
Sarah sangat heran saat sebuah kartu undangan dikirimkan untuk dirinya. Entah itu undangan dari siapa dia tidak tahu apalagi dia belum melihat isinya. Dari kartu undangan yang mewah sudah menunjukkan jika itu bukan undangan biasa, entah kenapa jantungnya jadi berdebar, dia rasa itu undangan untuk sebuah pesta mewah.
"Undangan apa ini?" tanya Sarah dengan pelan seraya membolak balikkan kartu undangan.
Kartu undangan dibuka, Sarah terlihat begitu antusias membaca setiap tulisan yang tertera di kartu undangan. Matanya melotot, dia tampak tidak percaya karena dia di undang dalam sebuah peresmian hotel ternama yang ada di kota itu.
"Oh my God, bukankah ini nama hotel terkenal yang ada di kota ini?" Sarah sungguh tidak percaya, dia tahu nama hotel itu bahkan dia sangat ingin menginap di hotel itu tapi dia tidak mampu karena harganya yang fantastis untuk permalamnya.
Sarah menutup mulutnya, dia benar-benar tidak percaya. Dia bahkan mengecek beberapa kali apakah benar namanya yang tertera di kartu itu dan ternyata tidak salah.
Sarah melompat girang, apa ini mimpi? Kenapa dia bisa diundang ke acara bergengsi seperti itu? Para pengusaha, para pembisnis muda pasti ada di acara itu dan ini adalah kesempatan emas baginya untuk menjerat salah satu dari mereka. Dia tidak tahu kenapa dia bisa diundang tapi ini adalah kesempatan yang tidak boleh dia sia-siakan.
Senyumnya mengembang, matanya tidak lepas dari kartu undangan itu. Dia akan pergi sendiri dan tidak mengatakannya pada Harold. Pria itu tidak boleh menjadi penghalang dirinya untuk mendapatkan pengusaha yang lebih sukses darinya tapi sayangnya, undangan itu juga sudah berada di tangan Harold.
Harold tersenyum, dia tampak senang karena dia masih punya harapan untuk menyelamatkan perusahaannya. Saat itu dia sedang berbicara dengan ayahnya. Dia ingin ayahnya tahu jika Wycliff Corporation mengundangnya ke pesta peresmian hotel.
Ini kabar baik yang tidak boleh dia sia-siakan. Di sana pasti akan hadir banyak pengusaha, jika Wycliff corporation bekerja sama dengannya, maka para pengusaha-pengusaha yang ada di sana juga akan bekerja sama dengannya.
"Gunakan kesempatan ini dengan baik, Harold," ucap ayahnya karena hanya ini satu-satunya kesempatan yang mereka punya untuk menyelamatkan perusahaan mereka.
"Aku tahu Dad, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku pasti akan pulang dengan hasil yang memuaskan," ucap Harold dengan penuh percaya diri.
"Bagus. Jika kau gagal, kau tahu risikonya, bukan?"
"Aku tidak mungkin gagal, sebab itu percayalah padaku."
"Baiklah, Daddy serahkan padamu!"
Harold memandangi kartu undangan yang masih berada di tangan, sebaiknya dia tidak mengajak Sarah pergi. Rasanya dia ingin mengajak Abigail, dulu dia tidak pernah mau mengajaknya ke pesta mana pun karena dia malu dengan bentuk badan Abi tapi sekarang, gadis itu sudah berubah dan terlihat luar biasa.
Jika dia membawa Abigail, gadis itu pasti akan menjadi pusat perhatian dan dia akan membanggakan diri sebagai kekasih Abigail nanti. Apa dia harus pergi menemui Abigail? Kejadian kemarin teringat, di mana dia disiram air dan dilempar menggunakan batu es, sebaiknya dia tidak mencari Abi di rumahnya, sebaiknya dia mencari kesempatan lain.
Harold kembali ke kursi setelah selesai berbicara dengan ayahnya. Matanya terpejam, wajah Abigail yang manis teringat. Sial, dia tidak menyangka Abi akan berubah seperti itu, jika dia tahu maka tidak akan dia tinggalkan. Semoga saja Abi tidak menjalin hubungan dengan siapa pun tapi sayangnya saat itu Abigail sedang bersama dengan Justin.
Mereka berdua sedang berada di sebuah butik saat itu, tentu mereka di sana untuk mencari sebuah gaun yang akan Abigail gunakan nanti di pesta. Sesungguhnya Abi tidak enak hati, tapi Justin mendesaknya untuk mencari sebuah gaun di sana.
Harga gaun yang tidak main-main membuat Abigail semakin ragu. Dia bahkan tidak berani memilih karena dia tidak memiliki uang sama sekali. Mau bagaimana lagi, dia masih pengangguran yang baru berencana mencari pekerjaan. Dia rasa untuk membeli satu gaun yang ada di sana gaji ayahnya tidak akan cukup.
__ADS_1
"Apa kau sudah memilih, Abigail?" tanya Justin karena Abi hanya melihat-lihat.
"Justin, kita pulang saja," ajak Abi.
"Kenapa? Apa tidak ada satu pun gaun di sini yang kau sukai?"
"Bu-Bukan begitu," Abi melihat sana sini.
"Lalu?"
"Aku tidak punya uang untuk membeli gaun di sini jadi kita pulang saja. Aku akan memakai gaun lama ibuku nanti," bisik Abi dengan pelan.
Justin terkekeh, ternyata itu yang dikhawatirkan oleh Abigail. Padahal Abi bisa memilih apa saja yang dia inginkan tanpa perlu membayar.
"Tidak perlu kau pikirkan harganya, kau bisa memilih yang mana saja kau mau."
"Tapi aku tidak punya uang," jawab Abi.
"Aku akan belikan untukmu, Abi. Pilih gaun yang kau suka jika tidak aku akan membelikan semua gaun yang ada di sini untukmu."
"Siapa yang bilang kau harus membayar, Nona?" Justin meraih tangan Abigail dan membawanya mendekati seorang pegawai toko itu.
"Carikan pacarku gaun terbaik yang ada di toko ini," pinta Justin.
Wajah Abi memerah, pacar? Sejak kapan mereka jadian?
Sang pegawai mengangguk dan berlalu pergi tapi tidak lama kemudian pegawai itu kembali dengan sebuah gaun berwarna biru.
"Ini gaunnya, kau bisa mencoba terlebih dahulu," ucap pegawai itu.
Abigail tampak ragu, tapi dia mengikuti langkah pegawai butik menuju ruang ganti. Sebelum mencobanya, Abigail melihat harga gaun itu dan dia hampir pingsan karena harga yang begitu fantastis. Gadis itu terlihat ragu, jujur dia takut mencoba gaun mahal itu.
"Abi," terdengar suara Justin di luar sana.
"A-Aku belum selesai!" jawab Abigail dan mau tidak mau Abi membuka baju yang dia kenakan.
"Apa perlu aku bantu?"
__ADS_1
"Tidak!" jawab Abi dengan cepat.
"Aku akan membantu dengan senang hati," goda Justin.
"Tidak mau, aku bisa sendiri!"
Justin tersenyum dan bersandar di dinding, sedangkan Abi memakai gaun itu dengan terburu-buru. Semoga saja tidak robek karena ulahnya karena dia akan pingsan di sana juga.
"Apa masih lama?" Justin semakin tidak sabar.
"Wait!" Abi merapikan penampilannya dengan terburu-buru dan setelah itu membuka pintu.
Dia hendak keluar tapi Justin sudah masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Abi terkejut, apa yang mau Justin lakukan?
"Ju-Justin," Abi terlihat gugup.
"Coba aku lihat," Justin melihat penampilan Abigail dengan teliti. Gaun itu terlihat cocok di tubuhnya, Abi bahkan terlihat seksi.
"Ba-Bagaimana?"
"Bagus!" jawab Justin seraya merapikan tali gaun yang ada di bahu.
"Tapi gaun ini mahal, Justin."
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan membelikannya untuk pacarku yang manis," ucap Justin seraya meraih pinggang Abigail.
"Pacar?"
"Kau tidak keberatan, bukan?"
Abigail diam sejenak dan setelah itu dia menggeleng.
"Tentu tidak," jawabnya karena dia tahu Justin serius dengannya.
"Aku senang mendengarnya," Justin mendekatkan bibir mereka berdua dan kembali berkata, "Sebentar lagi, kita akan menendang kedua pecundang itu."
"Aku serahkan padamu," Abigail melingkarkan kedua tangannya ke leher Justin dan menyambut ciuman darinya. Apa pun yang mau Justin lakukan pada Sarah dan Harold, dia tidak akan mencegah karena dia merasa mereka sudah keterlaluan dan mereka pantas mendapat ganjaran atas kesombongan mereka berdua.
__ADS_1