
Seminggu berlalu Vino susah kembali pada aktivitas nya,Indah pun sudah mulai membaik dan tak ingin memikirkan Diandra lagi,jika memang itu anak Vino biarlah waktu yang menjawab nya dia tak ingin ambil pusing untuk itu,Indah ingin mengejar kebahagiaan nya saat ini
Siang ini Vino pulang kerumah dengan wajah sedikit lesu membuat Indah heran, apalagi masalah Vino,apa tentang Diandra lagi atau ibunya
" Kenapa mas?" tanya Indah mendekat pada suaminya
" Ndah percetakan mau di jual sama pak Amran, karena dia akan pindah ke Surabaya ikut anak kedua nya" ucap Vino lesu
" Kenapa harus di jual mas,kan pak Amran bisa mengambil uang tiap bulan nya dari percetakan sama kamu" ucap Indah
" Mas juga sudah jelas kan begitu Ndah tapi Pak Amran bilang dia tidak mau pusing lagi memikirkan soal uang karena dia sudah mulai sakit-sakitan anak nya yang pertama tidak bisa mengurus alasannya bukan bidang nya, bagaimana nasib mas Ndah" ucap Vino tertunduk lemas
" Ya sudah mas kalau begitu mau di apakan lagi mudah-mudahan yang membeli percetakan Pak Amran mau menerima kamu bekerja" hibur Indah
" Pasti ada yang mau menerima mas bekerja Ndah meskipun bukan percetakan itu tapi tidak ada seperti pak Amran yang memberikan kepercayaan penuh dan gaji besar,sudah pasti gaji nya 2 atau 3 juta saja atau bisa jadi kembali seperti anak baru sedangkan keperluan kita semakin membesar apalagi kamu sedang hamil" ujar Vino lesu
" Mas...jangan khawatir mas pernah dengar kan rezeki setiap anak itu ada jadi jangan mengeluh jika bukan dengan pak Amran rezeki kita mungkin pada orang lain yang penting mas bekerja dan semangat semoga saja ada berita baik setelah ini" jawab Indah tersenyum
Indah memang perempuan Sholeha yang selalu memberikan ketenangan pada Vino tidak seperti Diandra yang selalu mencak-mencak pada nya,Andai saja dulu Vino tidak menuruti hawa nafsu nya mungkin tabungan nya bisa untuk sekedar membuka percetakan kecil meskipun harus merintis nama Vino cukup di kenal kalangan pejabat yang sering menggunakan jasa nya tapi kini tabungan itu sudah amblas bersama cinta nya yang ikut amblas pada Diandra
__ADS_1
" Mas mikirin apa lagi?" tanya Indah menyodorkan kopi hitam pada Vino
" Ndah gimana kalau mas tidak bisa memenuhi semua kebutuhan mu dan anak kita nanti?" tanya Vino
" Mas, Indah kan masih ada gaji dari mengajar meskipun tak seberapa Indah bisa lah menyisihkan untuk makan kita, untuk urusan hutang piutang mas bayar dulu pake gaji mas" jawab Indah
" Tapi mas malu Ndah sama kamu, sama ibu" kekeh Vino
" Kenapa harus malu mas,kita itu suami istri susah senang di tanggung bersama,yang penting kejadian lalu jangan di ulang kembali" ingat Indah membuat Vino tersenyum kikuk
Vino memeluk tubuh Indah erat " Maaf kan mas sayang,kamu memang perempuan berhati bidadari,kamu pantas menjadi penghuni surga nanti nya,kamu selalu bisa menenangkan hati dan pikiran mas" puji Vino membuat Indah mengulum senyum nya
" hmmmm...emmm" Bu Ida yang hendak kebelakang tak sengaja melihat kemesraan anak dan menantunya ini membuat Vino melepaskan pelukan nya, pasangan ini memang tak biasa mengumbar kemesraan pada orang lain
" Mas sih nggak lihat tempat" ucap Indah pelan dia juga malu kepergok ibu nya
" Refleks Ndah" sahut Vino tertunduk
Bu Ida tersenyum melihat Indah dan Vino yang sudah kembali mesra,dia juga bersyukur Indah tidak mempermasalahkan Diandra yang mengaku hamil anak Vino
__ADS_1
****
Vino sedang duduk menikmati segelas kopi panas buatan Indah di teras rumah sang mertua,Vino sudah beberapa kali membujuk Indah untuk pulang kerumah mereka tapi Indah belum mau karena banyak yang di takutkan Indah, kedatangan sang mertua dan Diandra secara tiba-tiba bisa saja terjadi sedangkan dia sedang hamil bukan nya Indah su'uzon tapi dia harus menyelamatkan kandungan nya sampai benar-benar kuat kini Indah masih memasuki usia kehamilan sembilan Minggu masih panjang perjalanan nya untuk bisa bertemu bush hati mereka
" Kalau pemilik baru tidak mau menerima ku bekerja aku harus mencari percetakan lain" batin Vino yang masih memikirkan pekerjaan tidak mungkin dia hanya ongkang-ongkang kaki di rumah tanpa memberikan Indah nafkah karena rumah harus di bayar kredit motor nya juga, meskipun Indah sudah bilang tak perlu memikirkan makan tapi Vino bukan lelaki parasit yang sudah menanam benih tanpa tanggung jawab,anak mereka akan lahir butuh susu,pempers dan sebagainya,Vino harus memutar otak untuk itu
" Mas,, tidur yuk sudah malam" ajak Indah
Vino segera meneguk kopi hitam nya itu dan masuk kedalam rumah di ikuti Indah yang membawa gelas kotor ke belakang setelah nya masuk kedalam kamar
" Sayang,kamu benar nggak mau kita pulang?" tanya Vino
" Mas kenapa nanya itu mulu sih,mas nggak suka tinggal di sini? atau mas ngerasa nggak nyaman" ucap Indah
" Bukan...bukan itu mas nggak enak sama ibu,gimana kalau nanti pemilik percetakan yang baru nggak mau nerima mas sudah pasti mas harus mencari pekerjaan baru dan otomatis ada hari nya menjadi pengangguran,gimana tanggapan ibu Ndah"
" Mas....ibu itu tidak sejahat yang mas kira,dia akan menerima apapun keadaan menantu nya asal jangan mengulangi kesalahan yang pernah mas perbuat karena itu sakit mas" ucap Indah pelan bukan bermaksud mengingat hal lalu tapi Indah hanya ingin Vino tau kalau perbuatan nya tempo hari bukan saja menyakiti dirinya tapi juga keluarga nya
" Ya..mas tau sayang mas benar-benar minta maaf untuk itu ,mas janji akan jujur dan setia pada kamu sampai maut memisahkan kita" ucap Vino menggenggam tangan Indah dan mencium nya, terlihat jelas dari sorot mata nya penyesalan atas kejadian lalu meskipun Diandra tak datang lagi sejak kejadian itu tapi Vino masih bisa melihat kekecewaan Indah jika mengingat kejadian dulu
__ADS_1
" Ayo tidur mas,Indah ngantuk besok harus mengajar pagi" ucap Indah menarik selimut dan merapatkan tubuh nya pada Vino,sejak hamil Indah ingin Vino peluk saat tidur