuh jiwa nya ikut pergi juga.
...****************...
Melihat big yang sedang santai sambil membaca koran, Zizi mendekati suami nya dengan gaya manja.
"Sayang."
"Ada apa?" Big mendongak.
"Sebentar lagi kan aku lahiran, Tapi kita tidak punya persiapan untuk baby." Ujar zizi pelan.
"Persiapan? Bukan nya semua sudah lengkap sayang?" Bingung big.
__ADS_1
"Iya kalau persiapan soal baju atau barang, Maksud aku persiapan untuk dia besar nanti." Ujar zizi mengelus pundak big.
Big masih tidak mengerti dengan arah istri nya, Sampai zizi mengeluar kan map yang berisi pemindahan harta.
"Kita kan tidak tahu dengan umur manusia, Contoh nya saja angela yang masih sangat kecil di tinggal orang tua nya." Ujar zizi lemah lembut.
"Lalu?"
"Aku tidak ingin jika anak kita pun merasakan hal demikian, Aku mau anak kita hidup tenang meski jika aku tidak berumur panjang." Zizi membuka map.
Big mengambil map dari tangan istri nya, Ia membaca dengan teliti isi surat tersebut yang meminta pengalihan nama perusahaan milik nya.
"Kamu mau aku tanda tangan?" Tanya big.
"Umur tidak ada yang tahu sayang, Apa lagi aku akan bertaruh nyawa untuk melahir kan ini." Zizi menunduk sedih.
"Jangan ngomong gitu dong sayang." Big merangkul istri nya.
"Kalau sekarang di pindah kan atas nama ku, Seandai nya aku mati nanti. Maka itu akan jatuh keanak kita. Aku tidak yakin kamu bisa hidup tanpa aku sayang." Ujar zizi.
"Kalau aku mati terus kamu terpuruk, Maka anak kita akan terlantar tanpa punya jaminan hidup." Lanjut zizi.
"Tidak sayang! Kamu pasti bisa melahir kan anak kita dengan selamat." Hibur big yang ketakutan jika istri nya mati.
"Aku juga berharap bisa selamat dan membesar kan anak kita bersama sama! Tapi itu hanya untuk menenang kan hati ku saja sayang." Bujuk zizi dengan air mata berderai.
"Baiklah, Aku akan tanda tangan agar kamu tenang dan fokus pada kelahiran anak kita nanti ya." Jawab big mengambil pulpen.
Senyum bahagia terpancar di wajah zizi, Kini perusahaan big di bidang properti akan jatuh ketangan nya.
"Terima kasih sayang." Zizi memeluk big usai mendapat kan tanda tangan.
"Sama sama, Tolong jangan katakan hal buruk lagi ya." Pinta big.
"Aku hanya takut saja sayang." Isak zizi dalam pelukan big.
"Ada aku di sini, Aku tidak bisa hidup tanpa mau." Ucap big.
Mark yang melihat adegan itu sebenar nya sangat marah, Namun saat ini ia belum bisa meyakin kan big jika istri nya adalah ular berbisa.
Big akan tetap mati matian membela zizi, Lagi pula perusahaan itu memang milik big tanpa ada campur tangan mark. Dan lagi perusahaan itu belum seberapa besar.
"Kau kok bodoh sekali big." Kesal mark.
Mark pun turun kelantai bawah untuk makan malam, Sejujur nya ia menunggu teh yang akan di buat kan oleh zizi. Ia ingin menjebak zizi saat itu di hadapan big, Karena mark sudah menukar racun itu dengan racun biasa.
__ADS_1