
Abigail sangat heran karena ayah dan ibunya memandanginya sedari tadi. Abi baru saja kembali dari jongging, tapi dia sudah mendapat tatapan dari kedua orangtuanya. Entah kenapa ayah dan ibunya seperti itu tapi dia cuek saja, apalagi dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
Kedua orangtuanya seperti itu karena mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri mereka dan Sarah. Mereka benar-benar penasaran dan mereka juga ingin tahu bagaimana hubungan Abigail dengan Justin. Apa hubungan mereka sudah ada kemajuan?
Abi melihat kedua orangtuanya dengan heran saat dia duduk bersama mereka setelah mengambil semangkuk salad sayur yang ibunya buatkan. Sekarang salad adalah makanan kesukaannya, dia bahkan lupa bagaimana rasanya makanan junkfood dan yang pasti dia tidak mau menyentuhnya lagi.
"Kenapa kalian melihat aku seperti itu?" tanya Abi heran.
"Kami hanya ingin tahu," jawab sang ayah.
"Apa?" Abi memakan saladnya dengan santai, sedangkan kedua orangtuanya saling pandang dan mengangguk sebagai isyarat jika sang ayah yang akan bertanya.
"Kami hanya ingin tahu, apa yang telah terjadi antara kau dan Sarah?" tanya ayahnya.
Abi memandangi ayahnya sejenak lalu dia menjawab, "Tidak ada!"
"Yang benar?" tanya ayah dan ibunya tidak percaya.
"Yeah, aku hanya tidak mau berteman dengannya lagi."
"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya sang ibu.
Abi diam, sebenarnya dia enggan membahas hal itu lagi apalagi dia harus mengingat penghinaan yang Harold berikan untuknya waktu itu.
"Abi, kau dan Sarah berteman baik sejak lama. Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu di antara kalian. Kau menghindarinya begitu lama, kau juga tidak mau bertemu dengannya. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya jadi katakan pada kami, apa yang telah terjadi di antara kalian berdua?" tanya sang ibu lagi karena dia ingin tahu, kenapa Abigail selalu menghindari Sarah.
"Girl, apa karena Justin kalian berdua bertengkar?" tanya sang ayah pula.
"Tidak Dad, ini tidak ada hubungannya dengan Justin."
"Lalu?" ayah dan ibunya bertanya secara serempak.
Abi menghela napas, dia masih belum menjawab karena sibuk menghabiskan salad sayurnya. Entah dari mana dia harus memulai, dia sendiri tidak tahu.
"Abigail, ayolah katakan pada kami, ucap ayahnya.
"Dia mengkhianati aku, Dad," jawab Abi.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" ayah dan ibunya semakin penasaran.
"Mom, hari itu ketika aku ke rumah Sarah untuk melihat keadaannya?" Abi menghentikan ucapannya sejenak untuk menghela napas.
"Apa yang terjadi? Apa dia memarahimu?" tanya ayahnya.
"Tidak, Dad. Hari itu Sarah sengaja memanggil aku datang."
"Untuk apa?" sela sang ayah.
"Agar aku melihat hubungannya dengan Harold."
"Apa?" ayah dan ibunya terkejut. Apa putri mereka tidak sedang bercanda?
"Aku tidak tahu hari itu, aku akan melihat kebusukan mereka berdua. Harold menghina aku dengan begitu keji, dia begitu jijik denganku dan Sarah sengaja agar aku mendengar penghinaan yang Harold berikan. Aku tidak tahu apa tujuan Sarah melakukan hal itu tapi aku sangat kecewa dengannya. Sebab itu aku tidak mau bertemu lagi dengannya, aku juga tidak mau berteman lagi dengannya. Padahal aku menganggap Sarah sebagai sahabat baikku, tapi dia bagaikan menusuk aku dari belakang dan menjalin hubungan dengan Harold."
"Sialan!" umpat ayah Abi dan tidak lama kemudian, BRRAAAKKKK!!! Meja dipukul dengan keras akibat emosi.
Abigail terkejut, begitu juga dengan ibunya bahkan mangkuk salad yang Abi gunakan terbalik di atas meja.
"Auw ... Auw ... Sakit, sakit!" keluh sang ayah sambil mengangkat kedua lengannya karena dia terlalu keras memukul meja.
"Berisik, ini karena aku terlalu emosi!"
Abi menggeleng, begitu juga dengan ibunya. Untung saja meja itu tidak jungkir balik akibat di pukul sang ayah.
"Jadi sebab itu kau tidak mau bertemu dengan Sarah lagi?" tanya ibunya.
"Yes, Mom. Untuk apa aku bertemu dengannya lagi? Aku sudah tidak menganggapnya sebagai sahabatku lagi."
"Kau benar, aku tidak menyangka Sarah akan berbuat seperti itu. Aku kira apa yang telah terjadi, aku benar-benar tidak menyangka dia menjalin hubungan dengan Harold."
"Biarkan saja, mereka sama-sama pengkhianat dan mereka sangat serasi," ucap Abigail.
"Baiklah, bagaimana hubunganmu dengan Justin. Apa kalian berdua berpacaran?" Ayah dan ibunya memandanginya dengan serius karena mereka juga ingin tahu akan hal ini.
"Tidak,:" jawab Abi sambil tersipu.
__ADS_1
"Kenapa tidak?" tanya sang ayah dengan nada keras sampai membuat istri dan putrinya melihat ke arahnya.
"A-Aku takut Dad."
"Apa yang kau takutkan, Sayang?" tanya ibunya.
"Aku takut," Abi menunduk, "Aku takut Justin akan seperti Harold yang meninggalkan aku karena jijik," ucapnya lagi.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak melihat ketulusan dan apa yang dia lakukan untukmu selama ini?"
Abi diam, memandangi ayah dan ibunya. Justin memang sudah melakukan banyak hal untuknya. Bahkan sejak malam itu, Justin menunjukkan jika dia serius dan tidak main-main tapi rasa takut akan dikhianati lagi selalu menghantui dirinya.
"Abi, tidak semua lelaki seperti Harold," ucap ayahnya.
"Benar Sayang, lihatlah Justin. Dia sangat jauh berbeda dengan Harold, dia begitu baik padamu bahkan dia yang selalu memberimu semangat untuk berubah. Kami bisa melihatnya jika dia benar-benar tulus padamu, apa kau tidak bisa melihat itu dari apa yang dia lakukan?"
Abi memandangi ibunya, Justin memang begitu baik bahkan dia tidak malu sama sekali saat bersama dengannya dari dia gemuk sampai sekarang. Hasil yang dia dapat bukan saja dari kerja kerasnya tapi berkat bantuan Justin dan dorongan yang dia berikan.
"A-Aku tidak tahu," Abi menunduk, wajahnya memerah mengingat apa yang hampir mereka lakukan.
"Jika begitu carilah tahu, bagaimana perasaanmu padanya," ucap sang ibu.
"Apa tidak apa-apa, Mom?"
"Apa maksudmu?" tanya ibunya heran.
"Apa tidak apa-apa aku menjalin hubungan lagi?"
"Tentu saja tidak apa-apa, memangnya ada yang salah? Bagus jika kau mau menjalin hubungan lagi dan tunjukkan pada Harold si berengsek itu jika kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya."
Abi tersenyum tipis, haruskan dia melakukan hal itu? Jujur saja dia tidak mau bertemu dengan Harold lagi dan dia berharap tidak bertemu dengan pria itu lagi.
"Baiklah, aku mau mandi. Justin sebentar lagi akan datang untuk menjemputku," Abi beranjak membawa mangkuk bekas saladnya.
Abi berjalan menuju kamar, meninggalkan ayahnya yang sedang dimarahi oleh ibunya karena kedua tangannya membengkak akibat memukul meja. Abi bahkan menertawakan ayahnya sambil menuju kamar tapi dia sedang memikirkan nasehat ibunya. Apa sudah saatnya membuka hati?
Dia tahu Justin serius dengan perasaannya, dia bisa lihat itu dari semua yang Justin lakukan dan tunjukkan untuknya. Dia tahu pria itu tulus dan tidak main-main tapi dia takut jatuh cinta lagi karena dia tidak mau kecewa untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Dia juga takut mengecewakan Justin dan yang paling penting, apakah keluarga Justin bisa menerimanya? Bagaimana jika mereka seperti keluarga Harold? Jujur dia sangat takut apalagi dia tidak mau kecewa lagi.