
Harold terlihat kusut, dia benar-benar pusing saat ini. Bagaimana tidak, harga saham perusahaannya terjun bebas sampai membuat beberapa pengusaha menarik modal yang telah mereka tanamkan di sana. Semua itu terjadi ketika sebuah perusahaan muncul menjadi pesaing bisnisnya.
Keadaan perusahaannya semakin kacau akibat kerugian besar yang harus dia tanggung. Dia pikir itu hanya perusahaan kecil sehingga dia tidak perlu takut tapi apa yang telah terjadi? Karena kepercayaan dirinya juga dia menolak sebuah perusahaan kecil yang ingin menanamkan modal di perusahaannya. Dia menolak bukan tanpa alasan, dia menolak karena itu hanya sebuah perusahaan kecil yang tidak memiliki kekuatan apa pun.
Harold menghela napas, sial. Dia benar-benar pusing memikirkan harga saham perusahaan yang semakin hari semakin terjun bebas. Entah apa yang harus dia lakukan, dia sendiri tidak tahu. Para pengusaha itu mulai menarik saham mereka sedikit demi sedikit, jangan sampai perusahaan itu hancur di tangannya.
Napas berat kembali terdengar, apakah ada yang bisa membantunya saat ini?
Pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Ayah dan ibunya masuk ke dalam dengan tatapan tajam dan amarah. Tanpa basa basi sebuah kartu undangan di lemparkan di hadapan Harold . Mereka benar-benar marah karena perusahaan mereka di ambang kehancuran.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Harold?" teriak sang ibu lantang.
"Mom, bisakah kau tidak berteriak?" pinta Harold seraya mengusap wajah.
"Katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa saham perusahaan terjun bebas seperti ini?" tanya ayahnya.
"Persaingan bisnis," jawab Harold singkat.
"Persaingan bisnis?" sang ibu berjalan mendekatinya.
"Kita selalu bersaing bisnis dengan siapa saja tapi perusahaan kita tidak pernah mengalami hal ini. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Harold?"
"Mom, aku juga tidak mau seperti ini tapi terjadi sesuatu di proyek yang sedang kita tangani sehingga kita mengalami kerugian besar. para pengusaha itu mulai menarik saham mereka sedikit demi sedikit karena sebuah perusahaan muncul lalu menjadi pesaing bisnis kita!"
"Jadi kau kalah dari perusahaan baru itu?" tanya sang ayah tidak terima.
"Aku kira itu perusahaan kecil tapi aku tidak menyangka jika perusahaan itu memiliki modal yang cukup besar."
"Itu karena kau meremehkan lawan, Harold! Mau besar atau kecil, kita tidak tahu siapa orang di balik perusahaan itu!" teriak sang ayah lantang.
"Lihat dirimu, Harold. Kau seperti ini sejak kau berhubungan dengan Sarah!" ucap ibunya pula.
"Apa maksud Mommy?"
__ADS_1
"Jangan kau pikir kami tidak tahu!" sang ibu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas lalu melemparkannya ke atas meja.
"Apa kau pikir kami buta? Kau membelikan rumah untuknya juga mobil menggunakan uang perusahaan. Di mana akal sehatmu? Kau bahkan tidak membelikan apa pun untuk Abigail saat kau masih bersama dengannya!" ibunya benar-benar tidak terima.
"Semua ini belum lunas, aku baru membayarnya beberapa kali. Lagi pula Sarah dan Abi jauh berbeda jadi jangan membandingkan mereka!"
"Jadi apa yang akan kau lakukan pada perusahaan ini? Kau tahu kita tidak akan bertahan lama jika semua para pengusaha itu sudah selesai menarik semua saham mereka dari perusahaan ini!" sang ibu terlihat frustasi, dia tidak mau mereka jadi gelandangan. Mereka adalah keluarga terhormat dan bermartabat, jangan sampai perusahaan mereka bangkrut lalu mereka menjadi bahan ejekan orang-orang.
"I don't know," Harold menggeleng dan kembali mengusap wajah. Pikirannya benar-benar buntu.
"Lihat undangan itu baik-baik!" perintah sang ayah.
Harold mengambil kartu undangan yang dilemparkan oleh ibunya ke atas meja tadi dan melihatnya. Sebuah undangan untuk menghadiri acara pesta perusahaan di sebuah hotel ternama yang ada di kota itu.
"Kau harus pergi dan carilah pengusaha yang mau bekerja sama dengan kita dan ini," ibunya memberikan sebuah kartu nama pada putranya.
"Hubungi dia dan buatlah janji agar kau bisa bertemu dengannya saat di pesta nanti. Tapi jika kau bisa membujuknya sehingga kau bisa bertemu dengannya sebelum pesta, maka itu akan jauh lebih baik."
"Dari mana Mommy mendapatkan kartu nama ini?" Harold melihat kartu nama itu, Wycliff? Dia tahu dia adalah pengusaha yang sedang naik daun.
"Bagus, aku akan menghubungi mereka sekarang. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan!" ucap Harold. Dia terlihat bersemangat sekarang.
"Jangan mengecewakan kami, Harold! Kali ini kau harus berhasil jika tidak, perusahaan ini akan benar-benar hancur!" ucap sang ibu.
"Aku tahu!" ponsel sudah berada di tangan, ayah dan ibunya keluar dari ruangan itu. Semoga saja putra mereka berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan itu karena jika tidak, perusahaan mereka hanya menunggu waktu saja.
Harold benar-benar terlihat begitu bersemangat, kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Senyum menghiasi bibir saat seorang pria menjawab teleponnya.
"Wycliff corporation?"
"Aku Harold dari perusahaan Linford, apa aku bisa bertemu dengan tuan Wycliff?" tanya Harold dengan penuh semangat.
"Apa sudah membuat janji?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Harold.
"Jika begitu hubungi lagi nanti setelah membuat janji," ucap pria itu.
"Hei, tunggu!" teriak Harold tapi sayang, telepon sudah dimatikan.
"Sial!" Harold mengumpat kesal, sepertinya tidak akan mudah.
Kepalanya kembali berdenyut, suasana hatinya semakin buruk saat melihat Sarah datang. Bisakah wanita itu tidak datang di saat kepalanya sedang pusing memikirkan nasib perusahaannya?
Di tempat lain, Ben berlari dengan terburu-buru menuju ruangan Justin untuk memberi laporan jika umpan sudah ditangkap dengan baik. Itulah yang sedang mereka lakukan, hempaskan perusahaan itu lalu beri harapan. Justin bahkan membangun dua perusahaan kecil, yang satu menjadi pesaing bisnis dan yang satunya menawarkan bantuan tapi Harold menolak karena memang perusahaan itu tidak memiliki nama. Dia ingin Harold masuk ke dalam permainannya dan lihatlah, itulah yang sedang terjadi.
Ben begitu bersemangat, dia yakin Justin pasti akan senang mendengar berita yang akan dia sampaikan. Pintu ruangan dibuka, tapi Justin tidak ada dikursinya.
"Justin," Ben melangkah masuk dan memanggilnya.
"Hm," Justin menjawab singkat, Ben menghampirinya yang saat itu sedang berbaring di atas sofa.
"Hei, ada apa denganmu, Sobat?" tanya Ben sambil memandanginya dengan tatapan heran.
"Kau lihat sendiri, sepertinya kau harus mengantar aku pulang."
"Kau sakit?" tanya Ben memastikan.
"Ya, ada apa kau mencariku? Apa ada hal penting?" Justin duduk di atas sofa dengan kepala yang terasa berputar.
"Kita bahas ini nanti, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu."
"Thanks, setelah mengantar aku pulang tolong belikan obat untukku dan gantikan aku menjemput Abigail," pinta Justin.
Ben berpikir sejenak. Obat? Dia tahu apa obatnya, dijamin Justin akan langsung sembuh.
"Serahkan padaku, aku akan membawakan obat paling ampuh untukmu!"
__ADS_1
Justin hanya mengangguk, dia malas berpikir karena kepalanya semakin sakit yang penting Ben membawakan obat untuknya nanti. Dia harap Abi tidak kecewa karena hari ini dia tidak perlu menjemputnya. Setelah keadaannya lebih baik dia akan menghubungi Abi nanti.
Ben segera membantunya, membawa Justin pulang ke rumah pribadinya. Dia akan membawa pria itu pulang terlebih dahulu dan setelah itu, dia akan membawa obatnya. Dijamin sakit kepalanya langsung musnah, semoga bonus bertambah.