Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku

Mencintai Ayah Angkat Sahabat Ku
Anak anyelir


__ADS_3

Karena sudah lama anye dan angel tidak keluar bersama menghirup aroma ayam goreng ini, Angel langsung memesan empat porsi.


"Banyak banget ngel." Heran anyelir sekaligus malu.


"Kita makan dua lah satu orang." Jawab angel santai.


"Jangan makan banyak loe ngel, Kalau aku kan busui." Ucap anye.


"Heh kutu kupret! Jangan alasan saja deh loe, Emang dasar nya tukang makan." Sahut angela.


Mereka pun makan dengan tenang, Seina masih saja tidur pulas tanpa terganggu dengan suara berisik.


"Mau masuk universitas mana lo ngel?" Tanya anye.


"Enggak kayak nya." Jawab angel.


"Kok enggak?! Terus kamu mau ngapain?" Anye kaget.


"Kalau aku kuliah kan jadi sibuk nye, Mana aku juga harus latihan! Anzel bisa enggak keurus nanti." Jawab angel.


"Apaan sih ngel?! Dia juga mau nya lo kuliah." Sergah anye.


"Benarkah?!"


"Iya, Kalau lo mau kuliah. Nanti gue akan cari cara supaya lo sama dia bisa jadian." Janji anye.


Angel yang semula malas untuk kuliah pun akhir nya setuju, Namun ia belum tahu untuk memilih jurusan apa.


"Lo mau jurusan apa nye?" Tanya angela.


"Manajemen bisnis." Jawab anye sambil menenggak air mineral.


"Aku sama aja kayak kamu, Kan nanti bisa ngurus perusahaan." Ujar angela.


"Bukan nya waktu itu kamu mau di kirim kelondon ngel?" Tanya anye.


"Grandpa tidak boleh, Dia tidak mau jauh dariku." Sahut angel.


"Jadi kangen sama dia." Gumam anye.


"Kamu sih tidak pernah datang kesana! Dia juga pengen banget ketemu sama kamu." Rutuk angel.


Anye hanya tersenyum kecut, Jika ia datang kesana sudah pasti akan bertemu dengan big. Sekarang anye sudah memutus kan untuk berhenti memikir kan dan juga bertemu dengan pria itu.


Hanya satu yang anye ingin kan, Ia ingin luka ini segera sembuh dan cinta nya segera hilang. Anye tidak mu terus mencintai big.


"Habis ini kita kemana?" Tanya anye yang masih pengen di luar.

__ADS_1


"Duduk dekat taman sana yuk, Seina juga biar menghirup udara segar." Ajak angel.


"Oke lah, Aku cuci tangan dulu." Pamit anye masuk toilet.


Sampai toilet anye ingin masuk dan cuci tangan, Namun saat itu ia bertemu dan mata nya bersiborok dengan pria yang tidak ingin ia temui.


"Bagai mana kabar mu nye?" Tanya big sambil menatap anye dari atas sampai bawah.


"Seperti yang kau lihat." Jawab anye cuek.


Anye bergegas masuk kedalam toilet, Namun tangan nya di sambar oleh big dan di genggam erat.


"Aku minta maaf karena sudah menyuruh mu menggugur kan kandungan! Karena aku sudah membunuh anak itu, Anak ku dengan zizi pun meninggal." Ujar big.


"Tidak usah membahas masalah apa pun dengan ku! Lagi pula aku bukan pembunuh." Sentak anye menghempas kan tangan.


Big terdiam di depan toilet, Jujur saja ia menyesal sudah menyuruh anye membunuh anak nya. Jika ia masih hidup, Big ingin mengambil dan membesar kan nya.


Tidak ingin terlalu lama di depan toilet wanita, Big pergi dengan wajah murung. Namun ia melihat angel sedang duduk dengan stroller bayi.


"Sama siapa kamu nye?" Tanya big.


"Sama anyelir." Jawab angel singkat.


Mata big tertuju pada stroller yang tertutup, Sehingga ia tidak bisa melihat wajah yang ada di dalam.


"Jangan sentuh dia!" Teriak anye mengundang perhatian orang.


Big menatap anye yang terlihat sangat marah, Hati big berdegup keras karena jika ini adalah anak nya.


"Dia anak ku kan nye?!" Tanya big pelan.


"Berani sekali kau menyebut dia anak mu! Sedang kan kau sudah tega menyuruh ku untuk membunuh nya saat dalam kandungan." Sentak anyelir.


"Tolong biar kan aku melihat nya nye." Pinta big.


"Tidak boleh! Cucuku bukan untuk di lihat libat." Sahut suara tegas dan berat.


Jasson dengan empat bodyguard datang untuk menjemput anak dan cucu nya, Cekatan anye menjauh dari big dan mendekati daddy nya.


"Ayo kita pulang saja." Ajak jasson.


"Baik dad." Angguk anyelir.


Saat anye akan melangkah pergi, Big mengejar karena ia sungguh ingin melihat anak nya.


"Izin kan aku tuan jasson, Sungguh aku ingin melihat nya." Pinta big menarik tangan mantan bos nya.

__ADS_1


"Lupakan lah big! Aku berbaik hati padamu karena kau sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri." Jasson menarik tangan nya.


Begitu cepat anye pergi dengan iringan bodyguard, Jasson juga langsung pergi dari keramaian itu.


"Jangan mengusik anye lagi yah! Susah payah dia menyembuh kan luka nya." Ucap angel yang tidak ikut bersama anye dan jasson pulang.


"Kenapa kamu juga tidak memberitahu ayah saat anye melahir kan?" Tanya big pelan.


"Apa ayah ingin kepala ku di tebas dengan daddy jasson?!" Sengit angela.


Big menghelai nafas berat, Rasa bersalah dan juga rasa ingin melihat wajah anak nya sangat menggebu gebu.


"Aku mau pulang, Dan aku juga akan kuliah nanti bareng anye saja." Ujar angel menyambar tas nya.


"Bocah gila! Keadaan begini dia malah membahas kuliah." Rutuk big ingin menjitak anak nya.


Namun angel sudah pergi semakin menjauh dari pandangan, Tinggal big yang memikir kan cara untuk melihat anak nya.


"Jika aku datang sudah pasti akan di tolak, Dan juga aku akan babak belur." Batin big.


Tidak mendapat kan cara untuk menemui anak nya, Big melangkah pulang kembali keapartement nya.


Kini big sudah resmi pindah dari mansion, Meski bertengkar hebat dengan zizi yang tidak mau pindah. Namun akhir nya mereka tetap keluar dari mansiom megah itu.


"Dari mana saja sih kamu?!" Zizi langsung bertanya kesal.


"Makan." Jawab big singkat.


Pikiran pria ini masih penuh dengan anak anye, Sehingga ia mengabai kan istri nya yang biasa di manja.


"Aku tuh nanya big! Kenapa kamu cuek banget." Kesal zizi.


"Aku capek zi, Bisa tidak kamu ngertiin aku!" Sentak big.


Zizi kaget karena big berani membentak diri nya, Bersama leon pun ia kerap di marahi dan di hajar. Sekarang dengan big pun ia sudah di bentak.


"Kamu tuh udah enggak becus jadi suami, Sekarang malah kamu berani bentak aku big." Zizi mendekat sambil berkacak pinggang.


"Lalu apa kamu becus jadi istri?" Big bertanya balik.


Zizi terperangah dengan pertanyaan big, Sudah dua hari ini big mulai bersikap berbeda dari biasa nya.


"Kamu berubah big." Zizi mulai mengeluar kan air mata.


Tapi big sama sekali tidak tergugah, Ia malah masuk kamar sambil terus memikir kan anak dari anyelir.


Jujur saja big memang merasa bersalah, Dan kini harapan nya sangat tipis untuk bisa bertemu anak nya.

__ADS_1


__ADS_2