
Justin terbangun terlebih dahulu pagi itu, ini pagi pernikahan mereka dan ini hari pertama dia mendapati Abi berada di sisinya. Gadis yang selalu dia pandang ketika dia mau tidur, kini tidur di sisinya. Justin mengusap punggung Abi dengan lembut, mereka tidak memakai apa pun pagi itu karena sejak pakaian pesta terlepas, mereka tidak memakai apa pun lagi sampai pagi.
Mungkin untuk malam selanjutnya mereka akan seperti itu, sepertinya piyama mereka akan jarang digunakan nanti.
Tangan Justin masih mengusap punggung Abi, sepertinya istrinya lelah karena kegiatan panas mereka semalam. Sebaiknya dia membersihkan diri terlebih dahulu dan setelah itu memesan makanan karena dia ingin sarapan sudah siap saat Abi bangun dari tidurnya. Dia juga akan meminta obat, dia lupa akan kaki istrinya yang sakit.
Justin beranjak, kamar mandi adalah tempat yang dia tuju terlebih dahulu. Setelah membersihkan diri, Justin meraih gagang telepon yang ada di atas meja. Matanya melirik ke arah Abi yang masih tidur dengan pulas, sepertinya dia terlalu bersemangat semalam.
Mau bagaimana lagi? Gadis yang sudah lama dia inginkan sudah dia dapatkan. Tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apalagi setiap malam dia harus melihat wajah Abigail lalu membayangkan bersama dengannya. Dia pikir dia tidak akan mendapatkan gadis itu, apalagi saat dia mendengar kabar jika Abi sudah akan menikah.
Harapannya sirna, foto Abi yang ada di kamar sudah hampir dia buang tapi sekarang, wanita yang dia inginkan sudah dia dapatkan. Gagang telepon diletakkan setelah Justin memesan makanan dan setelah itu, Justin naik ke atas ranjang dan menghampiri istrinya.
Tangannya mengusap bahu Abi dan sebuah ciuman dia berikan di sana.
"Abigail Sayang, wake up," Justin menyingkirkan rambut Abi yang berada di wajah dan mencium pipinya.
"Hm ... Apa sudah pagi?" tanya Abi sambil mengusap matanya.
Justin memberikan ciuman di pipinya, "Yes," bisiknya.
"Apa kita akan pulang hari ini?" tanya Abi lagi.
"Kau sepertinya sangat ingin pulang?"
"Bukan begitu?" Abi memeluk suaminya, kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Segera bersihkan diri, setelah sarapan ada hadiah yang ingin aku berikan padamu."
"Hadiah?" tanya Abigail seraya memandangi suaminya.
"Yes, aku ingin memberikan sesuatu padamu sebagai hadiah pernikahan kita."
"Aku jadi tidak sabar!"
"Jika begitu segera bersihkan dirimu," ucap Justin seraya mencium dahi istrinya.
Abigail mengangguk, Justin menggendongnya menuju kamar mandi tapi sebelum itu, dia melihat lecet yang terdapat di kaki istrinya. Lecet itu terdapat dibagian belakang, lain kali dia akan membelikan istrinya sendal yang nyaman.
__ADS_1
Selagi Abigail berada di kamar mandi, sarapan yang dipesan Justin datang beserta obat yang dia inginkan. Tidak hanya itu, pakaian mereka juga diantarkan. Abi keluar menggunakan kimono saat Justin menutup pintu, wangi lezat sarapan membuatnya jadi lapar.
"Siapa yang datang?" tanya Abigail.
"Pelayan hotel," ucap Justin seraya mendekati Abigail yang saat itu sedang menyisir rambutnya.
"Mana kakimu, aku akan mengoleskan obat agar lukanya cepat sembuh."
"Thanks, aku bisa melakukannya."
"Tidak, kau sudah jadi istriku jadi aku ingin memanjakanmu dengan setiap perbuatanku."
Abi tersenyum, dia tidak membantah saat Justin menggendongnya dan membawanya ke sisi ranjang. Abi duduk di sana sedangkan Justin mengoleskan obat di luka yang ada di kaki.
"Jadi? Apa hadiahnya?" tanya Abi dan dia sudah terlihat tidak sabar.
"Kau terlihat tidak sabar Sayang, tapi kita makan terlebih dahulu. Aku rasa perutmu sudah berbunyi," goda Justin.
"Apa? Tidak!" Abi memegangi perutnya yang memang sudah lapar.
Justin terkekeh, dia segera mengajak istrinya untuk makan. Menikmati pagi berdua seperti itu ternyata menyenangkan, walaupun mereka belum memiliki rencana apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Mungkin Justin akan membawa Abigail berbulan madu di pulau yang indah, mungkin dia akan mengajak Abigail berpetualangan di tempat yang menakjubkan. Dia akan melakukan apa pun, asal istrinya senang.
Mereka berdua sudah duduk di atas ranjang saat itu untuk melihat hadiah yang akan Justin berikan kepada Abigial. Sebuah kotak yang dilapisi kain beludru dan diikat dengan pita merah Justin berikan ke tangan istrinya. Abigail sangat heran, dia bahkan menebak jika isi dalam kotak adalah perhiasan.
"Apa ini sebuah kalung?" tanya Abi sebelum membuka kotak itu.
"Apa kau ingin sebuah kalung?" tanya Justin pula.
"Hei, aku yang sedang bertanya di sini!"
Justin terkekeh dan memberikan ciuman di pipi Abigail. Abi begitu menggemaskan baginya dan dia jadi ingin menerkamnya kembali. Akan dia lakukan setelah Abi melihat hadiah yang dia berikan.
"Bukalah, itu lebih dari perhiasan," ucap Justin.
Abi semakin heran, lebih dari perhiasan? Rasa penasarannya semakin tinggi jadi tanpa ragu, Abi menarik pita merah yang mengikat kotak. Jantungnya berdebar, apalagi ketika dia membuka kotak itu. Abi sudah sangat antusias tapi kemudian dia terlihat bingung karena sebuah kunci berada di dalam sana. Benar yang Justin ucapkan, isinya lebih dari perhiasan tapi itu kunci apa?
"Apa ini kunci rumah kita?" tanya Abi seraya mengeluarkan kunci yang ada di dalam kotak.
__ADS_1
"No," jawab Justin sambil menggeleng.
"Mobil?" tanya Abi, sedangkan Justin kembali menggeleng.
"Kunci brankas uangmu," tebak Abi asal.
Justin tertawa dan memeluknya, sebelum mengatakan kunci apa itu, justin mencium pipi istrinya dengan mesra.
"Dengar, ini kunci tempat fitnes," ucapnya.
"Untuk apa kau berikan padaku?" tanya Abi heran.
"Mulai sekarang tempat itu jadi milikmu, Sayang."
"Apa?" Abi terkejut, untuk apa Justin memberikan tempat fitnes itu untuknya?
"Tidak Justin, aku tidak bisa menerimanya," tolak Abigail.
"Kenapa tidak bisa? Sejak awal aku membeli tempat itu untuk dirimu jadi tempat itu memang untukmu. Dari pada kau bekerja dengan orang lain, aku ingin kau yang mengelola tempat itu sekarang. Aku sudah harus berkonsentrasi di kantor tapi lantai dua, hanya boleh menjadi tempatmu berolahraga!"
"Aku merasa tidak pantas," ucap Abi sambil menunduk.
"Kenapa tidak pantas, kau sudah menjadi istriku jadi mulai sekarang, apa yang aku miliki sudah jadi milikmu juga."
"Benarkah?" tanya Abi sambil memandangi suaminya.
"Yes, jadi mulai sekarang tempat fitnes itu menjadi milikmu."
"Thanks," Abi tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi suaminya.
"Oh tidak, kau yang memulai!" ucap Justin dan tidak lama kemudian, teriakan Abigail terdengar.
Mereka sudah berbaring di atas ranjang, Justin memberikan ciuman-ciuman lembut di wajah istrinya.
"I love you, Abi," ucapnya seraya memberikan ciuman-ciuman lembutnya.
Abigail tersenyum, dia benar-benar beruntung. Walau dikhianati oleh orang yang pernah dia cintai, dihina karena bentuk badannya tapi sekarang, dia benar-benar bahagia dicintai oleh Justin. Mulai sekarang, dia akan menghabiskan waktu bersama dengan Justin dan membangun keluarga bersama dengannya.
__ADS_1
Mungkin setelah ini mereka akan memiliki beberapa anak, tapi cinta yang mereka miliki tidak akan pudar tapi cinta yang ada di antara mereka akan semakin bertambah besar.