
Bonchap ... Bukan bon cabe loh ya .... 😂
Hari itu, ibu Justin mengajak Abigail pergi ke suatu tempat. Abi ingin membawa bayinya serta tapi ibu mertuanya berkata mereka tidak akan lama sehingga dengan terpaksa Abi meninggalkan bayinya pada Justin. Ketika dia pergi, bayi mereka sedang tidur jadi dia pikir tidak akan ada masalah apalagi hanya sebentar.
Justin juga tidak keberatan, dia menjaga bayi mereka yang mereka beri nama Joshua sambil bekerja. (Bukan Joshua di obok-obok loh ya 😂)
Joshua sudah aktif berjalan, dia bahkan suka berjalan ke sana sini. Oleh sebab itu dia harus dijaga dengan baik. karena tidak melakukan apa pun, Abigail lebih memilih mengurus Joshua sendirian tanpa menggunakan bantuan seorang pengasuh.
Baginya menemani buah hati dan memperhatikan tumbuh kembang Joshua lebih penting dari apa pun. Lagi pula Justin sudah mencari seseorang yang bisa dia percaya untuk mengurus tempat gym.
Suara tangisan Joshua terdengar saat Justin sedang berbicara dengan Ben tentang pekerjaannya.
"Tunggu sebentar Ben, putraku menangis," ucap Justin.
"Hei, mana istrimu?" tanya Ben ingin tahu.
"Pergi dengan ibuku."
"Ck, istriku juga sedang pergi. Bagaimana jika aku pergi ke sana? Kita rawat anak kita bersama-sama."
Justin tampak berpikir dan setelah itu dia berkata, "Ide bagus!"
Setelah berbicara dengan Ben, Justin masuk ke dalam kamar untuk melihat putranya. Joshua masih menangis, karena dia lapar. Beruntungnya Abi sudah meninggalkan Asinya sehingga Justin tidak perlu panik apalagi dia juga belajar mengurus Joshua.
Tangisan Joshua berhenti saat susu sudah diberikan. Justin berbaring di samping putranya, dia tidak akan menghubungi istrinya karena Abi memang tidak pernah meninggalkan putranya dan pergi menikmati waktunya. Dia bahkan menolak tadi tapi ibu mertuanya memaksa.
Justin hampir tertidur saat Ben datang, Joshua tidak tidur lagi setelah kenyang. Dia tampak memainkan botol susunya yang sudah kosong.
Suara Ben terdengar di luar sana, Justin menggendong putranya keluar dari kamar.
"Bagaimana, apa menyenangkan menjadi pengasuh?" tanya Ben. Dia ingin tahu apa Justin bisa menjaga putranya atau tidak karena dia tidak sanggup menjaga putrinya saat istrinya tidak ada.
"Biasa saja," jawab Justin.
"Apa kau serius?" tanya Ben tidak percaya.
"Ya, aku dan Abigail menjaganya secara bergiliran jadi aku sudah terbiasa."
"Ck, baiklah kau pria serba bisa!"
"Tidak perlu berlebihan!" Justin membawa Joshua mendekati mainannya, sedangkan Ben mengikutinya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" tanya Justin karena dia ingin tahu kelanjutan dari pembicaraan mereka tadi.
Joshua di masukkan ke dalam kotak tempatnya bermain, begitu juga Airy putri Ben. Mereka meninggalkan kedua bayi itu bermain di dalam, lagi pula putri Ben lebih tua, mereka pasti tidak akan berebut mainan.
Kedua ayah yang luar biasa itu membahas pekerjaan mereka yang tertunda, sedangkan kedua bayi mereka bermain. Mereka begitu serius sampai mereka lupa dengan bayi mereka. Cukup lama mereka membahas pekerjaan dan ketika Joshua menangis, mereka baru sadar dengan bayi mereka.
"Oh tidak, apa yang terjadi?" Justin beranjak, dan melangkah mendekati putranya yang semakin menangis dengan keras.
Ben mengikutinya dari belakang dengan terburu-buru, jangan katakan jika Airy melempar Joshua menggunakan mainan karena putrinya memang suka melempar mainan apalagi jika dia tidak mendapatkan apa yang dia mau.
"Apa yang terjadi?" Justin melihat keadaan putranya dan terkejut ketika melihat putri Ben sedang menggigit tangan putranya. Mereka seperti itu karena merebutkan satu mainan.
"Ben!" teriakan Justin terdengar, sedangkan Ben berlari dengan terburu-buru untuk menggendong putrinya.
:Hei, Girl. Tidak boleh menggigit, apa kau lupa?"
"Awas kau, Ben!" Joshua sudah berada di dalam gendongannya saat itu.
"Mereka hanya anak-anak. Jangan menyalahkan aku."
"Minggu depan pergi ke padang Savana dan sikat gigi singa yang ada di sana! Tidak bersih tidak boleh pulang!" ucap Justin seraya melangkah pergi sambil menenangkan putranya yang menangis.
"Hei, super tega! Aku memang tidak akan pulang karena aku akan berada di dalam perut para singa itu!"
"Hei, Girl!" Ben memandangi putrinya.
"Sudah Daddy bilang jangan menggigit, apa kau lebih suka Daddy masuk ke dalam perut singa lalu kau mendapat Daddy baru?" Ben menatap putrinya tapi ya, yang dia ajak bicara hanya seorang bayi.
"Tidak boleh diulangi, oke!" ucap Ben lagi. Walau begitu, dia tidak mau istrinya menikah lagi dan dian juga tidak mau menyikat gigi singa yang ada di padang Savana.
Justin kembali keluar karena putranya tidak apa-apa, dia hanya takut Abi marah jika ada luka di tangan putra mereka. Mereka sudah tidak membahas pekerjaan sampai Abigail dan ibu mertuanya kembali.
"Oke, aku pulang dulu. Jangan katakan pada istrimu apa yang terjadi," bisik Ben dengan pelan.
"Sana pergi, lain kali jika putrimu menggigit putraku lagi maka gigimu yang akan aku cabut!"
"Hei, penjahat. Kita ini calon besan!"
"Aku tidak sudi berbesan denganmu!" ucap Justin dengan cepat.
"Awas ya, tunggu mereka besar. Aku yang akan menjodohkan mereka sampai jadi!"
__ADS_1
"Tidak perlu bermimpi karena kisah mereka tidak akan di tulis." 😜
"Yah," Ben kecewa berat.
Ben segera pulang, apalagi dia harus menjemput istrinya. Setelah dia pergi, Abi mendekati suaminya dan duduk di sisinya.
"Ada apa?" Abi mengambil putranya yang minta di gendong.
"Tidak ada apa-apa, Ben ingin menjodohkan putra kita dengan putrinya."
"Wow, ide bagus."
"Tidak, aku keberatan!" tolak Justin.
Abi hanya tertawa, walau suaminya suka memberi ancaman pada Ben, tapi itu hanya sebatas ancaman saja bahkan hubungan mereka sebagai sahabat baik-baik saja. Seandainya persahabatannya dengan Sarah seperti itu, dia sangat yakin hubungan mereka akan baik-baik saja sampai saat ini tapi persahabatan mereka harus kandas karena pengkhianatan Sarah.
"Aku jadi iri dengan persahabatan kalian," ucap Abi.
"Oh ya?"
"Hm, aku jadi ingin tahu bagaimana dengan keadaan Sarah."
"Apa kau mengkhawatirkannya?" tanya Justin.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya."
"Baiklah, aku dengar dia sudah pindah," Justin merangkul bahu istrinya dan memberikan ciuman di dahi.
"Ke mana?" Abi jadi penasaran.
"Sepertinya dia mengikuti kedua orangtuanya, tapi aku tidak tahu di mana."
"Semoga kehidupannya lebih baik," ucap Abigail. Walau Sarah mengkhianatinya tapi mereka pernah berteman.
"Ya, semoga saja," ucap Justin.
Abi bersandar pada bahu Justin, dia harap Sarah berubah menjadi lebih baik lagi dan tidak melakukan apa yang pernah dia lakukan dulu. Dia harap Sarah mulai menghargai yang namanya persahabatan dan bisa bersahabat dengan tulus dengan sahabat barunya di mana pun dia berada.
Semua punya jalan hidup masing-masing, semua orang pasti akan merubah dirinya menjadi lebih baik dan dia juga akan selalu menghargai cinta yang dia dapatkan karena dia ingin selalu bahagia bersama keluarga kecilnya.
Udah ah bonchapnya. Pas 60 chapter wkwkwkw....
__ADS_1
Thank you, Guys ...