Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 55


__ADS_3

Harold terlihat tidak sabar, sedangkan mata Sarah melihat sana sini. Dia mengumpat dalam hati, jadi itu perusahaan Justin? Sekarang dia sangat menyesal karena tidak mencari tahu tentang Justin lebih jauh. Seharusnya dia membeli majalah bisnis hari itu.


Jika dia tahu Justin benar-benar pengusaha sukses, dia pasti akan mendekati Justin. Pria itu pasti menjadi miliknya, dengan kecantikan dan bentuk tubuhnya yang seksi, dia sangat yakin Justin tidak akan menolak.


Harold datang dengan kepercayaan tinggi, dia sudah sangat yakin akan mendapat bantuan dari Justin. Semoga pria itu memberinya harapan, jika tidak dia akan menjadi gelandangan.


Ben membawa mereka menuju sebuah ruangan, mata Sarah tidak berhenti melihat bangunan mewah itu. Pria yang dia sangka hanya pecundang yang menyedihkan, ternyata pemilik kerajaan bisnis yang semakin hari semakin berkembang dengan pesat.


"Silahkan, waktu kalian tidak banyak," ucap Ben seraya membuka pintu.


Harold mengangguk, begitu juga dengan Sarah. Mereka melangkah masuk, Mata Sarah kembali melotot ketika dia melihat Abigail sedang duduk di samping Justin. Harold juga terlihat tidak senang tapi dia harus mengabaikan hal itu dan tidak membuat kesalahan.


"Abigail, aku sangat merindukanmu," ucap Sarah pura-pura. Ternyata Abi memang bersama dengan Justin, pantas saja dia tidak bisa bertemu dengan Abi saat dia mencari gadis itu di rumahnya?


"Apa kau mengenalnya, Abi?" tanya Justin. Matanya tidak lepas dari Sarah dan Harold.


"Entahlah, aku lupa. Sepertinya ingatan lamaku sudah hilang bersama dengan lemakku!" jawab Abi tapi matanya tidak melihat Sarah dan Harold karena dia lebih memilih melihat layar komputer.


Justin terkekeh, usapan lembut Abi dapatkan juga sebuah ciuman di dahi.


"Tunggu di sini baik-baik," ucap Justin dan lagi-lagi sebuah ciuman di dahi Justin berikan.


Sarah mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia benar-benar iri melihat Abigail di cintai seperti itu oleh Justin. Jika waktu itu dia mencari tahu semua tentang Justin, pasti dia yang ada di posisi itu dan yang mendapat perlakuan seperti itu adalah dirinya, bukan Abigail.


Justin beranjak, mendekati mereka berdua. Sepertinya dia tahu kenapa mereka datang dan benar saja, Harold tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Tuan Wycliff, aku tahu aku sudah salah karena menghina dirimu di acara pesta itu. Aku mohon maafkan perbuatan bodoh yang aku lakukan dan semua itu disebabkan oleh wanita ini dan beri aku kesempatan," pinta Harold memohon.


"Kenapa kau menyalahkan aku?" Sarah menatap Harold dan terlihat kesal.


"Wanita benar-benar bisa membuat seorang pria menjadi bodoh, Tuan Linford," ucap Justin mencibir.


"kau benar, Tuan Wycliff. Aku benar-benar sudah bodoh karena wanita."


Mata Sarah melotot, apa yang dimaksud Harold adalah dirinya?


"Sekarang tidak perlu basa basi, katakan padaku apa yang kalian inginkan? Aku tidak punya banyak waktu karena aku sedang sibuk dengan calon istriku."


Harold melihat ke arah Abigail, begitu juga dengan Sarah. Abi benar-benar tidak mempedulikan mereka bahkan melihat mereka pun tidak.


"Justin, aku ingin bicara dengan Abigail," ucap Sarah.


"Dia ada di sana, kau bisa berbicara dengannya tapi jangan mendekatinya dan jika kau lakukan, maka aku akan melemparmu keluar dan waktumu hanya lima menit!"

__ADS_1


Sarah mengumpat, apa maksudnya? Apa dia penjahat? Apa dia kuman? Kenapa Justin memperlakukan dirinya seperti itu?


"Abi, aku tahu aku salah selama ini. Tolong maafkan aku," pinta Sarah.


Abi belum menjawab, bahkan dia belum melihat ke arah Sarah. Sahabat yang dia anggap begitu baik selama ini, begitu tega mengkhianati dirinya dan dia tidak akan lupa bagaimana perasaannya waktu itu.


"Jika aku memaafkan dirimu, lalu apa yang akan aku dapatkan?" tanya Abigail acuh tak acuh.


"Aku tahu kau pasti mau memaafkan aku, kau memang sahabat baik yang aku miliki. Aku telah salah karena mengkhianati persahabatan kita jadi maafkan aku, Abi. Maukah kau berteman denganku lagi?" Tanya Sarah. Dia harap Abi menjawab 'Ya' karena setelah mereka kembali berteman, dia bisa memanfaatkan Abi dan meminjam uang darinya agar dia bisa terbebas dari para penagih hutang itu.


Sekarang satu-satunya yang mau berteman dengannya mungkin Abigail karena semua sahabatnya tidak ada yang peduli dengannya. Dia tahu Abi begitu baik, dia tahu Abi adalah sahabat yang bisa dia andalkan dalam segala hal jadi dia harap Abi mau bersahabat kembali dengannya.


"Tidak!" tolak Abi tanpa ragu.


"Kenapa, Abi? Bukankah kita berteman baik sejak lama?"


"Ya, tapi itu dulu!" Abi melihatnya sekarang tapi tatapan tajam yang dia berikan.


"Kau yang sudah menghancurkan persahabatan di antara kita jadi untuk apa lagi kita bersahabat?"


"Aku tahu aku salah, Abi. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu," pinta Sarah.


"Tidak, aku tidak butuh sahabat sepertimu. Lebih baik aku tidak punya sahabat dari pada aku bersahabat denganmu!" ucap Abigail.


"Waktu habis! Sekarang giliranmu, Tuan Linford!" ucap Justin.


"Justin, kita adalah teman tapi kenapa kau memperlakukan aku seperti ini!" teriak Sarah.


"Teman Abi adalah temanku juga tapi aku tidak mau berteman denganmu karena sejak dulu aku tahu, kau bukanlah orang yang bisa dijadikan teman baik!"


"Justin!" Sarah tidak terima mendengar ucapan Justin.


"Sekarang giliranmu, Tuan Linford! Aku tidak punya banyak waktu," ucap Justin seraya mengabaikan Sarah.


"Aku datang ke sini untuk meminta maaf dan meminta bantuanmu, Tuan Wycliff. Tolong maafkan aku dan tolong pula bantu perusahaanku," pinta Harold memohon.


"Abigail, apa kita harus membantunya?" Justin sengaja bertanya pada Abi.


Abi pura-pura berpikir dan setelah itu dia berkata, "Bukankah kau sudah memberikannya kesempatan? Aku rasa orang yang menyia-nyiakan kesempatan tidak perlu di pedulikan."


"Kau benar," Justin tersenyum, dia senang Abi tidak mempedulikan mereka berdua lagi.


"Abigail, please beri aku kesempatan!" pinta Harold.

__ADS_1


"Aku tidak berhak, Harold." ucap Abi.


"Plaese Tuan Wycliff, beri aku kesempatan sekali lagi," Harold benar-benar memohon.


"Aku sudah memberi kau dua kesempatan tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu!"


"Apa, kapan?" tanya Harold tidak mengerti.


"Apa kau masih ingat saat ada yang mau menjalin kerja sama denganmu lalu kau tolak, Tuan Linford?" tanya Justin.


Harold diam, waktu itu memang ada yang menawarkan bantuan dan mau bekerja sama dengannya tapi itu hanya perusahaan kecil yang tidak memiliki nama. Harold menatap ke arah Justin, jangan katakan?


"Apa itu perusahaanmu?" tanya Harold.


"Benar, itu anak perusahaan yang baru aku bangun dan sedang mencari rekan bisnis tapi kau menolak karena perusahaan itu baru, kecil dan tidak belum punya nama!"


"Ti-Tidak mungkin!" Harold terlihat shock, dia benar-benar sudah menyia-nyiakan dua kesempatan besar.


"Jadi? Aku rasa sudah tidak ada kesempatan lagi untukmu karena kau sudah menyia-nyiakan uluran tanganku dua kali."


"Tolong beri aku kesempatan ketiga," pinta Harold.


"Kesempatan untuk kalian sudah tidak ada," jawab Justin seraya memutar langkah dan berjalan kembali ke kursinya.


"Tolong, beri aku satu kali kesempatan lagi," Harold masih berusaha memohon, begitu juga dengan Sarah.


"Ben, bawa mereka keluar!" perintah Justin dan tidak menunggu lama, Ben sudah masuk bersama dua security.


"Bawa mereka dan mulai sekarang, mereka tidak boleh masuk lagi!"


"Aiyai, kapten!" jawab Ben.


"Abi tolong maafkan aku, hanya kau sahabat yang aku punya!" pinta Sarah tapi Abi diam apalagi Justin sedang merangkul pinggangnya dan memberikan ciuman di dahi.


"Tuan Wycliff, tolong beri aku kesempatan ketiga!" pinta Harold pula.


"Justin, kedua pecundang menyedihkan itu berisik!" ucap Abigail sengaja. Sekarang dia membalikkan penghinaan yang pernah mereka berikan.


"Segera Ben, jika tidak Afrika menunggu kedatanganmu!"


"Sialan, cepat tarik!" perintah Ben.


Sarah mengumpat saat dia ditarik keluar, dai benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu. Harold menunduk lesu, matanya melihat ke arah Abigail untuk terakhir kali karena setelah ini dia akan pindah dan dia tidak akan bisa melihat Abigail lagi, gadis baik-baik yang telah dia sia-siakan.

__ADS_1


Jika waktu bisa diulang maka dia tidak akan menyia-nyiakan Abigail hanya karena bentuk badannya tapi sekarang, hanya penyesalan yang tersisa.


__ADS_2