Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 47


__ADS_3

Hari itu, Harold terlihat pusing. Bagaimana tidak, saham perusahaannya semakin terjun bebas. Kepalanya sakit setiap hari memikirkan nasib perusahaan. Jika dia pulang, hanya omelan yang dia dapat dari kedua orangtuanya tapi jika dia ke kantor, kepalanya sakit melihat nasib perusahaannya yang sedang di ambang kehancuran.


Entah apa yang terjadi, dia bagai orang linglung. Semula perusahaan itu baik-baik saja tapi dalam sekejap mata dan tanpa dia sadari, perusahaan itu sudah berada di ambang kehancuran bahkan beberapa pegawai terpaksa di berhentikan.


Harold mengusap wajahnya dengan kasar, bahkan umpatannya terdengar. Sebaiknya dia menghubungi perusahaan Wycliff kembali dan membuat jadwal untuk bertemu. Hanya perusahaan itu satu-satunya harapan yang dia punya. Dia harap dia memiliki peluang untuk menyelamatkan perusahaannya yang tinggal menunggu hari.


Ponsel sudah berada di tangan, bahkan sudah terdengar suara Ben saat itu. Harold kembali bersemangat, semoga kali ini tidak sia-sia.


"Wycliff corporation," Ben pura-pura, sesungguhnya dia sudah tahu siapa yang menghubungi.


"Aku Harold, apa aku bisa membuat jadwal untuk bertemu dengan Tuan Wycliff?"


Ben melirik ke arah Justin sejenak dan setelah itu dia menjawab, "Tentu saja tapi saat ini dia tidak berada di tempat," ucapnya.


"Hm, kapan dia kembali dan kapan aku bisa bertemu dengannya?" tanya Harold, dia harap bisa bertemu dengan pria itu secepat mungkin.


"Beberapa hari lagi dia kembali dan aku rasa dia akan menemuimu nanti," ucap Ben.


"Benarkah? Oh, aku sangat senang mendengarnya," Harold benar-benar senang, akhirnya ada harapan.


Ben hanya tersenyum dan menunjukkan jempolnya pada Justin, pria itu benar-benar masuk ke dalam perangkap. Setelah berbicara dengan Harold, Ben menghampiri Justin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entah kenapa dia jadi penasaran, apa yang dilakukan oleh Justin dan Abigail semalam?


"Dia sudah sangat ingin bertemu denganmu," ucap Ben.


"Biarkan saja, jangan lupa kirimkan undangan itu untuk mereka."


"Kau serius ingin mengundang mereka?" tanya Ben memastikan.


"Yes, mereka harus lihat nanti, siapa sebenarnya pecundang yang menyedihkan."


"Baiklah, aku mau jadi penonton nanti," ucap Ben. Rasanya tidak sabar melihat pertunjukannya, pasti seru.


Justin hanya tersenyum, dia juga sudah tidak sabar apalagi dia ingin memberikan kejutan untuk Abigail nanti.


"Hei, ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengan gadis itu semalam? Kalian pasti, hm ... Bukan?" tanya Ben dengan ekspresi ingin tahu.


"Tidak!"


"What? Apa kau serius?" tanya Ben dengan ekspresi tidak percaya.


"Hm," jawab Justin singkat seraya mengecek pekerjaannya.


"Oh ayolah, kenapa kau tidak melakukannya? Apa kepalamu masih sakit?"


"Aku tidak mau terburu-buru Ben, aku baru saja mendapatkan kepercayaan darinya dan aku tidak mau dia mengira aku mendekatinya dengan maksud tertentu. Jangan sampai Abi berpikir aku tidak beda jauh dengan mantannya itu."

__ADS_1


"Baiklah, kau benar. Jadi, apa kau akan menjemputnya nanti?"


"Tentu, jadi segera bereskan pekerjaan ini jika tidak bonusmu tidak akan keluar!"


"Aiyai, Kapten! Kali ini tidak boleh disita istriku!" ucap Ben.


Justin terkekeh, nanti siang dia memang akan menjemput Abigail tapi saat itu tanpa sepengetahuan siapa pun, Harold mendatangi rumah Abi karena dia ingin bertemu dengan Abi dan berbicara dengannya.


Ketika Harold datang, Abi berada di depan komputer karena dia sedang membuat surat lamaran. Abi berencana untuk kembali bekerja, sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan. Sudah saatnya membantu kedua orangtuanya dan membuat mereka bangga dan kali ini, dia tidak akan kembali menjadi Abigail yang dulu lagi.


Suara pintu terdengar diketuk dari luar, Abi tidak beranjak karena dia sedang serius. Lagi pula dia pikir ibunya akan membukakan pintu jadi dia cuek saja.


Suara pintu kembali terdengar, Abi melihat ibunya yang sedang sibuk di dapur.


"Mom, ada yang datang," teriaknya karena dia malas beranjak.


"Mommy sedang sibuk!" teriak ibunya.


"Ck!" Abi melihat jam, itu tidak mungkin Justin.


Mau tidak mau Abi beranjak menuju pintu padahal dia sedang serius. Daun pintu terbuka, mata Abi melotot dan wajahnya tampak tidak sedang ketika melihat Harold berdiri di depan pintu.


"Abigail," Harodl begitu senang melihatnya. Abigail benar-benar berubah drastis, dia terlihat semakin cantik dan seksi.


"Ini bukan rumah Sarah," ucap Abi, gadis itu hendak menutup pintu tapi Harold menahan dengan cepat.


"Aku tidak peduli!" jawab Abi dengan dingin.


"Abigail, aku tahu aku salah jadi maafkan aku."


Abi diam, tidak menjawab. Harold melangkah mendekatinya, dia harap Abigail mau memaafkan dirinya dan mau kembali padanya.


"Abi, aku sudah merenungkan kesalahan yang aku lakukan selama ini. Aku telah mengambil keputusan salah karena meninggalkan dirimu di acara pernikahan kita, aku benar-benar menyesal telah melakukan hal itu. Tidak seharusnya aku meninggalkan dirimu hanya karena bentuk badanmu. Maafkan aku Abigail, semua ucapan yang aku katakan tidak benar, aku sungguh menyesal telah meninggalkan dirimu dan menghina dirimu," ucap Harold.


Abi masih tidak bergeming, Harold semakin yakin jika dia bisa mendapatkan Abigail kembali.


"Kembalilah padaku, Abigail. Kita perbaiki hubungan kita dan kita lanjutkan kembali pernikahan kita yang tertunda."


"Lalu bagaimana dengan Sarah?" tanya Abi ingin tahu.


"Aku tidak serius dengannya. Sudah aku katakan padamu, aku dan Sarah tidak memiliki hubungan apa pun."


Abi tersenyum, sepertinya tidak ada salahnya menolak dan dia akan kembali dengan Harold dan menikah dengannya lalu autor akan ditimpuk sama pembaca 😂 yang ini Joke 😂.


"Tapi aku tidak mau kembali padamu lagi!" ucap Abigail dengan dingin.

__ADS_1


"Please, aku tahu aku salah. Tolong maafkan semua kesalahan yang aku lakukan," pinta Harold memohon.


"Tidak! Sebaiknya pergi karena aku tidak mau bertemu dan berbicara denganmu lagi!"


"Abigail, maafkan aku. Aku tahu aku salah!" Harold masih berusaha. Dibandingkan Sarah, Abigail jauh lebih baik saat ini dan dia ingin hubungan mereka kembali seperti dulu.


"Tidak! Dulu kau menghina aku dan jijik padaku, sekarang untuk apa kau meminta hal ini? Apa kau pikir aku gadis bodoh yang mau kembali lagi padamu? Apa kau pikir tidak ada pria lain lagi sehingga aku harus kembali padamu? Bukankah dulu kau bilang aku menjijikkan jadi jangan menjilat ludahmu sendiri!" Abi berusaha menutup pintu tapi Harold menahannya.


"Sudah aku katakan jika aku salah dan aku minta maaf," ucap Harold. Dia tidak akan menyerah.


"Pergi Harold, pergi!" teriak Abigail.


"Tidak, aku ingin memperbaiki hubungan kita," Harold masih berusaha mendorong, begitu juga Abigail. Dia benar-benar kesal dengan pria itu dan rasanya ingin dia pukul wajahnya.


Di saat Abi masih berusaha menahan pintu, sang ibu menepuk bahunya dan memintanya menyingkir. Sudah cukup dia jadi penonton, kekesalan memenuhi hati setelah mendengar pembicaraan mereka. Pintu terbuka, Harold terlihat lega tapi kali ini ibu Abigail yang keluar dengan sesuatu yang dia sembunyikan di belakang.


"Aunty," Harold tersenyum, begitu juga dengan ibu Abigail.


"Jadi kau ingin kembali dengan Abi?"


"Benar Aunty, aku tahu aku salah jadi aku minta maaf dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semunya," ucap Harold.


"Bagus jika kau sadar bahwa kau telah salah tapi jangan harap kau bisa kembali pada Abigail!" teriak ibu Abigail dan tanpa Harold duga, Byuuurrrrr!! Ibu Abi mengguyurnya menggunakan air dingin yang dia bawa sedari tadi.


Harold terkejut, langkahnya mundur ke kebelakang.


"Abigail, pergi ambil es batu. Kita akan melemparnya sampai puas jika dia tidak pergi dari sini!" perintah sang ibu.


"Oke, Mom!" Abi berlari masuk ke dalam.


"Aunty, aku masih mencintai Abigail dan aku ingin memperbaiki hubungan kami saja!" ucap Harold.


"Setelah kau tinggalkan dan kau hina, sekarang kau ingin dia kembali? Apa karena dia sudah berubah dan jadi cantik?"


"Tidak, Aunty!" sangkal Harold.


Saat itu Abi sudah kembali dengan es batu, tanpa banyak bicara, sang ibu meraih es batu dan melemparkannya ke arah Harold sambil mengusir.


"Pergi kau!" es batu kembali di lempar, sedangkan Harold lari, menghindari es yang dilemparkan.


"Abi, aku akan kembali!" teriak Harold.


"Jika kau berani datang lagi, aku akan melemparmu dengan batu!" teriak ibu Abi pula sambil melempar es batu ke arah Harold.


"Pakai ini, Mom!" Abi memberikan sebuah batu bata yang dia ambil di pot bunga.

__ADS_1


Harold lari menuju mobilnya. Sial, dia jadi bahan tertawaan beberapa orang yang lewat. Sepertinya dia harus waspada jika datang lagi karena dia tidak mau batu bata itu mengenai dirinya.


Abi masuk ke dalam dengan ibunya, sedangkan Harold pergi dengan perasaan kecewa. Semoga dia punya kesempatan bertemu dengan Abigail lagi karena dia sangat ingin memperbaiki hubungan mereka.


__ADS_2