Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 45


__ADS_3

Tangan Justin meraba tempat tidur, mencari keberadaan Abigail tapi gadis itu sudah tidak ada di sampingnya. Justin duduk di atas ranjang, matanya melihat sana sini. Entah berapa lama dia sudah tidur tapi sakit kepala yang dia rasakan sudah tidak ada lagi.


Obat yang Ben bawakan tidak sia-sia, keadaannya sudah jauh lebih baik dari pada tadi. Justin turun dari atas ranjang, dia ingin mencari keberadaan Abigail. Jangan katakan gadis itu pulang dan meninggalkannya sendirian, jika sampai Abi melakukan hal itu maka dia akan sangat marah.


Suasana rumah begitu sepi, kemana para pelayannya? Entah kenapa dia curiga jika semua itu ulah Ben agar dia bisa berduaan dengan Abigail tanpa ada yang mengganggu.


Justin melangkah menuju dapur karena dia ingin mengambil air minum, senyum menghiasi wajah saat melihat Abigail berada di sana. Abi sedang berdiri membelakanginya, dia terlihat sedang memotong sesuatu tanpa menyadari kehadirannya.


Justin menghampiri Abi, dan memeluknya dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Justin.


Abi terkejut, pisau diletakkan dengan cepat dan setelah itu Abi mengusap air matanya dengan terburu-buru karena dia sedang menangis saat itu. Air mata yang dia tahan sedari tadi tumpah saat dia sedang membuat makanan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kedua pengkhianat itu padahal dia sudah tidak mau bertemu dengan mereka lagi.


Abi masih mengusap air matanya, jujur dia tidak ingin Justin melihatnya menangis dan semoga saja Justin tidak menyadarinya.


Justin sangat heran dan tanpa berkata apa-apa, Justin memutar tubuh Abigail. Pria itu terkejut ketika melihat air mata Abigail yang tersisa dan matanya yang memerah, apa yang sebenarnya terjadi?


"Ada apa denganmu? Apa jarimu teriris pisau?" tanya Justin.


"Tidak," Jawab Abi sambil menunduk.


"Lalu? Apa aku menendangmu waktu tidur? Apa aku menimpamu tanpa sengaja?" Justin memperhatikan wajah Abi baik-baik, sepertinya telah terjadi sesuatu pada gadis itu.


"Tidak," jawab Abi lagi.


"Abigail," Justin memegangi wajah Abi dan memandanginya dengan lekat.


"Katakan padaku, apa yang terjadi. Apa kau dimarahi ibumu karena tidak pulang?"


"Tidak, Justin."


"Lalu?"


Abigail diam saja, apakah dia harus mengatakan hal ini pada Justin? Dia tidak marah saat Sarah menghinanya karena dia sudah terbiasa tapi dia tidak terima Justin dihina karena dirinya. Padahal Sarah tidak tahu apa pun tentang Justin tapi kenapa dia begitu tega mengatakan jika Justin hanya seorang pecundang?


"Hei," Justin menggendong Abigail dan mendudukkannya ke atas meja. Entah kenapa dia curiga jika keadaan Abigail ada hubungannya dengan Sarah dan Harold. Hanya mereka berdua yang bisa membuat Abi seperti itu.

__ADS_1


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau seperti ini karena Sarah?"


Mata Abi berkaca-kaca, air matanya kembali mengalir tanpa dia inginkan.


"Justin," Abi memeluknya, menyembunyikan wajahnya di leher Justin dan menangis, "Kenapa mereka berdua begitu jahat?" ucap Abigail di sela tangisannya.


"Berdua? Sarah dan Harold?"


Abi mengangguk, sedangkan Justin mengusap punggungnya dengan lembut. Sudah dia duga, ternyata mereka berdua yang membuat Abigail seperti itu.


"Katakan apa yang terjadi, apa Sarah menghubungimu?"


"Tidak, aku pergi ke grocery store untuk membeli bahan makanan tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan mereka berdua. Walau aku sudah berubah seperti ini mereka tetap saja menghina aku menjijikkan."


"Hng, kurang ajar! Katakan semuanya padaku Abi, aku ingin mendengar semua penghinaan yang mereka berikan padamu!" pinta Justin dengan kemarahan di hati.


"Maaf, karena aku, kau juga jadi bahan hinaan Sarah," Abi melepaskan leher Justin dan menghapus air matanya.


"Apa yang dia katakan?"


"Dia bilang kau hanya pecundang yang menyedihkan. Dia juga berkata kau pria miskin yang tidak sebanding dengan Harold. Maaf Justin gara-gara aku, kau juga harus mendapat penghinaan dari mereka. Seharusnya aku tidak membawa namamu dan mengatakan kita sedang menjalin hubungan, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu."


Abi mengangguk dengan wajah memerah. Dia mengatakan hal itu tanpa pikir panjang dan dia harap Justin tidak marah.


Justin tersenyum, tangannya mengusap wajah Abigail dengan lembut. Abi tampak salah tingkah, jantungnya bahkan berdebar karena sentuhan tangan Justin.


"Katakan padaku Abigail, kenapa kau mengatakan hal itu pada mereka? Apa sudah ada cinta di hatimu untukku?"


"A-Aku," Abi gugup luar biasa, detakan jantungnya semakin nyaring terdengar apalagi saat Justin mencium pipinya. Dia sangat berharap dia pingsan karena Justin sudah kuat menggendongnya.


"Abigail," Justin memanggil namanya, bibirnya tak henti menyelusuri wajah Abi.


"Ba-Bagaimana sakitmu?" tanya Abi.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Nona!"


"Ju-Justin," kedua tangan Abi sudah melingkar di tubuh Justin saat itu.

__ADS_1


"Katakan jika kau sudah menyukai aku, Abi. Aku sangat ingin mendengarnya."


"Tapi aku begitu menjijikkan," ucap Abi.


"Bagiku tidak!"


"Apa kau tidak malu bersama denganku?"


Justin memandanginya sambil tersenyum, "Aku tidak akan pernah malu bersama dengan gadis secantik dirimu," ucapnya.


"Bagaimana dengan kedua orangtuamu?" tanya Abi karena dia takut kedua orangtua Justin tidak akan setuju Justin menjalin hubungan dengannya sama seperti keluarga Harold.


"Aku akan mengenalkan mereka padamu nanti."


"Lalu, apa kau tidak jijik dengan bibirku?"


Justin terkekeh, apa ini semacam undangan?


"Akan aku buktikan!" ucapnya.


Mata Abigail melotot saat bibir mereka saling beradu, napas Abi tertahan tapi tidak lama kemudian matanya terpejam dan dia mulai membalas ciuman yang Justin berikan. kedua tangannya mencengkeram baju Justin dengan erat, dia tidak mau memikirkan apa pun lagi apalagi dia tahu Justin begitu serius dengannya.


Ciuman mereka semakin dalam, bahkan kecapan lidah mereka terdengar. Tangan Justin sibuk memberi belaian di punggung Abigail, rasanya tidak ingin berhenti, rasanya ingin membawa Abi masuk ke dalam kamar karena dia sudah menginginkan gadis itu begitu lama.


Bibir mereka terlepas, mereka berdua terlihat terengah-engah. Justin tersenyum dan memberikan usapan lembut di pipi Abigail.


"Lihat, aku tidak jijik sama sekali bahkan aku tidak pernah jijik padamu sejak dulu. Tidak semua lelaki seperti mantanmu yang bodoh itu Abi, percayalah aku tidak seperti itu."


"Aku hanya takut, Justin. Aku tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya dan aku juga tidak mau kau malu dan dihina karena kau bersama denganku."


"Bodoh! Aku tidak akan menyakiti perasaanmu Abi, tidak akan pernah. Aku sudah menginginkan dirimu sejak lama, lalu untuk apa aku membuatmu membenciku? Aku juga tidak peduli mereka yang menghinaku, biarkan mereka mau berkata apa tapi aku tidak akan tinggal diam pada orang-orang yang menghina dirimu. Tunggulah nanti, aku akan membuat mereka meminta maaf di bawah kakimu."


"Kau tidak perlu melakukannya," ucap Abigail.


"Gadis yang aku cintai dihina sampai menangis, sebagai seorang pria aku tidak akan tinggal diam."


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Abi ingin tahu.

__ADS_1


Justin tersenyum dan mendekatkan bibir mereka berdua, "Nanti kau akan tahu," ucapnya dan setelah itu, Justin kembali mencium bibir Abigail.


Pria yang bernama Harold itu? Biarkan saat ini dia berbangga diri dan Sarah, dia juga tidak akan melepaskannya. Pada saatnya nanti, dia akan menghempaskan mereka berdua. Sekarang biarkan mereka berbangga diri karena sebentar lagi mereka tidak akan bisa berkata sombong lagi.


__ADS_2