
Ben membawa mobilnya berputar-putar, dia benar-benar bermain karena mobil taksi yang mengikuti mereka tidak juga menyerah. Justin melihat kebelakang sesekali, jujur dia penasaran dan ingin melihat siapa yang mengikuti mereka saat ini.
Sepertinya dia harus membuat sebuah rencana, bisa saja orang itu terus mengikuti mereka dan tidak menyerah. Tapi siapa pun yang ada di belakang sana, dia pasti akan menyesal.
Di dalam mobil taksi, Sarah mengumpat. kenapa mobil Justin hanya berputar-putar saja?
Justin memainkan jari di dagu, sebuah ide muncul di kepalanya. Dia pasti bisa melihat siapa yang mengikuti mereka, jangan salahkan dia jika dia kelewatan nanti setelah tahu siapa yang ada di mobil taksi itu.
"Ben, ayo kita buat rencana. Aku ingin lihat siapa yang mengikuti kita," ucap Justin.
"Aku tebak pasti yang ada di dalam taksi itu adalah salah satu penggemar gilamu!" jawab Ben.
"Kau tahu dari mana?"
"Hei, aku merasa dia salah satu penggemarmu. Kau pria lajang dan memiliki kekuasaan, siapa yang tidak mau mengejarmu?" jawab Ben seraya memutar stir mobilnya ke kanan untuk menghindari mobil truk yang ada di depan mereka.
"Tidak semua, Ben. Buktinya Abigail tidak mengejarku!"
"Oke baiklah, kecuali gadis gemuk itu!" ucap Ben.
"Ben, sekali lagi kau memanggilnya gadis gemuk maka aku akan membiarkan bibirmu menari dengan puluhan ular cobra!" ancam Justin sambil menatap Ben dengan tajam.
"****! Kenapa ancamanmu selalu menakutkan?"
"Mau coba?" tanya justin sambil menyeringai.
"Tidak! Jangan sampai bibirku lebih maju dari mulut bebek!" tolak Ben, sedangkan Justin terkekeh.
"Jika begitu, kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
"Serahkan padaku!" Ben membawa mobilnya dan berbelok ke sebuah jalan. Sarah memerintahkan taksi yang dia tumpangi untuk mengikuti mobil mereka, dia tidak boleh kehilangan mereka karena dia tidak mau gagal.
Taksi masih mengejar, Ben benar-benar mempermainkan mereka. Dia membawa mobilnya dengan cepat sampai membuat Sarah mengumpat karena mereka kehilangan jejak.
"Mana mereka?" tanya Sarah pada si supir taksi.
__ADS_1
"Tidak tahu, Nona!" jawab si supir.
"Tidak tahu bagaimana?" Sarah membuka kaca jendela mobil dan melihat keluar, dia tidak tahu jika mobil yang dibawa oleh Ben berada tidak jauh dari mobilnya.
Sarah melihat sana sini, mencari mobil yang dibawa oleh Ben di antara mobil yang ada di sekitarnya. Dia yakin mobil itu tidak pergi jauh karena jalanan tampak padat tapi sayangnya itu hanya trik agar Justin bisa melihat siapa yang mengejar mereka.
"Sarah!" ucap Justin ketika melihat Sarah yang berada di taksi itu.
"Wow, aku tidak menyangka jika yang mengikuti kita si cantik itu. Aku rasa dia menyukaimu, Justin."
"Aku tidak!" jawab Justin dengan cepat.
"Baiklah, dasar aneh! Jadi apa yang akan kau lakukan?"
Justin belum menjawab, dia tampak berpikir. Sepertinya dia tahu kenapa Sarah mengikutinya, wanita itu pasti ingin tahu tentang dirinya.
"Ben," Justin memandanginya sambil tersenyum.
"Sial! Senyumanmu membuat perasaanku tidak nyaman!" ucap Ben.
"Hei, mau apa kau berhenti di sana?"
"Sepedaku ada di sana."
"Seriously?" Ben memandangi sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Yes, aku memang memarkir sepedaku di beberapa toko roti jadi aku akan naik sepeda nanti, sedangkan kau harus mencari rumah di dekat stasiun yang ada di Broklyn."
"Hei, apa kau serius dengan ucapanmu?" Ben kembali memandangi sahabatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Yes, aku serius Ben. Cari rumah yang paling jelek, kau punya banyak waktu selama aku menuju ke sana dengan sepedaku!"
"Oh my God, kau benar-benar aneh dan gila!" ucap Ben sambil menggeleng.
"Lakukan saja jika tidak ingin ke Amazon atau Afrika!"
__ADS_1
"Ck, kau benar-benar sudah gila!" Ben membawa mobilnya agar Sarah bisa melihat keberadaan mereka.
"Itu dia!" teriak Sarah sambil menunjuk mobil yang dibawa oleh Ben. Sudah dia duga mereka tidak akan bisa jauh karena jalanan yang padat.
Sesuai dengan perintah, Ben berbelok saat ada jalan lain. Sarah juga meminta supir taksi melakukan hal yang sama. Dia sangat senang, hari ini dia pasti tahu di mana Justin tinggal. Sarah semakin bersemangat tapi sayangnya mobil yang dibawa oleh Ben berhenti di toko roti yang ada di ujung jalan.
Sarah tampak mengernyitkan dahi apalagi ketika Jutsin keluar dari mobil. Apa yang dilakukan oleh Justin? Sarah meminta supir taksi untuk menghentikan mobilnya agak jauh, jangan sampai ketahuan tapi dia tidak tahu jika aksinya sudah ketahuan.
"Hei, serius dengan rencana ini?" tanya Ben saat Justin belum menutup pintu mobil.
"Yes, jangan lupa cari peran pembantu."
"Apa? Peran pembantu apa?" tanya Ben tidak mengerti.
"Yes, semakin gemuk semakin baik!" jawab Justin seraya menutup pintu mobil.
"Apa? Hei!" Ben ingin protes tapi Justin sudah berjalan menuju parkiran sepeda yang ada tidak jauh dari toko roti.
Ben menggeleng, di mana dia harus mencari gadis gemuk? Ck, dia benar-benar dalam masalah. Tidak saja harus mencari rumah jelek dalam waktu singkat tapi dia juga harus mencari seorang wanita gemuk.
Ben menjalankan mobilnya, sedangkan Justin menaiki sepedanya dengan santai. Mulut Sarah mengangga, apa dia tidak salah lihat?
"Nona, apa sudah tidak perlu mengikuti mobil itu lagi?" tanya si supir taksi.
"Tidak, tapi ikuti yang naik sepeda!" ucap Sarah sambil memijit pelipis.
Sang supir mengangguk, mobil belum juga jalan karena Justin membawa sepedanya dengan pelan. Pria itu bagaikan orang tidak punya beban, dia menggowes sepedanya dengan santai sambil membunyikan bel yang ada di sepeda sesekali.
Sarah melihat argo taksi dan tampak frsutasi. Kenapa Justin tiba-tiba naik sepeda? Entah kenapa dia merasa Justin sengaja melakukannya. Pasti ada yang disembunyikan oleh Justin, dia jadi semakin ingin tahu dan penasaran akan hal itu.
Apa sebaiknya dia juga menyewa sebuah sepeda dan mengikuti Justin secara diam-diam? Tapi sebaiknya jangan, bagaimana jika ada temannya yang melihat? Jangan sampai hal itu terjadi karena dia tidak mau reputasinya hancur.
Sarah kembali memerintah taksi untuk jalan karena Justin sudah lumayan jauh tapi mobil tidak bisa melaju cepat karena Justin membawa sepeda itu sesantai mungkin. Dia harus memberikan Ben waktu untuk mendapatkan apa yang dia perintahkan.
Saat itu Ben tampak frustasi, di mana dia harus mencari wanita gemuk? Cari rumah dulu atau cari wanita gemuk terlebih dahulu? Sebaiknya dia mencari rumah terlebih dahulu dan isi super size-nya belakangan.
__ADS_1
Di mobil, Sarah terlihat cemberut dan kesal sambil melihat Justin yang menggowes sepedanya dengan santai. Sudah sejauh ini, apa dia harus menyerah? Justin sengaja berlama-lama, siapa suruh mengikutinya? Tapi dia akan cepat setelah Ben mendapatkan apa yang dia perintahkan, dia yakin setelah ini Sarah tidak akan penasaran lagi dengannya.