
Harold terlihat begitu frustasi begitu juga kedua orangtuanya karena mereka gagal membujuk Abigail untuk membantu mereka. Tidak hanya satu kali, mereka sudah memohon beberapa kali tapi Abi tidak mau bertemu dengan mereka, tentu atas perintah kedua orangtuanya.
Sarah juga gagal menemui Abi, setiap dia datang, dia tidak bisa bertemu dengan Abi karena gadis itu tidak ada di rumah. Abi benar-benar sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Justin, dia juga masih fitnes seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Harold mengusap wajahnya dengan kasar, wajahnya terlihat kusut bahkan dia sudah tidak bercukur beberapa hari. Mereka hanya punya waktu satu minggu untuk pindah dari rumah mereka karena rumah itu akan diambil alih oleh pihak bank.
Para karyawannya juga sudah mulai di phk karena perusahaan itu tidak bisa diselamatkan lagi. Semua pengusaha sudah menarik saham mereka, tidak ada yang mau menanam modal di perusahaan mereka. Akibat dari kejadian itu, banyak karyawan yang kehilangan pekerjaan dan yang paling depresi adalah Harold juga keluarganya dan juga Sarah.
"Aku mau pergi!" ucap Harold.
"Pergi ke mana?" tanya ibunya.
"Menemui Justin Wycliff, apa lagi? Aku akan memohon agar dia mau membantu kita, mungkin dia akan membantu setelah aku bertemu dengannya!" jawab Harold.
"Pergilah, semoga kau berhasil jika tidak, aku akan memesan tiket pesawat dan kita akan kembali ke rumah nenek," ucap ibunya dengan nada lesu. Mereka tidak bisa berada di kota itu lagi karena mereka akan menjadi cibiran.
Harold beranjak, yang harus dia lakukan adalah membersihkan diri. Jangan sampai dia terlihat seperti pecundang dan memang dia sudah seperti itu saat ini. Ini harapan terakhir yang mereka punya, semoga saja Justin berbaik hati mau membantu mereka.
Setelah selesai, Harold berpamitan pergi. Untungnya mobilnya belum di sita tapi semua itu hanya menunggu waktu. Saat perusahaan dan rumahnya di segel, saat itu juga semua yang dia punya hilang. Dia sangat berharap usahanya hari ini tidak sia-sia.
Mobil sudah dinyalakan, dia sudah akan berangkat tapi Harold terkejut ketika seseorang masuk ke dalam mobilnya secara tiba-tiba. Harold ingin memaki tapi tidak jadi saat dia melihat siapa yang duduk di sampingnya dan orang itu tampak ketakutan.
"Sarah?" Harold memandanginya dengan tatapan tidak percaya.
Sarah memegangi dadanya dan tampak terengah-engah, dia bahkan terlihat sedang bersembunyi dari sesuatu dan ketakutan.
"Apa yang kau lakukan? Keluar!" bentak Harold kesal.
"Please Harold, segera jalankan mobilnya!" pinta Sarah.
"Tidak, keluar kau!"
"Please, jangan sampai mereka menangkap aku!" pinta Sarah memohon.
Beberapa orang terlihat sedang mencari Sarah, mereka melihat sana sini, sedangkan Sarah semakin ketakutan karena orang-orang itu berjalan menuju mobil Harold.
"Please!" pinta Sarah lagi.
"Dasar pembawa masalah!" umpat Harold dan setelah itu mobil dibawa pergi.
Sarah tampak lega, dia melihat orang-orang yang mencarinya sejenak dan duduk dengan benar. Hari ini bisa lari, entah besok apa lagi yang akan terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengejarmu?" tanya Harold ingin tahu.
"Semua gara-gara kau!" teriak Sarah marah.
"Apa maksudmu semua salahku?" Harold terlihat tidak terima.
"Gara-Gara kau tidak membayar rumah dan mobil itu, aku terpaksa meminjam uang pada seorang mafia untuk melunasinya."
__ADS_1
"Apa kau sudah gila?!" teriak Harold.
"Aku tidak punya cara lain, aku tidak mau kehilangan semua itu karena aku tidak mau jadi bahan ejekan para sahabatku!"
"Terserah, sekarang turun!" Harold meminggirkan mobilnya.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Sarah sambil melihat ke arah Harold.
"Menemui Justin Wycliff dan memintanya agar dia mau membantuku!"
"Aku ikut," ucap Sarah dengan cepat.
"Untuk apa?" Harold memandanginya dengan tajam.
"Aku akan membantumu berbicara dengannya."
Harold terlihat berpikir, sepertinya bukan ide buruk. Bukankah Sarah dan Justin adalah teman? Mungkin dengan bantuan Sarah pria itu mau berbaik hati.
"Baiklah, aku harap kau bisa membantuku!"
Sarah mengangguk, dia harap bisa bertemu dengan Abi karena dia memerlukan bantuannya. Hanya Abi yang bisa membantunya karena semua sahabat yang dia punya mulai menjauh apalagi ketika dia mulai terlilit hutang. Mereka bahkan tidak mau menjawab telepon darinya lagi apalagi setiap kali Sarah mencari mereka, Sarah pasti ingin meminjam uang.
Harold membawa mobilnya dengan cepat menuju Wycliff corporation dengan harapan yang begitu tinggi. Dia sangat berharap dia mendapat bantuan jika tidak, dia banar-benar akan menjadi pecundang yang menyedihkan begitu juga dengan Sarah.
Saat itu, Abigail memang bersama dengan Justin di kantornya. Mereka sedang memilih tempat untuk acara pernikahan mereka nanti.
"Justin, bagaimana yang ini?" tanya Abi sambil menunjukkan sebuah tempat yang dia rasa bagus.
"Boleh, kau boleh memilih sesuka hatimu."
"Benarkah?"
"Yes, aku tidak keberatan."
Abi tersenyum, tanpa Justin duga, Abigail mencium pipinya dan setelah itu Abi menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Thanks," ucap Abigail pelan, sedangkan Justin memegangi pipinya karena ini pertama kali Abi menciumnya.
"Kemari!" Justin menepuk kedua pahanya.
Abi tampak ragu tapi dia beranjak juga dan duduk di atas pangkuan Justin. Untungnya dia sudah kurus jika tidak, dia tidak akan berani duduk di atas pangkuan Justin.
Justin mengusap wajahnya sambil tersenyum, sedangkan Abi terlihat gugup dengan jantung berdebar.
"Abigail, apa kau mencintaiku?" tanya Justin karena dia belum mendengar ungkapan cinta dari gadis itu.
"Ten-Tentu saja," jawab Abi dengan gugup apalagi Justin mendekatkan wajah mereka berdua.
"Jika begitu, katakan kau mencintai aku," bisik Justin seraya memberikan ciuman di pipinya.
__ADS_1
"A-Aku?" Abi semakin gugup, sedangkan Justin masih mencium wajahnya.
"Hm, aku ingin mendengarnya," ucap justin seraya mengingit telinganya. Jantung Abigail hampir melompat keluar, bagaimana dia bisa bicara jika diperlakukan seperti?
Tangan Justin bahkan sedang mengusap lengannya, berpindah lalu masuk ke dalam baju yang dia pakai.
Abi memejamkan mata, tangannya bahkan menahan tangan Justin agar tidak masuk ke dalam bajunya lebih jauh.
"Justin, jangan!" pintanya.
"kau belum mengatakan perasaanmu, Sayang. Aku tidak akan berhenti jika kau diam saja."
"Tapi?"
"Aku ingin mendengarnya, sekarang!!" Justin kembali mencium wajahnya.
"A-Aku mencintaimu tapi jika kau melakukan lebih jauh dari ini maka kau akan membunuhku!" ucap Abi dalam satu tarikan napas.
Abi tampak terengah-engah setelah selesai bicara, sedangkan Justin terkekeh dan kembali memberikan sebuah ciuman di dahi.
"I love you too," ucap Justin.
Abigail tersenyum, matanya terpejam saat Justin mendekatkan bibir mereka berdua. kedua tangannya melingkar di leher Justin, sedangkan Justin memberikan usapan lembut di punggung.
Rasanya ingin membawa Abigail ke dalam ruang pribadinya dan melakukan hal yang lebih jauh.
"Bagaimana jika kita pindah ke dalam ruanganku?" ajaknya.
"Untuk apa?" tanya Abi heran.
"Menikmati waktu kita berdua di sana," Justin kembali memberikan ciuman di pipi. Dia harap Abi mau tapi sayangnya sebelum Abi menjawab, terdengar suara pintu diketuk dan terdengar suara Ben.
"Guys, maaf mengganggu tapi ada yang mau bertemu kalian," ucap Ben.
"Siapa?" tanya Justin sedikit berteriak.
"Yah, kedua pecundang."
Abi dan Justin saling pandang. Sarah dan Harold? Untuk apa mereka datang?
"Bawa mereka dan biarkan mereka masuk!" perintah Justin.
"Untuk apa, Justin?" tanya Abi.
"Biarkan saja, kita lihat apa mau mereka!"
Abi mengangguk, padahal dia sudah tidak mau bertemu Sarah dan Harold lagi tapi ya, dia juga tidak bisa menghindari mereka terus menerus.
Di bawah sana, Harold dan Sarah sangat senang saat Ben membawa mereka naik ke atas. Semoga saja Justin mau berbaik hati dan mau membantu.
__ADS_1