Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku

Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku
Xxxxx


__ADS_3

Seminggu sudah kematian pahmi yang membuat keluarga nya sangat berduka, Jasson yang merasa terhutang budi pun ikut membantu menyumbang uang untuk acara tahlilan nya pahmi.


Semula ayah pahmi menolak uang yang berjumblah dua ratus juta dari jasson, Namun intan langsung mengambil uang tersebut.


"Saya permisi pak." Pamit jasson.


"Terima kasih tuan." Jawab bapak pahmi ikut menunduk hormat


"Saya yang harus berterima kasih pada anda pak." Sahut jasson.


Pak pahmi terdiam mendengar ucapan jasson, Ia berkelebat masuk karena sedih dengan kematian putra nya.


"Sudah kau urus keluarga kloper?" Tanya jasson pada big.


"Sudah, Namun kelihatan nya mereka akan balas dendam." Sahut big.


Jasson tidak bereaksi karena ia sama sekali tidak peduli tentang balas dendam mereka, Apa lagi kloper masih jauh di bawah nya.


"Hibur dengan baik anyelir! Jika dia sampai terluka lagi karena mu, Aku tidak akan tinggal diam." Tegas jasson.


"Baik."


"Aku masih diam karena ini bukan salah mu sepenuh nya, Anye yang bersalah besar karena melempar kan diri keranjang mu." Ujar jasson.


"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan ku dengan nya." Jawab big.


Mobil mereka menuju mansion de lamozada, Big juga iku kesana karena ingin menemani seina.

__ADS_1


"Bagai mana keadaan nya orang tua pahmi?" Tanya bianca menyambut kedatangan suami nya.


"Tentu tidak baik mom." Jawab jasson merangkul istri nya.


"Anye juga masih terpuruk." Ujar bianca.


"Biar big yang menangani nya, Aku sedang lelah." Sahut jasson.


"Anye di halaman belakang, Kau temui lah dia sana." Suruh bianca.


"Seina di mana?" Tanya big.


"Ada di kamar nya."


Big menuju kamar seina yang ada di lantai dua, Terlihat seina sedang bermain dengan suster yang menjaga nya.


"Papaaa."


Seina berlari menghampiri ayah nya, Gadis kecil ini sangat bahagia melihat kedatangan papa nya.


"Papa dali mana?" Tanya seina dalam gendongan big.


"Papa tadi kerja sayang." Jawab big menciumi pipi putri nya.


"Papa kelja mama jadi angis telus." Adu seina membicarakan mama nya.


"Ooh mama nangis terus ya nak? Ayo kita cari mama." Ajak big keluar kamar.

__ADS_1


"Mama mau eh clim pa." Ujar seina.


Big masih loading memikir kan ucapan seina, Ia kurang bisa memahami ucapan seina yang masih cedal.


"Itu mama pa." Tunjuk seina pada anye yang duduk.


"Nanti mama ajak main ya sei, Biar tidak nangis terus." Ujar big.


"Napa sei yang ajak? Papa aja yah." Tolak seina.


"Ini bocah malah nyuruh orang tua." Batin big geli sendiri.


Akhir nya big duduk di samping anyelir yang termenung sendirian, Anye langsung menoleh kearah mereka berdua.


"Mama angis aji pa." Seina menunjuk air mata anye.


"Enggak sayang, Mama kelilipan." Elak anye menghapus air mata nya.


"Mama ali tadi angis telus." Ujar seina melorot kebawah.


"Enggak kok, Sekarang udah enggak nangis lagi." Jawab anye tersenyum.


"Jangan menangis di depan nya nye, Anak mu nanti ikut terpengaruh dan malah menyangka jika kamu menangis karena aku." Ujar big.


"Cih lagak mu, Seolah kau tidak pernah membuat ku menangis saja." Sinis anye.


"Aku malah senang jika berdebat dengan seharian, Dari pada melihat mu menangis seharian." Ujar big menatap anye dalam

__ADS_1


Anye yang mendapat tatapan maut big pun membuang muka, Ia tidak ingin jika jatuh lagi dalam pesona big.


__ADS_2