
Abi masih tidak bergeming, dia bahkan seperti patung. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, apa Justin sudah gila?
Lagi-lagi pertanyaan itu yang terpikirkan. Kenapa Justin menciumnya? Apa Justin melakukan hal itu untuk menghiburnya saja?
Justin memandanginya dengan ekspresi heran, kenapa Abi tiba-tiba seperti patung yang ada di air mancur?
"Hei, kenapa kau diam?" tanya Justin seraya menekan pipi Abigail menggunakan jarinya.
"Ke-Kenapa kau menciumku, Justin?" Abi menatapnya dengan tajam. Apa Justin sedang mempermainkan dirinya saat ini?
"Aku mencium gadis yang aku sukai, apa itu salah?"
"Ja-Jangan mempermainkan aku" Abi menunduk, apa begitu menyenangkan mempermainkan dirinya?
"Apa aku terlihat sedang mempermainkan dirimu, Abigail?"
Abi melihatnya sejenak, lalu dia kembali menunduk. Orang yang dia cintai begitu jijik dengannya, lalu bagaimana dengan Justin?
Apa mereka pikir begitu menarik mempermainkan dirinya dan menertawakannya dirinya? Dia masih ingat semua hinaan yang Harold berikan, dan dia rasa Justin tidak jauh beda dengan Harold.
"Aku mau pulang!" Abi memberikan gelas minuman yang belum dia sentuh sama sekali, dia hendak beranjak pergi tapi Justin menahan tangannya.
"Kenapa? Apa kau ragu padaku?"
"Bagiku, kalian sama saja!" jawab Abigail.
"Dulu Harold juga mencintai aku, begitu menyayangi aku tapi ternyata semua cinta dan kasih sayang yang dia tunjukkan hanya palsu belaka dan kau, aku rasa kau adalah Harold kedua. Jangan sampai menyesal seperti yang Harold rasakan saat ini dan sebaiknya tidak membuang waktu dan tenaga untuk menjalin hubungan denganku. Apa kau bersekongkol dengan Sarah untuk mempermainkan aku dan menertawakan aku?"
"Apa maksud ucapanmu?" Justin meletakkan gelas minuman ke atas meja dan bangkit berdiri.
__ADS_1
"Waktu reuni kau dan Sarah sedang berbincang berdua, kau pasti sudah mendengar kabar memalukan tentang diriku. Apa Sarah memintamu melakukan hal ini agar kalian bisa menertawakan aku?" air mata Abi mengalir, dia tidak bisa melihat yang mana yang tulus dan mana yang tidak karena rasa sakit hati yang dia rasakan.
"Jadi kau menganggap aku seperti itu?"
"Ya!" jawab Abi tanpa ragu.
"Harold juga dulu begitu mencintai aku, tidak mempermasalahkan bentuk badanku. Dia bilang mencintai aku dengan tulus tapi lihatlah, semua cinta yang dia ucapkan hanya kepalsuan belaka. Dia tidak mau datang ke pesta pernikahan kami padahal dia yang mengajak aku menikah! Dia menghina bentuk badanku dan jijik denganku, bagaimana aku bisa percaya dengan apa yang kau ucapkan?" Abi menghapus air matanya, seharusnya dia tidak meminta bantuan Justin.
Justin tidak mengatakan sepatah kata pun, dia tahu pengkhianatan yang Abi dapatkan membuatnya tidak bisa mempercayai cinta lagi dengan mudah. Mungkin apa yang akan dia ucapkan pada Abigail akan terdengar seperti sebuah omong kosong belaka dan dia tahu, Abi tidak akan percaya tapi dia tidak akan menyerah untuk membuktikan, jika dia serius menyukai Abi bahkan dia sudah menyukainya sejak lama.
"Lepaskan tanganku Justin, aku mau pulang," pinta Abigail.
"Tidak karena aku belum mengatakan apa pun!"
"Aku tidak mau mendengarnya," tolak Abi.
"Aku tahu kau akan menganggap ucapanku ini hanya omong kosong belaka tapi ijinkan aku mengatakan padamu jika aku sudah menyukaimu sejak lama."
"Abigail," Justin berjalan mendekati Abi dan berdiri di hadapannya tapi dia tidak melepaskan tangan Abi.
Justin memandangi wajahnya bahkan mengusap air mata Abigail yang masih mengalir. Abigail diam saja, matanya menatap Justin, sedangkan Justin tersenyum.
"Aku sudah menyukaimu sejak lama Abi, aku menyukaimu sebelum aku pindah. Aku menginginkan dirimu sejak lama dan aku tidak mempermasalahkan bentuk badanmu ini. Aku menjadi instruktur fitnesmu karena aku ingin kau berubah dan tidak mendapat hinaan lagi. Aku ingin kau percaya diri, aku merubahmu bukan karena aku ingin kau memiliki bentuk badan yang ideal lalu aku akan menyatakan perasaanku padamu dan memiliki pasangan yang seksi, tidak! Seharusnya kau sudah tahu siapa yang aku sukai dan aku serius."
Abi masih diam, bahkan dia membiarkan Justin memegangi kedua tangannya.
"Saat acara reuni aku bertanya pada Sarah kau datang atau tidak karena aku datang ke tempat itu untuk bertemu denganmu. Untuk apa bekerja sama dengan Sarah? Aku bahkan tidak suka dengannya. Kau memang sakit hati pada Harold tapi aku tidak seperti dirinya!" ucap Justin lagi.
"Aku tidak percaya!" ucap Abigail lagi.
__ADS_1
"Jika begitu ikut denganku!" Justin membawa Abi keluar dari kamar itu, dia akan tunjukkan pada Abigail jika dia benar-benar menyukai gadis itu sejak lama.
Kamar ada tujuannya, dia membawa Abi masuk tanpa ragu. Mata Abi melotot saat melihat foto dirinya terpampang jelas di dinding, itu foto lama dirinya tapi kenapa ada di sana?
"Kau lihat itu," Justin menunjuk foto Abi yang tidak jauh dari mereka.
"Aku menyukai gadis itu begitu lama, setiap aku mau tidur, aku memandanginya fotonya bahkan aku terkadang bermimpi bersama dengannya. Foto itu tidak hanya ada di sini, tapi ada di rumah ayah dan ibuku. Mereka tahu siapa yang aku sukai. Apa kau ingat chef yang ada di restoran waktu itu?"
Abi mengangguk, sedangkan Justin tersenyum.
"Dia ibuku, restoran itu milik ibuku. Dia datang ke sana untuk melihat dengan siapa aku makan malam. Dia tidak mempermasalahkannya walau kau gemuk, begitu juga dengan ayahku. Yang aku sukai kepribadianmu dan sifatmu Abi, bagiku bentuk badan bisa dirubah dengan mudah tapi gadis sepertimu, tidah mudah aku dapatkan!"
Abi diam seribu bahasa tapi matanya menatap ke arah Justin, pria itu terlihat begitu serius tapi dia takut untuk mempercayainya.
"Percayalah padaku, semua yang aku lakukan karena aku menyukaimu. Aku tidak suka ada yang menghina bentuk badanmu sebab itu aku menjadi instruktur fitnes dadakan untukmu. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan jika aku serius, aku tidak akan memaksa. Kita jalani seperti biasanya sampai berat badanmu berkurang. Pada saat kau sudah mendapatkan berat badan yang ideal, kau bisa memutuskannya dan jika kau masih ragu dan tidak percaya dengan perasaanku padamu maka kau bisa menolak aku, aku tidak keberatan. Bagaimana?"
Abi belum menjawab tapi kemudian anggukan pelan dia berikan, tentu hal itu membuat Justin senang. Walau Abi belum percaya dengannya tapi dia punya kesempatan untuk menunjukkan pada Abigail bahwa dia serius menyukai gadis itu.
"Mulai sekarang kau tidak perlu berteman dengan Sarah, dia bukan teman yang baik untukmu. Semua penghinaan yang Harold berikan padamu, aku yang akan membalasnya jadi tunggu saja. Mereka berdua akan membayar perbuatan yang telah mereka lakukan padamu."
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Abi dengan pelan.
"Kau akan tahu nanti tapi untuk saat ini, kau cukup fokus untuk menurunkan berat badanmu lalu kau bisa menendang mereka dengan penuh gaya."
Abi mengangguk, dia juga sudah tidak mau bertemu dengan Sarah dan dia berharap dia tidak akan bertemu dengan Harold dan Sarah lagi untuk seumur hidupnya.
"Sudah malam, sebaiknya kau menginap. Aku tidak akan melakukan apa pun, tidak sampai aku mendapatkan hatimu jadi kau tidak perlu takut."
Abi kembali mengangguk , dia malas bicara. Lagi pula dia sudah berkata pada ibunya jika dia akan menginap di rumah Sarah, di luar juga masih hujan dan dia tidak mau merepotkan Justin.
__ADS_1
Seseorang membawakan baju yang bisa Abi gunakan saat itu, Abi kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan dia juga ingin tidur karena dia membutuhkannya. Dia bahkan tidak merasa lapar karena kesedihan hatinya, lebih baik dia tidur untuk melupakan semuanya.
Justin berada di kamarnya, memandangi air hujan yang tidak juga berhenti. Pria itu tampak berpikir dan tidak lama kemudian, Justin melangkah pergi untuk mengambil ponselnya. Malam itu sebuah perintah Ban dapatkan dan perintah itu harus dia kerjakan dengan baik.