
Sarah mengumpat marah, dia masih menunggu di cafe. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dia sudah menunggu selama berjam-jam tapi Abi dan Justin tidak juga terlihat. Matanya benar-benar tidak lepas dari tempat Gym, dia bahkan melihat setiap wanita gemuk yang lewat dan masuk juga keluar dari tempat itu dengan teliti tapi dia tidak melihat Abigail.
Apa Abigail tidak ada di tempat itu? Tidak, dia akan menunggu sampai malam karena dia yakin Abi dan Justin ada di dalam sana. Sarah sudah menghabiskan lima gelas kopi dan tiga potong kue agar dia tidak diusir dari cafe itu. Hari ini dia tidak boleh gagal untuk bertemu dengan Abi jadi dia akan menunggu sampai tempat gym itu tutup.
Di dalam sana, Abi dan Justin masih serius. Abigail berniat mencari pekerjaan setelah ini. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkahnya, berat badannya juga tidak. Sekarang dia sudah begitu percaya diri, tidak ada lagi yang akan menghina dirinya karena bentuk badannya.
Ternyata menjadi kurus menyenangkan, bisa memakai baju apa pun yang dia mau dan yang paling penting dia tidak perlu memikirkan pandangan orang-orang lagi tentang dirinya.
Abi begitu serius memandangi layar komputer tapi mata Justin serius memandanginya. Setelah kurus, wajah Abi terlihat semakin manis dan hal itu semakin membuatnya ingin mendapatkan Abigail. Tidak akan dia biarkan seorang pria pun mendekati Abi karena gadis itu adalah miliknya.
Tinggal sedikit waktu lagi untuk membalas penghinaan yang Harold berikan pada Abi, pada saat itu tiba dia yakin pria yang bernama Harold itu akan menyesal setengah mati.
"Justin," Abi memandanginya dengan ekspresi heran karena dia sudah memanggilnya sejak tadi tapi Justin diam saja.
"Oh, maaf," ucap Justin.
"Ada apa? Apa kau sakit?" Abi meraba dahi Justin lalu satu tangannya berada di dahinya sendiri.
"Hm, i think so," Justin memegangi tangan Abi yang ada di dahinya lalu memindahkannya ke tempat lain.
"Tapi bagian sini," ucapnya saat tangan Abi sudah berada di dadanya.
"Ka-kau sakit apa?" Abi terlihat gugup, dia sangat ingin menarik tangannya tapi Justin tidak melepaskan tangannya.
"Seharusnya kau tahu, Abi."
Abigail terlihat semakin gugup, apa yang harus dia lakukan? Gadis itu semakin gugup apalagi mata mereka saling menatap satu sama lain.
"A-Aku tidak tahu!" Abi beranjak dari tempat duduknya, entah kenapa jantungnya jadi berdebar karena Justin memandanginya seperti itu.
"Serius kau tidak tahu?" Justin juga beranjak, mengikuti langkah Abi yang menuju meja untuk mengambil minuman.
Abi menggeleng dengan wajah memerah, dia bahkan meneguk minumannya dengan cepat. Sesungguhnya dia hanya pura-pura saja, dia tahu Justin menyukainya tapi dia takut untuk jatuh cinta lagi.
"Abigail," Justin meraih pinggang Abi pada saat gadis itu hendak melangkah pergi.
"Ju-Justin," Abi tampak gugup karena Justin merapatkan tubuh mereka berdua. Kedua tangannya bahkan sudah berada di dada Justin agar tubuh mereka tidak terlalu dekat dan memiliki jarak.
Justin tersenyum lembut, dia suka melihat Abi seperti itu. Satu tangannya sudah berada wajah Abigail, memberikan usapan lembut di sana.
"Apa kau sudah menyukai aku, Abigail?" tanyanya.
"A-Aku tidak tahu," Abi memalingkan wajah, jantungnya semakin berdebar dan dia merasa tidak kuat.
"Jika begitu lihat aku, Abi," Justin memegangi dagunya, mata mereka kembali saling memandang.
__ADS_1
"Apa belum ada rasa cinta di hatimu untukku?"
"A-Aku," Abi gugup luar biasa. Bisakah dia pingsan saat ini? Dia sangat ingin pingsan agar dia bisa menghindari pertanyaan Justin.
"Hm?" Justin mendekatkan wajah mereka berdua, jantung Abi seakan mau melompat keluar saat pria itu mencium pipinya.
"Ju-Justin."
"Yes? Jadi kau sudah menyukaiku?" Justin berbisik di telinganya dan memberi ciuman di daun telinga sehingga membuat Abi merasa geli.
Tanpa Abi sadari, matanya sudah terpejam dan kedua tangannya sudah melingkar di tubuh Justin. Merasa Abi tidak menolak, bibir Justin mulai berpindah, dari telinga lalu ke pipi. Tangan Justin sudah berada di bawah dagu Abigail dan mereka berdua saling pandang.
Abi diam, detakan jantungnya semakin kencang terdengar bahkan napasnya terasa berat. Justin tersenyum, mata Abi tidak lepas darinya tapi kemudian matanya terpejam saat Justin mendekatkan bibir mereka. Kedua tangan Abigail mencengkeram baju Justin, dia malas berpikir. Bibir mereka sudah dekat tapi sayangnya waktu itu, seseorang membuka pintu secara tiba-tiba.
"Justin ada ...," Ben menghentikan ucapannya, matanya melotot ke arah mereka begitu juga dengan Justin dan Abigail.
Mereka bertiga saling pandang lalu beberapa detik kemudian Ben bersiul pura-pura tidak melihat mereka dan menutup pintu kembali. Ben lari ke bawah dengan cepat dan tidak lama kemudian, "Ben!" Justin berteriak saat Abi mendorong tubuhnya dan melarikan diri dengan wajah memerah.
"Sialan, aku punya firasat buruk!" ucap Ben apalagi Justin kembali berteriak memanggilnya.
Abi bersembunyi di balik dinding sambil memegangi jantungnya yang berdegup kencang. Apa yang baru saja ingin mereka lakukan?
Jari gadis itu sudah berada di bibir, meraba bibirnya tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah saat mengingat ucapan yang Harold katakan waktu itu.
"Bodoh Abi, apa yang baru saja mau kau lakukan? Kenapa kau begitu mudah terbuai?" Abi menenangkan degupan jantungnya dan napasnya yang memburu.
Tidak, dia tidak boleh terlalu cepat membuka hatinya pada siapa pun walau dia bisa melihat jika Justin serius dengan perasaannya. Dia takut, benar-benar takut menjalin hubungan dengan seorang pria lagi.
Abi masih berada di balik dinding, sedangkan Justin mencarinya. Semua itu gara-gara Ben, ciuman mereka jadi gagal. Awas saja dia nanti.
"Abi, sudah sore ayo kita pulang," ajaknya.
Abigail keluar dari balik dinding dan tersenyum canggung, Justin mendekatinya dan meraih kedua tangan Abi tapi gadis itu berusaha menarik tangannya.
"Maaf, seharusnya aku kunci pintu," ucap Justin, sedangkan Abi menggeleng.
"Apa kau marah?" tanya Justin sambil memandanginya dengan lekat.
"Ti-Tidak," Abi kembali tersenyum tapi itu senyum yang dia paksakan.
"Baiklah, kita pergi makan dulu sebelum pulang."
"Aku mau pulang saja Justin, aku mau istirahat," Abi menunduk, dia tidak enak hati karena Justin begitu baik.
"Tidak mau pergi makan dulu?" tanya Justin memastikan.
__ADS_1
"Tidak, aku mau istirahat saja."
"Baiklah, itu karena kau terlalu bersemangat hari ini."
Abi tersenyum, sesungguhnya dia sangat tidak enak hati menerima semua kebaikan dari Justin. Dia takut mengecewakan pria itu dan mempermalukannya seperti dia mempermalukan Harold.
Abi mengikuti langkah Justin keluar dari ruangan itu, dia bahkan membiarkan Justin membawakan barang dan juga menggandeng tangannya. Itu Justin lakukan setiap hari, dari badan abi masih gemuk sampai kurus seperti sekarang dan dia tidak malu sama sekali. Dia ingin Abi tahu jika dia benar-benar tulus pada gadis itu dan tidak jijik dengannya.
Di cafe Sarah sudah bosan setengah mati, dia benar-benar kesal. Sarah masih melihat ke arah Gym tapi dia terkejut ketika melihat Justin keluar dari tempat itu bersama dengan seorang wanita yang berjalan di sisinya menuju mobil. Sarah beranjak, dia ingin melihat wanita itu karena dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tidak mungkin itu Abigail karena ukuran tubuhnya wanita itu dengan Abi sangat jauh berbeda.
Dia bahkan keluar dari restoran dan berlari menuju mobil Justin, dia harap bisa mencegah. Dia bahkan berusaha memanggil tapi sayangnya Justin sudah menyalakan mesin mobil dan membawa mobil itu pergi. Sarah mengumpat marah, jangan katakan wanita tadi adalah Abigail karena dia tidak akan percaya!
Sarah pulang dengan kekesalan di hati, padahal dia sangat ingin tahu bagaimana keadaan Abigail tapi ternyata hari ini dia tidak bisa bertemu dengannya. Dia akan kembali lagi nanti dan dia yakin jika dia bisa bertemu Abigail.
Malam itu Ben juga mendapat hukuman, dia tidak boleh masuk oleh istrinya dan terkunci di luar. Ben tahu siapa pelakunya dan dia rasa istrinya sudah tahu jika dia pergi mabuk hari itu.
"Honey, buka pintunya, please," Ben sedang membujuk sang istri.
"Tidak! Malam ini kau tidur di luar karena kau pergi mabuk tanpa sepengetahuanku!" jawab istrinya.
Ben menghela napas, sudah dia duga.
"Aku minta maaf, ayo buka pintunya," pintanya lagi.
"Pintu itu akan terbuka jika kau memberi aku seribu dolar untuk membeli kosmetik."
"What? Aku tidak punya sebanyak itu!"
"Justin bilang kau baru dapat bonus," ucap istrinya.
"Sial!"
"Dia juga bilang akan mengirim kau ke Afrika jika kau lakukan lagi dan aku tidak mau ke Afrika!"
"Oke ... Oke, Seribu dolar jadi milikmu dan kita tidak akan ke Afrika."
"Serius?" tanya sang istri.
"Yes," Ben sudah mengeluarkan seribu dolar dengan berat hati, melayang sudah bonus yang baru saja dia dapat.
Pintu terbuka, istrinya tersenyum dengan manis apalagi seribu dolar sudah ditangan.
"Aku sudah menyiapkan air mandi," ucapnya seraya berlalu pergi sambil mengipas seribu dolar yang dia dapat.
Ben menggerutu, lain kali dia akan mengetuk pintu karena dia tidak mau ke Afrika.
__ADS_1