
Abigail diam saja saat Justin membawanya masuk ke dalam rumahnya, dia sangat ingin bertanya tapi dia rasa ini bukan waktu yang tepat. Dia memang tidak tahu begitu banyak tentang Justin, yang dia tahu Justin sebagai instruktur fitnesnya, dia bahkan tahu Justin tinggal di dekat Stasiun karena pertanyaan Sarah waktu itu. Dia memang bukan orang yang suka banyak bertanya tapi sepertinya dia harus bertanya pada Justin nanti.
Justin membawa Abigail ke dalam sebuah kamar, dia ingin Abi mandi terlebih dahulu agar dia tidak sakit. Itu bukan kamarnya, dia tidak membawa Abi ke dalam kamarnya karena dia tidak mau Abi melihat foto dirinya yang tertempel di dinding.
"Justin," Abi tampak ragu.
"Pergilah mandi, aku akan cari sesuatu yang bisa kau gunakan," ucap Justin.
"Tapi?" jujur dia ragu, apa Justin punya pakaian besar yang bisa dia gunakan?
"Tidak perlu khawatir Abi, aku tidak akan melakukan apa pun, percayalah."
Abigail mengangguk, matanya sibuk melihat kamar. Justin berjalan menuju lemari, dia harap ada yang bisa digunakan oleh Abigail. Jangan sampai dia harus menjahit selimut untuk membungkus tubuh gadis itu. Isi lemari di acak, sebuah kimono dia dapatkan. Dia rasa Abi bisa menggunakannya karena ukurannya cukup besar.
"Kenapa kau belum mandi?" tanya Justin karena Abigail hanya diam saja.
"Aku mau pulang saja."
"Ck, di luar masih hujan. Pergi mandi dan pakai kimono ini, aku akan meminta seseorang membawakan pakaian untukmu."
Abigail mengangguk, entah kenapa dia jadi merasa Justin pria yang berkuasa. Sepertinya dia bukan pelatih fitnes, dia bisa menebak itu. Lebih baik dia mandi terlebih dahulu karena banyak yang ingin dia tanyakan pada Justin. Apa selama ini pria itu menipunya?
Abi berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Justin keluar dari kamar itu untuk membuat minuman hangat. Dia sengaja membawa Abi ke rumah pribadinya. Sudah saatnya Abi tahu siapa dirinya karena dia tidak mau menutupi hal itu dan membohongi Abi terlalu lama.
Selama Abi mandi, Justin membuat minuman hangat. Dia juga meminta seseorang membawakan pakaian yang bisa Abi kenakan. Setelah minuman hangat jadi, Justin kembali ke dalam kamar. Abi sudah selesai, gadis itu duduk di sisi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah tapi dia terlihat termenung, memikirkan banyak hal.
Justin mendekatinya dan duduk di sisinya, hari ini juga dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Abigail seperti itu.
"Minuman hangat untukmu," ucap Justin seraya memberikan minuman yang dia bawa pada Abigail.
"Thanks," Abi berusaha tersenyum, tapi dia tidak bisa menutupi kesedihan hatinya.
"Apa ini rumahmu?" Abi bertanya sambil memandangi Justin.
"Ya, ini rumah pribadiku."
"Tapi waktu itu kau bilang rumahmu dekat stasiun?"
__ADS_1
"Aku hanya asal bicara karena aku ingin membohongi Sarah."
"Kenapa?" Abi masih memandanginya dengan lekat.
"Karena aku tidak suka dengannya!"
Abi menunduk, pandangannya jatuh pada minuman hangat yang dibuatkan oleh Justin.
"Jadi, kau bukan pelatih fitnes, bukan?"
"kenapa kau bertanya demikian? Aku pelatih fitnesmu, setiap hari aku melatihmu dan aku menjadi pelatih fitnes hanya untuk dirimu saja!"
"Kenapa?" Abi kembali memandanginya, sedangkan Justin tersenyum.
"Mau tahu?" tanyanya.
Abi masih menatapnya lalu dia menggeleng. Sebaiknya dia tidak tahu.
"Justin, bagaimana kabar gadis yang kau sukai?" kali ini dia melihat Justin tanpa berkedip karena dia benar-benar ingin tahu apa yang Justin lihat saat menjawab pertanyaannya.
Wajah Abi memerah, ternyata benar tebakannya. Dialah yang dimaksud oleh Justin tapi entah kenapa dia tidak merasa senang sama sekali.
"A-Apa yang kau maksud adalah aku?" tanya Abi, kini dia menunduk.
"Menurutmu, Abigail? Apa ada yang lain selain kita di sini?"
"Kenapa?" Abi mengangkat kepalanya kembali, menatap Justin dengan lekat.
"Aku jelek Justin, kau bisa melihatnya. Harold bahkan jijik dengan bentuk tubuhku. Dia jijik setiap mengingat lemak yang ada di tubuhku, lalu kenapa kau menyukai aku? Masih banyak wanita cantik yang bisa kau sukai tapi kenapa harus aku?"
"Dari mana kau tahu jika dia jijik denganmu?" tanya Justin ingin tahu.
"Dia mengatakan hal ini dua kali, pertama ketika pernikahan kami batal, lalu?" Abi mencengkeram gelasnya, dia bahkan menggigit bibir berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.
"Ada apa? Katakan padaku, apa yang telah terjadi antara kau, Harold dan juga Sarah?" Rasa penasaran Justin semakin tinggi, dia benar-benar ingin tahu.
"Aku...," Abi sedikit ragu tapi dia butuh teman curhat agar kesedihan yang dia rasa berkurang.
__ADS_1
"Aku menganggap Sarah sebagai sahabat paling baikku, aku selalu menganggapnya seperti itu bahkan aku kira kami sudah seperti saudara tapi apa yang aku dapatkan? Aku tidak menyangka dia begitu licik dan hari ini mataku sudah terbuka lebar," tanya Abi inginkan, air matanya mengalir. Penghinaan Harold dan juga pengkhianatan Sarah benar-benar membuatnya sakit hati.
"Aku yang terlalu bodoh selama ini, aku begitu mempercayainya. Dia meminta aku datang dan mengatakan jika dia sedang sakit. Aku percaya begitu saja, bahkan aku meminta ibuku membuatkan sup untuknya tapi apa yang aku dapatkan?" Abi menangis terisak, tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.
Pengkhianatan itu, benar-benar menyakiti hatinya. Orang yang sangat dia percaya, bagaikan menikamnya dari belakang.
Justin diam, tapi tangannya tidak henti memberikan usapan lembut di punggung Abi. Bisa dia lihat, Abi tampak begitu kecewa dan sakit hati terhadap Sarah.
"Aku sungguh tidak menyangka, Sarah dan Harold menjalin hubungan di belakangku."
Justin terkejut, apa Abi melihat Sarah dan Harold sedang berduaan?
"Aku tidak keberatan, karena aku juga sudah tidak mencintai Harold. Aku hanya tidak terima atas penghinaan yang Harold berikan, Sarah bahkan sengaja memanggil aku datang dengan berpura-pura sakit agar aku melihat hubungan mereka dan mendengar penghinaan Harold pada diriku."
"Katakan padaku, apa yang dia katakan?" pinta Justin.
Abi memandanginya sejenak lalu dia kembali menunduk, "Aku menjijikkan, Justin. Bentuk tubuhku ini menjijikkan, lemak yang ada di setiap tubuh ini menjijikkan. Semua yang ada padaku menjijikkan!" ucapnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Ini memang kenyataannya?" Abi memandanginya sambil menangis.
"Benar yang Harold katakan, aku tidak pantas untuk pria bermartabat seperti dirinya."
Bermartabat? Hng, dia ingin lihat seberapa hebat dan bermartabatnya pria yang bernama Harold itu?
"Jangan menyukai aku, Justin. Aku tidak pantas untuk disukai oleh siapa pun. Aku menjijikkan, kau bisa lihat itu. Harold bahkan berkata jika dia jijik setiap kali dia mengingat ciuman yang telah kami lakukan. Dia jijik dengan bibirku yang berlemak ini jadi?" ucapan Abi terhenti karena tiba-tiba saja Justin mencium bibirnya.
Mata Abigail melotot, dia bahkan menahan napasnya. Tubuhnya terasa membeku, lidahnya bahkan kelu sehingga dia tidak bisa mengatakan apa pun.
Justin melepaskan bibirnya, pria itu memandanginya sambil tersenyum sedangkan Abi masih tidak bersuara.
"Aku mencium bibirmu dan aku tidak jijik," ucapnya.
Abi masih belum bergerak, matanya bahkan masih melotot karena dia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja Justin lakukan. Apa pria itu sudah gila?
Entah kenapa dia berharap dia pingsan saat itu juga dan begitu tersadar dia sudah berada di rumah. Tapi siapa yang mampu mengangkatnya?
__ADS_1