
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Abi masih belum bangun dari tidurnya. Ranjang yang empuk, selimut yang hangat membuatnya enggan bangun. Dia kira dia sedang berada di rumahnya saat ini, dia bahkan enggan menjawab saat ada yang mengetuk pintu. Pasti itu ibunya.
Justin berdiri di depan pintu, membawakan pakaian bersih yang bisa Abi gunakan. Dia kembali mengetuk tapi hasil sama yang dia dapatkan. Sepertinya Abi masih tidur, tapi dia tidak boleh masuk sembarangan.
"Abigail," dia kembali memanggil sambil mengetuk pintu.
Tidak ada respon, itu karena Abi terlalu nyaman di bawah selimut. Justin masih menunggu tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu. Senyum menghiasi wajah saat melihat Abi masih tidur, gadis yang ceroboh.
Justin menghampirinya, dan meletakkan paper bag yang dia bawa di sisi ranjang. Dia bahkan membuka gorden agar Abi bangun dari tidurnya.
"Mom, aku masih mau tidur," ucap Abi seraya menutup wajahnya yang terkena cahaya sinar matahari menggunakan bantal.
Justin tersenyum dan berjalan mendekatinya, pria itu bahkan duduk di sisi ranjang.
"kau mau tidur sampai kapan, Nona?"
Abigail terkejut, matanya terbuka lebar bahkan bantal yang menutupi wajahnya disingkirkan. Abi semakin terkejut melihat Justin dan tidak lama kemudian teriakannya terdengar.
"Justin, kenapa kau ada di kamarku?" Abi panik sendiri, dia lupa di mana dia berada.
"Ini rumahku Nona, apa kau lupa?"
"What?" gadis itu melihat sana sini, mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Dia benar-benar lupa jika dia menginap di rumah Justin, pantas saja dia tidak mendengar teriakan ibunya. Abi menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut sehingga hanya kepalanya saja yang terlihat, entah kenapa dia jadi malu.
"Masih mau tidur lagi?" tanya Justin, sedangkan Abigail menggeleng.
"Jika begitu bersihkan dirimu, di sana ada baju yang bisa kau gunakan," Justin menunjuk paper bag yang dia letakkan tidak jauh dari mereka.
"Thanks, aku akan pulang setelah ini," ucap Abi dengan wajah merona.
"Santai saja, kita sarapan terlebih dahulu. Kau pasti sudah lapar, bukan?"
Abi memegangi perutnya yang berbunyi, dia memang lapar karena dia tidak makan semalam, Wajah gadis itu tiba-tiba jadi murung, itu karena dia mengingat hinaan Harold dan juga pengkhianatan Sarah.
"Ada apa denganmu?" Justin memandanginya dengan heran.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu baik padaku, Justin?" Abigail memandangi Justin, dia belum mengerti kenapa pria itu bisa menyukai dirinya yang seperti itu.
"Sudah jelas, bukan? Itu karena aku menyukai dirimu."
"Tapi aku jelek," ucap Abigail.
"Siapa bilang?"
"Kau bisa melihatnya sendiri."
"Oh ya? Tapi di mataku kau terlihat begitu cantik," Justin mengatakan hal itu tanpa ragu.
"Bo-Bohong!"
"Untuk apa aku berbohong, Nona?"
Abi diam, matanya melotot saat Justin berbaring di sampingnya. Justin memiringkan tubuhnya agar dia bisa melihat wajah Abi, tangannya bahkan sedang mengusap wajah gadis itu dengan lembut, sedangkan Abi tidak berani bergerak.
"Lihat, kau cantik. Kau tidak jelek sama sekali, Abi. Kau merasa seperti itu dan tidak percaya diri karena bentuk badanmu ini."
"Benarkah?"
Abi menggeleng karena dia memang tidak pernah menanyakan hal itu pada Harold.
"See, kau punya daya tarik sendiri. Itu sebabnya dia menyukaimu dari pada Sarah, begitu juga aku. Sarah memang cantik, seksi tapi dia tidak memiliki apa yang kau miliki."
"Oh ya?" tanya Abigail.
"Yes, sebab itu kau harus lebih percaya diri."
"Aneh, memangnya bagian dari manaku yang tidak dimiliki oleh Sarah?" Abi tampak berpikir, kemudian dia mengangkat selimut untuk melihat tubuhnya sambil berkata, "Kami sama-sama wanita, dia juga punya dada dan kami sama-sama punya itu. Memang hanya lemak tubuhku ini yang tidak dia punya dan aku rasa lemakku ini bukan daya tarik yang kau maksud," ucap Abigail.
Justin diam tapi tidak lama kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Abigail? Tapi inilah yang dia sukai dari Abigail dan dia rasa pria yang bernama Harold itu tidak jauh berbeda dengannya.
Abi menutupi tubuhnya kembali dan memandangi Justin dengan tatapan heran. Apa ada yang lucu? Pria itu bahkan masih tertawa, entah kenapa dia jadi malu sendiri. Sepertinya dia sudah salah menduga.
"Ke-Kenapa kau tertawa?" wajah Abi memerah, sedangkan Justin berusaha menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Sorry, aku tidak bermaksud?" ucapnya. Semoga Abi tidak marah.
"Apa kau tidak tahu, Abigail?" tanya Justin, sedangkan Abi menggeleng.
"Sifatmu yang seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Sarah. Walau dia cantik, tapi dia terlihat licik. Apa kau mau tahu kenapa aku menipunya waktu itu?"
Abi menggeleng karena dia memang tidak tahu.
"Aku memang sudah tidak suka dengannya, aku sudah banyak mendengar perbuatan buruk yang dia lakukan sebelum aku pindah dan aku rasa dia yang menggoda mantan pacarmu. Sudah aku katakan padamu dia bukan teman yang baik jadi sebaiknya jauhi dia mulai sekarang."
Abi mengangguk, dia memang tidak mau berteman dengan Sarah lagi. Dia bahkan sudah memblokir nomor ponsel Sarah. Itu sebabnya Sarah tidak bisa menghubunginya lagi. Dia ingin berpura-pura jika Harold yang datang dan menggodanya, lagi pula Abi gadis polos yang mudah dia bohongi. Dia yakin Abi akan percaya apa pun yang dia katakan tapi sayangnya Abi sudah memutuskan untuk tidak mau berteman dengannya lagi.
"Jika begitu segera bersihkan diri, aku tunggu di luar. Mulai sekarang aku akan ke rumahmu setiap pagi, kita akan jogging bersama."
Abi kembali mengangguk, dia memang sudah sangat ingin menurunkan berat badannya agar Harold tidak menghina dirinya lagi. Walau dia tidak tahu apa motif Sarah menipunya dan memintanya untuk datang agar dia bisa melihat hubungannya dengan Harold, tapi dia tidak mau berteman dengannya lagi. Dia harus berubah dan membuang dirinya yang lama.
Justin tersenyum dan sebelum beranjak, Justin mendekati Abi dan mendaratkan sebuah ciuman di dahi, "Aku tunggu di luar," ucapnya.
Abigail memegangi dahinya, apa benar pria itu tidak jijik dengannya?
Setelah kepergian Justin, Abi bergegas membersihkan diri. Pakaian yang diberikan Justin begitu pas dia kenakan, entah kenapa dia merasa pria itu begitu tahu tentang dirinya.
Abi keluar dari kamar, matanya tampak melihat rumah itu dengan teliti. Justin menghampirinya dan mengulurkan tangan, "Ayo sarapan," ucapnya.
Abi menyambut uluran tangannya tanpa berkata apa-apa dan mengikuti langkahnya menuju dapur. Sarapan sudah terhidang di atas meja, tentunya Justin yang membuat semua itu dan semua yang dia buat makanan sehat rendah kalori.
"Kau yang membuat semua ini?" tanya Abigail.
"Ya, siap menjadi kurus bersama denganku, Nona?"
"Tentu, aku sudah tidak sabar melihat rupa Harold nanti."
"Bagus, sekarang sarapan terlebih dahulu dan setelah itu kita pergi ke tempat Gym lebih awal. Sekarang, Sarah tidak akan bisa masuk ke tempat itu lagi dan dia tidak akan mengganggu dietmu lagi."
"Thanks, Justin."
"Aku hanya melakukannya untukmu."
__ADS_1
Abi tersenyum, dia pasti akan melakukan program dietnya dengan sungguh-sungguh dan kali ini dia tidak akan mencuri makanan lagi saat tengah malam.
Sarah dan Harold, tunggu saja. Dia pasti bisa membungkam mulut mereka berdua.