Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 43


__ADS_3

Abigail sedang menunggu Justin menjemputnya saat itu. Justin memang selalu menjemputnya setiap hari bahkan mengantarnya pulang setelah dari tempat fitnes. Sesungguhnya dia sudah menolak karena tidak enak hati tapi Justin tidak mempermasalahkannya.


Lagi pula dia melakukan hal itu untuk gadis yang dia sukai, dia ingin Abi melihat dan percaya jika dia serius pada gadis itu melalui tindakan dan juga perbuatan yang dia lakukan. Justin sangat berharap, dengan semua yang telah dia lakukan, Abigail bisa melihat jika dia tidak sama seperti Harold.


Abigail sudah memikirkan hal itu belakangan ini, tentunya setelah mendengar nasehat dari ayah dan ibunya. Dia tahu Justin melakukan semua itu dengan tulus, sepertinya tidak ada salahnya mulai membuka hati walau sesungguhnya dia masih takut untuk menjalin hubungan lagi.


Suara pintu yang diketuk terdengar, Abi tersenyum karena dia tahu itu pasti Justin. Gadis itu berjalan menuju pintu, dia bahkan membuka pintu dengan begitu bersemangat tapi ketika melihat Ben yang berdiri di depan pintu, Abi merasa sedikit kecewa.


"Hai, Justin meminta aku menjemputmu," ucap Ben.


"Oh, oke," jawab Abigail. Dia melangkah masuk untuk mengambil tasnya.


"Mom, aku pergi dulu," teriak Abi dan suara ibunya terdengar dari dalam.


Abi keluar dari rumah, mengikuti langkah Ben. Dia sangat ingin tahu kenapa Justin tidak datang dan akan dia tanyakan nanti setelah berada di dalam mobil.


Abigail duduk di belakang, matanya menatap jalanan. Ini pertama kali dia bersama Ben dan rasanya agak aneh. Mungkin dia sudah terbiasa bersama Justin, mungkin dia sudah merasa nyaman bersama dengan pria itu, itu sebabnya dia merasa aneh saat bersama dengan Ben.


Ben mulai membawa mobilnya, dia menunggu Abi bertanya. Dia tahu gadis itu pasti ingin tahu, tapi dia tidak mau memulai terlebih dahulu.


Abi terlihat gelisah, dia melihat ke arah Ben sesekali. Dia sangat ingin bertanya tapi rasanya sangat canggung. Entah kenapa dia jadi takut, apa Justin sudah bosan menjeputnya?


"Hm, a-apa Justin sibuk?" Abi mulai bertanya.


"Tidak," jawab Ben singkat.


"Lalu? Apa dia sudah bosan menjemputku?"


"Setahuku dia tidak akan pernah bosan melakukan apa pun untukmu."


Abi menunduk dengan wajah merona, dia tahu akan hal itu. Dia tahu Justin tidak keberatan melakukan apa pun untuknya.


"Jadi, apa dia sakit?"


"Yes," Ben tampak lega, akhirnya.


"Sakit apa? Apakah parah?" Abi terlihat khawatir.

__ADS_1


"Seperti yang kau tahu Nona, badannya panas dingin, dia bahkan memanggil namamu beberapa kali. Aku sangat ingin menjaganya tapi pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan. Kedua orangtuanya sedang di luar negeri, tidak ada yang menjaganya di rumah. Setelah aku mengantarmu, aku akan membelikan obat dan meninggalkannya sendirian. Mungkin dia akan kesulitan, makan, ganti baju karena tidak ada yang menjaganya di rumah. Ck, semoga saja dia bisa melewati hari yang berat dan masih hidup sampai besok," ucap Ben asal sambil melihat ke arah Abi dari spion mobil.


"Oh my God, apakah penyakitnya begitu parah?" Abi terlihat begitu khawatir. Apa Justin tidak bisa bertahan?


"Dia sedang sekarat tapi dia akan baik-baik saja jika ada yang merawat dan menjaganya."


"A-Apa begitu parah?" Abi terlihat ketakutan.


"Ya, dia bahkan tidak bisa bangun dari tidurnya."


"Jika begitu antar aku ke rumahnya. Aku tidak jadi gym karena aku yang akan merawatnya," Abi semakin terlihat khawatir. Apa Justin mengidap penyakit mematikan?


"Dengan senang hati, Nona," Ben tersenyum lebar sambil memutar stir mobil, akhirnya obat mujarabnya sudah di dapat.


Abi terlihat khawatir, dia akan melakukan apa pun untuk Justin karena Justin sudah melakukan banyak hal untuknya.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di rumah Justin. Sebelum turun, Ben memberikan sesuatu pada Abigail.


"Ini obat untuknya, tolong berikan padanya karena keadaannya sudah tidak memungkinkan dan jangan tinggalkan dia sendirian!" pinta Ben.


Abi mengernyitkan dahi, bukankah tadi Ben berkata dia akan membeli obat? Tapi biarlah, sebaiknya dia segera melihat keadaan Justin.


"Justin," Abi memanggil saat gadis itu membuka pintu tapi hanya sepi yang dia dapat. Tidak ada siapa pun bahkan pelayan pun tidak terlihat.


"Justin," Abi kembali memanggil. Ternyata Ben benar, tidak ada siapa pun di sana.


Tas yang dia bawa diletakkan, Abi melangkah menuju kamar Justin dengan perlahan. Gadis itu tampak ragu setelah berdiri di depan pintu kamar, dia seperti itu karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan tapi jika mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Justin, dia rasa sekarang gilirannya melakukan sesuatu yang berguna untuk Justin.


Tanpa mengetuk lagi, Abi membuka pintu. Justin sedang tidur saat itu, itu karena sakit kepala yang dia rasakan. Abi menutup pintu dengan perlahan dan menghampiri Justin, tentu dengan obat yang diberikan oleh Ben di tangan.


"Ju-Justin, obatmu," Abi berusaha memanggil karena dia tidak tahu harus melakukan apa.


Justin terkejut mendengar suara Abi tapi dia diam saja, apa Ben yang meminta gadis itu datang?


Abigail memberanikan diri, naik ke atas ranjang dan mendekati Justin. Tangannya sudah berada di dahi Justin untuk mengetahui suhu tubuhnya.


"Abigail?" Justin membuka mata, pura-pura terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Ben bilang kau sakit parah dan sedang sekarat."


"Seperti yang kau lihat," ucap Justin.


"Jika begitu aku akan merawatmu," ucap Abi seraya menarik tangannya dan beringsut menjauh.


"Kau melakukan hal ini apa kau mengkhawatirkan aku, Abigail?"


"A-Apa tidak boleh?" Abi menunduk dengan wajah memerah.


"Tentu saja boleh, aku senang kau ada di sini jadi kemarilah!" Justin menepuk sisi ranjang, dia ingin Abigail berbaring bersama dengannya.


Abi memandanginya dan terlihat ragu tapi kemudian gadis itu mendekati Justin dan berbaring di sisinya. Jantungnya berdebar, dia tampak begitu canggung apalagi tangan Justin melingkar di tubuhnya.


"O-Obatmu," ucapnya.


"Sudah aku dapatkan," ucap Justin seraya mencium dahinya.


Ternyata Ben tahu apa yang dia inginkan, entah apa yang Ben katakan sampai Abi mau datang tapi dia akan mendapatkan bonusnya nanti.


"Ben bilang keadaanmu tidak memungkinkan dan sekarat, tapi kenapa kau terlihat baik-baik saja?" tanya Abigail heran.


"Jangan dengarkan dia, Ben pasti asal bicara!"


"Jika begitu aku?"


"Temani aku, Abigail," sela Justin.


"Temani aku tidur, aku membutuhkanmu. Kau tidak keberatan, bukan?"


Abi menggigit bibir, dia berpikir sejenak lalu dia menjawab, "Tidak, aku tidak keberatan."


"Thanks," Justin memeluknya dengan erat. Dia harus berterima kasih pada kepalanya yang sakit dan pada Ben yang sudah menipu Abigail sehingga dia mau datang.


Abi diam saja dengan jantung berdebar, dia bahkan memberanikan diri untuk memeluk Justin dan tentunya hal itu membuat Justin senang. Dia jadi ingin tahu, apakah sudah ada cinta di hati Abigail untuknya?


Akan dia cari tahu nanti karena saat ini dia ingin mereka seperti itu. Dia tidak mau merusak kebersamaan mereka yang seperti itu.

__ADS_1


Abi memejamkan mata, saat Justin semakin memeluknya. Dia bahkan diam saja saat Justin mencium dahinya kembali dan dia bersyukur dalam hati karena dia sudah kurus jika tidak, tangan Justin tidak akan muat memeluk tubuhnya yang berlemak.


__ADS_2