
Beberapa waktu telah berlalu, Abigail berada di tempat Gym hari itu. Dia tidak lama, dia akan segera kembali apalagi saat itu dia sedang hamil sembilan bulan.
Abi datang hanya untuk meletakkan sebuah poster promosi. Ide itu dia dapatkan semalam walau tempat gym itu selalu ramai. Abi terlihat puas melihat poster yang dia buat sendiri, dia ingin tempat itu dapat membantu para gadis yang memiliki berat badan berlebih seperti dirinya dulu.
Di poster itu bertuliskan, 'Diskon lima puluh persen bagi member yang memiliki berat badan berlebih. Diskon tambahan akan didapat untuk member yang patah hati karena berat badan, dicampakkan suami karena bentuk badan dan bagi yang ditinggalkan di hari pernikahan karena bentuk badan. Bagi member yang mengalami kejadian di atas akan mendapat diskon tambahan 10 persen.' (Bagian ini lebay,tapi bodo amat. wkwkwkwkw)
Abi membuat poster seperti itu karena dia ingin membantu para wanita yang sedang mengalami apa yang pernah dia alami dulu. Waktu itu dia juga mendapat diskon, maka sekarang dia akan membantu siapa saja yang ingin menurunkan berat badan karena mengalami kejadian tidak menyenangkan seperti yang dia alami.
Semenjak dia hamil, lantai dua tidak dia gunakan lagi jadi tempat itu digunakan para member yang memiliki berat badan berlebih. Tanpa poster itu pun, banyak yang fitnes di sana apalagi beredar kabar jika si pemilik berhasil menurunkan berat badannya semenjak menjalani fitnes di sana.
Abigail benar-benar ingin membantu, dia bahkan tidak memberikan harga mahal untuk member yang benar-benar ingin menurunkan berat badan karena dulu dia juga seperti itu.
Setelah meletakkan poster di samping pintu masuk, Abigail masuk ke dalam dan naik ke lantai dua dengan hati-hati. Member yang ada di lantai dua sudah seperti sahabatnya apalagi terkadang mereka berkonsultasi dan mencurahkan keluh kesahnya pada Abigail karena mereka mengalami kejadian yang tidak jauh berbeda dengan Abigail.
Abi tidak keberatan mendengarkan keluh kesah mereka, dia juga ikut prihatin saat mendengar ada yang diceraikan karena bentuk badannya berubah setelah melahirkan. Dia rasa lelaki seperti itu keterlaluan, dia bahkan takut Justin melakukan hal itu. Dia harap Justin tidak berubah apalagi dia tahu di kantor banyak wanita cantik.
Banyak yang telah terjadi, Abi benar-benar bahagia setelah menikah dengan Justin sedangkan Harold tengah berjuang. Dia bekerja di sebuah perusahaan, memperbaiki kehidupannya dan tentunya tidak akan mengulangi kejadian yang sama.
Semenjak mereka bangkrut, kedua orangtuanya jatuh sakit. Harold harus bersusah payah mencari uang untuk biaya rumah sakit. Kesulitan yang tidak pernah dia alami dulu, kini harus dia rasakan. Ternyata bekerja dengan orang tidaklah mudah, dia harus mendapat makian saat melakukan kesalahan tapi dia berusaha bertahan demi biaya rumah sakit kedua orangtuanya yang fantastis.
Tidak dia saja yang sedang berjuang, Sarah tidak jauh berbeda. Dia bahkan hampir gila karena dikejar penagih hutang. Bunga yang terus membengkak membuat hutangnya semakin banyak, walau rumah dan mobilnya sudah disita tapi semua itu tidak bisa menutupi bunga dari hutangnya.
Sarah sudah tidak punya apa-apa lagi, dia bekerja di bar untuk menutupi hutangnya. Apa saja dia lakukan selama dia bisa mendapatkan uang karena dia tidak mau mati ditangan para mafia itu. Terkadang dia mendapat pukulan jika tidak bisa membayar hutang, dia hanya bisa menerima setiap pukulan yang diberikan dalam diam. Penyesalan, itu yang dia rasakan. Tidak ada yang peduli dengannya, tidak ada.
__ADS_1
Tapi semua yang mereka alami adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Tidak punya teman, kesepian dan yang pasti mereka harus berjuang untuk hidup mereka. Sarah juga tidak berani mencari Abigail, dia tidak punya muka lagi untuk bertemu dengannya. Penyesalan karena telah mengkhianati persahabatan mereka, selalu dia rasakan dan dia, sudah tidak berani menunjukkan wajahnya di hadapan Abi dan Justin lagi.
Tapi seandainya dia menemui Abi dan meminta bantuannya, Abi pasti akan membantu walau dia kecewa dengan Sarah. Bagaimanapun mereka pernah berteman dan dia tidak akan tega melihat mantan sahabatnya seperti itu.
Semua memiliki jalan hidup masing-masing, walau awalnya mendapat penghinaan tapi pada akhirnya Abigail bahagia bersama pria yang begitu mencintainya. Abi memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri saat itu. Dia bahkan terlihat duduk tidak nyaman.
Beruntungnya Justin sudah datang untuk menjemputnya, dia melihat gelagat istrinya yang tidak baik dan segera menghampirinya dengan terburu-buru.
"Ada apa?"
"Sakit," jawab Abi sambil memegangi perutnya.
"Apa sudah waktunya?" Justin melempar barang yang dia bawa dengan cepat dan segera menghampiri istrinya.
Tidak membuang waktu, Justin menggendong istrinya dan membawanya dengan terburu-buru. Ben berada di bawah saat itu, Justin berteriak memanggilnya agar dia segera membawa mereka ke rumah sakit. Ben bergerak cepat, dia sudah pernah menghadapi situasi seperti ini ketika istrinya melahirkan bayi perempuan mereka. Sekarang dua wanita berkuasa di rumah, dan dia tidak akan berdaya menghadapi mereka.
"Semoga anakmu laki-laki," ucap Ben saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Kenapa?" tanya Justin.
"Hng, kau tidak tahu bagaimana rasanya punya dua ratu di rumah!" ucap Ben.
"Anak kami laki-laki," ucap Justin karena mereka sudah memastikan.
__ADS_1
"Bagus, kau punya sekutu!"
Mereka sudah tiba di rumah sakit terdekat, Justin membawa Abi dengan terburu-buru tapi sebelum itu Justin meminta Ben menghubungi kedua orangtua mereka karena dia ingin menemani Abi bersalin. Sebuah ruangan sudah disiapkan, Justin menemani Abi begitu lama di dalam sana.
Abi terus berjuang walau sakit, dia tidak ingin mengecewakan suaminya apalagi Justin menemaninya dan memberikan semangat untuknya.
Di luar sana, orangtua mereka sudah datang. Mereka sudah terlihat tidak sabar untuk melihat cucu pertama mereka. Mereka menunggu cukup lama dan pada akhirnya, terdengar suara tangis bayi dari dalam sana. Abi terlihat bahagia, begitu juga dengan Justin.
Bayi mereka terlihat lucu dan tampan. Orangtua mereka bahkan terlihat tidak sabar ketika Abi sudah dipindahkan ke ruangan lain. Mereka menggendong cucu mereka secara bergiliran, sedangkan Abi dan Justin melihat mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih, Sayang," Justin menunduk dan mencium dahi istrinya yang saat itu sedang berbaring.
"Aku yang berterima kasih padamu Justin karena kau yang memberikan kebahagiaan ini untukku."
"Tidak, kebahagiaan ini kita dapat karena kita bersama," ucap Justin.
Abi mengangguk dan tersenyum, mereka berdua kembali melihat orangtua mereka dan tampak bahagia. Kehadiran buah hati memperlengkap hidup mereka dan mereka akan selalu seperti itu bahkan cinta yang mereka miliki semakin hari akan semakin besar.
END
Terima kasih All sudah membaca Kisah Abi dan Justin. Berasa sedih kisah ini sudah selesai, wkwkwkwkk....
Besok aku kerjain kisah Damian dan Ainsley, aku kebut juga kalau bisa tapi tergantung situasi.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih telah mengikuti kisah yang aku tulis dadakan demi bonus, semoga kisah ini tetap menghibur kalian dan tidak mengecewakan. Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung karya ini, love you all seempang buaya Smith......🐊🐊🐊🐊🐊🐊