Mencintaimu Apa Adanya

Mencintaimu Apa Adanya
Chapter 52


__ADS_3

Sarah berteriak marah di luar sana, dia bagaikan terhempas jatuh dari ketinggian. Kesombongan yang dia tunjukkan selama inilah yang telah menghempaskannya jatuh. Dia sungguh tidak menyangka jika pria yang dia pandang sebelah mata selama ini ternyata memiliki kekuasaan.


Umpatan dan makian Sarah terdengar, dia bahkan menendang roda mobil beberapa kali untuk melampiaskan amarah dan kekesalan hatinya.


"Sialan!" teriak Sarah dan lagi-lagi dia menendang roda mobil.


Harold melihatnya dalam diam, semua yang terjadi gara-gara Sarah. Seharusnya dia tidak mencari wanita itu sehingga dia menghina Justin, seharusnya dia tidak mendengarkan ucapan Sarah.


"Semua ini gara-gara kau!" ucap Harold.


Sarah berbalik, menatap Harold dengan tajam sambil berkata, "Apa maksudmu gara-gara aku?"


"Kau tahu, Sarah? Aku datang ke pesta ini untuk mencari dukungan darinya. Aku datang karena aku membutuhkan bantuannya tapi apa yang telah terjadi? Karena kau, aku kehilangan dukungan darinya!" teriak Harold penuh emosi.


"kau yang menghina dirinya karena kau tidak terima hubungannya dengan Abigail tapi kenapa kau menyalahkan aku!" teriak Sarah pula karena dia tidak terima Harold menyalahkan dirinya.


"Seharusnya aku tidak bertemu denganmu di pesta ini, seharusnya aku tidak menjalin hubungan denganmu!" Harold mengusap wajahnya dengan kasar. Ya, seharusnya dia tidak tergoda oleh rayuan Sarah, seharusnya dia fokus dengan perusahaannya. Mungkin dengan begitu kejadian ini tidak akan pernah terjadi.


"Jangan menyalahkan orang lain untuk kegagalan yang kau alami, Harold. Kau menyesal menjalin hubungan denganku, aku juga menyesal mendapatkan sampah sepertimu jadi selamat tinggal!" ucap Sarah sinis.


"Ya, selamat tinggal. Mulai sekarang kau bayar sendiri mobil dan rumah itu."


"Apa?" Sarah terkejut. Apa dia tidak salah dengar?


"Jangan bercanda Harold, aku harus dapat uang dari mana untuk membayar rumah dan mobil itu?" tanya Sarah seraya menghampiri Harold.


"Pikirkan sendiri Sarah, aku tidak bisa membayarnya lagi karena perusahaanku sedang kritis. Sudah aku katakan padamu, bukan? Semua itu akan hilang karena aku sudah menghina dan menyinggung orang yang akan membantuku dan semua itu karena kau!" teriak Harold penuh emosi.


Sarah mencengkeram kedua tangannya dengan erat, apa dia akan kehilangan semua yang sudah dia dapatkan? Jujur dia tidak akan mampu membayar rumah dan mobil itu apalagi dia hanya bekerja di butik.


Harold melangkah menuju mobil, tapi sebuah ide muncul di kepalanya. Langkah Harold terhenti, matanya menatap ke arah Sarah dan setelah itu dia mendekati wanita itu.


"Jika kau masih rumah dan mobil itu maka lakukan sesuatu untukku," ucapnya.


"Apa?" tanya Sarah dengan sinis.


"Kau kenal pria itu, bukan?" tanya Harold.


"Tentu saja, dia sahabatku dan Abigail."


"Bagus, jika kau masih ingin rumah dan mobil itu maka bujuk mereka terutama Abigail. Bujuk Abigail dan mintalah padanya agar dia mau bicara pada pria itu untuk membantu perusahaanku!" perintah Harold.

__ADS_1


"Apa untungnya buatku?" tanya Sarah.'


"Jika kau berhasil maka aku akan melunasi rumah dan mobil itu untukmu!"


"Benarkah?" tanya Sarah memastikan.


"Apa aku terlihat sedang bercanda? Bujuk Abigail, kalian teman, bukan? Hanya dia yang bisa menyelamatkan perusahaanku saat ini!" ucap Harold.


Sarah tampak berpikir, matanya melihat ke arah hotel. Abi gadis yang mudah dibujuk, dia rasa dia bisa melakukannya.


"Baiklah, aku akan membujuknya tapi pegang ucapanmu!" ucap Sarah.


"Tentu, lakukan tugasmu dengan baik!" setelah berkata demikian, Harold melangkah menuju mobilnya. Ayah dan ibunya pasti akan marah saat mendengar dia sudah gagal. Dia juga tidak menyangka pria yang dia hina adalah orang yang akan membantu perusahaannya.


Sementara itu di dalam hotel, pesta masih berlangsung. Kedua orangtua Abigail sedang berbincang dengan kedua orangtua Justin.


Justin dan Abigail berada di lantai dansa menikmati waktu mereka berdua di sana. Mereka berbaur dengan yang lain, menggerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik merdu.


"Justin, apa maksudmu tidak mau membantu perusahaan Harold. Apa perusahaannya sedang bermasalah?" tanya Abigail ingin tahu.


"Kenapa? Apa kau iba dengannya?"


"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu."


"Apa pun yang terjadi dengan mereka berdua, kau tidak boleh peduli lagi. Jangan mau termakan bujuk rayu mereka berdua karena mereka hanya ingin memanfaatkan dirimu saja. Kau tidak perlu peduli dengan mereka lagi dan ingatlah akan penghinaan yang telah mereka berikan padamu."


Abi mengangguk sambil tersenyum, dia memang tidak mau peduli dengan kedua pengkhianat itu lagi karena dia memang sudah tidak peduli dengan mereka.


"Bagus!" Justin mengusap wajah Abi dengan lembut dan setelah itu dia kembali berkata, "I love you,"


wajah Abigail merona apalagi ketika Justin mencium bibirnya. Saat itu mereka sedang berada di antara tamu undangan yang sedang berdansa dan hal itu semakin membuat Abigail malu. Justin tersenyum melihat ekspresi wajahnya, entah kenapa rasanya sudah tidak sabar menjadikan Abigail sebagai miliknya.


Justin kembali mencium bibirnya, dan setelah itu mereka kembali berdansa tapi kali ini Abigail memeluknya. Abigail terlihat senang, dia ingin menikmati kebersamaan mereka tanpa mau memikirkan pecundang Harold dan Sarah. Sudah cukup rasa sakit hatinya dan dia tidak mau berurusan dengan mereka lagi.


Dia tidak peduli mau Harold hancur atau tidak tapi memang pria itu sudah berada di ambang kehancuran. Harold pulang dalam keadaan lesu, dia benar-benar sudah membuat kesalahan fatal. Seharusnya dia tidak menghina orang sembarangan dan sekarang, dia benar-benar menyesali perbuatannya.


Kedua orangtuanya sudah menunggu, ingin tahu apa Harold berhasil menjalin kerja sama dengan Whcliff corporatioan atau tidak tapi ketika Harold kembali, hanya wajah lesu yang mereka dapatkan. Sang ibu melihatnya dengan heran, bahkan dia memiliki firasat buruk mengenai hal itu.


"Bagaimana, Harold?" tanya ayahnya.


Harold hanya menggeleng sambil melonggarkan dasi yang dia gunakan.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya ibunya pula.


"Sepertinya kita sudah harus pindah Mom, rumah ini pasti akan disita oleh bank!"


"Apa? Jadi kau gagal?!" teriak ibunya.


"Sorry Mom, Dad," ucap Harold sambil menghela napas.


"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi!" teriak ibunya dan dia terlihat histeris.


"Harold, bagaimana kau bisa gagal? Bukankah Wycliff corporation yang mengundangmu dan ingin mengajakmu bekerja sama?" tanya ayahnya ingin tahu.


"Sorry Dad, aku benar-benar sudah mengacaukan semuanya dan aku begitu bodoh. Maafkan aku," Harold kembali menghela napas, walau dia sudah meminta Sarah untuk membujuk Abi tapi dia rasa tidak akan mudah.


"Apa yang kau lakukan Harold, apa yang kau lakukan!" sang ibu mendekati putranya dan menampar wajahnya. Dia bahkan memukul putranya dengan membabi buta, sedangkan Harold diam saja.


"Perusahaan ini hancur di tanganmu, sekarang kita tidak punya apa pun lagi!" teriak ibunya.


Ayahnya hanya diam, frustasi. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Harold sampai perusahaan mereka bisa jatuh?


"Aku benar-benar minta maaf, sebaiknya kita bereskan barang-barang kita dan pindah."


"Tidak!" teriak ibunya.


"Aku akan pergi ke Wycliff corporation dan memohon pada mereka. Aku tidak mau perusahaan ini hancur begitu saja!"


"Sebaiknya tidak Mom, mereka tidak akan menerima dirimu," cegah Harold.


"Kau tidak akan bisa mencegah aku, kau menghancurkan perusahaan ini sejak kau mencampakkan Abigail dan menjalin hubungan dengan Sarah!"


"Siapa yang meminta aku untuk meninggalkan Abigail?!" teriak Harold penuh emosi.


"Kami sudah mau menikah tapi kalian menghasut aku dan mengatakan padaku jika dia jelek dan gendut sehingga dia tidak pantas untuk masuk ke dalam keluarga kita yang bermartabat dan sekarang lihat dia?" Harold mengusap wajahnya dengan kasar, dia benar-benar menyesal telah meninggalkan Abigail.


"Jika kalian ingin perusahaan ini selamat, pergi temui Abigail dan berlutut di bawah kakinya. Mungkin dengan demikian dia mau membantu sehingga kita bisa menyelamatkan perusahaan ini."


"Apa maksudmu?" tanya ayahnya.


"Abigail calon istri Justin Wycliff jadi hanya dia yang bisa membujuk pria itu untuk membantu kita!" setelah berkata demikian, Harold berlalu pergi, sedangkan ayah dan ibunya saling pandang. Apa mereka tidak salah dengar?


"Bagaimana ini, Dad?" tanya sang istri.

__ADS_1


"Sepertinya kita memang tidak punya pilihan lain selain menemui Abigail dan meminta bantuannya," ucap sang suami.


Istrinya mengangguk, apa pun akan mereka lakukan untuk menyelamatkan perusahaan itu dan mereka harap Abigail mau membantu mengingat hubungan lama di antara mereka.


__ADS_2