Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku

Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku
Dihajar bianca


__ADS_3

Sesudah berbicara pada big, Anye membanting camera dan menginjak injak dengan emosi tinggi.


"Sialan kau big! Kenapa kau terus saja masuk kedalam hatiku." Tangis anye pecah.


Terduduk sambil menangis anye karena benci dengan hati nya yang tidak bisa melupa kan big, Sesungguh nya anye ingin segera menghapus rasa cinta yang bercokol dalam jiwa nya.


"Kenapa kau sangat suka menyiksa perasaan ku?!" Lirih anye dalam tangis nya.


Di balik pintu bianca melihat semua yang di lakukan oleh putri nya, Jiwa bar bar bianca kembali bangkit karena ia tidak rela melihat anye tersiksa.


"Mau kemana mom?" Tanya angel ketika memanggil bodyguard kepercayaan nya.


"Mommy ada urusan sebentar ya, Kamu tolong jagain seina." Jawab bianca.


"Oke." Angguk angela.


Dua mobil mewah meluncur menuju kantor big, Karena sekarang pasti big sedang ada di sana.


"Apa perlu kita memberitahu tuan jasson nyonya?" Tanya ali.


"Tidak perlu! Aku masih bisa menangani nya." Jawab bianca.


Tidak banyak bertanya lagi mereka karena tahu jika sang nyonya sedang mode serius, Hingga tiba lah mereka di depan kantor big.


"Selamat siang nyonya." Sapa resepsionis yang mengenal bianca.


Jangan kan untuk menyahut, Melirik saja bianca tidak mau. Lima orang bodyguard nya pun memasang wajah garang.


"Tuan big sedang istirahat nyonya." Ujar juno ketika bianca sudah sampai di depan ruangan big.


"Buka pintu nya!" Perintah bianca tegas.


Bruaaak.


Bodyguard tidak mengetuk pintu, Mereka langsung menendang nya hingga pintu terbuka lebar.


"Ada apa kak?" Big keheranan dengan kedatangan bianca.


Plaak.


Satu tamparan bianca mendarat di pipi big yang mulus, Juno sigap melindungi bos nya yang tercengang.


"Kau mau bertanya kenapa aku menampar mu?! Kau sudah seharus nya di tampar memang big, Bahkan lebih dari itu." Sinis bianca.


"Aku tidak tahu masalah nya apa kak." Big kebingungan.


"Kau tidak tahu atau pura pura tidak tahu?! Sedang kan baru saja kau mengusik putriku lagi." Geram bianca.

__ADS_1


Kini akhir nya big paham jika kedatangan bianca di sebab kan oleh camera itu, Big pun berusaha menjelas kan.


"Aku hanya ingin tahu wajah putriku saja kak, Aku juga ayah anak dari anye." Ujar big.


"Baru sadar kau kalau dia anak mu! Dari mana saja kau big selama ini? Tidak kah kau tahu perjuangan anyelir sejak hamil hingga melahir kan?!" Teriak bianca.


"Itu bukan sepenuh nya salah ku kak! Dia lah yang memberikan tubuh nya padaku." Big membela diri.


"Yah memang anye yang memasrah kan diri keranjang mu! Namun jika kau lelaki yang punya hati, Kau pasti merasa iba melihat dia sendirian saat hamil." Sambar bianca.


"Aku memang salah dalam hal itu." Big tertunduk.


Bianca menghembus kan nafas kasar dan membuang muka, Padahal ia dulu sangat menyukai big sebagai adik sendiri.


"Aku berniat untuk mengambil putriku dan membesar kan nya bersama zizi." Ucap big membuat darah bianca mendidih.


"Kau ingin mengambil seina dan membesar kan bersama istrimu?" Tanya bianca menatap tajam.


"Anye masih terlalu muda jika mengurus anak sekarang, Lebih baik aku yang mengurus anak kami." Jawab big.


"Astaga big di mana otak mu?! Susah payah putriku melahir kan dan bertarung nyawa, Kini kau dengan entang mau mengambil seina." Bianca tidak percaya dengan ucapan big.


"Aku juga punya hak, Dia anak ku." Kekeh big.


"Tidak ada guna nya aku bicara padamu memang big." Ujar bianca.


Dengan santai bianca duduk mengawasi, Mungkin begini saja big akan berhenti mengganggu anak nya lagi.


Aakkhh.


Walau pun big pandai berkelahi, Namun menghadapi tiga bodyguard pilihan itu dia tumbang juga.


"Hajar dia." Titah bianca meski big sudah jatuh kelantai.


"Tuan!!"


Juno yang akan menolong bos nya langsung mendapat pukulan telak di leher nya, Tumbang juga asisten big kelantai dan langsung tidak sadar kan diri.


"Apa kita habisi nyonya?" Tanya ali.


"Jangan! Buat saja dia jera dan patah kan tangan yang menaruh camera itu." Sahut bianca.


"Tidak jangan lakukan itu!"


Big berteriak ketika ali sudah memegang tangan kanan nya, Namun mereka lebih mendengar kan bos nya dan langsung menginjak tangan big.


Kraak, Akkhh.

__ADS_1


Suara tulang patah di sambut dengan teriakan big, Tidak ada yang mendengar dari luar. Karena ini ruangan kedap suara.


Tulang tangan big mencuat keluar dan pemilik nya berguling kesakitan, Bianca berjalan mendekati big yang terengah engah menahan sakit.


"Aku sejak kemarin masih menganggap mu sebagai adik, Tapi kau semakin bertingkah big." Bianca menekan kepala big kelantai dengan kaki nya.


"Cukup nyonya, Pikir kan tuan mark." Bisik ali ke bianca.


Bianca teringat dengan mark yang mungkin saja akan sangat terluka jika big sampai meninggal, Ia pun mengangkat kaki nya dan mengajak bodyguard pergi.


...****************...


Juno yang tidak terluka parah dan hanya lecet lecet saja, Kini mendorong big dengan kursi roda pulang keapartement.


Sebenar nya dokter tidak mengizin kan big pulang karena luka tangan nya cukup parah, Tapi pria ini bersikeras ingin pulang saja.


"Lebih baik anda kemansion tuan besar saja tuan." Saran juno ketika sampai di apartement.


"Tidak usah! Aku tidak mau ayah cemas." Tolak big.


"Kemana nona zizi? Apa tidak masalah jika saya pulang." Tanya juno.


"Pulang lah, Aku masih punya tangan satu nya." Jawab big.


Meski tidak tega tapi juno harus pulang, Karena ini sudah jam sepuluh malam dan juga ayah juno sedang sakit.


"Huh kemana kau zizi?" Big berusaha duduk tenang.


Tapi rasa sakit pada tangan nya tidak bisa membuat big tenang, Apa lagi masih ada luka memar lain nya di tubuh big.


"Hah mungkin aku memang pantas mendapat kan nya." Batin big.


Tak lama pintu apartement terbuka lebar, Zizi pulang dengan leon tanpa tahu jika big sedang menatap mereka.


"Aakkhh nikmat sayang." Desah zizi ketika leon menciumi leher nya.


"Ayo kita kekamar sekarang." Ajak leon yang ternyata sudah tidak tahan.


"Aku pengen di sofa sayang." Rengek zizi menarik leon.


Memang keadaan apartement sedang gelap remang, Karena tadi juno tidak menghidup kan lampu.


"Apa suami bodoh mu itu belum pulang?" Tanya leon membuka kancing jeans nya.


"Tidak usah pikir kan dia, Mungkin sekarang big sedang lembur untuk mencari kan kita uang." Sahut zizi.


"Dasar pria bodoh sialan! Selama ini dia tidak juga tahu kalau aku kekasih mu." Ujar leon sambil tertawa.

__ADS_1


Ingin sekali rasa nya big menghajar mulut leon, Tapi mengingat keadaan nya yang sekarang. Sudah pasti big hanya akan jadi bulan bulanan nya leon saja.


__ADS_2