
Di ujung teras yang sepi di bawah langit yang terlihat cerah dengan ribuan bintang tapi tak secerah hati Vino saat ini, Vino berdiri mematung dengan sebatang rokok dan ponsel yang dia genggam di tangan, Vino bukan pecandu rokok dia biasa mengkonsumsi tembakau ini jika sedang galau seperti saat ini
Di bawah cahaya rembulan yang sinarnya penuh, samar Vino merasakan hatinya gundah gulana, sesekali helaan napas berat terdengar memberi tanda pada benda di sekitarnya yang diam membisu, kalau saat ini dia tidak baik-baik saja
"Ajarkan aku hidup tanpamu Ndah."
"Katakan padaku cara menghapus bayanganmu dalam hatiku agar bisa menghilang tanpa rasa sakit."
" Aku benar-benar merindukanmu saat ini Ndah" Vino memberanikan diri untuk mengirimkan Indah pesan karena dia benar-benar di rundung kegalauan
Klik, pesan terkirim.
Vino tersenyum getir, mengutuk jiwa nya yang tidak mampu menghentikan kenakalan jarinya yang gatal ingin menyapa Indah walau hanya lewat pesan,kali ini di buang nya harga dirinya, dia jatuh, jatuh dalam pesona istri yang akan di tinggal kan nya sebentar lagi
Vino mengaku tidak kuasa berperang melawan deburan jiwa yang memanggil nama Indah
Tring, bunyi pesan berbalas membuat Vino tak sabar untuk membaca nya
"Mas jangan rindu, ini pilihan hatimu jangan buat Indah merasa ikut bersalah dalam hal ini,karena bagiku merindu tak harus bersama."
Dalam keremangan cahaya bulan, Vino mengeja kata demi kata untuk membalas pesan Indah
Vino tersadar kalau Indah bukan miliknya lagi Vino masuk kedalam rumah yang terlihat sunyi tanpa Indah dia berusaha untuk tidur malam ini dengan berbayang wajah Indah di samping nya
****
Sore ini Diandra tengah menunggu Vino di teras kost nya
"Kenapa lama sekali sih Vin, capek tau nunggu nya" kesal Diandra
Diandra memang semaunya memanggil Vino, terkadang mas jika mood nya sedang membaik
" Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu Di,lagi pula kamu tidak mau di jemput dengan motor aku harus mengambil mobil dulu di rumah pak Amran" jelas Vino
"Maka nya beli mobil donk nggak mungkin kan model terkenal kaya aku harus naik motor keliling kota,bisa masuk angin" jawab Diandra ketus
Diandra selalu mengatakan kalau dirinya model terkenal tapi tidak ada satu bintang iklan pun yang dia peran kan, untuk majalah juga Vino belum ada melihat nya
" Ayo berangkat nanti kemalaman kamu kebanyakan bengong nya sekarang mas" oceh Diandra menarik tangan Vino masuk kedalam mobil
Pasti gara-gara kelamaan bicara sama Indah, si wanita lugu yang jelek itu umpat Diandra dalam hati
Diandra menyibak rambutnya yang sedikit berantakan di terpa angin malam yang dingin. Seharusnya Vino melajukan mobilnya tidak sekencang ini. Diandra ingin Vino menjalankan mobilnya dengan pelan, meski suasana kota di malam hari bukan hal yang aneh, karena dulu beberapa tahun yang lalu kota inilah tempat paling menyenangkan untuk mengisi sebagian hari-hari nya yang panjang bersama Vino, tetapi bisa kembali lagi ke kota ini dengan laki-laki yang dicintainya sungguh luar biasa bagi Diandra
"Mas, mengapa diam saja?" Diandra melirik ke arah Vino yang dari tadi dirasanya hanya diam tanpa sepatah kata pun
"Ayo mas, kita cari Restoran mewah yang ada tempat santai nya, pasti makanan nya enak-enak," kata Diandra mencoba memberi usul.Vino hanya menggeleng pelan, wajah tampannya tetap membeku menatap jalanan yang dilalui.
"Kalau begitu, sebaiknya kita menepi sejenak, aku ingin kita bicara," pinta Diandra yang merasa Vino terlihat berbeda
"Mas? "
__ADS_1
"Hmm... "
"Cukup, Vin Ada apa, denganmu? Akhir-akhir ini aku melihatmu berubah apa kamu menyesal aku kembali ke kota ini" bentak Diandra
Vino hanya menoleh sebentar, dia menepikan mobilnya dan mengajak Diandra turun
"Apa yang mau kau bicarakan Di?" tanya Vino memulai pembicaraan setelah memesan dua es tebu yang ada di sekitar mereka
"Aku tidak mau makan ataupun minum di tempat seperti ini, Mas." Diandra menolak saat pesanan Vino datang
Vino hanya tersenyum dia minum sendiri air es nya karena dia merasa haus
"Aku merasa akhir-akhir kamu berubah, Mas. Aku merasa, setelah Indah pergi, perlahan mulai ada jarak diantara kita. Ada apa, Mas?" tanya Diandra meminta penjelasan
Diandra merasa dia harus tahu alasan dibalik sikap Vino yang berubah dingin. Apa mungkin laki-laki itu menyesal karena telah memilihnya? Jika iya sangat bodoh menurut Diandra karena dirinya jauh lebih cantik dari Indah perempuan kulot yang selalu berpenampilan kuno itu, untuk sekedar berdandan saja Indah tidak bisa apalagi memuaskan Vino diyakini Diandra tidak akan pernah bisa nyatanya dia tidak hamil-hamil sampai saat ini.
"Jawab, Mas. Aku tidak biasa diperlakukan seperti ini. Aku tidak terbiasa menjalani hubungan yang meragukan, bahkan aku harus kehilangan harga diriku meminta mu membawa ku kerumah perempuan itu"
" Bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?" tanya Vino
"Hampir selesai semuanya, undangan sudah aku sebar terutama untuk orang terdekat."
Hening, Vino tidak segera menjawab. Tarikan napasnya berat, sepertinya dia tidak suka mendengar jawaban perempuan di sisinya itu.
"Mengapa, Mas? Aku melihat kamu tidak antusias dengan persiapan pernikahan kita akhir-akhir ini." tanya Diandra gelisah.
"Maafkan aku, Di. Sepertinya..., Aku tidak bisa melupakan Indah"aku Vino jujur
"Aku tidak mampu menghapus bayangan Indah dalam hatiku, maaf kan Aku...."
"Cukup, Mas,jangan kamu teruskan lagi,kamu tau kan apa yang akan terjadi jika kita tidak jadi menikah,harga diri ibu mu yang kamu pertaruhan mas" teriak Diandra, matanya tak terasa memerah
"Lalu apa artinya cinta kita, kenangan kita dan semua perjuangan yang telah kita lakukan untuk hubungan ini?"
Vino hanya terdiam, dia tak berniat meladeni Diandra berdebat malam ini
Bahkan hanya untuk mengusap air mata Diandra yang sudah membasahi pipinya pun Vino enggan
"Mari kita pulang Di, Sepertinya aku butuh waktu untuk sepenuhnya mencintaimu seperti dulu."
"Mas? "
"Aku ingin, engkau sedikit berubah, agar aku tidak menyesal telah memilihmu dan mencampakkan Indah istri ku"tekan Vino membuat Diandra bertambah kesal
Diandra mengepalkan tangan nya, dia cemburu jika banding kan dengan Indah perempuan yang jelas-jelas jauh dari nya,dulu Vino sangat memuja dirinya tapi kenapa saat dia kembali lagi Vino malah meminta nya untuk berubah,ini lah dia apa ada nya, Diandra sudah terbiasa di sanjung dan di puja para pria
Setelah membayar pesanannya, tanpa basa-basi Vino bangkit berjalan menuju arah mobil yang diparkir tidak jauh
Awas kau Indah, aku tidak terbiasa kalah siapa pun. Akan kubuktikan, aku adalah perempuan yang paling sempurna dulu, kini dan nanti dan aku lah satu-satunya perempuan yang berhak memiliki Vino bukan kamu umpat Diandra dalam hati
Diandra menyibak rambut yang menutupi sebagian wajahnya, Selarik senyum licik, menyembul dari bibir perempuan cantik tersebut
__ADS_1
Tak butuh waktu lama mereka sampai di kost Diandra,dulu Diandra tinggal bersama paman dan bibi nya tapi kini dia memilih kost agar lebih nyaman dan bebas
"Ayolah, Mas masuk dulu yuk," bujuk Diandra saat Vino membuka kan pintu mobilnya
"Ayolah sayang, aku ingin sekali saja kau menghabiskan malam bersamaku." Bisik Diandra dengan suara yang terdengar menggoda membuat Vino tertegun dia lelaki normal apalagi sudah berapa lama Indah meninggalkan nya
"Tidak Di, aku pulang saja" Tolak Vino,dia masih menguasai dirinya tidak ingin berbuat zina
"Kamu jangan munafik, ketika seribu laki-laki rela berlutut di kakiku untuk mengemis cinta, penolakanmu sungguh tidak masuk akal mas, kamu tidak menginginkan kepuasan" tuding Diandra membuat Vino terdiam
Bicara kepuasan dia lah yang sudah menikah jadi dia tau kalau itu suatu kebutuhan, bagaimana mungkin perempuan yang masih berstatus gadis ini berbicara kepuasan apakan Diandra di luar sana sudah pernah bermain dengan lelaki lain pikir Vino
Mata Diandra mengancam, dia tidak terbiasa menerima penolakan.
"Sebentar lagi kita menikah, apa yang menghalangi mu untuk menyentuhku? " suara Diandra merendah mencoba merayu Vino, membuat tubuh Vino mudur dan terjajar ke sandaran mobil. Laki-laki itu berusaha menghindar, saat Diandra ingin meraih bibirnya
"Maafkan aku Di, kita tidak bisa melakukan hal seperti ini." jawab Vino
"Jangan munafik, jangan membuatku terhina karena kamu tidak mau melakukan *** dengan ku mas,jangan sebut nama ku Diandra jika tidak bisa membuat mu luluh dalam pelukanku."
Vino termenung, matanya nanar menatap bayangan perempuan yang selama ini hadir dalam setiap sujudnya, calon ibu anak-anaknya.
Rendah sekali, cara dia menggapai hatiku. Bisiknya kecewa.
"Tunggu, Di" Vino menepis tangan Diandra yang sudah memeluk tubuhnya,dia merasa risih di peluk wanita yang bukan muhrimnya saat ini karena Indah sudah membimbing nya banyak hal tentang agama, maklum saja wanita berhijab itu lebih mengetahui banyak hal tentang agama dari pada Vino
Diandra terlihat kecewa dengan sikap Vino yang tak mau menerima perlakuan nya
"Tatap mataku Di, sadar kita belum halal bertahun kita bersama seharusnya kamu mengerti siapa laki-laki yang berdiri dihadapan mu." suara Vino semakin dingin.
"Aku yang selalu ingin memilikimu, mengenangmu dan mencintaimu tanpa syarat, tapi aku juga satu-satunya laki-laki yang tidak pernah berusaha menyentuhmu, "
Vino lagi-lagi menghembuskan napas kasar Sementara wajah Diandra memerah karena marah
"Aku memang mencintaimu pada pandangan pertama, tapi aku tidak bisa menyentuh dan memilikimu dengan cara yang hina, lepaskan aku,dan kita pikirkan lagi soal pernikahan kita "tegas Vino segera menjauh
"Siapa yang mengajarkanmu untuk berubah jadi laki-laki munafik? "tanya Diandra, suaranya meninggi karena Vino menjauh dari nya
"Indah, dia yang mengajarkanku bagaimana cara aku mencintai perempuan dengan mulia, Aku bahkan tidak pernah menyentuh tangannya sekalipun, sebelum ijab kabul dan dia mengajariku banyak hal tentang agama,tidak salah orang tua nya memberikan dia nama Indah karena memang perilaku nya seindah nama nya" jawab Vino, suaranya bergetar menahan deburan jiwanya? mengenang seorang Indah adalah salah satu terindah dalam hidupnya.
Diandra mendekat
Plak !!
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vino membuat lelaki tampan ini meringis
"Cukup sudah kau mengatakan secara tidak langsung kalau aku wanita murah. Pergilah, aku tidak suka kemunafikanmu Vin,,pergi....!!!," Bentak Diandra meninggalkan Vino yang mematung
Vino membiarkan Diandra pergi,dia sendiri tak habis pikir kenapa Diandra dengan mudah mengajak nya untuk berbuat dosa padahal hanya beberapa hari lagi menunggu resmi nya pernikahan mereka
Vino masuk kedalam mobil,kini justru bayangan Indah yang ada di ingatan nya
__ADS_1
"Indah sedang apakah dirimu kini? Aku semakin merindu" batin Vino yang terus menerobos dingin nya malam ini