
Abi melanjutkan membuat makanan yang tertunda, sedangkan Justin berada di dalam kamar karena dia ingin menghubungi Ben.
Dia ingin tahu sudah sejauh mana rencana yang mereka buat. Dia akan membantu Abi membalas penghinaan yang diberikan oleh Sarah dan Harold dengan cara yang elegan.
Biarkan saat ini mereka berbangga diri, biarkan mereka menyombongkan diri karena sebentar lagi, dia akan memukul mereka hingga terjatuh.
Penghinaan yang Abi dapat hari ini dan air mata yang dia tumpahkan, mereka harus membayarnya nanti.
Ponsel sudah berada di tangan, Justin berdiri di balkon kamar. Dia tidak ingin Abi mendengar pembicaraannya dengan Ben, tidak karena dia ingin memberikan kejutan untuk gadis itu.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Ben pasti sudah pulang dari kantor. Dia juga ingin tahu, kemana para pelayannya?
"Hei, apa kau sudah sembuh?" tanya Ben tanpa basa basi.
"Aku hanya sakit kepala saja tapi kau mengatakan seolah-olah aku sudah mau mati pada Abigail!"
Ben terkekeh, dia hanya bercanda saja tapi dia tidak menduga gadis itu mempercayainya.
"Bagaimana keadaamu? Obat yang aku bawa sangat ampuh, bukan?"
"Ya, tapi kau ke manakan para pelayanku?" tanya Justin.
"Aku meliburkan mereka satu hari agar kau bisa berduaan dengan gadis itu."
Justin menggeleng, seenaknya saja. Walau sesungguhnya dia sangat senang dia bisa berduaan dengan Abigail tanpa ada yang mengganggu.
"Baiklah, apa yang mau kau bicarakan tadi padaku? Sudah sejauh mana rencana kita?"
"Inilah yang mau aku bicarakan padamu, Sobat. Umpan yang kita lemparkan sudah ditangkap sebaik mungkin."
"Bagus," Justin menyeringai, dia yakin umpan yang dia berikan akan ditangkap apalagi di saat musuh sudah diambang kehancuran. Buat musuh terjatuh lalu berikan harapan, angkat setinggi mungkin lalu hempaskan ke dasar jurang yang paling dalam.
"Dia ingin bertemu denganmu, kapan kau ingin bertemu dengannya?" tanya Ben.
"Jangan terlalu cepat Ben, biarkan dia berusaha. dan biarkan dia panik. Saat sudah tibanya nanti, aku akan menemuinya."
"Hng, aku sudah tidak sabar melihat apa yang akan kau lakukan," ucap Ben.
"Jalankan saja tugasmu dengan baik dan terus tekan perusahaannya. Tekan juga para pengusaha itu agar mereka menarik semua sahamnya dari sana."
"Wow, aku mencium akan ada yang bangkrut sebentar lagi."
Justin tersenyum, dia sudah tidak sabar hari itu tiba dan pada saat itu, dia ingin lihat, siapa sebenarnya pecundang yang menyedihkan.
Setelah berbicara dengan Ben, Justin masuk ke dalam kamar. Sudah sore lebih baik dia meminta Abigail menginap.
Aroma lezat masakan tercium saat dia keluar dari kamar. Justin masuk ke dalam dapur di mana Abigail sedang sibuk.
__ADS_1
"Apa perlu aku bantu?" tanya Justin seraya menghampiri Abigail yang sedang mencicipi makanan.
"Tidak, sudah hampir selesai," jawab Abi dengan wajah tersipu.
"Abi, bagaimana jika malam ini kau menginap?"
"Me-Menginap?" Abi telihat gugup.
"Yes, aku ingin kau menemani aku malam ini. Tidak keberatan, bukan?"
"Ta-tapi aku?" Abigail tampak gugup. Menginap? Sepertinya tidak sesederhana yang dia pikirkan.
"Apa kau tidak mau?" Justin mengikuti Abigail yang sedang melangkah menuju meja untuk meletakkan makanan yang baru saja matang.
"Aku belum menghubungi ibuku," wajah Abi memerah, dia bahkan tidak berani memandangi Justin.
"Aku yang akan menghubunginya," Justin meraih pinggang Abigail, senyumnya mengembang ketika melihat wajah Abigail yang bersemu merah.
"Justin," Abi tampak gugup, entah kenapa rasanya sangat jauh berbeda di bandingkan bersama dengan Harold dulu.
"Apa kau mau mandi denganku, Abigail?" tanya Justin seraya memberikan ciuman di leher Abi.
Wajah Abigail merah padam. Mandi?
"Tidak, kau akan jijik saat melihat tubuhku," ucapnya karena ucapan Sarah kembali teringat.
Apa yang diucapkan Sarah sangat benar, tubuhnya memang dipenuhi selulit jadi jangan sampai Justin melihatnya.
"Sudah aku katakan padamu, Abi. Aku tidak jijik sama sekali denganmu."
"Thanks Justin, tapi aku malu."
"Baiklah, tapi kau mau menginap, bukan?"
Abi mengangguk, hanya menginap dia tidak akan menolak. Lagi pula dia percaya Justin tidak akan melakukan apa pun padanya.
Justin tersenyum dan mengangkat dagu Abigail, sebuah kecupan ringan dia berikan di bibir.
Mereka berdua saling pandang sesaat dan setelah itu mereka kembali beciuman dengan mesra. Abi tidak menolak, lagi pula dia tahu kesungguhan Justin dan dia juga merasa nyaman berada di dekat pria itu.
Abigail memeluk Justin dengan erat, dia tidak mau memikirkan apa pun lagi. Cukup nikmati kebersamaan mereka berdua saat ini.
"Hm, apa kami mengganggu?"
Abi terkejut, sedangkan Justin memandang ke arah datangnya suara tanpa melepaskan bibir Abigail.
"Mau menciumnya sampai kapan?" tanya sang ibu.
__ADS_1
Abi mendorong tubuh Justin dengan terburu-buru, wajahnya memerah karena dia malu luar biasa.
"Mom, Dad, kenapa kalian datang?" tanya Justin. Dia terlihat cuek dan santai, sedangkan Abigail semakin malu. Bukankah Ben bilang kedua orangtua Justin sedang di luar negeri?
"Kami dengar kau sakit jadi aku membawakan makanan untukmu tapi sepertinya kau baik-baik saja," ucap ibunya.
"Ck, aku hanya sakit kepala saja," Justin meraih tangan Abigail. Kebetulan ayah dan ibunya datang jadi dia bisa mengenalkan mereka.
"Abi, ini kedua orangtuaku. Lihatlah, mereka tidak melarang hubungan kita berdua," ucapnya.
Abi memandangi kedua orangtua Justin dan tersenyum canggung. Dia benar-benar malu karena mereka harus bertemu dalam keadaan seperti itu.
"Kemarilah, apa dia menindasmu?" tanya ibu Justin.
"Ti-Tidak," jawab Abigail seraya mendekati ibu Justin.
"kau berubah banyak Sayang, tidak seperti pertama kita bertemu waktu itu."
"Tentu saja, aku yang membantunya," ucap Justin.
"Mommy tidak bertanya padamu!" ucap ibunya ketus.
"Justin, kau akan hadir di acara peresmian hotel baru Daddy, bukan?" tanya ayahnya.
"Tentu saja, Dad. Aku pasti hadir."
"Jangan lupa bawa Abigail!" ucap ibunya.
"Boleh aku mengundang beberapa teman, Dad?" tanya Justin.
"Tentu saja, kau boleh mengundang siapa saja."
"Thanks, Dad," Justin melihat ke arah Abigail dan ibunya yang saat itu sedang sibuk mengeluarkan makanan yang ibunya bawa.
"Dad, kalian sudah tahu jika aku menyukainya sejak lama."
"Ya, lalu?" sang ayah menatap putranya dengan ekspresi ingin tahu.
"Aku ingin melamarnya, kalian tidak keberatan, bukan?"
"Aku tidak keberatan, asal kau serius dengannya. Ibumu juga tidak akan keberatan, dia bahkan terlihat menyukai gadis itu. Katakan kapan kau akan melamarnya, kami akan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan kedua orangtuanya nanti."
"Thanks Dad, aku tahu kalian tidak akan melarang."
"Untuk apa kami melarang, kau bebas menentukan pilihan!" ucap sang ayah seraya menepuk bahu putranya.
Justin tersenyum, dia terlihat senang apalagi Abigail dan ibunya sudah terlihat begitu akrab. Abi bahkan tidak merasa canggung lagi, dia bahkan berbincang dengan ayah Justin saat pria itu melemparkan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Ternyata kedua orangtua Justin tidak seperti yang dia pikirkan, padahal dia sudah takut jika mereka seperti kedua orangtua Harold ternyata dia salah. Mereka bahkan makan bersama malam itu dan terlihat akrab, Abi harap semoga saja kedua orangtua Justin tetap seperti itu dan tidak sedang menunjukkan wajah palsu seperti yang kedua orangtua Harold lakukan.