
Suasana pesta semakin ramai karena tamu undangan mulai berdatangan. Harold berbaur dengan para pengusaha untuk mencari perhatian, bagaimanapun dia datang ke sana untuk mencari pengusaha yang mau bekerja sama dengannya.
Sarah berusaha tebar pesona, dia harus bisa menjerat salah satu pengusaha yang ada di sana sebelum dia bertemu dengan putra pemilik hotel.
Kedua orangtua Justin juga berbaur dengan para tamu undangan untuk mengucapkan selamat datang. Acara malam ini tidak saja acara peresmian hotel tapi malam ini putra mereka ingin memberikan kejutan untuk pacarnya. Kedua orangtua Abi bahkan berada di sana tanpa Abi ketahui, mereka tidak memberitahu putrinya sesuai dengan permintaan Justin.
Abi sedang bersama dengan Justin saat itu, mereka sedang berada di sebuah ruangan karena Abigail ingin mengikat tali gaunnya yang lepas. Karena sulit digapai dan berada di bagian belakang, Abi meminta bantuan Justin. Jangan sampai dia mempermalukan Justin karena banyak orang yang melihat.
"Bagaimana?" tanya Abigail ingin tahu.
"Sudah," Justin sedang berdiri di belakangnya saat itu untuk mengikatkan tali gaun.
"Aku gugup Justin, ini pertama kali aku menghadiri pesta seperti ini," ucap Abigail.
"Tidak perlu gugup, Abi. Bukankah ada aku?"
"Aku tahu, tapi aku takut mempermalukan dirimu karena penampilanku ini."
"Apa yang kau katakan? Coba lihat dirimu?" Justin memutar tubuh Abigail dan memandangi wajah cantiknya sambil tersenyum.
"Kau terlihat luar biasa Sayang, aku bahkan enggan mengajakmu keluar karena aku tidak mau ada yang melihat pacarku yang terlihat begitu luar biasa."
"Benarkah?"
"Aku aku terlihat bercanda?"
"Aku hanya tidak percaya diri, Justin."
"Baiklah, tapi mulai sekarang kau harus percaya diri sebagai pacar dan calon istri dari Justin Wycliff," ucap Justin seraya memberikan usapan lembut di pipi Abigail.
Wajah Abigail memerah, calon istri?
"Ngomong-ngomong, kenapa namamu berubah Justin? Bukankah dulu namamu Justin Steward?"
"Sebenarnya namaku memang Justin Wycliff, waktu itu aku memakai nama ibuku menjadi Justin Steward," jawab Justin. Karena namanya yang berubah itulah membuat Sarah tidak tahu siapa yang mengundangnya.
Abigail mengangguk, pantas saja. Dia sempat heran dan sekarang terjawab sudah.
"Sudah waktunya kita keluar," Justin memberikan ciuman lembut di bibir Abigail.
Abi mengangguk, walau gugup tapi dia harus percaya diri. Lagi pula dia bersama dengan Justin, dia yakin tidak akan ada yang menghina dirinya. Mereka keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruang pesta. Abigail berusaha tersenyum ketika beberapa pengusaha muda menghampiri Justin untuk berbicara dengannya.
__ADS_1
Di sisi lain, Sarah terlihat bosan karena Harold hanya berbicara dengan para pengusaha itu. Mata Sarah melihat sana sini, dia tidak bisa melihat Justin dan Abigail dengan jelas karena mereka sedang dikerumuni oleh para pengusaha yang ingin berbicara dengan Justin.
Sarah mengumpat, mana putra pemilik hotel? Dia sungguh sudah tidak sabar untuk melihatnya. Semoga acara cepat dimulai karena dia benar-benar sudah tidak sabar.
Justin berusaha menjawab pertanyaan yang dilemparkan secepat mungkin, dia harus segera menghampiri ayahnya karena acara sudah akan dimulai.
"Gentleman, bisakah kita bicara lagi nanti? Aku pasti akan meluangkan waktu untuk berbicara dengan kalian," ucap Justin.
"Pasti, maaf jika kami menghalangi," ucap pengusaha itu.
Justin tersenyum dan mengajak Abigail untuk pergi, sepuluh menit lagi acara akan dimulai jadi dia harus berada bersama dengan kedua orangtuanya. Justin dan Abigail terlihat terburu-buru tapi sayangnya, langkah mereka harus terhenti karena tiba-tiba saja Sarah berdiri di hadapan mereka.
Justin tidak terkejut sama sekali, dia malah senang melihat Sarah di sana. Sarah tidak percaya melihat mereka berdua, untuk apa kedua pecundang itu di acara pesta itu? Tadinya dia benar-benar bosan tapi dia tidak menduga akan melihat Justin dan Abigail.
"Sarah?" ucap Abigail. Dia melihat ke arah Justin lalu melihat ke arah Sarah.
"Well ... Well, kenapa kedua pecundang ini bisa berada di sini?" tanya Sarah.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu, Sarah!" Abi terlihat kesal.
"Ck ... Ck, lihat dirimu Abigail. Walau kau sudah berubah menjadi cantik tapi kau hanya bisa mendapatkan seorang pecundang seperti Justin. Kenapa kau tidak mencari pria kaya? Kenapa kau tertarik dengan pelatih fitnes ini?" cibir Sarah seraya memandangi mereka dengan tatapan menghina.
"Justin bukan ...," Ucapan Abigail tertahan karena Justin mencegahnya.
"Tentu saja, apa kau tahu kenapa kami bisa berada di sini? Kami diundang secara langsung oleh pemilik hotel, luar biasa, bukan? Sedangkan kalian? Apa kalian masuk ke pesta ini secara diam-diam?"
Justin hanya tersenyum, sedangkan kedua tangan Abigail sudah mengepal. Ingin rasanya dia memukul wajah Sarah dan berteriak di hadapan Sarah jika Justin adalah putra pemilik hotel itu.
"Selamat untukmu, Sarah. Kami memang masuk secara diam-diam," jawab Justin.
Sarah tersenyum mengejek, sudah dia duga. Orang seperti mereka, mana mungkin bisa berada di pesta mewah itu? Dia bahkan melihat penampilan Abigail dan sangat yakin jika itu adalah gaun pinjaman.
Saat itu ayah Justin sedang memberi sambutan karena acara sudah dimulai, Harold segera mencari Sarah. Dia sangat heran ketika melihat Sarah berbicara dengan seorang pria dan wanita. Harold mendekati Sarah dengan terburu-buru, dia tampak terkejut ketika melihat wanita yang sedang berbicara dengan Sarah adalah Abigail. Apa dia tidak salah lihat?
Harold tercengang, melihat penampilan Abigail yang luar biasa. Gadis itu terlihat begitu cantik bahkan dia tidak percaya melihat penampilan Abigail yang begitu luar biasa tapi kemudian hatinya jadi panas ketika melihat seorang pria merangkul pinggang Abigail. Apa itu pecundang yang dimaksud oleh Sarah? Dia sungguh tidak terima karena Abigail adalah miliknya. Harold menghampiri mereka dengan kecemburuan memenuhi hati, dia bahkan menatap Justin dengan penuh kebencian.
"Abigail, kenapa kau bersama dengan pria itu?" tanya Harold tanpa basa basi.
"Justin pacarnya," jawab Sarah.
"Aku tidak bertanya padamu!" ucap Harold sinis, sedangkan Sarah mengumpat kesal.
__ADS_1
"Abi, apa dia pacar pecundangmu itu?" tanya Harold lagi.
"Aku sarankan kau tidak asal bicara," ucap Justin.
"Diam kau! Ini di antara aku dan Abigail!" Harold benar-benar kesal.
"Aku rasa kita tidak memiliki hubungan lagi, Harold. Jangan mempermalukan diri, nanti kau menyesal!"
"Abigail, aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi," ucap Harod.
"Maaf, aku tidak berminat!" tolak Abigail.
"Jadi kau lebih memilih pecundang ini?" Harold terlihat kesal dan tidak terima.
"Justin bukan pecundang!" Abigail terlihat kesal.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi, acara sudah mau dimulai," ajak Justin karena dia tidak punya waktu berbasa basi dengan mereka. Lagi pula sebentar lagi mereka akan tahu siapa dirinya jadi biarkan saat ini mereka menyombongkan diri.
"Hng, acara? Hanya tamu yang menyelinap secara diam-diam saja!" cibir Sarah.
Harold memandangi kepergian Abigail dalam diam, kenapa gadis itu terasa jauh sekarang? Umpatannya terdengar, dia benar-benar tidak terima Abigail bersama dengan pria mana pun tapi tunggu dulu, siapa pria tadi? Akibat cemburu dan emosi dia jadi tidak bisa menguasai diri.
"Sarah, siapa pria tadi?" tanya Harold.
"Dia hanya pelatih fitnes yang menyedihkan!" jawab Sarah.
"Benarkah?" Harold terlihat tidak percaya. Pelatih fitnes? Kenapa bisa berada di tempat itu? Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang salah dan dia punya firasat buruk.
"Nah, ini dia yang aku tunggu," ucap ayah Justin ketika melihat putranya sedang melewati para tamu undangan.
"Ladies and Gentleman, ini dia putraku. Dia pasti sedang menyelinap dengan pacarnya yang cantik," ucapnya ayahnya bercanda.
Tawa para tamu undangan terdengar, Sarah dan Harold berjalan mendekat untuk melihat siapa putra pemilik hotel. Sarah sedikit kesal saat mendengar putra pemilik hotel sudah punya pacar tapi dia akan menggodanya nanti. Harold begitu antusias karena pria itulah yang akan menyelamatkan perusahaannya. Mereka melangkah semakin dekat, melewati tamu undangan yang saat itu sedang bertepuk tangan karena Justin dan Abigail sedang naik ke atas panggung.
Sarah dan Harold terus mendekat, mereka ingin berada di depan dan ketika melihat siapa yang ada di atas panggung, mereka berdua saling pandang.
"Ini putraku satu-satunya, Justin Wycliff. Tanpa dia kami tidak akan menggunting pita ini dan kalian akan berdiri di sini sampai besok karena tidak ada kamar kosong," ucap ayah Justin bercanda.
Semua tamu kembali tertawa, tapi tidak dengan dua orang yang memandangi Justin dan Abigail tanpa berkedip. Mereka terlihat shock, mulut mereka bahkan menganga. Apa semua ini hanya lelucon? Bagaimana mungkin Justin adalah putra pemilik hotel?
Tunggu dulu, Ben sedang mengambil foto mereka berdua dan hasilnya, jeng ... jeng ... jeng!
__ADS_1
ginilah kira-kira ekspresi mereka, cocok gak? 🤣🤣🤣🤣