Mencintai Saat Menunggu Perceraian

Mencintai Saat Menunggu Perceraian
bertemu


__ADS_3

Tidak terasa waktu pun berlalu rumah tangga Vino dan Indah sudah adem-ayem ntah kemana Diandra saat ini tak lagi terdengar oleh Vino maupun Indah, sedangkan ibu Vino sendiri juga tak ada kabar berita nya.


" Mas,kamu ada memberikan ibu kabar?" tanya Indah sambil membawa kan segelas kopi ke teras luar, perut perempuan berhijab ini sudah membuncit


" Mas menghubungi ayah seminggu yang lalu,kata beliau ibu masih marah" jawab Vino


" Temui mas,tidak baik mendiamkan orang tua"


" Biarkan saya sayang sudah dua bulan mas tidak mengirimkan ibu uang jika dia butuh pasti akan datang" jelas Vino


" Kenapa mas tidak mengirimkan ibu uang,bukan nya Indah tidak pernah melarang mas untuk memberikan uang?"


" Sayang mas harus mencicil hutang pada pak Amran,hutang itu wajib di bayar yang kamu pasti tau"


" Ya, setidaknya berikan ibu uang 500 ribu mas, agar dia bisa membeli yang dia inginkan"


"Beberapa bulan ini pak Amran memberikan mas gaji 5 juta di potong cicilan hutang satu juta,mas bayar rumah dan motor ,air, listrik di rumah kita lalu untuk pegangan mas! sedangkan mas memberikan mu uang hanya satu juta ntah itu cukup atau tidak mas sendiri merasa malu sayang kamu butuh asupan makanan bergizi karena sedang hamil tidak mungkin kamu hanya makan nasi pakai garam, kebutuhan mu saja mas yakin itu tidak cukup bagaimana mas harus memberikan uang pada ibu" Terang Vino panjang lebar


" Mas berikan saja setengah nya pada ibu,Indah masih ada uang pegangan dari mengajar,ibu juga tanggung jawab mu mas"


" Tapi-"


" Sudah, insyaallah Indah cukup" potong Indah cepat


Orang yang bersyukur pasti akan selalu mendapat kan keberkahan, apalagi orang yang memuliakan orang tua.


" Mas pernah dengar riwayat dari Aisyah radhiyallahu anha, Beliau bertanya kepada Rasulullah SAW


"Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?" Rasulullah menjawab "Suaminya (apabila sudah menikah)". Aisyah bertanya lagi "Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?" Rasulullah menjawab "Ibunya" (HR. Muslim) Jika seorang istri melarang suaminya memberikan nafkah kepada orangtuanya, maka suami istri tersebut bisa dikatakan berdosa Namun apabila seorang istri turut merelakan sedikit rezeki suami untuk ibunya, maka insyaAllah, Allah SWT akan menambah rezeki dari suaminya"

__ADS_1


" Tapi hal itu berlaku disaat kebutuhan nafkah keluarganya sudah tercukupi Ndah" kekeh Vino


" Insyaallah Indah cukup mas" jawab Indah tulus


Sudah beberapa bulan ini pak Amran mentransfer uang di rekening Indah dengan jumlah besar setelah pembayaran para karyawan lain tanpa sepengetahuan Vino


Vino menghela nafas panjang dia merasa Indah sangat lah baik, apapun yang sudah di lakukan ibu nya tak membuat Indah dendam, perempuan ini layak nya seperti malaikat yang berhati mulia


***


Pagi ini Vino dan Indah berjalan menelusuri minimarket untuk mencari keperluan bulanan mereka,


" Sayang susu nya masih ada?" tanya Vino


" Masih mas, Indah suka susah minum susu karena bau amis nya" jawab Indah


" Cari yang rasa lain saja yang, strowbery atau jeruk biar nggak mual, kasihan dedek nya kalau nggak minum susu,mas Ambil rasa strawbery ya" tawar Vino


Saat Indah dan Vino asik belanja terdengar suara ribut-ribut dari ujung mini market


" Pelacur,, pelakor.... nggak punya malu kamu ya, enak-enak an nguras uang suami saya" pekik seorang perempuan


" Plak...." tamparan keras mengenai pipi wanita yang sedang hamil besar tersebut


" Ma..sudah malu"


" Apa nya yang malu,kamu seharusnya yang malu sudah punya istri dan anak masih doyan main perempuan,aku nggak yakin ini anak kamu pa, karena dia ini pelacur!" pekik ibu tersebut


Banyak pasang mata yang menatap perempuan itu jijik meskipun dia menangis sambil memegang perut nya tapi tak ada yang mengasihani nya

__ADS_1


" Kenapa mas?" tanya Indah


" Nggak tau yang" jawab Vino menuntun Indah dia tidak mau terjadi apa-apa pada Indah tapi karena penasaran Indah terus mendekat


" Mbak Diandra" gumam nya pelan tapi masih di dengar oleh ibu yang sedang mengamuk tersebut


" Mbak kenal dengan pelakor ini,atau mbak keluarga nya! tolong di rukiyah dia mbak biar nggak ganggu suami orang, keluarin setan di dalam tubuh nya, ini perempuan sudah mengganggu suami saya Mbak,dia sudah beberapa kali tidur dengan suami saya!"


" Ma,sudah! ayo pulang" bentak si lelaki malu karena makin banyak yang memperhatikan mereka


" Kenapa kamu takut aku buat dia malu pa!! iya kamu takut" sergak perempuan itu


" Kalau kamu tidak mau pulang papa pulang sendiri" lelaki itu segera pergi meninggalkan istri nya yang masih mengamuk di mini market


" Sekali lagi kamu hubungi suami saya,saya pasti kan nyawa mu hilang" ancam ibu itu lalu pergi


" Aw....sakit" ringis Diandra memegang perut nya


" Mbak kenapa??" tanya Indah panik


" Nggak usah di tolong Mbak dia pelakor" ujar ibu-ibu yang berada di sana


" Yang ayo pulang" ajak Vino dia tidak mau lagi berurusan dengan Diandra, cukup sudah Fitnah yang di layangkan Diandra dulu pada nya membuat Vino hampir stress harus berpisah dari Indah


" Mas,,Mbak Diandra butuh bantuan"


" Bukan urusan kita yang kamu dengar sendiri kan tapi kalau dia ini pelakor,di sini banyak orang tapi tak ada yang mau membantu"


" Sakit....." rintih Diandra merasakan sakit di perut nya

__ADS_1


Indah bingung di sisi lain dia harus mengikuti ucapan suami nya tapi naluri seorang wanita tak kan mungkin meninggalkan Diandra dalam keadaan begini bagaimana jika itu terjadi pada dirinya,sakit di saat keluarga tak ada pasti sangat sedih..


__ADS_2